
Happy reading 🌹🌹🌹🌹
Klap! Erick tanpa sengaja membanting pintu mobil saat keluar dari kendaraan roda empatnya itu, dengan penuh kepanikan ia melaju setengah berlari ke dalam rumah sakit, tempat ayahnya yang kecelakaan di rawat.
Zidan mengikut dari belakang, bersama dua orang bodyguard, pria berbadan besar dan berwajah sangar, sebagai antispasi untuk melindungi sang tuan.
"Di mana papa di rawat?!"
"Tuan muda!" suara seseorang memanggilnya, Erick menoleh. Surya, asisten pribadi ayahnya melambai, Erick pun dengan segera menghampiri.
"Di mana papa ku, Surya?! di mana beliau sekarang?!"
"Tenangkan diri anda dulu tuan muda. Pak Rey sedang di tangani di ruang operasi saat ini, luka beliau cukup parah, begitu pun dengan supir pribadi tuan. Saat ini kita hanya bisa berdoa agar operasi berjalan lancar."
Ekspresi wajah Erick semakin drop mendengarnya, tubuh nya luruh seakan tulang-tulang nya di cabut dengan paksa membuatnya hampir kehilangan keseimbangan.
"Tuan muda!" pekik Surya, segera menahan Erick yang hampir terjatuh.
"Aku tak apa." Erick memundurkan langkah, mengatur nafasnya yang tersengal, dalam satu hari ini banyak sekali problem yang datang secara bersamaan seperti menyerangnya ramai-ramai, dan kini terjadi kecelakaan pada sang ayah. Lengkap sudah! seolah sedang bertubi-tubi untuk menghancurkannya.
Erick mengusap wajah kasar.
"Apa yang terjadi? bagaimana kronologi nya?" tanya Erick menatap wajah Surya.
Pria berbadan cukup besar itu menghela nafas. "Semuanya terjadi begitu cepat tuan muda. Awalnya kunjungan kampanye untuk pak Rey berjalan lancar dan diplomatis. Tapi saat hendak pulang menuju mansion, pak Rey dan saya kebetulan berbeda mobil, karna pak Rey akan mengunjungi ke tempat lain dulu sebelum ke mansion sementara saya harus menyerahkan berkas laporan jadi kami berbeda arah,"
"Entah bagaimana tiba-tiba sebuah mobil truk menabrak habis mobil yang di tumpangi pak Rey hingga mobil tuan menghantam pembatas jalan dan sempat terseret hingga terbalik menabrak pohon. Saya mendengar kronologisnya dari polisi sementara saat saya mendapat kan kabar itu saya juga menjadi syok dan langsung mendatangi TKP yang sudah di lingkari pita kuning. Sementara tuan Rey mengalami serangkaian luka langsung di bawa menggunakan mobil ambulance menuju rumah sakit, hingga kini tuan Rey masih sedang di tangani oleh tim dokter."
Erick mencerna setiap perkataan dan penjelasan Surya.
"Jelas ini adalah sabotase. Bagaimana dengan mobilnya?"
"Mobil yang hancur? sekarang sudah di derek ke kantor polisi, tuan muda.
"Aku ingin mobilnya di periksa, aku yakin seseorang pasti sudah menyabotase mobil papa. Dan aku sudah memikirkan satu nama dalang di balik semua ini."
Surya terkejut. "Jadi semua ini sudah di rencanakan tuan muda?"
__ADS_1
"Tentu saja, di sekitar kita banyak berkeliaran musuh-musuh yang ingin menghancurkan. Surya, saya perintahkan kamu untuk menangani kasus ini, jika ada kejanggalan dalam mobil itu segera laporkan pada ku. Kau tenang saja, saya dan Zidan yang akan menjaga papa."
"Baiklah jika begitu tuan muda,saya laksanakan."
Erick mengangguk. Lalu Surya bersama dua rekannya untuk memulai penyelidikan.
...--------Oo--------...
Mona berlari sambil menutup mulut nya, dengan air mata membanjiri setelah berhasil menguping pembicaraan antara mommy nya dengan pria yang di katakan sebagai teman baik dan Hero untuk sang mommy tapi ternyata juga adalah ayah kandungnya.
Mona menjerit sekeras-kerasnya, rasanya tak terima dengan fakta yang baru saja ia dengar ini. Lalu ingatan masa kecil dan juga waktu yang ia habiskan bersama Rey yang harmonis sebagai ayah dan anak, kini justru kembali berputar- putar di kepalanya.
Mona merasa sangat terpukul dan terpuruk. Bagaimana sang mommy bisa begitu jahhat kepada daddy nya?
