
Happy reading 🌹🌹
"Ggrrr!!" Mona menggigit kuku jari dengan perasaan geram dan cemas yang datang secara bersamaan.
Brak! ia memukul kasar meja.
"Kita tidak bisa terus seperti ini?!" pekiknya tertahan.Emosinya sudah meluap sampai ke ubun-ubun, bagaimana tidak? barusan di mall besar biasa ia berbelanja, Mona dan ibunya Sarah telah di permalukan.
Ketika itu Sarah mengajak putrinya untuk keluar menghilangkan stres, mereka niatnya ingin memborong semua pakaian branded di sebuah mall terkemuka, langganan mereka saat shopping. Tapi alangkah terkejutnya mereka, ketika hendak membayar kartu kredit yang selalu mereka di gunakan tak berfungsi sama sekali, alias di bekukan. Mona yang selalu merasa seperti tuan putri yang sudah begitu jemawa pada semua orang di mall itu kini telah mendapatkan malu yang sangat besar. Begitupun Sarah, ibu dan anak itu di tertawa kan, di hardik oleh SPG yang berjaga, karena di anggap tak mampu membayar dan hanya berbohong kalau mereka orang kaya.
"Aaaargh! aku tidak bisa menerima penghinaan ini mom?!" Mona berteriak frustasi, ia dengan kesal menarik rambut nya.
"Apalagi mommy, kau tidak lihat? saat mall tadi ada teman sosialita mommy, mereka juga mentertawakan dan mengejek mommy. Akh, membayangkan nya saja membuatku gila. Mereka pasti sedang membicarakan mommy di grup ibu-ibu sosialita lain!"
"Ini pasti ulah kak Erick, dia yang telah memblokir kartu kredit kita!"
"Itu sudah pasti, semenjak ayah mu pensiun, Erickson lah yang memegang semua kendali keluarga ini. Siapa lagi memangnya?"
"Argh, aku kesal mom. Lalu sekarang kita harus bagaimana? aku tidak bisa jika harus kehilangan semua kemewahan. Sekarang lihatlah, meskipun kita tinggal di mansion besar, kita tak ubahnya orang miskin, Dady pun tidak bisa di andalkan, dia terus saja berpihak pada kakak."
"Bahkan kak Clarissa yang menjadi tameng kita pun sama saja tak berguna. Kak Erick tetap saja mengejar obsesinya pada Elena!"
"Kakak mu memang sudah gila. Gimana bisa dia hanya fokus hanya pada satu wanita, sedangkan dia bisa mendapatkan lebih dari satu di luar sana. Bahkan jika dia mau, semua wanita bisa mendekat tanpa ia perintahkan. Mommy tak habis fikir!"
"Aku tahu mom!" sesaat Mona berfikir keras, wanita itu berseru memikirkan satu ide.
"Kita kan masih punya kartu AS yang lainnya, bagaimana jika kita pakai yang satu itu?"
"Maksud mu? yang mana?" tanya Sarah tak mengerti.
"Foto-foto Elena bersama Vicky. Kita masih memiliki nya kan?"
"Ah, kau benar!" wajah Sarah berubah sumringah. "Kenapa tidak terpikirkan dari dulu?"
"Nah benar. Kita bisa menggunakan itu untuk menggertak Elena. Jika wanita itu bisa diam, maka kita aman!"
"Khehehe. Kau memang dapat di andalkan Mon." Sarah menyeringai.
__ADS_1
Siapa dulu mommy nya? kecerdasan ku kan menurun dari mommy." Mona tertawa, sudah menyiapkan rencana di otaknya.
...****************...
"Tuan, saya mendapatkan. Vicky sudah di nyatakan siuman dari komanya!"
"Apa? benarkah?!" Erick sontak terlonjak mendengar kabar tersebut, pria itu langsung berdiri dari duduknya.
Marvin yang duduk di sebelahnya pun ikut terkejut.
"Kenapa ini? ada apa?" gumam pria itu bertanya-tanya.
Erick menoleh padanya. "Aku harus kembali ke ibukota, ada hal penting yang harus ku urus. Selama aku tidak ada, tolong jaga Elena." pintanya.
