Gejolak Cinta Tuan Erick

Gejolak Cinta Tuan Erick
GCTE | Bab 101


__ADS_3

"Ide apa mom?" tanya Mona kali mengerut dahi tak terlihat antusias sama sekali untuk rencana sang mommy kali ini, karna sebetulnya ia benar-benar dalam di ambang batas kehancurannya, ia cemas jika Erick kembali nanti, Ini saja ia sedikit beruntung karena sang kakak sengaja meninggalkan dirinya dulu untuk mengejar istrinya yang kabur. Mona tak bisa berfikir lagi jika suatu saat Erick berhasil membujuk Elena dan membawa wanita kumuh itu pulang, maka tinggal gilirannya untuk di adili.


Sementara Mona nampak mengerut wajah, Sarah justru terlihat celingak-celinguk ke sekitar nya seolah tak ingin orang lain sampai mendengar apa yang akan ia sampaikan.


"Mom!" tak sengaja suara Mona meninggi memanggil ibunya.


"Ssst! kamu jangan teriak-teriak gitu dong!" desis Sarah menyalak pada putrinya.


"Habisnya mommy dari tadi di tanya malah celingak-celinguk kaya orang gak jelas!" sungut Mona.


"Oke, maaf mommy cuma lagi mantau situasi," ucap Sarah.


"Emang mommy punya rencana apa sih?" tanya Mona mulai sedikit kepo.


Mendadak saja Sarah menyeringai licik.


"Begini, kamu lihat kan kondisi Clarissa sekarang?"


"Ya lihat jelas mom, lah dia kan curhat ke aku, orangnya lagi nangis mommy malah narik aku kesini, gimana sih?"


"Iya, iya mommy tau itu." Sarah sedikit berdecak. "Nah kondisi si Clarissa kesempatan bagus untuk kita sayang."


"Maksud mommy?" tanya Mona tak paham.


"Kau tahu menurut penelitian orang yang sedang patah hati cenderung lebih sensitif Mona, pikiran nya akan mudah menerima dan menyerap semua perkataan yang ada di sekitarnya,nah itulah yang saat ini sedang terjadi pada Clarissa kan? kita bisa memanfaatkan situasi itu, kita racuni pikirannya, buat dia bersekutu dengan kita. Saat ini kelemahan nya adalah Erickson. Nah kita kompori dia supaya bisa memperjuangkan Erickson, berita bagus nya ketika kita berhasil dengan rencana ini, otomatis Clarissa akan berada di tengah-tengah Antara Erickson dan si kumuh Elena itu." Sarah menjeda sejenak kalimatnya, kini Mona menatapnya dengan antusias merasa ide ini sangat berlian.

__ADS_1


"Dan kamu pasti tahu bagaimana kakak mu kan Mon?"


Mona mengangguk cepat.


Lalu Sarah kembali melanjutkan ucapannya. "Kelemahan Erickson itu dia sangat menghargai wanita apalagi Clarissa yang adalah sahabat baiknya sejak kecil, sebelum ada di si kumuh itu di kehidupan Erickson mommy sangat tahu, sejak kecil kamu dan Clarissa adalah dua wanita yang sama-sama menempati tempat spesial di hatinya, ck, sayang sekali." Sarah menggeleng pelan.


"Lalu apa untungnya kita menghasut si Clarissa agar memperjuangkan cintanya untuk kak Erick?" tanya Mona, mengingat kan Sarah kembali pada topik awal.


"Ada untungnya dong, bahkan sangat besar untuk kita. Seperti yang sudah mommy katakan dari awal, jika Clarissa berhasil kita hasut dan berada di antara hubungan Erick dan Elena, kisah cinta mereka tak akan happy ending dengan cepat. Di saat Erick berada di tengah-tengah antara Clarissa dan isterinya, Erick tak akan bisa berkutik karena yang satu adalah wanita yang di cintainya dan yang satu adalah sahabat terbaik nya setia bahkan saat sedang susah, Erick harus berfikir lama untuk memilih di antara dua wanita itu, nah di di saat itulah kita bisa mengulur waktu lebih banyak untuk menemukan Vicky, mengambilnya kembali dari cengkraman Erick dan rahasia konspirasi kita bisa kembali tertutup rapat. Vicky harus di singkirkan, itu harus Mon, dia adalah kartu AS kita, jangan sampai Erick berhasil mendapatkan informasi dari pria itu atau kita akan tamat."


"Menyingkirkan nya?" mata Mona terbelalak mendengar kalimat akhir ibunya. "Maksud mommy membuat nya pergi dari dunia ini?"


"Tentu saja, itulah yang harus kita lakukan, memangnya ada apa dengan mu?" Sarah memandang penuh selidik ketika raut wajah Mona berubah drastis.


