Gejolak Cinta Tuan Erick

Gejolak Cinta Tuan Erick
GCTE | Bab 95


__ADS_3

Erick di buat geleng-geleng kepala karena penemuan itu, sedetik kemudian ia merasa persendian hilang saat itu juga, hingga Zidan sampai memapahnya ketika dia hampir limbung dari tempatnya berdiri.


"Tuan, tidak apa-apa?" tanya Zidan, mulai cemas.


"Tidak. Aku tidak apa-apa." elak Erick, lalu kembali menegakkan tubuhnya. Meski kekecewaan juga perasaan gagal menjadi kakak yang baik untuk adiknya saat ini memukul bertubi- tubi hatinya.


"Aku gagal ... aku gagal menjadi kakak untuk satu-satunya adikku sendiri."


"Zidan, kembali kita geledah kamar ini. Sepertinya masih banyak hal yang di sembunyikan adikku di sini!"


Erick masih di landa penasaran, ia tak puas sampai benar-benar menjelajah habis kamar penuh hal mengerikan ini.


"Mona ... apa yang sebenarnya terjadi padamu, kenapa kau begitu mengecewakan kakak." nelangsa Erick dalam hatinya.


Tak lama kemudian, Erick dan Zidan kembali menjelajahi, mencari di setiap celah bahkan di hal yang terkecil sekalipun.


Menyingkap gorden, bedcover memeriksa setiap laci sudah di lakukan Erick, sampai menggeledah di ruang ganti adiknya itu hingga kini kamar terlihat berantakan, sampai akhirnya ia mendapati lagi penemuan yang membuatnya kali ini terkejut luar biasa.


Salah satu ponsel di antara banyaknya ponsel yang Mona miliki ternyata ada di sana. Tersimpan rapi di laci yang terletak di ruang ganti hingga tak akan terjangkau orang lain namun kini di temukan olehnya.


Awalnya ponsel itu dalam keadaan mati daya namun ketika Erick membukanya dan beruntungnya lagi ponsel itu tak memiliki sandi yang mungkin akan menyulitkan nya. Hal pertama yang Erick lakukan memeriksa pesan di ponsel itu, tindakan yang membuat Erick akhirnya tahu tentang masalah yang saat terjadi pada rumah tangganya juga terkuak lah akhirnya jika sang adik yang ternyata menjadi dalang atas apa yang terjadi selama ini.


"Kapparat!"


Tangan Erick bergetar dengan bola mata nyaris keluar dari rongga nya, darahnya seolah berdesir hebat ketika membaca pesan demi pesan obrolan antara Mona dan Vicky yang isinya adalah membicarakan tentang konspirasi mereka untuk menjatuhkan Elena.


"J- jadi selama ini aku telah salah menduga?!" rasa bersalah langsung menyelusup, dengan lancang mencabik-cabik hatinya.


Dengan piciknya ia langsung menuding Elena berkhianat tanpa bukti sama sekali, yang kenyataannya adalah adiknya lah yang ternyata menusuknya dari belakang.


Erick bersimpuh, rasa sesal di hatinya semakin membuat lemah, menimbulkan sesak yang tak terperih.


"Tuhan! apa yang ku lakukan selama ini? bodoh, kau telah menyia-nyiakan kesetiaan istrimu selama ini!" ia merutuki menyalahkan dirinya sendiri.

__ADS_1


Tak lama Zidan datang, ikut berjongkok melihat keadaan sang tuan.


"Tuan,anda baik-baik saja?"


"Zidan. Bawa aku pada Elena ku, aku ingin meminta maaf padanya."


Zidan tak mengerti apa yang terjadi pada tuannya tersebut hingga berakhir seperti ini, namun sesaat setelah ia sempat melirik isi pesan yang ada di dalam layar ponsel menyala di genggaman Erick saat ini berulah ia menyadarinya.


Kehancuran Mona dan ibunya kini sudah semakin jelas di depan mata. Dan untuk Elena, inilah akhir dari kedzaliman yang selama ini telah di terimanya.


...***...


Setelah ketika mereka sudah mengetahui kebenarannya. Tanpa mempedulikan dahulu Mona dan Sarah yang menunggu di ruang tamu.


