
Happy reading 🌹🌹🌹🌹
Matahari semakin menanjak tinggi saat Marvin mengantarkan Clarissa sampai ke kediamannya. Mobil SUV hitam metalik nya terparkir tepat sepuluh langkah dari gerbang rumah wanita itu terlihat.
"Terimakasih, ya. Seharusnya kamu tidak perlu repot-repot mengantar ku langsung seperti ini," ucap Clarissa, laki-laki yang semula diam menatap ke sekitar nya itu menyadari lalu mengangguk.
"Tak masalah. Lagipula mana mungkin aku membiarkan seorang wanita cantik pulang sendirian," ujar Marvin tanpa melakukan kontak mata karna serius mengamati tempat kediaman Clarissa.
Wanita tersebut sepintas merasa tersipu.
"Kenapa dia selalu mengucap kata-kata yang terdengar ambigu."
"Apa dia tidak menyadari perkataannya itu bisa membuat seseorang geer? lagipula dia seorang dokter, tapi kenapa pandai sekali menggombal."
Saat Clarissa tengah tenggelam dan sibuk dengan pemikiran nyeletuk di kepalanya, tiba-tiba Marvin berucap yang membuat kesadaran Clarissa kembali ke dunia nyata.
"Apa ini benar ini rumah mu?"
"Eh, ya benar." jawab Clarissa.
"Tapi kenapa terkesan begitu sederhana, m- maksud ku yang ku tahu kau seorang model terkenal kan? ku kira rumah mu akan sangat waah begitu."
Clarissa sontak tertawa mendengarnya. Marvin sedikit terkesiap saat melihat Clarissa tertawa begitu lepas dan menenangkan, tawanya yang renyah dan lucu baru Marvin dengar saat ini.
"Hahaha, aku tak mengira orang yang selalu terlihat genius seperti mu bisa memikirkan hal sekecil itu, maaf tapi menurut ku itu sangat random dan lucu."
"Hah, benarkah seperti itu?" Marvin ikut tertawa mengusap tengkuknya yang tak gatal.
"Well, terlepas itu aku hanya penasaran saja. Maaf jika pertanyaan ku membuat mu tersinggung."
"Tidak sama sekali, aku tak tersinggung," ucap Clarissa menggeleng. "Mmm untuk menjawab pertanyaan mu. Di sini aku memang tak punya tempat tinggal tetap, kadang aku akan tinggal di apartemen, atau di rumah ini, pemberian dari ayah ku, karna seluruh keluarga ku aslinya berasal dari Kanada dan kewarganegaraan ku juga berpindah mengikuti ayah ku yang memang asli sana. Aku di sini semata-mata hanya ingin terus berdekatan dengan Erick, ku kira aku bisa menetap selamanya di sini karena aku selalu berada di samping Erick. Tapi sekarang ada Elena, dia yang berhak atas Erick ... jadi mungkin aku akan pindah lagi dan kembali ke keluarga ku di Kanada," jelas Clarissa panjang lebar.
Marvin manggut-manggut mengerti. "Apa kau tak berniat mencari cinta baru? kau cantik dan populer kau bisa saja memilih salah satu dari sekian banyaknya pria yang mengantri untuk mu, termasuk aku, maybe? ingat, penawaran ku tempo lalu masih berlaku loh."
"Hahaha kau selalu saja melucu ya? mmm, untuk saat ini aku ingin lebih fokus mengobati luka di hatiku dulu, bagaimana pun cinta bertepuk sebelah tangan itu menyakitkan dan aku ingin menyembuhkan juga lebih peduli pada diriku. Intinya untuk sekarang aku tak punya waktu untuk percintaan dulu."
__ADS_1
Marvin menganggukkan kepala, paham. Entah kenapa mendengar penjelasan wanita itu dan caranya bicara menimbulkan desiran aneh tersendiri di dalam dadanya.
"Baiklah, apapun yang terbaik untuk mu. Kalau begitu aku ijin pamit."
"Mmmm ... sekali lagi terimakasih sudah mengantarku," ujar Clarissa seraya mengangguk kecil.
"Siip!" Marvin mengacungkan jempol nya. lalu melambaikan tangan berdadah ria sambil masuk kedalam mobilnya.
Clarissa menghela nafas setelah mobil Marvin menghilang dari tikungan, lalu wanita itupun masuk ke dalam pagar rumahnya dan menguncinya.
