
Happy reading 🌹🌹🌹🌹
"Tuan, nyonya Sarah menelpon lagi," ujar Zidan memberi kabar. Mereka kini sedang di dalam mobil berkapasitas enam bangku, di kursi bagian belakang dua bodyguard Erick berjaga, di kursi tengah sendiri ada Erick juga Mona yang kini di putuskan untuk ikut dalam misi penyelamatan Elena. Di kursi bagian depan ada Zidan dan supir yang mengendarai mobil.
"Angkat saja!" titah Erick, sembari mata elangnya mengamati rute ke mana mobil Sarah tertuju, mereka berniat akan lebih dulu mencegat mobil yang di kendarai Sarah sebelum tiba di lokasi.
Saat telepon tersambung seketika itu juga terdengar suara tawa membahana Sarah seolah memenuhi sekitar, Zidan sampai menutup telinga nya saking kerasnya wanita itu tertawa.
"Jangan lupakan perjanjian kita, Erickson. Kalau sampai kau membatalkan atau memiliki rencana lain, istrimu akan langsung hancur di sini!" ancam Sarah dalam teleponnya.
Erick bergeming, jika awalnya ia begitu grasak-grusuk dan tak sabaran, kini ia mencoba untuk lebih tenang dan tak terpancing sama sekali. Benar kata ayahnya, yang paling penting adalah ketenangan. Kunci utama sudah ada dalam genggamannya saat ini, terlebih Mona yang mau membantu, ia yakin bisa menyelamatkan istrinya dan menjebloskan Sarah kembali ke jeruji besi.
Di belakang mobil mereka sendiri, ada mobil lain yang sedang mengikuti. Itu adalah kendaraan roda empat milik tuan Wahyu iskandar, bersama para polisi yang sudah bersiap untuk berjaga. Erick dan pak Wahyu iskandar memang sudah membuat rencana ini masak-masak. Meski nanti yang menghadapi Sarah tetap dirinya seorang tapi mereka sudah menyiapkan polisi untuk membekuk Sarah, yang akan berjaga tak jauh dari tempat pertemuan nantinya.
Di dalam mobil lain, Sarah terus mengembangkan senyum, lewat bantuan asistennya yang memegang telepon ia terus meneror kata-kata ancaman untuk Erick, baginya itu adalah sebuah kesenangan tersendiri, sebelum nantinya ia melihat langsung kehancuran pria itu. Di tangan kanan terdapat senjata api, sementara tangan satunya terus mencengkeram erat lengan Elena, agar tak berniat macam-macam.
"Kau lihat, suami mu akan matti di tangan ku," ujar Sarah melirik ke arah Elena dengan senyum sinis menyeringai.
Elena memicing tajam, ia tetap bergeming sambil menunggu Erick dengan rencananya, lain halnya Clarissa yang sudah banjir air mata, ia terus berusaha berontak meski tak jarang mendapat perlakuan kasar dari para anak buah Sarah.
Brak! tiba-tiba saja mobil berhenti, guncangan yang mendadak sampai membuat tubuh semua orang di mobil menubruk ke depan.
"Ada apa ini? kenapa tiba-tiba berhenti?!" sentak Sarah yang emosi.
"M- maaf nyonya, sepertinya ada yang menabrak mobil kita dari belakang?" lirih sang supir berucap takut kena semprot sang nyonya.
"Apa?!" Sarah menggeram kesal. "Siapa yang melakukannya?!"
Dua anak buahnya menoleh ke belakang. Mereka terpaksa berhenti sebelum tiba di lokasi padahal di sana Sarah sudah membuat jebakan untuk Erick, kini mereka malah terdampar di sisi hutan yang tak di ketahui.
"Nyonya, ternyata ada sebuah mobil di belakang kita, mobil itu yang men4brak!" lapor salah satu anak buahnya.
Lalu mereka melotot terkejut melihat siapa yang keluar dari mobil.
"Nyonya, itu tuan Erick! target kita sudah ada di sini!"
"What?!" Sarah tercengang. "Bagaimana bisa ini terjadi?!"
Sarah membuka pintu mobil, ia menengok ke luar, benar di belakang nya ia melihat Erick keluar dari mobilnya, pria itu berwajah dingin dengan tatapan mengintimidasi yang masih saja tetap kuat meski ia dalam posisi terpojok, Sarah sempat ngeri melihatnya, tapi segera ia menghilangkan kengerian itu, Sarah tetap memofokus kan diri pada tujuan nya meski teringat apa yang di katakan Winston ada benarnya.
