Gejolak Cinta Tuan Erick

Gejolak Cinta Tuan Erick
GCTE | Bab 151


__ADS_3

Happy reading 🌹🌹🌹🌹


Elena segera di larikan ke rumah sakit, di bantu oleh Wahyu iskandar yang ikut syok melihat putrinya terluka.


"Bertahanlah Elena, ku mohon jangan tinggalkan aku," lirih Erick dengan kristal bening yang luruh satu persatu membasahi pipi nya. Tidak ia perdulikan lagi luka-luka di sekujur tubuhnya akibat selepas melawan anak buah Sarah, pipinya memiliki luka baret dan memar membiru belum lagi tulang punggungnya yang seakan pecah akibat perkelahian sengit itu, namun kini Erick seperti tak merasakan apapun, yang terpenting saat ini adalah sang istri.


Clarissa dan Zidan ikut menyusul menumpangi mobil yang sama, sementara para anak buah Erick dan para polisi tetap berjaga di lokasi, Winston dan anak buahnya pula kini sedang memutuskan untuk mengurusi pemakaman Mona.


Salah satu polisi datang tersuruk-suruk menghampiri, dengan wajah cemas dan perasaan kalut ia memberikan info pada sang ketua.


"Lapor pak. Tersangka Sarah advika, tewas setelah sebuah truk menghantam tubuhnya dengan keras," ujarnya dengan keringat membasahi.


Semua terkejut, mereka langsung menyusul ke tempat lokasi.


Benar saja, di sana sudah ada tiga polisi lain bersama para warga tengah menutupi tubuh Sarah yang bersimbah darah dengan karung ataupun kardus yang ada.


Ketua pimpinan polisi yang melihat nya pun menggeleng dengan berdecak pelan, tak menyangka dengan peristiwa ini.


"Kita bawa jenazah dan amankan lokasi." titahnya kemudian lalu serentak di angguki oleh para anggota lain.


Tiba di rumah sakit. Erick langsung menggendong tubuh Elena ala bridal style, setengah berlari di lorong rumah sakit, berteriak keras agar paramedis segera datang. Ia terlihat semakin kalut mana kala di rasakannya tubuh Elena yang semakin mendingin.


"Tidak, jangan tinggalkan aku sayang." lirih Erick berucap.


"Dokter, cepatlah!" teriaknya lagi pada para petugas rumah sakit agar segera menangani istrinya.


Lalu tak lama kemudian, paramedis pun datang dengan mendorong brankar dan membawa alat-alat penunjang kesehatan. Tubuh mungil Elena segera di baringkan hati-hati oleh Erick di atas brankar lalu salah satu perawat segera memasangkannya tabung oksigen.


Erick ikut membantu mendorong brankar, yang lain pun menyusul. Pria itu tambah khawatir setelah melihat darah yang keluar dari Elena tak berhenti juga malah semakin banyak.


Sampai di ruang penangan, pintu terbuka lebar sudah ada tim dokter yang menunggu, dengan cepat elena segera di bawa masuk ke dalam.


Setelahnya Erick hanya bisa menunggu di luar, sementara itu pintu pun tertutup rapat.

__ADS_1


Erick mengembuskan nafasnya dengan kasar ke udara. Ia merasa sangat frustasi, cemas, khawatir, panik menjadi satu seolah-olah sedang mengaduk-aduk perasaan dan emosinya saat ini. Ia menyugar rambutnya dengan asal ke belakang lalu menutup wajahnya dengan telapak tangan yang mana di salah satu jemarinya masih tersemat cincin pernikahan mereka.


"Elena ... aku tak bisa hidup tanpa mu, bertahan lah ku mohon ... " sendunya entah berapa kali memohon dalam hatinya.


Yang lain seperti Zidan dan Clarissa datang, Dea dan Rizal pun dengan gesit setelah mendapat kabar dari Zidan langsung menuju rumah sakit, mereka sama cemasnya, sama paniknya.


"Bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Dea, dengan air mata yang sudah membanjiri, tidak menyangka Elena, sahabatnya mendapat kan luka lagi. Seolah semesta belum puas dengan penderitaan gadis malang itu.


"Tuhan, lindungi Elena." gumam Dea sambil merapalkan doa, mengepalkan tangannya.


"Yang terjadi sangat panjang untuk di ceritakan Dea," ujar Erick menjawab, lalu pria itu menunduk berusaha tegar namun tak bisa ia mengangkat wajah dengan mata memerah sendu.


"Maafkan aku karena gagal melindungi elena. aku memang suami tak berguna," tukas Erick menyalahkan dirinya sendiri.


"Ya, kau memang suami tak berguna!" seseorang tiba-tiba menyahut.


Mereka yang ada di sana otomatis menepi, lalu terpampang lah kini wajah Wahyu iskandar yang memerah padam, saat Erick tak sengaja beradu mata dengan nya, Wahyu iskandar seperti menahan bara api di dalam kedua bola matanya.


"Bisa kita bicara sebentar, tuan Davidson."


...---------Oo-------...


Plak! satu tamparan keras menghantam wajah Erick. Bukan hanya perih dan kebas Erick rasakan hingga kini sudut bibirnya robek, tapi juga penyesalan dan perasaan bersalah kini tengah menghantam nya bertubi-tubi.


