
"Tunggu, bukan maksud ku seperti itu." Elena hendak menjelaskan agar pria itu tak jadi salah paham, namun Erick terlanjur menelan asumsinya sendiri, ia bahkan tak bisa lagi mendengar kan kata-kata yang coba Elena utarakan, saking kecewa yang ia rasakan.
Elena menatap sayu, Erick telah berbalik memunggungi nya, pria itu seperti menahan kesal, ia menendang-nendang kakinya ke udara lalu cepat berjalan pergi dari sana.
Sementara Elena masih memandang nya, entah kenapa ada perasaan bersalah yang memggerayangi hatinya saat ini, Erick telah salah mengira jika ia lebih memihak kepada Marvin padahal sebenarnya tak seperti itu. Elena hanya tak ingin ada pertumpahan darah cuma karna dirinya. Terlebih dua laki-laki itu memiliki tempat di hati Elena sebagai seorang kakak dan pria yang ia cintai, meski kini hubungan ia dan Erick mengambang terancam kehancuran.
"Elena ... " Marvin memanggilnya pelan, pria itu juga terlihat sama babak belur.
Elena berbalik kemudian menghadap Marvin, lalu ia tak mengucapkan apa-apa lagi lalu berlalu dari sana dengan mata memerah.
Saat melihat itu, barulah kini Marvin menyadari kekeliruannya selama ini untuk berusaha memisahkan dua insan yang saling mencintai. Seberusaha apapun ia ingin menjauhkan Elena dari Erick, rupanya semesta tak mengijinkan keinginannya itu, dua orang yang memang sudah di takdirkan bersama tak akan mungkin terpisah.
Ck! Marvin berdecak kesal setelah menyadari fakta itu. Tak mungkin di pungkiri sikap kasar Erick pada Elena tak bisa ia lupakan. Bagaimana pun Marvin tak akan mengijinkan Elena kembali pada pria itu, yang artinya sama saja Elena akan merasakan rasa sakit kembali.
Tak ingin memusingkan lagi, Marvin pun memilih mengikuti langkah Elena sambil matanya sesekali melirik ke arah di mana Erick pergi menjauh, Marvin sedikit berdesis ketika menyentuh luka di tepian bibir dan rahangnya pun terasa keram juga kaku, lukanya cukup lah fatal. Harus ia akui jika Erick memang seperti monster jika pria itu sedang marah.
...----------------...
Erick kembali ke vila, di undakan tangga teras ia menapaki kakinya dengan langkah gontai, sesekali meringis dengan wajah yang bonyok, luka-lukanya ia biarkan tanpa perawatan bahkan kini darrah di sekitar ujung bibirnya telah mengering sempurna.
Saat matanya mengarah ke depan pintu, Erick terlonjak begitu menyadari seseorang telah berdiri di depan sana.
"Clarissa? apa yang kau lakukan di sini?!'
Wanita yang di panggilnya menoleh. Nampak wajah Clarissa langsung berseri-seri saat melihatnya. Dengan segera wanita itu berlari menyusulnya dengan langkah sedikit cepat, Clarissa yang nampak sangat senang langsung berhambur memeluknya hingga tanpa sengaja keseimbangan Erick hampir goyah jika saja ia tak menahan kakinya.
"Awww!" Erick kontan saja meringis begitu Clarissa menekan pelukan mereka dan mengalungkan lengan di lehernya.
Clarissa yang sadar segera menjauh diri, memasang raut khawatir.
"Ada apa? astaga!" Clarissa yang semula bertanya langsung memekik tertahan begitu melihat kondisi Erick yang babak belur.
__ADS_1
"Kenapa wajah mu banyak luka-luka begini, Erickson?" kecemasan semakin kentara di gurat wajahnya, jemari Clarissa mencoba menyentuh pelan permukaan pipi Erick, lantas pria itu meringis kembali lalu dengan cepat menghempaskan tangan Clarissa.
"Lukanya tidak bisa di biarkan. Akan aku obati," ucap Clarissa dengan tatapan nanar.
"Tidak usah!" pukas Erick, menolak. "Lebih dari itu, sedang apa kau berada di sini? siapa yang memberitahukan mu tempat ini?"
Sorot Clarissa berubah redup. "Kamu segitu gak sukanya aku berada di sini?"
"Ck, terserah, aku muak berdebat Clar!" desis Erick.
Clarissa merasa sedih di buatnya, wajah wanita itu menunduk namun tak berselang lama Clarissa kembali menatap mata Erick dengan penuh kekhawatiran.
"Aku akan memberitahukan mu untuk apa aku kesini dan yang siapa yang memberitahukan tempat mu di sini. Tapi sebelum itu kumohon, aku ingin mengobati lukamu dulu." pinta Clarissa dengan nanar.
Erick meliriknya, yang semula tak minat kini menatap dengan lekat seolah penuh perhitungan.
