Gejolak Cinta Tuan Erick

Gejolak Cinta Tuan Erick
GCTE | Bab 73


__ADS_3

"Bisakah kau lacak keberadaan Elena ... aku ingin menemuinya sebelum terapi Erick."


Zidan sedikit tertegun mendengar permintaan wanita yang ia tahu adalah teman masa kecil tuannya itu, namun Zidan tetap mengangguk tanda menyanggupi.


"Baiklah nona, saya akan berusaha menemukan keberadaan nyonya muda," ujar Zidan.


Clarissa mengangguk. "Terimakasih."


Lenggang merayap, Zidan melirik arjoli di pergelangan tangan.


"Saya harus kembali ke kantor untuk mewakili pak Erick dalam pertemuan, jika terjadi sesuatu tolong segera hubungi saya," ujar pria itu.


"Baiklah, kau tak usah khawatir," ucap Clarissa coba menenangkan sekretaris Erick tersebut. "Jalankan saja perusahaan seperti yang selalu Erick lakukan, kami percaya sepenuhnya padamu." tak lupa ia memberi sedikit wejangannya.


"Baik nona. Kalau begitu saya permisi." Zidan undur diri, melirik ke arah Erick untuk terakhir kali, lalu berbalik melangkah pergi.


"Kamu lihat Erickson? ada banyak orang-orang di belakang mu yang selalu mendukung mu dan setia padamu," papar Clarissa namun sepertinya Erick tak mendengarkan karena pria itu sudah kembali menutup matanya.


...***...


"Elena kamu sudah lebih mendingan kan?" pertanyaan Dea seakan hanya menggantung di udara karena Elena yang sama sekali tak merespon, tak tahan Dea kembali bercucuran air mata, melihat sahabatnya yang seperti ini membuatnya ikut tersiksa.


"Mengangguk lah jika kamu memahami ucapan ku Elena ... kumohon." Dea merasa sesak teramat yang saat ini ia rasakan, setelah siuman dari pengaruh obat bius untuk menghentikan amukannya, Elena terbangun hanya dengan menatap kosong, seakan tak memiliki kehidupan sama sekali, itu membuatnya sangat dilema dan khawatir.


Perlahan Elena merespon ucapan Dea, meski tak mengatakan sepatah kata pun namun Elena menganggukkan kepalanya pelan, hanya seperti itu namun sudah membuat Dea sumringah, ia bisa tersenyum lega karena nya.


"Dea ... bawa aku pergi dari gudang menyeramkan Dea! bawa aku pergi ... !" Elena kembali histeris.


Dea panik, ia menekan tombol yang berada di samping brankar dengan segera, para suster langsung berdatangan sigap membantunya.


"Pasien kembali mengamuk?"


"Elena histeris suster, dia seperti orang ketakutan ... " terbata Dea menjelaskan, berusaha mendekap Elena untuk menenangkannya.

__ADS_1


"Baiklah, anda jangan panik. Menyingkir sebentar biar kami coba tangani," ucap suster, Dea menurut ia sedikit menjauh membiarkan para perawat medis itu melakukan tugasnya.


Tak lama Marvin datang, "Ada apa lagi ini?"


"Elena mengamuk lagi, ka." Dea seketika menghampiri laki-laki itu, menjelaskan.


"Baiklah, kamu keluar sebentar, biar kami tangani," ujar Marvin mencoba menenangkan Dea dari tangisnya.


"Jaga Elena ka ... " Dea terisak, Marvin mengangguk mengusap kepala gadis itu sekilas, Dea menoleh sejenak lalu keluar dari ruangannya menunggu keadaan reda.


***


"Sebaiknya segera kita harus membawa Elena pergi dari kota ini," usul Marvin setengah jam setelah Elena kembali tenang. Mereka ada di kantin rumah sakit di lantai dasar saat ini.


"Di bawa ke luar kota? apakah upaya itu harus kak?" tanya Dea, resah.


"Tentu, bahkan sangat harus. Atau tidak traumanya akan terus berkelanjutan, di kota ini telah banyak memberikannya luka, menjauhkannya dari kota ini adalah pilihan terbaik saat ini." tutur Marvin.


"Tapi bagaimana dengan Er--" Dea urung untuk melanjutkan ucapannya dia menjadi ragu tiba-tiba saja saat tatapan Marvin berubah mengarah padanya.