"Aku menyesal menganggap mu adalah suami yang baik untuk putri ku. Setelah apa yang ku dapat kan dari laporan, kau telah menyiksa putri ku selama ini."


Bruk! mendadak saja Erick menekuk lutut nya, bersimpuh di depan Wahyu iskandar.


"Maafkan saya. Saya memang sangat bodoh dan lalai, saya menyesal telah membuat Elena menderita selama ini, saya pantas untuk hukuman anda," ucap Erick sambil menunduk hanya bisa menatap lantai, yang mana keramiknya serupa kaca yang menampilkan bayangan dirinya. Erick semakin merasa sangat tidak berguna sebagai suami.


Wahyu iskandar menghela nafas berat nan kasar, wajahnya berubah semakin memerah padam dengan kedua tangannya terkepal erat.


"Jika sesuatu terjadi putri ku, aku tidak akan pernah mengampuni mu. Ingat Mr. davidson, aku memiliki banyak koneksi untuk menghancurkan mu jika sesuatu yang buruk sampai terjadi pada putri ku. Camkan itu baik-baik."

__ADS_1


Setelah mengucapkan perkataan yang tersirat seakan telah mengibarkan bendera peperangan, Wahyu iskandar pun melenggang pergi meninggalkan Erick yang masih tetap berlutut di hadapannya.


Pukul delapan malam, di ruang rawat masih tertutup rapat, terlihat beberapa paramedis dengan baju hijau operasi sesekali berlalu lalang ke luar lalu masuk kembali dengan membawa alat- alat medis di tangan mereka, saat Erick melihat dan bertanya, jawaban mereka tetap sama sedang berusaha dan meminta semuanya berdoa untuk keselamatan pasien.


Zidan menghampiri setelah urusannya di bagian administrasi selesai, ia berdiri di samping Erick yang tengah duduk merenung menopang wajahnya yang kusut bagai benang. Bahkan sejak siang Erick belum beranjak sama sekali sekedar untuk membersihkan dirinya.


"Tuan, apa anda tidak ingin membersihkan diri dahulu dan berganti pakaian." pinta Zidan dengan sangat hati-hati, takut jika perasaan gejolak tuannya tak terkendali.


"Tidak, Dan. Bagaimana bisa aku beranjak meninggalkan tempat ini, sementara istriku di dalam sana sedang berjuang antara hidup dan mati. Aku tak ingin kehilangan nya, aku tak ingin melewatkan waktu barang sedikit pun untuk tetap melihatnya."


Zidan mengesah pelan, tentu jika begini keputusan Erick sama sekali tak bisa di ganggu gugat.


Tapi seorang wanita datang, dengan sekonyong-konyong duduk di samping Erick, wanita itu tersenyum lembut lalu menepuk pundak Erick, pelan.


"Erickson, setidaknya kamu harus mengobati luka-luka yang ada di tubuh mu, baru bisa kembali kesini," ujar Clarissa pada pria itu.


Erick menoleh hanya sekilas lalu kembali menatap ke depan.


"Jangan mempedulikan ku Clar. Lagipula kenapa kau ada di sini, lebih baik kau kembali saja sana," ucap Erick acuh tak acuh.


Clarissa menghela nafas berat, berusaha menepis perasaan tak enak karena Erick yang berubah bicara sinis.


"Aku juga teman Elena jika kau lupa, aku berhak ada di sini juga. Aku hanya ingin memperingatkan mu Erickson, untuk mengobati luka- luka mu dulu, Elena pun akan sedih jika melihat kondisi mu seperti ini. Kamu tenang saja, cinta mu lah yang akan menjaga Elena di sini selama kamu tak ada. Jadi pulang lah dulu, dan pulihkan kondisi mu."


Kali ini Erick menoleh lagi menatap wajah wanita itu sambil merenungi kata-katanya, lalu akhirnya Erick pun setuju untuk pergi mengobati luka-luka di tubuhnya dulu.


Sementara Zidan berbisik pada Clarissa tentang informasi yang baru saja ia dapatkan.


"Nyonya Sarah sudah tiada, dia di nyatakan tewas setelah tertabrak truk di jalan raya saat akan di tangkap polisi."


Erick sempat mendengar pembicaraan itu, ia pun tak bereaksi apa-apa, hanya sedikit terkejut karena pada akhirnya apa yang Sarah katakan padanya rentang keadilan itu hanya angan-angan wanita itu, pada akhirnya kejjahatan tetap kalah, apa yang di inginkan Sarah tak salah dia hanya ingin memperjuangkan haknya tapi tindakan yang ia lakukan salah, jadi itulah konsekuensi nya. Apa yang kau tanam maka itulah yang kau tuai.


"Baiklah. Jangan laporkan ini pada Erickson dulu, biarkan dia memulihkan kondisi nya dan fokus dulu pada Elena," ujar Clarissa, Zidan pun mengangguk paham sementara mereka tak menyadari meski Erick sudah melangkah menjauh dia tetap bisa mendengar percakapan mereka.

__ADS_1


***


To be continued.


__ADS_2