Sementara Mona mendadak lemas seketika, tulang-tulang nya seakan tengah di loloskan dengan paksa. Bahkan sekarang saja ia tak tahu bagaimana kondisi Vicky? pria itu mengalami kecelakaan dan pastinya sedang koma, dan kini mommy nya sendiri justru membuat rencana dan mengatakan langsung kepada nya untuk melenyapkan nyawa sang kekasih. Mona tak bisa membayangkan itu.


Mona hanya menelengkan kepalanya pelan sebagai respon.


Lalu air muka Sarah kembali sumringah. "Bagaimana menurut mu? ide mommy cemerlang kan?" tanya Sarah meminta pendapat pada sang putri.


Mona hanya mengangguk lesu, tak tahu harus berkata apa. Yang jelas, kini rasa di benaknya mendadak berubah menjadi resah memikirkan bagaimana nasib nyawa sang kekasih hati.


***


"Hiks ... aku tak bisa hidup tanpa Erickson, aku tak dapat membohongi hatiku atau perasaan ku lagi, aku mencintainya aku, aku ingin memilikinya," ujar Clarissa, masih dengan keadaan menangis tersedu sedan.

__ADS_1


"Iyah Ris, tante tau perasaan mu, jangan di paksa untuk di pendam terus, sesekali kamu memang harus berjuang,"ucap Sarah mulai melancarkan aksinya untuk mensugesti pikiran rapuh Clarissa agar mengikuti perkataan nya.


Mendengar ucapan yang di lontarkan Sarah, Clarissa mendadak diam untuk sejenak, dengan lelehan air mata yang masih membasahi pipi Clarissa menoleh menatap lamat-lamat wajah ibu tiri dari Erick tersebut.


"Maksud perkataan tante apa?" tanyanya karena sibuk mengeluarkan kesedihan hati dengan tangis sampai tak fokus mendengar kan apa yang di ucapkan wanita itu, dan kini Clarissa nampak tertarik mendengar nya.


"Ekhem, begini Risa, maaf jika tante terkesan menggurui mu, tapi selama ini kamu itu sudah terlalu banyak mengalah, kamu juga sudah banyak berkorban untuk keberlangsungan hubungan Erick dan Elena, sampai mengesampingkan perasaan mu sendiri. Menurut tante itu tak adil karena bagaimana pun kamu harus nya mengutamakan dirimu sendiri, mengutamakan perasaan mu," ucap Sarah dengan berlemah lembut berusaha meyakinkan wanita rapuh itu.


Clarissa nampak menatap gamang, ia mulai merenungi ucapan Sarah.


"Tapi percuma tan, meskipun aku memperjuangkan cinta ku, Erick tak mungkin berpaling dari Elena."


"Eits, kamu jangan pesimis dulu, sayang. Kamu belum mencoba mana mungkin tahu hasilnya duluan, ingat pepatah mengatakan, sekeras-kerasnya batu jika terus di tetesi air pasti akan lapuk juga. Nah begitu pun Erick, mungkin saat ini dia masih terus keras kepala karena terus mengejar Elena, padahal sudah jelas-jelas kan Elena telah berkhianat padanya."


"Kau tahu, wanita seperti Elena sangat jelas tak layak untuk pria setia seperti Erickson, Elena hanya akan terus menyakiti nya. Hanya kamu Clarissa yang cocok untuk Erickson dan tante percaya itu." setiap kalimat dan nada Sarah di buat semeyakinkan mungkin berharap Clarissa bisa terhasut karenanya.


Sementara Mona hanya duduk diam di samping sang mommy tak bicara apa-apa, pikirannya terus melanglang buana pada Vicky saat ini..


"Tante benar, harusnya itu yang ku pikirkan dari dulu."


Nah! raut wajah Sarah langsung berseri sesaat, lalu mengangguk cepat. "Benar, tante mengatakan ini semua semata- mata untuk membuka pikiran dan hatimu."


"Kau benar sekali tan, Elena memang sangat tak layak untuk Erickson ku, jelas-jelas dia sudah menyakiti Erickson dengan berselingkuh di belakangnya, hanya aku yang pantas untuk Erickson karena aku setia padanya," ujar Clarissa telah termakan sugesti yang di ucapkan Sarah.


"Yes, kamu benar sekali Clar, tante seratus persen akan mendukung mu," ucap Sarah, berapi-api.

__ADS_1


Clarissa memanggut-manggut.


"Aku harus membawa Erickson dan menyadarkan nya, aku akan membuat nya menyadarinya jika aku lebih baik dari Elena, aku akan buat dia jatuh cinta pada ku!"


__ADS_2