"Jangan pernah kau sebutkan nama itu di depan ku, De." Marvin mendelik padanya, memperingati.


"Tidak kak. Maafkan aku."


Marvin seketika merasa bersalah seolah telah membentak Dea. "Maaf kalau aku sedikit kasar."


Dea dengan cepat menggeleng, mengayunkan tangannya. Lenggang terjadi sejenak, mereka diiringi kebisuan panjang untuk beberapa saat.


"Sebenarnya aku sudah berencana akan menyewa seorang pengacara untuk menggugat perceraian Elena dengan pria itu." seru Marvin mendadak saja membuat Elena yang sedang membasahi kerongkongan nya dengan es teh manis pun terbatuk-batuk.


"Apa? c-cerai?"


"Iya, jangan bilang kamu tidak menyetujui usulan ini?" tanya Marvin penuh selidik.

__ADS_1


"Bukan begitu, hanya saja bukankah ini terlalu terburu-buru?"


"Apanya yang terburu-buru? pernikahan mereka berdua sudah tak sehat, Dea. Si Erick davidson itu gila, bahkan dia tak berusaha mencari bukti dulu sebelum menyerang Elena karena tuduhan palsu, itu membuktikan jika cintanya bahkan tak pernah sedalam yang dia gembar-gembor kan ke semua orang," ujar Marvin penuh kesal saat mengatakan itu.


"Pernikahan mereka pun aneh, terjadi secara mendadak bahkan aku tak mengetahuinya sama sekali, mungkin saja sejak awal memang Erick tak pernah cinta pada Elena ... dia hanya penasaran," tukas Marvin kembali merasa tersulut emosi.


Dea menggeleng pelan, dalam hati tidak membenarkan hal itu.


"Kau salah ka ... mungkin tak ada yang bisa memahaminya tapi Erick sangat mencintai Elena nya."


"Ck, aku jadi sangat kesal jika obrolan ini berujung dengan membicarakannya. Pria yang sukses tapi pikirannya sempit sekali." Marvin berdecih keji, mensarkas untuk Erick.


"Tapi kita bahkan belum membicarakannya pada Elena ka," ucap Dea.


"Itulah sebabnya, aku tak akan mungkin langsung menggugat tanpa persetujuan Elena dulu. Kita harus membuat kondisi mentalnya stabil dahulu lalu membicarakannya lagi, aku hanya ingin mengatakan jika aku sudah memilki rekomendasi pengacara handal untuk mendampinginya nanti."


Bahu Dea merosot, dia agak ragu untuk itu.


"Kenapa? kau terlihat tak senang dengan perkataan ku?" rupanya Marvin bisa menebak dengan pasti.


"Tidak kak, aku menyerahkan yang terbaik untuk Elena, padamu."


Marvin kini tersenyum mendengar ucapan Dea. "Baiklah. Kita harus mendukung Elena bersama-sama oke? harus kompak. Karena kalau bukan dari kita berdua pada siapa lagi Elen akan mendapat dukungan," ujar Marvin dengan menatap kedua bola mata gadis di depannya kini.


Dea mengangguk, mengulum senyum tipis. "Baik kak."


"Oke, sudah di putuskan. Kamu bersiaplah, siapkan juga keperluan Elena, rencananya aku akan menempatkan Elen di salah satu villa di kota B, salah satu tempat yang cukup jauh dari kota ini, tak akan ada yang bisa menjangkaunya bahkan jika Erick berniat untuk membawa Elena kembali dia tak akan pernah menemukan nya dan tak akan kubiarkan." ada tekad kuat di sepasang mata hitam bak jelaga milik Marvin.


"De ... kamu bersedia kan untuk berada di samping Elena dalam masa penyembuhannya?"


"Tentu saja kak." Dea menjawab pasti. "Elena adalah sahabat terbaik bagaimana mungkin aku bisa meninggalkan di masa terpuruknya."


Marvin melebarkan garis senyumnya. "Elena beruntung memiliki teman seperti mu."

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sebelumnya terimakasih untuk yang selalu mendukung Novel ini🙏 beribu-ribu cinta untuk kalian ❤️ please agar cerita ini tetap jalan bagi reader yang telah menyempatkan membaca berikan like dan tinggalkan komen agar othor semakin semangat, terimakasih ✨


__ADS_2