...-------Oo---------...
Di kantor polisi saat ini.
Semua orang sedang beristirahat, di sel empat tahanan wanita tengah tertidur dengan mengorok membuat Sarah yang tengah terjaga sangat terganggu dengan suara itu.
"Siaalan! mereka ngorok gede banget lagi, aku juga pengen istirahat." umpat Sarah dalam hati menatap kesal keempat wanita berbaju oranye dengan tulisan tahanan di belakang punggung mereka yang kini tertidur menumpuk tak jauh dari tempatnya menepi, duduk tersisih.
Tiba-tiba seorang polisi wanita datang memanggilnya.
"Tahanan bernama Sarah advika, ada kunjungan untuk mu."
"Siapa? siapa menjenguk ku?" tanya Sarah antusias, tangannya terkepal menegang salah satu tiang jeruji besi, sementara polisi wanita itu tengah membuka rantai gembok penjara.
"Lihat lah sendiri. Ayo!" ujar polwan tersebut dengan acuh tak acuh memborgol kedua lengan Sarah lalu membawanya ke luar setelah itu mengunci gembok penjara kembali..
***
"Mona!" pekik Sarah, saat tahu siapa yang menunggunya di meja tempat kunjungan.
"Mommy!" Mona berdiri dengan wajah sumringah, Sarah langsung menghampiri dan memeluk putrinya.
"Waktu kalian tak banyak," ucap polwan yang mengantar Sarah lalu melenggang pergi.
Sarah hanya mengangguk begitu pun Mona, lalu mereka duduk di kursi masing-masing.
__ADS_1
"Astaga, ada apa dengan penampilan mu, putriku?" Sarah memekik terkejut tak kala ia meneliti penampilan Mona lebih detail, rambut panjang nya yang seakan tak terurus dan kusut masai, wajahnya yang kusam dan lebam di sana- sini pakaian Mona pun terlihat biasa saja dari pada yang seharusnya.
"Huaa! mommy!" Mona langsung merengek, bagaimana pun dia berusaha kuat Mona tetap lah putri yang terbiasa di manja dan cengeng.
"Ada apa? katakan pada mommy!" ujar Sarah yang khawatir.
Sambil terisak-isak Mona berucap, ia menceritakan segalanya yang terjadi di mansion semenjak Sarah di bawa ke kantor polisi.
"Brengsekk!" umpat nya setelah mendengar cerita Mona.
"Si Rey bajjingan, daddy mu benar-benar ayah biadab, bisa- bisanya dia mengeluarkan mu dari keluarga davidson, dan menjadikan putri kesayangan ku ini pembantu di mansionnya sendiri. Keterlaluan kalian semua! awas saja!"
Seolah ada bara api di dalam hatinya Sarah berucap dengan geraman tertahan.
"Hiks ... hiks, aku harus bagaimana mom, aku terus di siksa oleh para pembantu kurang ajar di mansion. Daddy juga jarang pulang dan tak pernah membela ku saat para pembantu itu membully ku."
"Jangan pernah memanggil pria bajjingan itu sebagai daddy mu lagi Mona," ujar Sarah menekankan.
"Kau tenang saja, mommy akan membalas semua perbuatan mereka."
"Tapi ini, tangan mommy kenapa?" tanya Mona sejak tadi baru engeh dengan lebam membiru di lengan ibunya.
"Oh ini, ck. Sama seperti mu di dalam penjara juga mommy di gertak dan selalu di suruh- suruh oleh para tahanan lain di sana."
"Pasti menyakitkan," ujar Mona sendu, mungkin apa yang di alaminya tak sebanding dengan apa yang di terima sang ibu di dalam tahanan.
"Kau tak usah khawatir Mon. Mereka mengira akan begitu mudanya menghancurkan mommy, tapi mereka salah."
Sarah menyeringai. Mona selalu tahu apa artinya jika sang mommy sudah tersenyum menyeramkan seperti itu.
"Apa mommy punya rencana?"
"Tentu saja. Sudah banyak rencana yang mommy pikirkan di dalam sini," ujar Sarah mengetuk pelipisnya seolah sedang menunjukkan otak brilian nya yang sayang nya di manfaatkan untuk kejjahatan.
"Pertama-tama mommy harus keluar dulu dari penjara terkutuk ini."
__ADS_1
**
To be continued.