Gejolak Cinta Tuan Erick

Gejolak Cinta Tuan Erick
GCTE | Bab 152


__ADS_3

Happy reading 🌹🌹🌹🌹


Di mansion saat ini. Erick berjalan gontai dan tertatih-tatih menuju kamarnya, lebih tepatnya kamar yang seharusnya ia tempati bersama Elena. Tapi karena kebodohannya ia malah menjadikan kamar ini seperti neraka, di sinilah ia sempat menyiksa,Argh- penyesalan itu kembali lagi menumbuk habis sanubarinya, seakan memelintir kuat-kuat hatinya saat ini.


Erick terduduk di sofa dekat kasur, dengan gerakan perlahan ia membuka kancing kemejanya, banyak luka di sekujur tubuh, penuh kehati-hatian dan ketelatenan ia mengobati luka- luka itu sendiri, merasakan sakitnya dalam-dalam, seakan-akan ia tengah merasakan sakit yang sama yang di rasakan Elena.


Ia melakukan sendiri pekerjaan mengobati luka nya itu, terkadang ia sedikit meringis perih tak tertahankan namun ia menahannya. Beginikah perasaan yang setiap hari di rasakan sang istri, di hari-hari ia menyiksanya, Ah- betapa bodohnya ia, menyia-nyiakan kesetiaan dan cinta seorang wanita yang bahkan sangat idam-idamkan dan ingin di milikinya sejak dulu.


"Elena, maafkan aku, maafkan suami mu ini ... " lirih Erick dengan satu persatu air matanya luruh mengalir ke sudut pipi ketika pria itu akhirnya menyandarkan bahunya di sofa dengan lengan menutupi kepala, merenungi sikapnya selama ini dan terus bergumam meminta maaf pada sang istri.


...--------Oo--------...


Marvin melangkah setengah berlari ke ruang rawat Elena, ia bahkan masih memakai jas putih seragam dokternya dengan masih menggantungkan stetoskop di leher. Setelah mendapatkan kabar itu, ia buru-buru datang ke rumah sakit tempat Elena di tangani.


"Bagaimana ini bisa terjadi? kenapa harus selalu Elena yang terluka?!" Marvin merasa marah, sedih dan kecewa, ia tak ada di samping saat Elena dalam bahaya, selalu ia mendapatkan kabar setelah Elena terluka.


"Tenangkan dirimu dulu kak. Elena sedang di tangani di dalam," ucap Dea, mengusap lengan pria itu guna sedikit menenangkan emosi Marvin.


"Lalu di mana Erick? kenapa dia tak ada di sini?!"


"Tuan Erick sedang mengobati luka-lukanya, pak Marvin. Beliau ijin pulang dahulu sebentar."


"Apa? bisa-bisanya, saat Elena sedang mengalami masa kritis di dalam, pria itu tak ada di sini untuk menemaninya?!" berang Marvin.


"Kak?!" Dea mencegat. "Kita sudah bicarakan ini kan. Tenang kan emosi mu, jangan sampai tersulut. Kau sudah berjanji pada Elena ... "


Marvin menoleh pada wanita yang sudah ia anggap sebagai adik perempuan sama seperti Elena, lalu pria itu berdecak jengkel tapi akhirnya ia diam juga. Tak lama, Clarissa muncul ia terkejut melihat ramai orang tengah berdiri di depan ruang rawat Elena.


"Oh kalian ... " Clarissa tersenyum, semua mata mengarah padanya, wanita itu sedang membawa secangkir kopi yang ia beli di kantin rumah sakit. Clarissa sudah memutuskan untuk menggantikan Erick menunggu Elena, selama pria itu tak ada.


"Ada apa dengan wajahnya?" seru Marvin, bertanya tiba-tiba. Semua langsung melirik kembali ke arah yang di tunjuk pria itu.


Mata Clarissa membulat sempurna. Ia mengerjap-ngerjap berusaha merapikan cara berfikir nya yang mendadak blank.


"Maksud mu wajah Clarissa, kak?" tanya Dea, memastikan.


"Iya siapa lagi?" seru Marvin.


