Gejolak Cinta Tuan Erick

Gejolak Cinta Tuan Erick
GCTE | Bab 155


__ADS_3

Happy reading 🌹🌹🌹🌹


Malam, rembulan bersinar terang di temani cahayanya ribuan bintang. Di sebuah kamar yang kini menghadap langsung ke arah balkon di mana langit tampak begitu cantik malam ini. Elena mendongak menatap lamat-lamat pemandangan kota dari atas balkon kamarnya.


Seseorang muncul, suaranya yang menutup kenop pintu terdengar di telinga Elena, hingga gadis itu menoleh.


Erick tersenyum berjalan ringan menuju sang istri yang berbalik kembali menatap ke atas ribuan bintang yang bersinar terang di temani cahaya rembulan yang menenangkan untuk nya.


Erick datang menghampiri, ia berdiri di hadapan Elena, lalu pria itu menekuk lutut nya membuat bahu tegapnya bersejajar dengan tinggi Elena yang tengah duduk di kursi roda saat ini.


"Kamu melamun?"


"Tidak." jawab Elena menggeleng atas pertanyaan Erick.


Pria itu tersenyum kembali hingga memperlihatkan lesung di pipi kirinya amat sangat tampan dan manis. Jemari tangannya yang besar menyapa lembut pipi Elena, menahannya di sana cukup lama hingga tatapan mereka beradu, ekspresi Erick berubah melembut bak gula kapas yang manis.


"Maafkan aku ... " Erick mengesah sejenak sebelum akhirnya melanjutkan ucapannya.


"Aku sadar apa yang ku lakukan di masa lalu pada mu sungguh sangat keterlaluan, maaf saja mungkin tak akan cukup aku ... " tiba-tiba nafas Erick tersendat ia merasakan sesak yang begitu teramat di dalam dadanya.


Elena tertegun membulat kan matanya, saat di lihatnya Erick yang menitikkan air mata. Pria itu membuang wajahnya ke samping seolah tidak mau Elena yang melihatnya tengah menangis.


"Aku ... " Erick tak mampu melanjutkan ucapannya ia hanya mampu menggumamkan kata pertama lalu berujung kata 'maaf' lalu setelahnya hanya air matanya yang seolah berbicara.


Elena tak sanggup melihat Erick yang seperti ini. Dengan tangan mungilnya Elena menggapai wajah Erick hingga pria itu mau tak mau harus menatap ke arahnya. Elena menangkup rahang kokoh itu mengelusnya dengan lembut.


"Kenapa suami ku yang selalu terlihat garang ini jadi cengeng seperti ini?"


Keduanya terkekeh dengan ucapan yang di lontarkan Elena saat ini. Hening cukup lama, mereka hanya saling memandang dengan dalam dan penuh tersirat perasaan cinta lantas jemari Elena yang kini kembali di sematkan cincin pernikahan mereka, perlahan mengusap air mata Erick yang jatuh membasahi pipinya.


Untuk sejenak Elena menahan nafas saat menemukan luka di sudut Erick.


"Ini kenapa? apa kamu terluka lagi?" tanya gadis itu.


Erick terperenyak, lalu segera menghalau tangan Elena.


"Tidak apa-apa, aku tadi terpeleset saja." elak Erick.

__ADS_1


"Jangan bohong!" Elena memicing kan mata, curiga.


Erick membuang nafas kasar, pada akhirnya memang ia tak pernah bisa untuk berbohong pada sang istri.


"Ini luka lama sayang. Ayah mu-- maksud ku ayah mertua sempat emosi dan menampar ku ketika kamu di larikan ke rumah sakit."


"Benarkah? ayah yang melakukannya?" Elena seakan tak percaya.


"Iya, itu wajar sayang ku. Ayah mu sangat menyayangi mu dan saat tahu jika putrinya di sakiti, dia pasti akan sangat marah dan memberikan pelajaran pada sang pelaku yang telah membuat putrinya terluka, wajar untuknya menampar ku, itu hukuman untuk ku," turut Erick menjelaskan.


"Tapi tetap saja, aku tak pernah menduga papa akan melakukan nya padamu? Aku belum bisa membuka sepenuh hati ku untuk menganggapnya sebagai ayah ku." Elena menunduk.


"Kenapa? kamu masih ragu untuk memaafkan nya?"


Elena sontak menggeleng cepat. "Tidak. Hanya saja aku belum sepenuhnya menerima kenyataan jika ayah ku kembali pada ku."


Erick tersenyum lembut. "Jika begitu berarti ada yang salah dengan maaf ku, babe. Kamu harus bisa membuka lapang hatimu, jika masih saja ada sedikit keraguan atau kebencian yang masih tersisa, maka kebencian mu sendiri tak akan pernah selesai."


"Ku tanya, apa kamu masih membenci ayah mu?"


"Lantas, apa kamu mau menerimanya?"


Elena kemudian mengangguk segera. "Iyah."


"Lalu apa kebencian di dalam hati mu masih memiliki ruang tersisa?"


Elena menelengkan kembali kepalanya. "Tidak ada."


