
Happy reading 🌹🌹🌹🌹
"Tidak Mona, kembali pada mommy kamu gak boleh pergi! jangan tinggalkan mommy sendiri!" Sendu Sarah dengan terisak-isak, ia semakin memeluk jasad sang putri tercinta yang telah berpulang.
Selang beberapa saat kemudian, para polisi datang mereka sudah mengamankan situasi dan sudah membekuk semua para anak buah Sarah, tinggal wanita itu yang akan di tahan.
Erick menghentikan dua polisi yang hendak mendekati Sarah. Erick meminta waktu barang sejenak untuk Sarah bisa memeluk putrinya lebih lama dalam perpisahan abadi.
Semuanya diam, hening menyelimuti untuk sesaat. Sampai akhirnya tiba-tiba Sarah bangkit, semua orang nampak waspada, wanita itu berbalik dengan keadaan mengenaskan dan air mata seolah tak berhenti keluar dari kedua netranya.
Sekuat yang ia bisa Sarah berusaha tegar, ia mengusap kasar air matanya lalu berjalan pelan menghampiri para polisi yang berdiri di samping Erick.
Wanita itu dengan sendirinya mengulurkan kedua tangannya.
"Tahan aku. Aku menyerahkan diri!" ujarnya.
Para polisi nampak saling melempar pandang lalu mengangguk, mereka membuka borgol hendak mengalungkan nya di pergelangan tangan Sarah, tapi sesuatu terjadi.
Mendadak saja dengan gerakan secepat kilat Sarah menghindar lalu ia tersenyum sinis mengambil sesuatu di belakang saku nya yang sudah ia siapkan sejak awal sebagai cadangan senjata. Sebilah pisau.
"Setidaknya kau harus merasakan penderitaan yang sama dengan ku, Erickson."
Dengan kecepatan yang tak bisa di prediksi, Sarah langsung menghunuskan pisau di tangannya itu ke arah Elena.
Jleb!
Semua orang membeku. Erick menyaksikan kejadian itu dengan kedua matanya sendiri, shocked sampai terpaku karena saking cepatnya kejadian.
Sarah menyeringai senang, dengan kejam nya ia semakin menancapkan pisau itu ke perut Elena, wajah Elena yang tegang berubah hingga pucat seputih kapas.
"Elena!"
Begitu langsung sadar semua orang langsung menghampiri mencoba memisahkan Sarah dari gadis itu.
Tiga polisi menarik Sarah dengan cepat, mendorong tubuh wanita itu hingga tersungkur dan mengambil alih pisau yang ada di tangannya.
__ADS_1
Erick segera saja menghampiri sang istri. Ia dengan perasaan cemas dan panik memegang kedua bahu Elena, memeluk gadis itu.
Netra Elena dengan deras di aliri oleh air mata, mendadak seluruh tubuhnya seperti matti rasa.
"Aku melihat wajah mu lebih lama." batinnya memandang wajah Erick yang mendekatinya. Bisa ia rasakan sentuhan lembut jemari pria itu mengusap pipinya, menepuk pelan agar ia tetap tersadar. Tetapi Elena merasa sangat sakit, matanya memerintahkan nya untuk terpejam, kesadarannya perlahan-lahan akan hilang.
"Elena, sadarkan dirimu. Aku akan membawa mu ke rumah sakit, ku mohon jangan tutup matamu." pinta Erick dengan sekujur tubuhnya gemetar. Tidak, ia tidak sanggup kehilangan lagi.
Uhuk!
Elena terbatuk, dari mulutnya gadis itu mengeluarkan darrah, semua yang melihat terbelalak kaget, terlebih Erick yang langsung memapah tubuh gadis itu.
"Elena sadarlah, aku tak ingin kehilangan mu!" Erick terus menepuk nepuk pipi Elena.
"Bawa mobil kesini cepat!" titahnya dengan lengkingan suara yang hampir serak, saking paniknya ia rasakan.
"Elena ... " lirih Erick memanggil, ia memeluk tubuh mungil gadisnya.
Bisa Elena rasakan Erick yang menangis di dadanya, dengan perlahan Elena mengangkat tangan lalu mencoba menyentuh wajah Erick yang terlihat panik setengah matti, nafasnya semakin tersendat, yang bisa Elena lihat terakhir kali adalah wajah sedih Erick dan air mata pria itu yang terus mengalir hingga tetesannya mengenai wajah nya, lalu perlahan semua menjadi gelap gulita.