Zidan atas perintah Erick untuk mencari keberadaan Elena, melesat cepat ke mobilnya. Ia yang memang mengetahui alamat rumah teman nyonya muda nya bernama Dea memberitahukannya pada Erick dan tanpa menunggu lebih lama lagi, Erick mentitahkan Zidan untuk membasminya ke rumah wanita yang bernama Dea itu untuk mencari informasi keberadaan sang istri.


"Ini tuan, adalah rumah nona Dea."


"Sebulan yang lalu, Dea dan kekasihnya melangsungkan pernikahan dan pindah ke rumah ini. Dorm yang sempat di tinggalinya bersama nyonya muda sudah di biarkan tak berpenghuni."


"Apa dia ada di rumah saat ini? sungguh yang ku butuhkan adalah di mana tempat tinggal istriku saat ini berada?"


"Kita akan mengetahui nya sebentar lagi, tuan," ucap Zidan penuh keyakinan.


Tapi tak seperti perkiraannya, sesampainya mereka bertamu di sana dan di sambut langsung oleh suami Dea, yaitu Rizal yang memperlakukan mereka dengan hangat, tiba saat Dea datang, semuanya berubah.


"Ngapain kalian kesini? gak puas menyakiti sahabat ku hah?!" ketus Mona pada kedua pria itu.


"Sebelumnya maaf jika kami menganggu waktu santai mu," ujar Zidan penuh kehati-hatian. Menghadapi wanita seperti Dea memang harus penuh ektra sabar.


"Memang memanggu!" tukas Dea dengan cepat tak mengijinkan Zidan untuk melanjutkan ucapannya membuat semua hening dan ketiga laki-laki itu menatapnya berbarengan.


"Sayang, gak boleh gitu ih." pinta Rizal, memperingati sang istri. "Bagaimanapun mereka tamu loh di rumah kita."

__ADS_1


"Bodo!" pungkas Dea dengan raut wajah yang masih sama, tak bersahabat.


Tak lama Erick menyahut. "Tak apa-apa pak Rizal. Saya memaklumi sikap nona Dea ini. Selama ini saya telah memperlakukan sahabatnya yaitu isteri saya dengan tidak baik. Tapi kini saya benar-benar menyesal."


Lalu beralih pada wanita itu. "Nona Dea, bisakah anda memberitahukan istri saya saat ini di mana? saya mohon."


Untuk ukuran seorang dengan nama besar seperti Erick davidson, berucap memohon seperti itu adalah standing applause membuat Dea melongo untuk sesaat. Namun tetap saja tak akan semudah itu meluluhkan nya.


"Untuk apa kau mencari keberadaan Elena lagi? agar membuat nya semakin menderita hah? kurang puas menyakiti nya selama ini?!"


"Nona Dea tolong, jaga omongan anda." Zidan tak tahan Ketika Dea mulai berucap dengan nada angkuh dan meninggi.


"Tak apa, Zidan." Erick menengahi, isyarat agar asistennya itu tak perlu ikut campur.


"Saya tahu, saya telah membuat kesalahan yang sangat fatal dalam rumah tangga saya dan Elena. Tapi bisakah nona Dea untuk memberi sedikit keringanan, biar saya selesaikan semua ini bersama Elena nanti dalam status sebagai suami dan istri. Nona Dea cukup memberitahukan di mana keberadaan istri ku berada?"


"Aku tidak tahu!" ujar Dea dengan cepat segera setelah mendengar penuturan panjang pria di hadapannya itu.


"Apa maksud anda dengan tidak tahu?" Erick mengerut dahi. Di buat naik darah juga dengan ketidak acuhan Dea saat ini.


"Ya, aku tidak tahu di mana tempat tinggal Elena saat ini. Harusnya kau mengerti apa yang ku katakan." sarkas Dea.


"Tapi kau adalah teman Elena ... mana mungkin kau tidak tahu di mana keberadaan istri ku berada."


"Jika aku mengatakan tidak tahu ya tidak tahu, kenapa kau memaksa!"


Erick mengambil nafas dalam berusaha untuk tenang.


"Saya sudah habis kesabaran nona Dea. Sekarang katakan padaku dengan jujur di mana alamat tempat tinggal Elena berada?" tanya Erick, dengan raut wajah berubah horor dan kata penuh penekanan.


Membuat Dea menatapnya berbeda.


Pria ini menyeramkan!

__ADS_1


__ADS_2