
Zidan berjalan dengan langkah lebar menuju ruangan kerjanya sesaat setelah meeting selesai di adakan. Ia menyambar kunci mobil dan mantel karena mendapat perintah untuk menjemput bosnya, tuan Erickson di bandara.
Bergeming sejenak, ia mengambil ponsel yang berada di balik saku jasnya. Benda pipih yang berhasil ia dapatkan dari salah satu maid di mansion yang menangkap rekaman video tak senonoh Mona bersama pria yang selama ini ia dan tuannya cari-cari.
Zidan berfikir lama, ingin segera menyerahkan video ini dan melaporkan Mona bersama Vicky kepada Erick, namun ia masih memikirkan konsekuensi yang akan terjadi.
"Pak Erick masih dalam penyembuhan mentalnya, aku tak ingin dia kembali mengalami depresi setelah mendengar kabar tak terduga ini." Zidan tengah berfikir keras. Apalagi Mona adalah adik yang selama ini selalu di banggakan Erick apa jadinya jika pria itu tau kebusukan adiknya sendiri.
"Mungkin aku akan menyimpan fakta ini dulu sementara waktu." putusnya kemudian setelah berunding lama dengan pikirannya sendiri.
...***...
"Selamat datang, pak."
Zidan membuka pintu mobil untuk Erick setelah berhasil menemukan tuannya itu di antara kerumunan orang-orang di bandara.
"Kenapa kau lama sekali?" desis Erick, sejak dulu selalu tak suka menunggu lama.
"Maaf pak, ada sedikit kendala ketika menuju kesini." Zidan menunduk, rasa bersalah.
Erick tak berucap lagi tanda memaklumi, ia hanya mengesah singkat lalu segera masuk ke dalam mobil, sementara Zidan mengambil alih kopernya lalu di masukannya ke dalam bagasi.
Di perjalanan, Erick masih sempat bertanya tentang apa saja yang sudah terjadi selama ini ia pergi, tentang keadaan mansion dan perusahannya.
"Perusahaan aman terkendali pak, tuan besar meskipun sibuk dalam politik tetap melakukan kontribusi nya sebagai direktur utama ketika anda pergi. Mansion pun dalam keadaan baik-baik saja, saya sesekali berkunjung untuk memastikan keamanannya."
"Bagus, itulah yang ingin ku dengar," ucap Erick.
"Lalu ... apakah kau sudah mengetahui di mana Elena ku berada?"
__ADS_1
Diam sesaat, Zidan mendesah pelan. "Maaf pak, saya belum sempat melakukan pencarian, nyonya muda di kabarkan di bawa pergi oleh temannya yang bernama Dea, entah kemana."
"Aku memaklumi karena kau sibuk menggantikan ku. Tapi mulai saat ini aku akan mengambil alih tanggung jawab sementara kau mulailah pencarian, aku ingin secepatnya tahu di mana keberadaan isteri ku berada. Secepatnya!" tekan Erick di akhir kalimat nya.
"Baiklah pak. Saya akan berusaha semaksimal mungkin dengan tim pencarian untuk menemukan lokasi nyonya muda."
"Bagus. Aku senang kau selalu bisa dapat di andalkan," ucap Erick di selipkan pujian.
"Terimakasih kak," sahut Zidan kemudian.
Hufft! untunglah Zidan bisa bernafas lega karena Erick tak menyinggung tentang pencarian Vicky. Sejujurnya ia ingin langsung memberi video yang di dapatnya, tapi bagaimana pun ia harus tetap menahannya dulu, memastikan jika keadaan pikiran dan emosi tuannya dalam keadaan baik-baik saja. Zidan tak ingin kejadian ketika Erick terpuruk dan depresi terulang kembali dengan adanya berita ini.
...***...
Sementara itu di mansion, ketika Mona mendapat kabar mendadak jika kakaknya sudah kembali kesini tanpa pemberitahuan sebelumnya, alangkah paniknya gadis itu.
"Cepat pakai pakaian mu. Pergi dari sini!" perintah Mona dengan panik yang memggerayapi.
"Apa? pergi? kenapa buru-buru sekali, sayang?!" Vicky segera beringsut dari atas kasur, ia yang sedang menikmati video game sambil memakan buah- buahan kini terkejut luar biasa. Ikut panik.
"Kakak ku sudah balik dari london, entah apa yang terjadi hingga dia memutuskan pulang secepat itu. Yang intinya sekarang kau harus cepat pergi sebelum ketahuan olehnya!"
"Shiit!" Vicky mengumpat, segera beranjak dengan tergesa-gesa memunguti pakaiannya lalu memakainya dengan terburu-buru.
"Jangan bawa apa-apa lagi selamatkan dirimu!" tegas Mona.
"Apa? lalu bagaimana dengan ponsel dan laptop ku juga PS 5 ku?!"
"Ck, di saat ini kau masih sempat-sempatnya memikirkan konsol game mu itu? aku bisa membelikan nya yang baru nanti. Sekarang aku sedang berusaha menyelamatkan nyawa mu, bodoh!" teriak Mona kesal hingga tak memikirkan kata-kata yang keluar dari mulutnya lagi.
__ADS_1
"Ck, baiklah, baik!" Vicky berdecak kesal.
Tak lama telepon berdering, berasal dari ponsel Mona, yang menelpon adalah utusannya yang sedang menjaga gerbang, mewanti-wanti keadaan di luar.
"Siaal!" Mona menghardik kesal bercampur panik tak terkira setelah mendapat telepon tersebut.
"Ada apa?" tanya Vicky yang masih mengancingkan kemeja.
"Kak Erick sudah sampai di sini! mobilnya sedang menuju gerbang?!"
"Apa?!" Vicky terbeliak kaget. "ini gila! bagaimana cara ku untuk keluar di sini?"
"Kenapa kau tak bilang dari tadi sih?"
"Bagaimana aku bisa tahu, aku saja baru dapat kabarnya tadi!" sungut Mona tak terima dengan tudingan pria itu.
"Aduh lalu aku harus bagaimana? aku gak mau matti muda di tangan kakakmu?!" mengingat jika ia tengah menjadi buronan Erick saat ini semakin membuatnya menggila dalam kepanikan.
Mona terlihat sedang berfikir keras melihat jendela yang terbuka ia langsung mendapatkan ide.
"Kau keluar melalui jendela itu, nanti kau bisa melalui jalur gerbang belakang! ayo cepat!" titah Mona, Vicky segera menuruti.
Namun terlambat. Karena sesampainya Erick di mansion sudah mendapatkan laporan dari salah satu maidnya, Nafisah yang memang mempunyai dendam pribadi terhadap Mona.
Nafisah yang memergoki kelakuan Mona bersama pria asing di mansion melaporkan langsung pada Erick setiba pria itu di sana.
Membuat Erick meradang seketika langsung menembus masuk ke dalam mansion.
Sementara Zidan di buat tepuk jidat karna kecepuan Nafisah yang memberitahukan semuanya pada Erick. Padahal niatnya ingin merahasiakan dahulu tentang Mona pada Erick.
__ADS_1