"Aku bukan anak kandung daddy! aku bukan anak kandung daddy!" Mona berteriak berharap itu bisa menghilangkan sesak di dadanya.
Rasa sayangnya terhadap sang daddy sungguh begitu besar, ia yang sedari kecil begitu di limapahi rasa sayang dan perhatian juga di manjakan selalu berucap syukur untuk Daddy nya dan kini setelah mengetahui fakta yang sebenarnya, Mona merasa sangat sedih, ia tak menyangka ternyata selama ini telah di bohongi oleh sang mommy.
"Gak! gak bisa seperti ini!" Mona menggeleng, ia mengusap air matanya, lalu berjalan tak tentu arah di malam yang semakin pekat jalanan yang ramai oleh lalu lalang orang yang melihat aneh ke arahnya tapi Mona tak peduli, dia terus melangkahkan kakinya hingga ia akhirnya tahu kemana ia harus pergi.
**
"Tuan, nona Elena menitipkan ini untuk anda," ujar Zidan kembali lagi setelah sebelumnya ijin pergi untuk melakukan beberapa hal.
"Kau bertemu dengan Elen?" Erick mendongak, menatap Zidan yang berdiri.
"Iya tuan, saya secara tidak sengaja bertemu dengan nona bersama temannya Dea, di depan toko kue nya."
"Apa yang dia katakan?" tanya Erick.
"Nona Elena sangat khawatir pada anda, beliau menanyakan apa situasi yang terjadi di perusahaan sangat buruk hingga berniat untuk menghubungi anda namun dia urungkan takut menganggu anda."
Erick tersenyum mendengarnya hanya sekilas lalu raut wajahnya kembali murung.
"Tolong jangan katakan masalah yang tengah terjadi padanya, aku tak ingin membuatnya khawatir."
"Baik tuan." Zidan menganggukkan kepala, yang di balas sama oleh Erick.
__ADS_1
Erick pun mengambil tote bag ukuran mungil itu yang di berikan Elena untuk nya lalu membuka isinya, sebuah kotak plastik bening berisikan cheese cake, yang membuat hatinya menghangat di atas cake itu terdapat gambar dirinya yang menggunakan jas hitam kerjanya menggambarkan seorang pemimpin perusahaan, dengan tulisan semangat untuk nya.
Namun rasa menghangat itu tak lama ia rasakan, karena kini hatinya kembali di penuhi rasa cemas, Erick pun memasukkan kembali cake itu dan menaruhnya di kursi samping.
"Zidan, untuk konferensi besok, kau siapkan berkasnya ya. Aku sudah membuat beberapa dokumen, kau tinggal menambahkan beberapa elemen pendukung. Aku ingin besok berjalan lancar."
"Baik tuan, di laksanakan!"
Tiba-tiba ruang operasi terbuka, Erick dan Zidan sama-sama menoleh, terkejut.
"Dok, bagaimana keadaan papa saya? apa operasi nya berjalan lancar?" sergah Erick dengan nada panik.
"Tenang pak. Operasi berjalan lancar, sekarang pasien akan di pindahkan ke ruang ICU, mohon bapak bersabar biar kami melakukan tugas dengan baik."
Erick mengiyakan. Ia mempersilahkan para tim dokter membawa tubuh ayah nya yang di pasang begitu banyak alat di atas brankar menuju ruangan ICU.
Dalam hati ia berucap syukur karena operasinya berjalan dengan lancar.
Sampai tiba-tiba ... Dering ponsel kembali mengagetkan nya, Erick segera mengangkat seperti dugaan nya, nomor yang sama tak di kenal.
Tut!
"Ada apa lagi? sudah puas kau melakukan ini semua hah?!" berang nya pada si penelpon di seberang sana.
"Oh tentu saja belum puas, putraku, aku masih punya kejutan untuk mu hahaha!"
"Brengsekk! apa yang mau coba kau lakukan?!" Erick semakin geram.
"Kali ini, bagaimana jika aku membuat kembali orang tersayang mu bernasib sama seperti Ayah mu?" Sarah terdengar tertawa kembali.
"Oh ya, kelemahan mu adalah Elena, bagaimana jika dia ku buat juga seperti ayah mu yang malang itu?"
"Kapparat! berani kau menyentuh isteri ku--"
Tut! mendadak saja panggilan di tutup sepihak.
Erick memeriksa layar ponselnya. "Halo? halo!"
__ADS_1
"Kapparat kau Sarah! ini tak bisa di biarkan lagi!" emosi Erick menggebu-gebu lalu berubah menjadi sebuah kekhawatiran.
Elena!