"Erick bukanlah pria yang bisa di anggap remeh. Dia lebih cerdik dari yang kau kira."
"Tidak-tidak. Winston hanya mengada-ada, dia lah yang cemen karena takut pada bocah ingusan seperti Erickson." gumam Sarah berusaha menghalau rasa cemasnya, lalu wanita itu ikut keluar dari dalam mobil, lantas datang menghampiri Erick.
"Ck, ck tidak ku sangka kau secepat itu mengetahui keberadaan ku." Sarah menggeleng pelan lantas menyeringai. "Tak apa lah, di tempat seperti ini pun tak masalah menjadi tempat pertemuan kita."
"Jangan bertele-tele, Sarah. Cepat katakan di mana isteri ku."
"Waw, kau benar-benar tak sabar ya dan kenapa panggilan mu tak sopan sekali. Aku masih menjadi ibu tiri mu,loh hahaha."
Erick seperti melihat sesuatu yang berbeda dari ekspresi Sarah. Seperti kesedihan.
"Baiklah karna kau tidak sabaran, maka aku akan mengeluarkan mereka."
Mereka? tiba-tiba saja Erick merasakan firasat tak enak.
Sarah kemudian memerintahkan anak buahnya untuk keluar di saat itulah mata Erick terbelalak saat melihat tak hanya Elena yang ada di sana tapi juga Clarissa.
"Bagaimana, kau terkejut? ini adalah kejutan untuk mu loh." Sarah tersenyum devil.
"Brengsekk apa yang telah kau lakukan pada mereka?" Erick memberang durja, melihat kondisi dua perempuan itu yang mengenaskan.
__ADS_1
"Tidak apa-apa anak buah ku belum menyentuh mereka, tapi Clarissa ck, kau tau dia memiliki body yang indah, anak buah ku tak sabaran hingga sedikit menyentuh nya."
"Bajjingan!" Erick mengumpat lagi.
Clarissa menggeleng keras, ia berupaya untuk melepaskan tangannya dari jeratan rapi tak bisa.
"Tidak Erickson. Jangan terpancing dengan ucapannya dia hanya ingin membuat mu marah."
Sayangnya perkataan Clarissa hanya bisa ia ucapkan dalam hatinya karna mulutnya yang di perban.
"Wait, kenapa kau semarah itu? apa kau mencintai Clarissa hingga cemburu dengan apa yang ku katakan? tapi jelas kau mencintai istri mu atau dua-duanya yang kau cintai? jadi siapa yang ingin kau selamat kan? Elena atau Clarissa?"
"Lepaskan mereka berdua, brengsekk!"
Sarah menyeringai. "Tidak bisa dua-duanya dong, kau hanya bisa memilih satu. Kau lihat, anak buah ku begitu menginginkan Clarissa."
Para anak buah Sarah tersenyum.
"Jadi kau hanya bisa memilih satu siapa yang ingin kau selamat kan."
Erick berusaha untuk menenangkan dirinya, ia kemudian menarik nafas dalam-dalam guna meredam emosi nya.
"Wait, Sarah aku menghormati mu sebagai isteri ayah ku. Sebenarnya apa yang kau inginkan, apa maksud dan tujuan mu melakukan semua tindakan ini?"
"Keadilan!" Sarah berubah seperti benteng yang bertemu dengan kain merah.
"Biar ku ceritakan Erickson. Dulu ayah mu banyak menjanjikan hal pada ku, dia merayuku dengan iming-iming nyonya besar davidson dan kekayaan. Tapi lihat sekarang, aku bahkan tak pernah merasakan bagaimana menjadi nyonya sebuah perusahaan besar, ayah mu berbohong, demi hanya ambisi nya dia mengabaikan ku dan putri ku,"
"Kau tahu bagaimana rasanya saat di abaikan? publik bahkan hanya tahu jika isteri Rey davidson adalah ibu mu, dan aku hanya menjadi yang kedua dan tetap di bayang- bayang nya. Aku hanya ingin mendapat keadilan untuk ku dan putri ku. Ayah mu lah yang membuat ku hingga menjadi monster seperti ini. Semua karena si brengsekk Rey!"
Erick seolah ikut merasakan emosi yang terpendam saat Sarah mengeluarkan semua unek-uneknya.
"Itu sebabnya kau melakukan semua ini? untuk balas dendam mu?"
"Tapi ayah ku yang mempunyai dosa padamu."
