
"Kak Marvin!!"
Pria yang baru saja sampai itu terkejut ketika namanya di panggil begitu kencang oleh wanita di depannya saat ini.
"Eh,baru saja aku mau masuk." Marvin tersenyum sumringah, menutup pintu mobil sambil intens menatap Elena dengan lembut dan penuh perhatian terlihat dari matanya.
Elena segera menghampiri, dari sorot netranya gadis itu seperti menyimpan banyak tanda tanya, dan rautnya tak terbaca, membuat Marvin mengernyit lalu semula wajah Elena yang tertekuk berubah jadi penuh binar lantas ia tersenyum lebar.
Perubahan sikap yang tiba-tiba itu membuat Marvin jadi menahan senyum. "Ada apa? sepertinya kamu terlihat senang?"
Erick masih ada di sana, melihat Elena bersama Marvin, spontan saja Erick menegakkan tubuh, bahunya yang awalnya tersandar kembali seperti semula memasang gerak waspada, ia menatap tak senang dengan kedekatan Elena dan pria itu.
"Terimakasih ya." Elena berkata dengan intonasi yang cukup renda,
"Terimakasih? untuk?" Marvin bertanya-tanya.
"Untuk bunga-bunga yang datang, kakak kan yang memberikan semua buket bunga itu padaku?" ujar Elena dengan masih senyum bahagia yang setia terpatri di wajah cantiknya.
"Tunggu dulu, kakak tak mengerti maksud mu?" Marvin mengibas-ngibaskan tangan di depan Elena. "Kakak tidak pernah memberikan mu bunga."
"Eh?" kini giliran Elena yang terkejut, ia terheran-heran.
Sementara Erick, bahunya mendadak lesu. Bahkan sang istri tidak peka jika semua buket bunga itu hadiah dari nya dan malah mengira pria lain yang memberikannya. Ah, betapa menyedihkan itu.
"Beneran bukan dari kakak?" tanya Elena lagi, mencoba memastikan.
"Beneran. Memangnya ada apa sih? kayanya aku ketinggalan sesuatu deh," ucap pria berbadan tegap itu.
"Mmm gini sebelum kakak kesini, tadi banyak kurir yang datang berulang kali mengirimkan buket bunga untuk ku tanpa tahu siapa yang mengirimkan nya? misterius sekali, ku kira itu semua dari kakak, karena cuma kakak yang tahu apa yang menjadi kesukaan ku."
__ADS_1
"Wait, aku bahkan baru tahu jika kamu menyukai bunga, Elen," ujar Marvin. Terkekeh samar, "Dan juga dari mana orang yang mengirimkan buket bunga untuk mu itu tahu alamat vila ini? aku bahkan sudah menyembunyikan vila ini selama bertahun-tahun, tak ada yang tahu alamatnya dari keluarga ataupun kerabat. Sepertinya ada yang tak beres." Marvin nampak berfikir keras.
Kini Elena pun jadi ikut berfikir. Benar juga, jika bukan Marvin, siapa yang mengirimkan nya?
"Ah, lebih baik kakak lihat sendiri di dalam, ada banyak sekali buket bunga dari pengirim misterius itu," tukas Elena, sebal sendiri karena percuma berfikir keras tapi tak membuahkan hasil siapa praduga si pengirim bunga misterius itu.
"Ahahaha baiklah, baik. Aku jadi ikut penasaran, ayo kita ke dalam."
Elena manggut-manggut lalu mempersilahkan, ia hendak melangkah namun dari belakang Marvin menahan tangannya.
"Ada apa kak?" tanya wanita itu.
Marvin terkekeh lagi. "Kau tergesa-gesa ke sini menemui ku hingga lupa ya, kalau ada bekas makanan di bibir mu?"
"Eh benarkah? aku tak menyadari, sepertinya ini bekas kue yang tadi sempat ku makan." Elena meraba- raba ke sekitar bibir nya namun ia tak juga menemukan sisa makanan yang di sebutkan Marvin.
"Mana sih? kok gak ada?"
"Biar kakak bersihkan," ujar Marvin, jarak mereka tiba-tiba mendekat ini membuat Elena tertegun hingga mematung untuk beberapa saat, tangan besar Marvin menyentuh di sekitar bawah dagunya sangat lembut terasa sampai tak sadar ia menengadah melihat jelas Marvin yang begitu fokus tengah membersihkan sisa kue di sekitar bibir bawahnya.
