Gejolak Cinta Tuan Erick

Gejolak Cinta Tuan Erick
GCTE | Bab 109


__ADS_3

"Elena membuka tokoh kue?" Erick menggumamkan pertanyaan setelah Zidan melapor padanya.


"Ya tuan. Di ketahui nyoya muda membeli sebuah ruko di ujung jalan yang akan ia buka sebagai tokoh kue miliknya dan kini masih dalam pembangunan, kemungkinan sudah sampai tahap 100% dan nyonya muda akan segera mengadakan grand opening nya."


"Elena ku ... dia sudah sampai sejauh itu ternyata." gumam Erick kembali, teringat saat mereka masih bersama, Elena selalu excited dan bersemangat saat menceritakan padanya jika dia suka sekali membuat aneka macam kue dan resep baru. Tak perlu di ragukan lagi bagaimana Elena begitu cerdas dan berbakat. Selain bisa menjadi seorang sekretaris yang di andalkan, ia juga multitalent dan luar biasa. She's Perfect, begitulah kekaguman Erick pada Elena selama ini.


Jika dia semakin maju dan berkembang, itu berarti akan banyak pria juga yang akan mengaguminya, sama seperti ku.


Batin Erick kini mulai di penuhi dengan berbagai fikiran dan argument negatif..


Arg! aku tak rela. Aku tak ingin pria mana pun meliriknya, dia istri ku, milik ku.


Perasaan Erick gamang. Dia seperti berada di tengah-tengah pusat bumi. Di satu sisi Erick senang, istrinya semakin maju hingga memiliki bisnis sendiri tapi di sisi lain ia tak rela jika nanti pesaingnya bisa semakin banyak. Dengan Marvin saja ia sudah cukup panas bagaimana dengan pria lain yang melihat kecerdasan dan kecantikan sang istri tanpa ada di sampingnya yang akan mencegah. Erick tak bisa ...


"Bawa aku ke tempat di mana tokoh kue Elena berada, aku ingin melihatnya langsung." perintah Erick.


Zidan mengambil sinyal siap siaga.


"Baik tuan."


"Kita pergi sekarang!" tukas Erick, Zidan mengangguk lalu keduanya langsung meluncur menuju lokasi.


...----------------...


Sementara itu. Semua orang tengah bersorak, gemuruh tepuk tangan ramai terdengar setelah Elena dengan resmi membuka tokoh kue nya yang ia beri nama dengan Cempaka bakery, sesuai dengan nama belakangnya.


"Dahulu nenek saya adalah seorang pengrajin kue tradisional, beliau adalah pecinta aneka kue- kue khas tanah air kita. Aku sangat ingat saat beliau mengatakan bermimpi suatu bisa memiliki tokoh kue nya sendiri. Dan nama Cempaka adalah nama pemberiannya, dan oleh sebab itu saya menamai tokoh kue ini sama dengan nama yang di berikan beliau atas penghargaan juga ingin mewujudkan impian nya dengan membangun toko ini." sedikit penjelasan Elena di pidato singkatnya sesaat sebelum acara potong pita.


Wanita itu tampil sangat cantik dan menawan menggunakan gaun ala vintage dengan aksen bunga-bunga berwarna pastel sesuai dengan tema tokoh nya, ceria dan manis. Rambut panjang coklat nya yang indah di ikat setengah dengan memakai hiasan pita di belakang membuatnya semakin terlihat anggun.


Banyak tamu penting yang hadir dalam acara grand opening nya ini. Ada Dea dan suaminya Rizal yang hadir, Dea menangis bahagia, terharu dan bangga dengan pencapaian sahabatnya itu. Ada Marvin dengan gaya kasual nya yang macho, pria itu hadir berdiri bersama anak-anak panti dan pengurus panti yang Elena undang secara khusus memeriahkan acara. Siska dan bibinya bu Nani yang turut andil membersamai Elena dalam membangun toko kue nya ini datang bersama, bergabung dengan yang lain.


Lalu selebihnya adalah para warga yang telah menerima brosur menarik tentang tokoh kue Elena berbondong-bondong hadir untuk menyaksikan grand opening ini dan tentu acara morning tea gratis seraya melihat tampilan toko di dalam nanti dengan berbagai menu roti, kue, cookies, pie dan lain-lain berbahan tepung, telah di siapkan sebagai jamuan, semakin menarik atensi mereka untuk hadir siang hari ini.

__ADS_1


"Dengan ini, Cempaka bakery resmi di buka!" setelah mengucapkan itu, Elena memotong pita merah dengan gunting di tangannya, tokoh kue nya pun siap menerima pelanggan.