Lalu di sini lah mereka berada sekarang. Erick duduk di tepian lengan sofa, agak menjaga jarak dari Clarissa yang duduk menyamping ke arahnya, wanita itu meminta salah satu pembantu di sini untuk mengambil kotak p3k.
Saat fokus menghadap ke arah wajah Erick, pria itu langsung membuang pandangan, entah kenapa yang membuat Clarissa seketika kembali merasakan nyeri di hati. Sehina itukah dirinya dalam sudut pandang Erick, hanya karena ia ingin memperjuangkan cintanya pada pria itu?
"Kemarilah, biar aku obati lukamu?"
Erick yang semula merasa enggan, terpaksa untuk kembali menghadap Clarissa ketika wanita itu dengan tiba-tiba menyentuh wajahnya hingga mata mereka saling bertemu.
"Aku tak meminta macam-macam padamu Erickson. Aku hanya ingin mengobati luka-luka mu kenapa kau sesusah itu?" tukas Clarissa mengeluarkan uneg-unegnya.
Erick diam seolah tak mendengar kan, hanya desis panjang yang keluar dari mulut nya ketika kapas yang sudah di tetesi betadine oleh Clarissa langsung di totolkan pelan di atas luka sekitar kening pria itu.
"Kau sudah berjanji untuk memberitahu ku apa alasan mu kesini dan siapa yang memberitahukan mu tempat ini, sekarang bicaralah." singgung Erick tentang janji yang di berikan Clarissa sebelumnya.
"Apa kamu tidak melihat aku sedang fokus mengobati luka mu?" kini, giliran Clarissa yang justru balik menatap nyalang.
__ADS_1
"Sssst ... aw!" Erick mencicit ketika dengan sengaja Clarissa menekan kapas di area luka baretnya.
"Kenapa kau lakukan itu?" protes Erick.
"Makanya diam." sentak Clarissa.
Lucunya Erick langsung diam saat itu juga, wajahnya tertekuk yang justeru terlihat gemas di mata Clarissa.
"Kamu tahu Erickson, di saat-saat seperti ini justru kembali membuka ingatanku saat masa kecil kita," Clarissa kembali membuka suara setelah cukup lama hening, membuat obrolan panjang.
"Ketika itu ada seekor anjing yang mengangguku saat kita tengah bermain di taman bersama. Aku yang takut langsung menjerit ketakutan dan kamu menyadari teriakan ku langsung menghampiri meski saat itu ku lihat kamu sedang asyik bermain bola bersama teman mu yang lain. Kamu menghadang anjing itu dan berusaha untuk melindungi ku. Anjing itu terus menggonggong keras membuat ku semakin ketakutan tapi kamu dengan gentle nya berusaha untuk menenangkan ku, padahal saat itu juga keselamatan mu dalam bahaya."
Clarissa menjeda ucapannya, sedang mengingat kelanjutan atas kenangan masa kecil yang menurutnya sangat manis itu.
"Lalu ketika anjing itu berusaha untuk mencakar ku, kamu sigap melindungi ku sebagai samsak. Pada akhirnya kamu terluka di bagian lengan dan justru aku yang semakin menangis kencang, hahaha ... lucu sekali ya." Claris mencoba meski ia tertawa mengingat hal itu namun justru hatinya sedang menangis tersedu sedan, menyadari kelak peristiwa itu hanya akan menjadi kenangan di antara mereka.
"Seperti saat ini, aku mengobati luka mu, di bawah pohon beringin di mana kita membangun rumah pohon bersama. Bermain permainan masa kecil yang saat itu sedang tren, rumah- rumahan. Kamu menjadi papa dan aku jadi mama, lalu kita mempunyai dua anak bersama dan menjalani aktivitas rumah tangga layaknya yang sering kita lihat di kesaharian orang tua kita."
Tanpa sadar Clarissa menggigit bibir bawahnya, mati-matian menahan Isak yang mendesak ingin keluar. Ah, akhir-akhir ini dia jadi sering gampang menangis. Betapa lemahnya kau Clarissa ...
"Sayang sekali, permainan rumah-rumahan itu hanya akan menjadi kenangan masa kecil saja, tanpa bisa terwujud di kenyataan."
Kini Erick menoleh saat Clarissa mengucapkan itu, ia tersentak karna ia lihat Clarissa yang sudah berurai air mata.
"Erickson, tak bisakah hubungan kita ini lebih dari teman biasa? atau bisakah perasaan mu padaku lebih dari pada seorang kakak yang menyayangi adiknya?"
Tak pernah Clarissa memohon hingga seperti ini. Hanya demi cintanya ia ingin menerima balasan yang sama.
Namun jawaban Erick tetap tak pernah bisa berubah.
"Maaf Clar ... aku tak bisa, ku mohon hapus saja perasaan mu itu. Kau hanya mendapat kesia-siaan jika terus mengejar ku."
__ADS_1