"Hah?" semua membeo bersamaan.


Marvin menatap bingung. "Kenapa?"


"Aku tak pernah tau kau bisa memperhatikan wanita lain juga selain Elena."


Seketika Marvin tersadar dengan sikapnya yang aneh. Terbata ia ingin menjelaskan namun semua orang sepertinya sudah salah paham.


"Tidak apa-apa ini hanya luka kecil. Aku bahkan tidak tahu jika ada luka di wajah ku," sahut Clarissa meraba sekitar wajahnya.


"Tetap saja harus tetap di obati," ujar Marvin membuat semua semakin curiga dengan sikapnya yang tersirat akan perhatian itu.

__ADS_1


Dea sudah mesem-mesem sendiri. Sepertinya pria yang sejak kecil selalu melindungi ia dan Elena seperti seorang kakak itu, kini sudah bisa move on dan menemukan wanita yang tepat untuk nya. Seperti nya, karna ini hanya firasat yang di rasakan Dea saja.


"De, kau obatilah Clarissa," titah Marvin pada Dea.


"Kenapa tidak kakak saja? kakak kan dokter?" pancing Dea ingin lebih tahu apa yang tengah di rasakan pria itu sebenarnya.


"Jangan bercanda di situasi genting ini, kalian sama- sama wanita jadi aku meminta mu yang melakukannya." kelit Marvin, entah kenapa perkataan Dea menjadi lebih sensitif untuk nya.


"Baiklah. baik, aku akan mengobati luka Clarissa dulu. Kamu akan tetap di sini?"


"Iya, aku akan menunggu dengan yang lain. Kebetulan seminggu ini aku mendapat cuti jadi bebas waktu," sahut Marvin menjawab pertanyaan Dea.


"Padahal tidak apa-apa jika tidak di obati." seru Clarissa menggelengkan kepalanya.


"Tidak apa-apa Clar." dengan menggamit lengan wanita itu. "Ini permintaan dari pak dokter sendiri, jadi kamu harus menurut."


Akhirnya Dea dan Clarissa pergi, meninggalkan Marvin yang nampak salah tingkah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Menjelang tengah malam. Saat ini para pria di antaranya Marvin, Zidan, dan Rizal termasuk para bodyguard Erick masih berjaga di depan pintu ruangan yang masih tertutup, belum ada tanda-tanda suster ataupun dokter yang keluar. Sementara hawa dingin semakin kentara, Dea dan Clarissa sendiri beristirahat di salah satu ruangan yang lain, yang memang di khususkan untuk pengunjung yang menjenguk pasien di rumah sakit.


Detik berjalan menjadi menit, menit berjalan menjadi jam sudah banyak waktu yang terlewati, tiba-tiba saja semua mendadak panik di saat lampu merah dengan tulisan emergency di atas pintu ruangan menyala.


Semua berdiri langsung bangkit dari duduknya.


"Apa yang terjadi dok?!" tanya Marvin pada dokter yang keluar.


"Apa?!" semua syok mendengar penuturan sang dokter, lalu semua paramedis yang bertugas nampak terlihat berlalu lalang menjalankan tugas.


"Di mana Erick sekarang? cepat katakan padanya jika kondisi Elena semakin memburuk!" titah Marvin cepat yang sama panik dan khawatir nya. Dea dan Clarissa begitu mendapat kabar langsung bangun dan menghampiri.


"Harusnya pak Erick datang sejak tadi," sahut Zidan, karena kelelahan dan belum sempat istirahat mereka sempat lengah.


"Ya sudah, cepat katakan padanya untuk kerumah sakit sekarang!"


"Baik." Zidan mula-mula menghubungi nomor Erick tapi tak kunjung di angkat Zidan lalu memutuskan untuk menyusul langsung ke mansion. Ini tidak benar, Erick bahkan orang yang pertama akan sangat khawatir pada Elena karena sangat mencintai istrinya itu, tapi sekarang tak tahu kenapa pria itu tak kunjung kembali kerumah sakit setelah mengobati lukanya.


...--------Oo--------...


