
"Nyonya muda, di minta langsung ke atas untuk menemui tuan."
Mendengar maid yang di utus nya kembali dan memberikan informasi tersebut membuat wajah Elena berseri, ia melempar senyum pada Dea dan Marvin yang mengantar nya.
"Lihat kan, Erick ku tidak berubah, dia tetap orang yang sama."
Dea dan Marvin saling berpandangan, tak yakin.
"Ku rasa kamu keliru De." timpal Elena pada Dea. "Erick ku tidak akan mungkin mengabaikan ku, dia tetap laki-laki sama yang mencintai ku dengan sepenuh hati nya dan rela mengorbankan hidupnya untuk cintanya." ada binar penuh kekaguman saat Elena mengatakan itu.
Dea mendesah singkat. "Ku harap juga begitu Elen."
Marvin mengetat gigi, ia berdecak pelan, melihat bagaimana gadis kecilnya kini banyak berubah. Elena benar-benar telah jatuh cinta pada bos nya itu. Dan tak ada kesempatan lagi untuk Marvin. Ia terlambat.
Elena melangkah ringan menaiki setiap undakan, tak sabar rasanya untuk bertemu sang belahan jiwa. Ia sudah banyak di uji hingga saat ini, telah banyak kehilangan orang-orang terkasih, sempat merasa terpuruk saat hal yang sama terjadi pada sang suami, tapi Tuhan masih memberikan nya kesempatan. Kali ini ia tak menyia-nyiakan nya, ia akan mencintai Erick dengan sepenuh hatinya.
Tak lama, tuan Rey datang bersama nyonya Sarah, melihat dua orang asing yang ada di mansion, Rey segera menghampiri.
"Siapa kalian? kenapa bisa masuk sembarangan ke sini?!" desisnya tajam.
Otomatis Dea dan Marvin menoleh, mereka memang tak pernah bertatap muka sebelumnya dengan orang paling berpengaruh di negara mereka tersebut. Hingga membuat kedua orang itu mendadak canggung.
"Maaf, saya temannya Elena, pak. Nama saya Dea," gadis berambut sebahu itu dengan sopan memperkenalkan diri. Rey manggut-manggut paham, lain halnya Sarah yang nampak tak suka dengan kehadiran gadis itu.
"Dan kamu?" Rey menunjuk wajah Marvin yang berdiri tenang tempat nya.
"Saya juga temannya Elena, pak. Saya Marvin anggara sutena." Marvin menunduk hormat.
__ADS_1
Rey nampak menatap lekat pria di hadapannya itu sambil alisnya berkerut dalam.
"Ah, saya tahu. Kau ini dokter muda yang di perkenalkan oleh Dokter Raharja bukan? pemilik Tri center hospital?" tebak Rey, yang merasa tak asing dengan pria bertubuh tinggi itu.
"Iya pak, kebetulan dokter Raharja itu ayah saya," ucap Marvin, sungkan.
"Ohohoho, pantas saja saya merasa seperti pernah lihat, ternyata kamu putranya, Kebetulan Raharja dan saya rekan bisnis dulu. Bagaimana kabar ayah mu?" wajah Rey nampak begitu sumringah, entah bagaimana akhirnya kedua pria itu terlibat obrolan seru.
Sarah mendekati Dea, gadis itu sudah menatap waspada nyonya mansion ini.
"Awas kau mencoba macam-macam di sini!" tegas Sarah memperingati memicing ke arahnya sementara Dea terkesiap dan memasang wajah nyleneh seolah mengejek, ketika wanita yang selalu tampil angkuh itu nyelonong begitu saja melewati nya.
...***...
Dengan jantung berdegup Elena membuka pintu kamarnya dengan Erick, di mana sang suami kini sudah menunggu kehadirannya. Ia memejam sejenak untuk menetralkan debarnya dan ketika membuka mata, ia menatap tak percaya, pria yang kini berdiri di depannya.
