Gejolak Cinta Tuan Erick

Gejolak Cinta Tuan Erick
GCTE | Bab 66


__ADS_3

"Kau!" Erick berteriak murka.


Pria itu melangkah lebar, saat tatapan tajamnya tertuju pada Elena yang menatapnya tak gentar, darahnya kembali memanas. Dengan gerakan secepat kilat ia menarik paksa lengan Elena, mencengkeram nya dengan penuh kekuatan, gadis itu tak bisa lagi meringis namun menjerit kesakitan.


Semua orang kemudian datang setelah mencium bau asap yang menyebar dengan cepat ke luar, mereka semua menjadi panik, pak Pandu segera menyuruh beberapa orang untuk membawa air dan kemudian segera di siramkan ke ranjang yang kini telah hangus terbakar.


Tak membuahkan hasil maksimal, mereka lalu menyiram sebuah handuk yang telah di rendam air kemudian di lemparkan hingga akhirnya api cepat menyusut dan redup. Orang-orang yang telah bekerja keras menghela nafas lega setelah api berhasil di padamkan, menyisakan kepulan asap tipis juga bau gersang menyengat, nampak ranjang king size itu kini telah berlubang menghitam akibat di lahap si jago merah.


"Apa yang sebenarnya terjadi di sini hah? kenapa bisa sampai ada kebakaran?!" papa Rey berteriak keras meminta penjelasan. Menatap nyalang pada Erick, Elena dan satu wanita asing di depannya saat ini.


Wanita yang bersama Erick tak ingin terlibat masalah segera melipir dari sana, sebelum bisa di tahan oleh papa Rey, wanita itu sudah lebih dulu menyingkir keluar.


Sedangkan Erick, tak mengindahkan ke sekitaran nya sama sekali, matanya hanya tertuju pada Elena yang kini semakin meringis karena cengkraman nya.


"Erickson, kau mau kemana?!" papa Rey berteriak lagi saat Erick menderek paksa Elena pergi dari sana, semua orang hanya bisa melongo tanpa bisa berbuat lebih.


***


Erick menyeret Elena melewati lorong memanjang yang berada di mansion, sambil tangannya meremas lengan Elena, sebelah tangan pria itu menghantam ke semua benda apa saja yang di lewatinya, hiasan juga lukisan di sepanjang lorong yang di temuinya tak lepas dari amukan pria itu. Berkali-kali Elena terlonjak kaget mendengar pecahan beling yang hancur menghantam lantai.


Erick benar-benar sangat berbeda saat ini, ia terlihat seperti monster, benteng, yang menerjang apa saja saat ia marah.


"Lepaskan aku! apa yang hendak kamu lakukan hah? lepaskan!" berkali-kali Elena bersusah payah terbebas dari jeratan pria itu, namun perbedaan kekuatan yang tak sebanding membuatnya sering tak berdaya.


"Shut up!" Erick mengumpat kasar padanya,pria itu tiba-tiba saja berhenti membuat tubuh Elena sedikit terhempas menerjang tubuhnya.


Mereka berdua tiba di bagian belakang mansion, dan yang paling pojok. tak terhinggap sama sekali oleh siapapun kecuali beberapa pelayan yang di tugaskan untuk membersikan area ini. Kumuh, sunyi,lembab dan remang-remang adalah gambaran yang cocok untuk menjelaskan tempat paling tak terjangkau mansion davidson yang megah ini.


Konon katanya, beredar kabar di antara para pekerja yang lain, area di sini sering di juluki berhantu karena tempatnya yang sempit dan hanya ada gudang tempat penyimpanan barang tak terpakai dan rongsokan.

__ADS_1


Suara decit hewan pengerat seperti tikus terdengar nyalak membuat Elena membeliak ngeri. Seperti yang di gosipkan para pelayan di sini, tempat ini menyeramkan.


"Apa yang mau kamu lakukan mas? kenapa membawa ku kesini? lepaskan aku. Lepaskan!" saking kuatnya Elena berusaha memberontak, karena ketakutan yang mendominasi membuat ia tak sengaja mengigit bibirnya kuat-kuat hingga mengeluarkan darah. Hal itu membuat Erick terkejut namun tak juga membuat nya simpatik. Yang ada kemarahan yang semakin besar.


Erick mendekatkan Elena ke pintu gudang, beberapa anak buahnya datang, Erick mengintruksikan untuk memberikan kunci gudang padanya dari salah satu pelayan, dan anak buah yang di tugaskan menjaga gudang tersebut langsung memberikannya.