Di mansion saat ini. Erick berjalan seperti orang linglung lalu ia tersungkur tepat di depan jendela kamarnya yang terbuka.


Saat itu ia mendapat kabar jika nyawa Elena tak bisa di selamat kan, Erick merasa sangat terpuruk, nyawanya seperti di cabut paksa dari raganya saat ini.


Di bawah rembulan di atas langit yang saat ini bersinar terang, Erick berteriak kencang, meraung-raung dengan terisak tanpa suara.


"Kenapa Tuhan? kenapa?!"


Hatinya merasa sangat hancur. Jika Elena tak ada bagaimana ia bisa menjalani hidup.

__ADS_1


"Elena!" tubuh Erick yang bergetar tersandar di tembok, ia menutup wajahnya lalu mengusap dengan kasar.


"Tuhan, aku berjanji akan membahagiakan nya, aku berjanji tidak akan menyakitinya lagi. Jadi ku mohon, kembali kan dia padaku!"


"Kembalikan dia pada ku Tuhan, istriku, separuh jiwaku!"


"Kau sudah banyak membuat nya menderita."


Seperti ada seseorang yang menyahut ucapannya. Erick menoleh ke segala arah tak ada siapapun selain dirinya.


"Karena keegoisan mu dan kecerobohan mu sendiri."


Suara itu kembali terdengar lebih keras, besar dan menggema.


"Kini aku akan memberi kan mu satu kesempatan. Aku akan mengembalikan istri mu kembali padamu. Jaga dia dan bahagia kan dia."


Erick mengangguk- ngangguk mendengar suara itu. Hawa sejuk menerpa wajahnya membuat beberapa anak rambut nya terhempas ke belakang. Sebuah cahaya terang tiba-tiba datang menyorot membuat Erick menutup wajah dengan tangannya.


Lalu perlahan-lahan semua mendadak samar.


Gelap. Seperti ruangan tanpa celah yang dingin dan kedap suara. Erick merasakan sakit teramat di dadanya.


Degh!


Tiba-tiba saja Erick membuka mata, ia meraup oksigen dengan kasar, dadanya naik turun tak beraturan.


Ternyata hanya mimpi. Tapi terasa sangat nyata, bahkan air mata yang mengalir di pipinya pun nyata.


Apakah ini pertanda dari sang pemilik alam semesta, langsung?


Erick tak tahu bagaimana bisa ia tertidur di atas sofa. Luka-luka nya sudah ia sembuh kan. Ternyata ponselnya berdering membuat nya terbangun dari mimpi aneh itu.


Tidak. tidak mungkin mimpi itu jadi kenyataan kan? Elena- nya pasti akan baik-baik saja.


"Tuan!" akhirnya telepon Zidan di jawab juga.


"Halo? ada apa?" suara Erick terdengar serak menjawab.


"Tuan segeralah ke rumah sakit sekarang. Kondisi nyonya Elena sedang tidak baik-baik saja."


"Apa?!" Erick kontan saja langsung mengambil kunci mobil nya, tanpa berlama-lama ia keluar dari kamar dengan perasaan cemas setengah mati. Ia mengendarai mobil nya dengan kecepatan penuh menuju rumah sakit.


Di rumah sakit, Elena masih sedang di tangani semua menunggu dengan wajah panik dan tegang secara bersamaan. Erick berlari cepat menuju semua orang yang sedang menunggu di depan ruang operasi.


"Bagaimana isteri ku? gimana keadaan nya?" tanya Erick dengan nafas ngos-ngosan.


"Masih sedang di tangani tim dokter." jawab Clarissa, ia saling memeluk dengan Dea, menguatkan satu sama lain.


Dari kaca jendela depan ruangan yang terbuka Erick bisa melihat kondisi di dalam Elena yang sedang di tangani oleh tim dokter. Mereka sedang berusaha untuk mengembalikan detak jantung Elena yang semakin melemah.

__ADS_1


Air mata Erick luruh satu-satu, ia mengusap jendela kaca dengan hati remuk redam.


"Bertahanlah sayang, demi aku demi cinta kita. Ku mohon ... "


__ADS_2