Gejolak Cinta Tuan Erick

Gejolak Cinta Tuan Erick
GCTE | Bab 51


__ADS_3

Suara sirine mobil polisi memekakkan telinga. Para warga berduyun-duyun datang melihat lokasi kejadian yang mana tempat terjadinya aksi penembakan yang menimpa pengusaha terkenal negeri ini. Pelakunya belum jelas di ketahui karna menghilang tanpa jejak. Polisi kini tengah menyelidiki, palang terlihat memagari tempat di mana tuan Erick Davidson terkapar setelah mendapatkan tembakan di bagian perutnya.


"Ku mohon bertahan lah." Elena menangis tersedu-sedu, di ambulance yang tengah membawa mereka menuju rumah sakit. Lengan dan gaunnya kini tersimbah noda darah karena saat ini tengah memangku Erick yang tak sadarkan diri. Namun Elena tak peduli mau sebanyak apapun cairan merah pekat itu menempel di tangannya ia tetap menjaga Erick berharap pria itu masih setengah sadar. Kepanikan tentu melandanya, tak menyangka akan berakhir seperti ini pertemuan melepas rindu yang seharusnya penuh cinta.


Sampai di rumah sakit. Tubuh Erick segera di baringkan di atas brankar, suster dengan sigap datang memakaikan alat medis agar menjaganya tetap stabil. Karena sebelum kedatangan mereka pihak rumah sakit sudah di beritahu, penanganan Erick pun tak perlu menunggu lagi.


Tungkai Elena mendadak lemas ketika melihat Erick sudah di masukkan ke ruang UGD, suster yang datang menghadangnya untuk tidak ikut masuk.


"Sebaiknya anda menunggu di sini, bu."


"Tapi aku ingin melihat suamiku."


"Saya tahu, ibu sedang panik saat ini. Tenangkan diri dulu, ada dokter yang kini menangani pasien."


Elena tak mendebat lagi, ia kini sibuk mengatur nafas yang terasa memburu. Sesak menyumbat kerongkongan, apalagi ketika ia menyadari gaun dan kedua tangannya yang di genangi darah Erick, tangis wanita itu kembali pecah.


...***...


Di mansion Sarah dan Mona tengah begitu gembira. Menikmati kesuksesan rencana mereka juga menanti huru-hara yang sebentar lagi akan terjadi karena Erick yang sudah melihat foto mesra Elena dan Vicky.


"Mommy menjamin Erickson pasti akan langsung mengusir si kumuh itu dari sini."


"Tentu saja mom. Kak Erick sangat membenci penghianatan,si kumuh itu bukan hanya akan di usir dari mansion ini tapi juga dari kehidupannya." suara terbahak dua wanita itu menggema di ruang tengah yang kini sepi.


Tak lama kemudian terdengar klakson mobil di halaman. Tuan Rey telah kembali dari menghadiri pertemuan dengan relasinya. Begitu melewati ruang tamu melihat istri dan putrinya yang nampak senang tuan Rey menghampiri.


"Kenapa kalian tertawa? apa yang membuat kalian senang sampai seperti itu?"


"Oh dad. kebetulan, kami ingin memberitahukan jika misi kami berhasil." cetus Sarah melihat suaminya sudah pulang.


"Iya dad. Sebentar lagi Elena akan pergi dari sini!" seru Mona lebih semangat.


Tuan Rey tersenyum tipis. "Itu bagus. Kalian memang dapat di andalkan."


"Daddy akan membujuk Edward untuk kembali menjodohkan Clarissa dengan Erick jika memang wanita kasta rendah itu pergi dari sini."


"Of course dad. Aku juga ingin kak Clar kembali dan menjadi menantu keluarga ini." sahut Mona.

__ADS_1


Di saat mereka tengah asyik bercengkrama, ponsel tuan Rey berbunyi. Ia mengangkatnya.


"Halo, dengan Rey Davidson di sini." tuan Rey membuka suara lebih dulu.


"Siapa dad?" tanya Sarah. Tuan Rey menggeleng sambil fokus kembali kepada si penelpon.


"Apa?" pekik tuan Rey, matanya membulat sempurna.


"Kenapa dad?" tanya Mona ikut panik.


"Kita kerumah sakit segera. Erick mengalami penembakan!"


...***...


