
Happy reading 😘😘
Jangan pelit like ya guys 🙏
**
"Aku tidak tahu!" pungkas Dea, setelah lebih dari semenit tak berkedip menatap Erick yang terlihat begitu menyeramkan saat ini.
Raut wajah mengeras Erick berubah lesu seketika, ia menghela nafas panjang meraup wajahnya dengan perasaan gusar.
"Nona Dea ... tolong jangan mempersulit saya. Apakah anda ingin uang sebagai gantinya dengan informasi yang saya minta? saya akan memberikannya apa nominalnya yang anda inginkan?" ujar Erick, sudah tak tahu lagi harus dengan cara apa membujuk Dea supaya membuka mulutnya memberitahu perihal keberadaan Elena.
Di beri penawaran menggiurkan seperti itu mungkin buat orang lain akan sangat menguntungkan dan tak akan menyia-nyiakannya tapi berbeda dengan Dea yang sangat ini menatap Erick dengan raut kecewa dan tatapan tak terbaca.
"Apakah semua orang kaya seperti dirimu tuan Erick? yang memudahkan segalanya dengan hanya pundi-pundi uang? kau pikir di dunia akan berjalan atas perintah mu dengan hanya mengeluarkan sedikit saya harta kekayaan mu itu?" nada Dea seolah tersinggung terlihat jelas saat ini.
"Aku bukan teman tak setia kawan dan orang matre akan kekayaan. Jika aku mengatakan tidak tahu di mana keberadaan istri mu, itu berarti aku benar-benar tidak tahu, aku bukan manusia tak bermoral seperti kalian wahai orang-orang kelas atas yang bagi kalian berbohong adalah hal biasa tapi bagiku ini mengenai harga diri. Dengan mengatakan itu kau sama saja mencoreng harga diri ku!"
"Sayang, sabar." Rizal berusaha menenangkan sang istri yang berada di ambang batas kesabarannya.
"Tidak. Jangan hentikan aku." tukas Dea, masih tetap lekat mengarahkan matanya pada Erick yang kini bergeming hanya mendengarkan nya.
"Jika kau lupa? mau ku ingatkan tentang apa saja penderitaan yang kau berikan pada Elena selama ini?"
Erick menelan saliva susah payah. Melihat raut wajah pria itu, Dea kembali melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
"Menduhnya tanpa bukti, melakukan kekerasan tidak hanya batin tapi juga tubuh. Dengan teganya kau memanggil Elena dengan sebutan Jallang, wanita panggilan, menganggapnya sebagai pembantu gratis saat dia berusaha untuk selalu setia berada di samping mu bahkan ketika kau sudah menghinanya habis- habisan. Apa kau masih mengingatnya tuan muda?"
"Tidak hanya itu saja, kau bahkan sengaja melukai perasaannya dengan mendatangkan seorang wanita malam ke kamar yang seharusnya di tempati kalian berdua sebagai suami-istri, bercumbu di depan Elena agar Elena cemburu. Tak cukup sampai di situ lalu dengan tidak berprikemanusiaan nya kau menyeretnya mengurungnya seorang diri di dalam gudang yang gelap dan kotor mendorong nya dengan keras ke dalam gudang itu seperti sedang menghukum seorang budak sampai kau tidak menyadari karena perbuatan mu itu dia mengalami luka cidera di bagian punggung."
Dea mengambil jeda sejenak, saat ia mengatakan itu semua ia merasakan sesak sendiri di dalam hatinya.
"Tapi lebih dari tuan Erickson yang terhormat. Kau bukan hanya memberikannya penderitaan tapi kau juga memberinya luka psikis, menghancurkan mentalnya ... kau pasti tak tahu bagaimana perjuangan Elena bangkit dari keterpurukannya itu. Kau pasti tidak akan bisa ikut merasakan bagaimana ia menangis meraung-raung bahkan ketika di tengah malam saat ia mengingat trauma ketika harus bermalam di gudang yang gelap seorang diri, bagaimana ia yang selalu termenung dan menatap kosong. Dirinya memang masih ada tapi jiwanya seakan pergi entah kemana. Kau tak akan pernah tahu tuan Erickson ... " Dea tergugu dalam tangis tak kuasa menceritakan lagi tentang kondisi Elena selama ini.