"Baiklah. Tapi hal penting apa itu?"
"Nanti kau juga akan mengetahuinya. Aku pergi dulu." Erick menepuk pelan punggung Marvin, lalu berlalu bersama Zidan.
......................
Sampai kembali di ibukota. Rumah sakit tempat Vicky di rawat, Erick dan Zidan segera menghampiri ketika mendapat kabar yang lebih spesifik dari dokter yang Erick utus untuk menangani pria itu.
"Ini saatnya." gumam Erick.
Sampai di depan pintu ... Brak!
Seorang suster yang sedang mengecek kondisi pasien yang terbaring di atas brankar terlonjak kaget hingga tersentak saat Erick membuka pintu ruang rawat dengan kasar.
Begitu pun Vicky, pria yang tengah berbaring itu langsung menoleh dan begitu melihat Erick, kedua matanya langsung melotot sempurna seperti akan keluar dari rongga nya.
"Maaf pak, ada kepentingan apa bapak masuk?" tanya suster itu. "Apa bapak keluarga pasien?"
"Ya. Kebetulan aku keluarga dekat pasien." Erick menyeringai keji dengan tatapan nya yang sukar di baca.
***
"Kau tahu aku ingin sekali menghajar mu saat ini juga. Tapi aku masih menginginkan nyawa mu, untuk menjadi saksi atas apa yang tengah terjadi saat ini."
__ADS_1
Brrr! seluruh tubuh Vicky menggigil seketika. Ia sudah bisa membayangkan akan matti di tangan pria itu.
Vicky mendadak saja bersimpuh di kaki Erick. Pria itu terkejut, mundur beberapa langkah.
"Ku mohon Erickson, jangan bunnuh aku ataupun menjebloskan ku ke penjara, aku mohon!" Vicky seperti budak yang meminta pengampunan dari tuannya.
Tak! Erick menarik kasar kerah baju pasien yang pakai Vicky.
Bugh! tiba-tiba saja ia melayangkan sebuah pukulan di wajah pria itu.
Zidan terkejut, segera saja menghampiri.
"Tuan, dia baru saja sembuh."
"Diam!" Erick kontan saja merentangkan ke depan Zidan, isyarat agar asistennya itu tak ikut campur untuk kali ini.
"Kau tahu apa yang telah kau lakukan hah?!" Erick mendadak murka, ternyata amarah yang berusaha ia redam dulu tak bisa di tahan lagi.
"Ampun Erick, ampun! aku menyadari dosa- dosaku. Tapi perlu kau tahu di antara aku dan Elena itu tidak benar, itu hanya sebuah jebakan!" sebisa mungkin Vicky mengeluarkan suaranya meski bergetar karna ketakutan.
"Aku sudah tahu. Aku tahu semua rencana busuk mu itu bersama Mona, adikku kan?"
"Apa bagaimana kau--?" Vicky memotong ucapnya ia bersujud lagi.
"Erick ku mohon, jangan bawa perkara ini ke polisi, aku tak mau di penjara, biar Mona saja karena dia otak di balik semua ini!"
"Enteng sekali kau bicara?" Erick menarik kasar rambut Vicky. " Kau dan Mona saja, kalian berdua berhak untuk membusuk di dalam jeruji besi, karna dengan kejinya telah memfitnah istri ku."
"Kau tahu, karna kau lah, karna kau lah pernikahan ku dengan Elena di ambang kehancuran!"
"Hiks, hiks ... ku mohon Erick jangan lakukan ini, aku masih mau hidup!" Vicky memohon dengan wajah melas yang penuh luka di sana.
"Kau masih ingin hidup?"
Vicky mengangguk.
"Baiklah, maka kau harus membuka mulut mu. Katakan padaku, ceritakan dengan detail bagaimana kau dan Mona merencanakan semua konspirasi keji ini? dan selain kalian berdua siapa saja yang terlibat."
__ADS_1
"Sebenarnya Erick, aku melakukan ini karena terpaksa, kau harus tahu itu. Dan sebenarnya dalang utama dalam konspirasi ini bukan Mona, tapi nyonya Sarah."
"Apa?!"