"Kamu masih tak berubah sejak kecil ya? suka sekali makan terus belepotan begini," kelakar Marvin di sela tawanya, Elena hanya cengengesan sebagai respon kecilnya.
Grep! tiba-tiba saja seseorang dari belakang datang, menghentikan apa yang sedang di lakukan Marvin. Sontak keduanya menoleh serempak, membulatkan mata bersamaan melihat Erick yang mendadak muncul menghalau tangan Marvin dari Elena.
"Jaga sikap mu pada wanita yang sudah bersuami!" suara bariton Erick terdengar menakutkan, matanya yang kelam menatap tajam membuat siapapun bisa merinding saat itu juga.
Atmosfer di sekitar mereka mendadak seakan tercekik oleh aura intimidasi yang di keluarkan Erick saat ini. Kentara pria itu berusaha menekan amarah yang meluap-luap seperti lava panas di dalam gunung berapi.
"Kau?!" Marvin terhenyak. "Kenapa kau bisa ada di sini?!" ia menatap tak kalah nyalak. Elena pun ikut terkejut bagaimana Erick bisa sampai ada di sini? dari mana dia tahu lokasi tempat tinggalnya berada.
__ADS_1
"Justru aku yang bertanya pada mu?!" sentak Erick tiba-tiba saja sudah mencengkeram erat kerah baju Marvin, hingga pria itu seperti tercekik saking kuatnya Erick menarik kerahnya.
"Sedang apa kau bersama wanita yang jelas- jelas sudah menikah? apa kau sedang berusaha menggoda istri ku hah?!"
Bugh!
Bugh!
Erick terlihat membabi buta menghajar Marvin, emosinya yang memuncak tak bisa ia tahan lagi sementara Marvin yang tak sempat mengelak terlihat pasrah saat Erick melayangkan tinjunya, barulah ketika mereka mulai menjauh Marvin mempunyai peluang untuk membalas pukulan pria itu.
Uhuk! uhuk! Marvin sampai terbatuk-batuk karna pukulan sengit pria itu.
"Huh, setelah sekian lama kau pergi, tiba-tiba kau datang lagi seperti hantu dan masih mengklaim Elena adalah isteri mu?!" Marvin mendengkus kasar. "Cih, lawakan macam apa itu? bahkan kini sama sekali tak pantas menyebut namanya!"
"Jaga ucapan mu, brengsekk!" Erick semakin tersulut, perkelahian lebih lanjut tak bisa di hindarkan.
Elena memekik histeris, dia yang berada di tengah dua pria itu tak tahu harus melakukan apa- apa.
Sampai ketika saat Erick hendak melayangkan kepalan tinjunya kembali ke arah Marvin, mendadak saja Elena datang, berada di tengah-tengah di antara kedua pria itu, posisinya merentangkan tangan seolah menahan apa yang akan Erick lakukan.
Elena ingin menghentikan semua kegilaan ini, apalagi hatinya merasa terkoyak saat itu juga ketika melihat banyaknya luka di wajah Erick, ia hampir ingin menangis ketika melihat darrah merembes di sekitar sudut bibir dan kening laki-laki itu.
Namun di mata Erick berbeda artian, ia mengira Elena ingin melindungi Marvin hingga menyerahkan tubuhnya sendiri sebagai perisai di antara mereka.
"Hentikan semua ini ku mohon?" ujar Elena dengan memelas, air matanya tak bisa di tahan lagi saat Erick yang meringis karna luka-lukanya.
Erick mendengkus, tak habis fikir, ia urungkan tinjunya dan menarik lengan kembali. Pria itu terkekeh sumbang, dari pada menahan sakit di sekitar wajah nya yang babak belur ia lebih merasakan sakit teramat yang kini menghinggapi hatinya.
Nafas Erick terlihat semakin memburu, dadanya naik turun tak beraturan, hal itu semakin membuat Elena merasa kasihan, ia ingin sekali mendekati nya dan menyentuh wajah yang sangat rindukan itu, namun entah kenapa di sudut hatinya yang terdalam menolak keras keinginannya tersebut.
__ADS_1
"Jadi kau lebih memilih pria itu di banding suami mu sendiri, Elena?" ujar Erick yang salah sangka atas tindakan Elena. Kini menatap sendu penuh luka padanya.