Pria itu hanya berdiri kaku dengan menatap dingin, tangan kanannya di sanggah menggunakan arm sling, kemungkinan karena terjadi cedera saat penembakan hari itu, semakin Elena mengamati ia semakin melihat tubuh Erick yang sedikit menyusut, namun wajah nya tetap tampan dan kharismatik. Elena begitu sangat merindukan nya, ia merindukan segalanya tentang pria itu. Tapi kenapa wajah datar dan tatapan dingin tak tersentuh, yang kini di terimanya.
Lalu sedikit bergulir matanya, Elena menyapu penampilan nya sendiri saat ini. Rambut kusut masai dan wajah yang masih sembab, Elena menyesal harusnya dia mempersiapkan penampilan nya dahulu agar terlihat cantik di depan Erick. Tapi tak mengapa Erick nya pasti akan mengerti. Dia adalah pria yang paling pengertian yang pernah Elena tahu.
Perlahan namun pasti, tangan Elena menggapai wajah Erick, embun di matanya semakin nyata terlihat haru dan juga bahagia menjadi satu menimbulkan gejolak di dadanya.
Sementara Mona dan Clarissa hanya memperhatikan di sudut kamar. Mona mencebik kesal bersama dua tangan terlipat depan dada, lalu Clarissa ia hanya menunduk sambil menghela nafas panjang. Berharap hatinya tak terlalu terluka melihat pemandangan di hadapannya kini.
Jemari Elena hampir saja membelai pipi sang suami, namun kalimat yang di lontarkan Erick membuat nya berhenti seketika.
"Masih punya muka untuk kembali?" ujar Erick dengan sinis.
__ADS_1
Sontak Elena terkejut, kakinya mundur beberapa langkah.
"A-apa maksud mu, mas?" tanya Elena dengan bulir bening yang siap luluh lantak di pipinya.
"Kau bertanya apa maksud ku?" Erick menoleh pada gelas berisi air di atas nakas lalu mengambil nya.
Byurr! seketika saja air di dalam gelas tersebut ia siram ke wajah Elena, membuat Mona dan Clarissa terbelalak melihat nya.
Elena sontak saja terpejam saat Erick melemparkan gelas berisi air itu ke wajahnya, bulir- bulirnya menetes hingga ke bawah rambutnya yang panjang, setengah tubuhnya basah kuyup.
Elena membuka mata kembali, terperangah dengan maniknya yang menatap penuh luka. Lain halnya Erick yang kini melayangkan tatapan sinis dan tajamnya pada gadis malang itu.
"K- kau menyiramkan ku m-mas?" suara Elena bergetar, dadanya di penuhi sesak saat ini. Ekspetasi tentang pertemuan kembali yang akan mengharukan dan penuh cinta, buyar seketika. Nampaknya ia terlalu menyepelekan apa yang di ucapkan Dea.
"Ya. Karena memang seorang ja- lang pantas untuk di siram!" tukas Erick dengan kejamnya.
Elena membeliak. Satu persatu air matanya luruh seketika, tak ada isakan karena tak mampu lagi ia bendung kesedihan. Tubuhnya mendadak ngefrezee, kalimat kejam yang di ucapkan Erick sukses mengoyakkan hatinya yang paling terdalam.
"Ada apa ini?" Seru Rey yang baru saja datang melihat suasana ruangan begitu suram. Lalu di susul Marvin dan Dea yang terkesiap melihat Elena basah kuyup.
"Elen, kau tidak apa-apa? apa yang terjadi?" Dea bertanya namun sama sekali tak ada respon dari gadis itu, di antara gaduhnya orang-orang, Erick dan Elena saling beradu pandang dengan tatapan dalam seolah tengah mencari jawaban dari mata masing-masing saat ini.
"Elena jawablah, jangan diam saja?" sergah Dea, merasa ada yang tak beres sedang terjadi. Meski bahunya sudah di guncang berulang kali namun Elena tetap bergeming matanya tetap tertuju pada Erick dengan kristal bening yang terus membanjiri.
Merasa tak sanggup dengan tatapan sendu penuh luka Elena, Erick berbalik, memunggungi semua orang.
"Bawa pergi wanita itu, aku sama sekali tak sudi melihatnya ada di sini!" tukas Erick.
__ADS_1