"Jadi seharusnya kamu sudah bisa melampangkan hatimu untuk menerima beliau sebagai ayah mu."


Elena manggut-manggut cepat. "Aku ingin menerimanya sebagai ayah ku."


"Sejak kecil aku bahkan tak pernah tahu bagaimana rasanya di peluk oleh seorang ayah. Kini untuk pertama kalinya aku bisa merasakannya, aku ingin selalu bisa merasakan kehangatan dan kasih sayang itu mas."


Erick mengangguk-ngangguk mendengarkan Elena dengan penuh perhatian. "i know sayang, kamu pantas mendapatkan semua cinta dan kasih sayang dunia ini. Kamu berharga, jangan anggap dirimu tidak berharga lagi. Karena mungkin bagi dunia kamu hanya seseorang, tapi bagi seseorang kamu mungkin adalah dunianya. Dan seseorang itu adalah aku. Kamu bukan sekedar cinta ku, tapi juga dunia ku, dan ibu untuk anak-anak ku kelak."


Mendengar kata-kata pujian nan begitu manis itu, entah bagaimana tak terasa air mata Elena ikut menitik haru. Tak pernah ia menduga akan mendapatkan seorang pria yang begitu mencintai dan menjaganya.

__ADS_1


"Kamu dulu sangat kejam, tapi entah kenapa semua kini kata-kata mu selalu perhatian dan manis." Elena sedikit terkekeh tak menyangka, membandingkan Erick yang dulu sempat membencinya dengan yang sekarang sungguh jauh berbeda.


"Karena saat itu aku terlalu pengecut dan tak tahu bagaimana harus menyikapi masalah rumah tangga. Dulu pernah ku bilang kan? aku awalnya tak mempercayai komitmen atas nama pernikahan. Tapi setelah bertemu dengan mu, semuanya mulai berubah, sayang. Kamu berhasil merubah hatiku yang beku menjadi mencair dan hangat."


Mereka sama-sama saling menyatukan kening, tangan besar Erick membelai halus pipi Elena, keduanya saling menumpahkan rasa dan air mata satu sama lain di bawah sinarnya rembulan malam ini.


Erick membuka matanya begitu pun dengan Elena, dada mereka seolah sedang di penuhi kelegaan dan kebahagiaan. Cukup lama Erick memandang, matanya intens menatap bibir mungil dan ranum milik sang isteri. Lama keheningan melanda di antara mereka, Erick lalu mengulurkan tangannya kembali mencengkeram lembut tengkuk Elena dan mempertemukan bibir mereka.


Rasa yang hampir saja Erick lupakan kini kembali Erick rasakan, manis dan lembut juga menyegarkan saat ia menyesap bibir pink alami itu. Elena pun merasakan perasaan yang sama. Lama kelamaan civman mereka semakin intens, Erick begitu lihai mengobrak-abrik bagian rongga mulut Elena dengan lidahnya, bermain- main hingga sesapan manis itu perlahan-lahan berubah menjadi civman yang menggairaahkan.


"Elena, bisakah kita memulai dari awal?" tanya Erick melepas sesaat paggutan bibir mereka menatap Elena dengan pandangan yang sudah berubah penuh gaiirahh.


Elena merasakan jantungnya yang kini sedang di pompa cepat, wajahnya memanas dan pipinya memerah.


Ia melihat wajah Erick yang begitu di selimuti kabut gaiirahh.


Gadis itupun akhirnya mengangguk perlahan. Lalu tak butuh waktu lama Erick pun kembali melancarkan aksinya. Kali ini cukup agresiff, Erick langsung menyergap bibir mungil Elena, menyesap nya kembali sambil kedua tangannya mengangkat tubuh Elena dari kursi roda.


Elena refleks mengalungkan tangannya di leher pria bertubuh atletis itu. Erick dengan hati- hati merebahkan tubuh Elena di atas kasur. Luka Elena di bagian perut akibat tusukan masih belum kering hingga Erick harus ekstra hati-hati.


"Apakah sakit?" tanya Erick melihat ke arah perut Elena lalu kembali menatap wajah sang istri.


"Tidak." Elena menggeleng pelan. "Kamu bisa melanjutkan."


Erick tersenyum semrik. "Kalau begitu sesuai keinginan mu nona."


Erick lalu kembali melancarkan aksinya, ia sedikit menekan bantal untuk menyamankan posisinya, tanpa melepaskan penyatuan bibir mereka, Erick sedikit susah payah melepas kemeja yang di pakainya.


Sebelum itu ia pun memastikan lebih dulu lampu kamar sudah padam lalu memulai penyatuan keduanya, ini adalah malam pertama kedua pengantin itu setelah banyak rintangan yang mereka lalui dalam pernikahan mereka.


***


Dah segitu aja y, takut trapeling🤭 kalian pasti tahu apa yang terjadi selanjutnya mwehehe 🤧


Salam dari Erick❤️ Elena.


Terimakasih untuk reader yang masih mengikuti sampai sejauh ini, salam sayang💐

__ADS_1


__ADS_2