...--------Oo--------...
Sarah tertawa seperti orang gila lalu terbitlah senyum mengerikannya.
"Mommy sudah membalas kan dendam mu sayang, tenang lah di alam sana. Hahaha!"
Sampai akhirnya wanita akan di masukan ke dalam mobil polisi, entah bagaimana tiba-tiba Sarah berhasil melawan, ia menggigit salah satu oknum polisi dan mengambil alih pistol mereka.
"Jangan mendekat!" Sarah kontan saja menodongkan pistol ke arah para polisi guna mengancam mereka.
"Kita kecolongan!" para polisi mengambil tindakan waspada.
Sarah langsung berlari dengan jeratan borgol yang masih berada di tangan nya, tujuan utamanya adalah kabur dari sini. Sarah tak rela jika harus berakhir mengenaskan di kantor polisi.
Para polisi segera saja mengejar wanita itu, Sarah dengan sekuat tenaga mengayuh kan kedua kakinya menjauh dari pengejaran.
__ADS_1
Sarah kembali tertawa terbahak-bahak, rupanya sedikit demi sedikit ia sudah kehilangan akal sehatnya. Sampai ketika ia menemukan jalan raya, Sarah hendak menyebrang dan bersembunyi dari kejaran polisi di belakangnya.
Tapi untuk sesaat semua mendadak berubah. Sarah berhenti ketika alam bawah sadarnya tiba-tiba seperti mendengar suara anak kecil tertawa.
"Mom, mom! lihat, Nana dapat ranking satu di sekolah."
Bayangan tentang Mona yang berumur lima tahun berlari ke arahnya sambil membawa kertas ujian sekolah nya, adegan yang sama seperti sedang Sarah saksikan di depan mata.
"Mana coba mom lihat? Waw, benar. Nana putri mommy yang pintar."
Terlihat Mona yang tersenyum senang saat ia memujinya lalu Sarah akan mulai membawanya ke dalam gendongan dan menciumi putri kecilnya lantas bermain dengan menggelitik dan tertawa ria bersama.
Perlahan air mata Sarah menetes, berbarengan dengan bayangan kebersamaan nya bersama sang putri yang perlahan-lahan menghilang serupa kabut yang memudar lalu lenyap.
"Mona, maafkan mommy, sayang ... maafkan mommy!" air mata Sarah merembes tanpa ada isakan lagi, hingga sampai akhirnya ia menyadari ada sebuah truk yang hendak melintas ke arahnya.
Sarah tersenyum, inilah saatnya.
"Mommy aku ikut menyusul mu, tunggu mommy ... "
Dengan langkah gontai dan senyum yang terus mengembang Sarah justru berjalan mendekati truk yang akan melintas itu sambil merentangkan kedua tangannya lebar- lebar seolah sedang menyambut kebebasannya.
Sementara di dalam truk yang sedang oleng, sang supir yang sedang berusaha mengendalikan laju truk muatannya tersebut nampak mencak-mencak memerintahkan wanita di depannya untuk minggir.
"Kenapa orang gilla itu justru semakin mendekat. Apa dia mau matti hah?!"
Sarah tak peduli meski ia mendengar suara klakson Berkali-kali yang memerintahkan untuk menepi Sarah justru semakin memajukan diri, ia bersenandung kecil menyanyikan lagu kanak-kanak yang selalu ia nyanyikan dulu untuk Mona saat kecil.
Brak! Bunyi hantaman keras terdengar bersamaan dengan tubuh Sarah yang terhantam dan jatuh mengenaskan di tepi jalan yang langsung digenangi oleh aliran darrah pekat.
Polisi yang datang memekik tertahan melihat kengerian itu. Mereka melihat tahanan yang sudah tak bernyawa, sementara truk yang menabrak terus melaju.
Sarah kemudian di nyatakan meninggal dunia.
***
__ADS_1
Maaf ya, bab nya jika menurut kalian terlalu panjang dan berbelit, soalnya ini sudah sesuai sama plot dan outlet yang othor tulis, jadi mohon maaf jika di dalam novel ini masih banyak kekurangan. Semoga kalian tetap stay tune ya sampai bab akhir.
Oh ya ini sudah menjadi akhir perbuatan kejahatan Sarah dkk. Setelah ini mohon nantikan part yang manis-manis, terimakasih bagi reader yang selalu setia, tetap sehat selalu 💐❤️