"Tapi mau adalah putranya. Dan kau lah yang akan menanggung karma ayahmu!" Sarah tertawa terbahak-bahak.
Sarah melirik ke arah samping mobil. Erick akhirnya menyadari.
Seseorang sejak tadi ternyata sedang mengintainya.
Dor! saat itulah mendadak tubuh seorang pria terkapar. Ternyata pria itu awalnya hendak melenyapkan Erick dengan pistol di tangannya tapi sayangnya insting Erick lebih dulu menyerang.
"Kau pikir aku tidak rencana mu?" Erick semrik.
Sarah menggeram kesal. Rencana nya ternyata mudah di tebak oleh pria itu.
"Tunggulah sampai aku memberikan kejutan juga untuk mu," ujar Erick, ia kemudian memberikan kode dari dalam mobil.
Di saat bersamaan, Zidan keluar bersama dengan Mona yang di borgol kedua tangannya. Kini giliran Sarah yang syok.
"Settan! kau mau menjebak ku juga Erickson!"
"Kau yang memulai menciptakan permainan ini Sarah. Jadi aku hanya mengikuti alur dari mu."
"Mom ... " Mona menangis. "Sudahi semua ini."
"Apa maksudmu, Mon. Kau berpihak padanya?!"
"Tidak. Aku selalu ada di pihak mu, tapi yang kamu lakukan ini sudah berlebihan."
__ADS_1
"Persetan! ternyata kau sama saja seperti mereka."
"Sarah, kita akan melakukan pertukaran. Lepaskan Elena dan Clarissa, maka aku akan melepas kan Mona!"
Sarah tertawa, semua orang mengernyit heran menatapnya.
"Kau kira, Mona adalah kelemahan ku? ck, ck kau salah besar."
"Apa!" kubu Erick terkejut mendengar pernyataan wanita itu.
"Aku bahkan tidak peduli jika kau membvnuh nya di sini, yang terpenting adalah kehancuran mu dan ambisi ku saat ini."
"Mom,kau lebih peduli balas dendam mu daripada aku?" Mona tak menyangka.
"Ya. Lagipula kau lebih memilih berada di pihaknya dari pada di pihak ku!"
"Aku benar-benar tak mengenali mu lagi mom. Kau jahhat!"
"Terserah apa katamu!" Sarah mengerling.
"Erickson sekarang adalah pilihan mu, kau akan memilih menyelamatkan Elena atau Clarissa?!"
Dua anak buah Sarah masing-masing mengarahkan ujung pistol di kepala Elena dan Clarissa.
"Siaal!"
Sarah tersenyum mengejek. "Aku tak macam-macam dengan ancaman ku."
"Sarah!" sekonyong-konyong seseorang datang.
"Winston!" Sarah terkejut akan kehadiran pria itu.
Erick terkejut. Siapa lagi dia?
"Tak ku sangka kau akan mengorbankan putri mu sendiri hanya untuk balas dendam mu."
Pria itu murka.
"Sekarang tamatlah riwayat mu, karena aku sudah memanggil polisi untuk datang kesini!"
"Apa?!"
Lalu situasi mulai tak terkendali.
"Erickson!" Elena berteriak berhasil membuat Erick menatap ke arahnya.
Suara sirine mobil polisi mulai terdengar, Sarah dan anak buahnya langsung kalang kabut tak tentu arah hendak melarikan diri.
Erick hendak menyelamatkan Elena, tapi Sarah lebih dulu menarik pelatuk pistol nya mengarah pada gadis itu.
"Sebelum riwayat mu tamat kau dulu yang akan hancur Erickson, Elena mu akan matti di sini!" Segera setelah itu peluru melesat dengan cepat.
"Tidak!"
Erick tak sempat menghalau, dengan kedua matanya sendiri ia melihat tubuh itu terkapar.
Bukan, itu bukan Elena. Melainkan Mona yang langsung berlari dan menjadikan tubuh nya sendiri sebagai pelindung untuk Elena.
Semua shooked! Waktu seakan terhenti untuk beberapa saat. Sarah bahkan sampai terpaku demi melihat tubuh Mona yang ambruk dengan bersimbah darrah karena peluru yang di lesatkan oleh nya sendiri.
"T- tidak, apa yang telah ku lakukan?"
__ADS_1
Sarah ambruk, bahkan pistol yang baru saja di kenakannya terlempar begitu saja.
"Mona!" Sarah langsung menghampiri putrinya yang sekkarat.