Gejolak Cinta Tuan Erick

Gejolak Cinta Tuan Erick
GCTE | Bab 83


__ADS_3

Happy reading 🍁🍁🍁


Di villa. Saat ini Elena sedang melakukan video call bersama Dea, yang baru saja resmi menyandang gelar sebagai seorang isteri, setelah melakukan akad bersama pria yang di cintainya. Segera saja Dea menghubungi sahabatnya Elena dengan memakai gaun pengantin putih Dea terlihat sangat cantik.


"Kau tahu, aku deg-degan parah. Malam nanti adalah malam pertama ku."


Elena terbahak melihat raut wajah Dea. "Tapi akhirnya kamu gak akan tidur dengan memeluk bantal guling lagi kan? ada suami mu yang bisa kau peluk manja." hampir terhantuk ke belakang karena saking histeris nya Elena tertawa. Turut merasa bahagia juga senang karena melihat Dea dengan raut ngeri ketika menceritakan tentang kekalutan nya saat malam pertama nanti.


"Tenang saja, tak usah takut," ucap Elena kemudian, merasa heran juga tentang cerita malam pernikahan yang membuat hampir semua kalangan pengantin yang baru mengikat simpul pernikahan merasa takut.


"Kau enak mengatakan seperti itu, karena kau suka sudah menikah," ujar Dea tanpa tak berfikir dulu saat mengatakannya. Ia segera tersadar saat melihat raut wajah Elena yang berubah di layar.


Upps! Dea menutup mulut saat menyadari perkataannya yang mungkin saja bisa menyinggung perasaan gadis itu.


"Maafkan aku Elen, aku tak bermaksud ... "


"Tidak apa-apa." Elena berkilah cepat.


"Lagipula yang kau katakan memang benar, aku wanita yang sudah menikah, tapi ... aku tak pernah merasakan yang namanya malam pertama."


Dea menjadi merasa bersalah. Pernikahan Elena dan Erick terjadi mendadak kala itu dan penuh drama ketika meminta restu pihak keluarga Erick, mereka berdua menjalani pernikahan tak biasa dari pada pasangan umum nya, banyak rintangan dan hambatan yang harus di lalui dan kini sedang di uji lagi. Dea menjadi salah satu saksi bisu perjalanan cinta dua orang itu.


"Elen ... kau tidak apa-apa kan?" tanya Dea ketika melihat wajah melamun Elena. "Aku benar-benar minta maaf ya."


"I'm fine, kenapa kamu terus meminta maaf." Elena menjawab dengan berseloroh untuk mencairkan suasana.

__ADS_1


"Harusnya aku yang meminta maaf karena tak bisa hadir di hari bahagia mu saat ini."


"Aku mengerti kondisi mu Elen. Datanglah ketika acara resepsi nya nanti di adakan oke?" Dea mengedip sekilas.


Elena mengangguk, mulutnya melengkung membentuk senyuman manis. "Baiklah. Aku akan menghadiri pesta resepsi nya nanti. Tunggu aku ya."


"Pasti." Dea menjawab diplomatis.


*


*


*


Erick dan Clarissa sedang berjalan-jalan di sekitar alun-alun Canada square, letaknya di london borough of tower hamlest di east end central london di sepanjang sungai thames.


Mereka menghabiskan waktu dengan berjalan santai melihat senja yang akan menggelap dan matahari yang akan kembali ke peraduannya.


Sangat cantik dan memukau. Meski sudah beberapa kali mengunjungi ibukota britania raya ini Clarissa tak bosan-bosannya berdecak kagum saat melihat keindahan alamnya yang mempesona.


Atas usul dari dokter Rosanne dan dengan sedikit desakan Clarissa akhirnya berhasil membujuk Erick ke luar, ini di percaya dapat mengurangi stres yang tengah di rasakan Erick, sering mengajaknya ke destinasi indah dan menarik adalah agenda yang sudah di buat Clarissa untuk nya dan Erick selama ada di sini.


"Eh, lihat ada sebuah parade, ayo kesana!"


"Tunggu!" Erick menggeleng. Tak begitu suka dengan keramaian di sana.

__ADS_1


Namun Clarissa yang sudah sangat excited menarik tangannya hingga mau tak mau ia mengikuti langkah wanita itu.


"Waah, sangat menyenangkan!" wajah Clarissa berbinar. Sebisa mungkin ia ingin Erick bisa merasa nyaman saat bersamanya.


Erick hanya mengerling, menggeleng melihat tingkah wanita di sampingnya itu.


"Erickson, bisa ambilkan kamera ku. Aku ingin merekam moment ini," pinta Clarissa menunjukkan tas di belakang punggungnya.


Erick mengangguk, membantunya mengambilkan kameranya itu.


Sementara Clarissa kini sibuk merekam, Erick sesekali merapatkan mantel yang menyelimuti tubuhnya dari hawa dingin. Tak sengaja saat melihat para musisi jalanan yang tengah menghibur para pejalan kaki tak jauh dari tempatnya berdiri.


Suara merdu sang vokalis yang sedang khidmat bernyanyi seakan tak teredam oleh suara bising di sekitarnya. Erick perlahan mendekat tertarik dengan suara nyanyian yang mengingatkan nya akan seseorang.


Pembawaan si vokalis wanita itu saat melantunkan lagu syahdu sambil memainkan gitarnya semakin memperjelas Erick akan bayangan seseorang yang kini ada dalam benaknya.


"Elena ... " pria itu bergumam.


Deg!


Di tempat lain, Elena yang tengah duduk membaca buku di pinggir kolam villa ini. Tersentak tanpa sebab, ia menoleh ke sembarang sesaat setelah mendapat insting seperti ada seseorang yang memanggilnya.


"Kenapa?" dadanya bergemuruh seketika. Ia kembali merasakan sakit yang teramat.


"Bagaimana aku bisa melupakan mu ketika bayang- bayang mu selalu mengikuti kemana pun aku pergi, Elena." Erick terkekeh miris. Lalu berbalik menjauh tak ingin semakin mengingat semuanya.

__ADS_1


__ADS_2