Tepuk tangan dan suara sorak yang riuh rendah semakin terdengar beramai-ramai. Semua orang kagum dan turut bangga dengan pencapaian wanita muda itu.


"Selamat ya."


"Selamat untuk tokoh nya ya Elena."


"Semoga selalu jaya dan makmur."


"Semoga selalu ramai pelanggan."


Elena menyambut penuh suka cita dan senyum yang tak pernah luntur di wajah cantiknya saat menerima banyak ucapan semangat dan mengaminkan setiap doa yang mereka berikan. Tak ayal karna keramah tamahannya ramai orang-orang di sini yang langsung klop dan akrab dengannya, terlebih lagi para kaum adam yang terlihat menaruh kagum atas kecantikan dan kemurnian gadis itu.


Di lain tempat, seorang pria memakai setelan serba hitam, kupluk di kepala juga kacamata gelapnya turun dari mobil.


"Ada apa sih? kenapa di sana terlihat ramai?" tanya pria itu setelah memperhatikan keramaian di sebrang jalan dari tempat mobilnya terparkir.


"Oh, itu kayanya lagi ada grand opening sebuah kafe atau tokoh gitu, terlihat dari banner yang tertulis di sana," ucap orang yang mendampingi pria itu.


"Sepertinya menarik. Aku ingin melihatnya sebentar."


"Tak ada waktu Aaron, kita hanya punya waktu dua jam untuk syuting di tempat ini, lalu kita akan pergi lagi ke lokasi yang lain. Jangan buat masalah," ucap Mayang, manager Aaron, memperingati nya.


"Ck! si nenek lampir ini!" Aaron berdecih dalam hati.


"Ayolah kak Mayang, sebentar saja?" mohon Aaron. Sejak dulu, memang hubungan nya dengan manager wanita berusia 40 tahun tak selalu muluk, lebih seperti anjing dan kucing, karna Aaron yang kadang susah di atur dan Mayang yang menurut Aaron terlalu ketat dan cerewet.


"Tetap tak bisa. Kita harus tetap di sini sampai tim kru datang. Terlebih kau tahu, si Gisele aktris pendatang baru yang menjadi lawan main mu itu, aktingnya sangat kaku hingga mungkin kita akan keteteran lagi dalam set syuting nanti, jadi jangan menambah beban lagi!"


"Ck, aku kan sudah banyak membantu Gisele dalam aktingnya, dia meningkat lebih baik, aku yakin dia pasti akan lebih terampil kali ini."


"Ck, ck tak ada yang tahu sampai penonton sendiri yang menilai nanti." sungut Mayang membalas ucapan Aaron.

__ADS_1


"Baiklah terserah kakak saja. Yang terpenting aku ingin menghadiri acara grand opening itu."


"Berani beranjak dari sini, ku patahkan leher mu!" tegas Mayang. Mulai muncul tanduknya.


"Uuh, seram sekali," balas Aaron seolah mengejek.


"Lihat kak, di sana ada sapi terbang!" tiba-tiba Aaron berseru lagi membuat perhatian Mayang terkecoh seketika.


'Hah di mana?" Mayang mengikuti arah yang di tunjuk Aaron, di saat itulah Aroon sudah melesat pergi.


"Kurang aja! Aaron berhenti kau!"


"Hahaha, bay kak. Telpon aku saja jika syuting akan di mulai nanti!" Aaron sempat menoleh untuk melambai kan tangan pada manager nya tersebut.


Mayang di buat geleng-geleng kepala oleh tingkah aktor bandel yang di naunginya itu.


"Anak itu benar-benar, tunggu jika sampai ayahnya sendiri yang mengomelinya," gumam Mayang tak bisa berbuat lebih membiarkan Aaron sementara ia menunggu tim kru datang di lokasi.


***


Aaron menghadiri grand opening sebuah tokoh kue yang di buka untuk umum. Ia bisa melihat banyaknya pengunjung yang berlalu lalang keluar masuk dari toko kue yang baru di buka itu.


Tertarik, Aaron pun semakin mendekati untuk melihat lebih jelas.


Saat matanya sibuk menatap disain interior toko, seseorang menyadari keberadaan nya.


Elena seperti kenal pria yang hampir saja menabraknya itu.


Ah, pria itu! Elena langsung menyadarinya.


"Kau? sedang apa kau di sini?" seru Elena membuat Aaron akhirnya menyadari keberadaan nya.


Aaron menoleh pada Elena, ia sama terkejutnya dan ia mulai tersenyum menatap intens penampilan Elena.

__ADS_1


"Hei, kita bertemu lagi nona manis."


__ADS_2