Rizal mendekat memeluk punggung sang istri. Zidan pun yang terkenal kalem dan pendiam kini tak bisa membohongi perasaannya ketika mendengar cerita Dea tersebut pria itu menyusut ujung matanya yang tiba-tiba berair tanpa kehendaknya.
Sementara Erick, tak tahu harus berucap apa, lidahnya seakan keluh. Sedangkan kedua matanya sudah memerah. Sebesar itukah rasa sakit dan penderitaan yang ia berikan pada Elena?
"Jika kau lupa tuan Erickson yang terhormat. Aku ingin mengingatkan mu satu hal. Kau dulu pernah begitu keras mengejar cinta Elena. Kau ingat saat sumpah pernikahan kau berikan Elena kau juga pernah berjanji pada almarhumah bu Ratna untuk selalu menjaga Elena dan akan selalu memberinya kebahagiaan. Tapi kau melanggar itu."
Dea mengambil nafas dalam mengeluarkannya secara perlahan, sesak semula mengihimpit kini ia rasakannya sedikit berkurang.
......................
Di tempat lain. Elena yang kini mulai menggeluti bisnis nya di bidang cake dan roti merasa senang ketika melihat testimoni langsung anak-anak di sekitar tempat tinggalnya saat ia membagikan kue tart kepada mereka.
Elena pun sudah memutuskan jika ia akan mulai mengembangkan usahanya tersebut.
"Di depan jalan tak jauh dari vila ini, ada sebuah ruko yang sudah lama kosong, pemiliknya bilang dia menyewakan rukonya itu. Ini kesempatan yang tepat. Kamu bisa mengambil ruko itu untuk membuka tokoh kue mu, Lena."
"Benarkah? itu berita yang bagus kak." Elena terkesiap, senang.
__ADS_1
Marvin yang melihatnya ikut merasa euforia yang sama. Ia senang kondisi Elena sudah semakin membaik dan gadis itu bisa bangkit dari keterpurukannya selama ini.
"Kakak bangga padamu. Kau sudah melewati semua perjalanan suka duka mu dengan hati yang lapang. Kini saatnya lembaran baru di buka, kamu berhak untuk meraih kebahagiaan mu sendiri, sayang."
Elena agak syok mendengar kalimat terakhir Marvin.
"Emmm ... kak, apa maksud mu dengan panggilan sayang?"
"Eh, hahaha." Marvin salah tingkah sendiri mengusap tengkuknya dengan tertawa renyah.
"Ehehehe. Maaf, kakak kelepasan bicara. Tapi ... tak apa kan sesekali kakak memanggil mu dengan panggilan itu, maksud kakak konteks nya adalah panggilan sayang antara kakak dan adik."
"Oh begitu kah ... hahaha tak masalah kak." Elena tak menaruh curiga lagi, menganggap itu adalah hal biasa dan gurauan dari Marvin.
Namun saat hening mulai menyelimuti mereka, Marvin justru malah semakin mendekat membuat Elena menatap waspada.
"Kenapa kak?" Elena masih berusaha berpositif thinking, namun dugaan salah tak kalah Marvin mulai menarik kedua bahunya agar keduanya berdekatan.
"Kak ... kenapa?"
"Elena ... jika aku mengatakan aku mencintaimu, bagaimana?"
Elena justru tersenyum jenaka. "Huh, kakak sedang bercanda ya? hahaha?" namun tatapan Marvin justru malah sebaliknya.
"Please kak, ini gak lucu!" tekan Elena berusaha memberontak dari jeratan kedua tangan Marvin namun tak efektif sama sekali karena kini justru cengkraman Marvin di kedua pundaknya semakin kuat.
__ADS_1
"Aku serius Elena, tidak bercanda sedikit pun. Mungkin aku lancang, tapi aku tak bisa membohongi perasaanku lebih lama lagi ... aku mencintaimu Elena, bukan sebagai kakak dan adik tapi lebih dari itu."
Pelan tapi pasti Marvin semakin memajukan wajahnya memiringkan nya 180 derajat hendak menggapai bibir Elena yang terlihat ranum dan menggoda baginya.