Elena duduk di kursi tunggu dengan wajah semakin pucat, beberapa suster melihatnya iba menawarkan nya untuk mengganti pakaian namun Elena menggeleng, ia hanya mencuci tangannya saja yang kotor, kemudian kembali. Ia tak bisa meninggalkan Erick sendirian di dalam sana.


Tuan Rey, Sarah dan Mona datang setelah nya. Wajah mereka nampak sangat panik dan khawatir, terlebih tuan Rey seakan raganya akan meninggalkan bumi setelah mendengar putra kebanggaan nya mengalami penembakan tragis.


"Di mana Erickson?"


"Di mana Erickson?" tanya tuan Rey dengan intonasi meninggi, kecemasan membuat ia tak bisa berfikir jernih.


"Mas Erick sedang di rawat saat ini." Elena kembali terisak tak kuasa melanjutkan ucapannya.


Mona ikut menangis meski begitu ia menghampiri Elena dengan wajah memerah padam.


"Ini pasti gara-gara lo! dasar wanita pembawa sial, lo yang buat kakak gue tertembak!" Mona mendorong kasar tubuh Elena hingga gadis itu terjerembab ke belakang.


"Sudah Mona, ini rumah sakit!" sergah tuan Rey menengahi.


Kemudian seorang dokter berpakaian medis keluar, mereka segera menghampiri.


"Di mana keluarga pasien?" tanya sang dokter.


"Saya ayahnya dok. Bagaimana kondisi anak saya?" tanya tuan Rey cemas.


"Kita harus segera melakukan tindakan operasi, pendarahan nya semakin banyak. Mohon bapak segera mendatangi persetujuan untuk tindakan ini."

__ADS_1


"Segera, dok. Mohon berikan penanganan terbaik untuk putra saya."


"Anda tenang saja, saya dan tim akan berusaha sekuat tenaga. Mohon bapak ke ruang administrasi untuk sisanya."


"Baik dok."


****


Tubuh Erick yang terbujur kaku dan berwajah pucat kini terbaring di brankar untuk di pindahkan ke ruang OK.


Hati Elena berdenyut sakit melihat sang suami yang kini sudah masuk ke ruangan dingin itu dan pintu segera tertutup rapat.


Tindakan operasi pun di lakukan. Mereka menunggu dengan cemas juga doa yang terus di rapalkan dalam hati.


Tak lama setelah itu, Zidan datang.


"Maaf saya telat datang. Saya sedang mengusut kasus bersama polisi tentang siapa dalang dalam penembakan yang terjadi pada tuan Erick."


"Bagaimana? apa polisi sudah menangkap si bajjingan yang telah membuat putraku sekarat?!"


"Mohon tenang tuan besar. Tak butuh waktu lama polisi sudah bisa menangkap pelaku, yang sekarang berada di kantor polisi."


"Antar aku ke sana, aku ingin melihat orang itu," ucap tuan Rey.


...***...


"Namanya adalah Rafli Mahardika, 20 tahun, dia merupakan putra pak Wiratama Mahardika, salah satu direktur di perusahaan cabang. Ayahnya beberapa bulan lalu di pecat langsung oleh tuan Erick karena di ketahui melakukan tindak penggelapan uang, rumah dan asetnya di sita bank karena hal tersebut."


"Setelah di paksa untuk memberi keterangan, pemuda itu mengaku motif dari tindakan nekat yang ia lakukan adalah ingin membalas dendam pada tuan Erick, karena ayahnya meninggal bunuh diri setelah dipecat dari perusahaan, meninggalkan hutang yang menumpuk dan hidup keluarganya jadi melarat."


"Di ketahui pelaku juga merupakan seorang pecandu dan sempat mengalami gangguan kejiwaan," ujar Zidan lalu.


Tuan Rey menggeram kesal mendengar penuturan Zidan. Matanya saat ini menatap berang seorang pemuda kurus dengan keadaan kusut masai tengah meringkuk di jeruji besi. Banyak lebam di sekujur tubuhnya karena di ketahui ia sempat melawan saat di bekuk polisi.


Barang bukti berupa pistol, topeng anonymous juga jubah hitam untuk menutupi tubuh sang pelaku kini sudah di sita polisi.


"Mata di bayar mata. Nyawa di bayar nyawa. Jika sesuatu sampai terjadi pada Erickson, hukum matti pemuda itu!" tampik tuan Rey penuh emosi.

__ADS_1


__ADS_2