Tak lama kemudian, Erick membuka kunci gudang dengan paksa, aroma tak sedap langsung menyapa mereka begitu pintu di buka. Elena sudah mempunyai firasat tak enak, ia hendak kabur namun Erick segera menghadang nya.


"Mau kemana kau?!" Erick seperti orang kerasukan, mata pria itu memerah juga terlihat berkaca-kaca namun tatapannya sangat tajam seperti belati yang baru di asah.


"Lepaskan aku! jangan melakukan hal gila ku mohon!" Elena memelas, tak tahu lagi bagaimana caranya harus kabur.


Melihat Elena yang memohon Erick malah tertawa."Tidak semudah itu. Ini adalah hukuman karena kau telah berani mengacaukan kesenangan ku!"


"Juga bukankah harusnya kau memang dapat hukuman karena perselingkuhan yang kau lakukan?" Erick memandang Elena dengan nyalang. Tidak ada lagi cinta yang tersisa yang Elena bisa lihat dari mata pria itu.


"Tidak! kumohon keluarkan aku!" berkali-kali Elena memukul daun pintu yang sudah tertutup rapat sepenuhnya, tak ada sahutan dari luar, Erick benar-benar tega mengurungnya di sini.


Berusaha tak mengindahkan suara jeritan penuh ketakutan yang menyayat dari dalam sana, Erick sebisa mungkin abai meski di sudut hatinya yang terkecil merasa ia telah bertindak berlebihan namun amarah yang lagi-lagi menguasai membuatnya tutup mata.


Berdecih, Erick pergi dari sana meninggalkan Elena seorang diri dengan jeritan kemalangannya.


...***...


Malam tiba, tanpa mereka tahu Erick telah mengurung Elena seorang diri di dalam gudang pengap di bagian paling belakang mansion.


Sampai akhirnya makan malam datang, papa Rey yang kini menyempatkan diri untuk bergabung setelah sekian lama tak berada di rumah, mengernyit aneh menyadari sosok anggota keluarga yang hilang satu.


"Di mana Elena?" tanya papa Rey pada setiap penghuni yang kini sudah siap di kursi masing-masing.

__ADS_1


"Biasanya dia yang akan menyiapkan keperluan di meja makan?" tak ada yang menyahut membuat papa Rey berdecak kesal, melirik ke Erick, beliau kemudian melanjutkan. "Jangan bilang kalian bertengkar lagi Erickson?" papa Rey menyadari ia tak melihat Elena setelah keributan yang terjadi beberapa saat lalu.


"Aku tidak tahu." Erick bergidik acuh.


"Apanya yang tidak tahu? jelas- jelas papa ingat setelah keributan yang terjadi kamu membawa Elena pergi entah kemana?!" selidik papa Rey lagi penuh intimidasi.


Namun Erick seperti orang masa bodoh. Ia merogoh sesuatu dalam sakunya, menemukan korek api dan sebatang rokok.


"Sejak kapan kamu merokok, Erickson?" kini pertanyaan papa Rey dengan cepat berganti, melihat perubahan putranya yang tiba-tiba.


"Kenapa papa ribut sekali? apa fenomena seorang pria merokok menjadi sesuatu hal yang menghebohkan untuk papa?" Erick berdecak.


"Bukan begitu, tapi kau tak pernah merokok bahkan menghirup asapnya saja kau tak suka, kenapa sekarang mendadak berubah?" selidik papa Rey penuh tanda tanya.


"Sudahlah dad, Erickson bukan anak ABG lagi yang bisa kau atur, biarkan dia dengan kesenangan nya," tutur Sarah, membela.


"Tapi ... " belum sempat papa Rey bicara lagi, Erick sudah berdiri hendak pergi.


"Hei, kamu mau kemana? papa belum selesai bicara!"


"Aku pergi, tak jadi makan. Tempat ini juga penghuninya lama-lama membuat ku muak!"


"Anak kurang ajar! berani-beraninya kau ... " papa Rey tersulut emosi namun Erick tetap acuh pergi dari sana.


"Sudah pah ... " Sarah mencegat suaminya agar tak kembali terjadi keributan.


Papa Rey mematung, menatap punggung Erick yang sudah pergi menjauh.


"Kenapa semuanya jadi berubah seperti ini?" batin papa Rey, termenung di tempatnya.

__ADS_1


__ADS_2