Gejolak Cinta Tuan Erick

Gejolak Cinta Tuan Erick
GCTE | Bab 62


__ADS_3

Marvin tampak gagah mengenakan tuxedo berwarna biru gelap, hari ini ia menghadiri pernikahan teman kuliahnya dulu, Jennifer wiliam, dan ia lebih suka menyebutnya Jejen.


"Selamat ya untuk pernikahan lo Jen, akhirnya bisa belah duren nanti malam," sambil mengucapkan selamat pada kedua mempelai tak pelak Marvin pun memberi sedikit candaan yang mengundang gelak tawa semua orang.


"Sialan lo," Jennifer bersungut. "Lo kapan nyusul, gelar aja dokter muda, harusnya udah punya bini buat ngurusin," Jennifer telak membalas membuat Marvin mati kutu di tempat mengusap tengkuknya tersenyum malu.


"Udah, udah gak liat muka Marvin udah kaya lobster baru di rebus gitu, merah merona," tuan Eren, selaku ayah dari Jennifer membela meski masih di selingi oleh candaan.


Kini Marvin tersenyum pada pria setengah baya itu. "Om, apa kabarnya?"


"Sehat- sehat. Kamu bagaimana? juga kabar ayah mu?"


Mereka berpelukan sesaat, menepuk kepalan tangan ala jantan.


"Aku, seperti yang om lihat sekarang," balas Marvin tergelak. "Kalau ayah masih sibuk di Singapura, mengurus cabang rumah sakit di sana. Beliau titip pesan minta maaf karena tak bisa datang, juga selamat buat pernikahan Jennifer."


"Ya, tidak apa-apa. Om sudah tak heran lagi, ayahmu itu memang sangat berdedikasi tinggi pada profesinya."


"Iya om benar, semoga aku bisa seperti ayah suatu saat nanti," sahut Marvin mengulas senyum penuh kebanggaan.


"Semoga. Umur mu masih muda, masih banyak pengalaman yang bisa di dapat. Oh ya satu lagi, benar kata putri ku, jangan lupa cepat cari pendamping biar gak kesepian," tuan Eren berbisik menimbulkan gelak tawa kembali untuk keduanya.


Sampai suatu ketika mata tajam Marvin melihat Erick di antara lalu lalang orang yang sedang ikut mengantri memberi selamat pada kedua mempelai, sontak Marvin menyipitkan matanya demi melihat jelas, tuan Eren yang melihat itupun bertanya padanya.


"Kenapa Vin, kamu melihat pak Erick sampai segitunya?" tuan Eren mengikuti arah pandang Marvin.


"Oh iya om, soalnya aku cukup kenal dengan beliau," ucap Marvin. "Tapi siapa wanita di sampingnya?" Marvin cukup penasaran dengan perempuan yang menggandeng erat tangan Erick. Juga banyak pertanyaan, kenapa bukan Elena yang di ajak pria itu?


"Oh, wanita di sampingnya itu namanya Clarissa, dia model yang sedang naik daun akhir-akhir ini."


"Hoho begitu ya." kening pria itu berkerut, seketika Marvin ingat, perempuan bernama Clarissa itu adalah wanita yang menemani Erick saat pertemuan pertama mereka di cafe, yang bersikap sangat congkak saat itu.


"Kenapa kau bertanya? ada apa memangnya?" seru tuan Eren kembali.


"Oh ... hahaha tidak apa-apa om." Marvin nampak gelagapan lalu pria itu ijin pamit pada tuan Eren dengan alasan ingin mencicipi makanan di prasmanan.


Setelah menepi dari keramaian sejenak, Marvin mengambil ponsel di saku nya berniat untuk menghubungi Elena.

__ADS_1


Di tempat lain, Elena yang masih melamun di meja rias dengan banyaknya tisu yang berceceran di lantai, melihat ponselnya menyala juga menimbulkan dering Elena melirik sekilas melihat nama si penelepon, Elena pun mengangkat nya.


"Halo kak ... "


Marvin terlihat sumringah kala Elena mau mengangkat panggilan telepon nya. Akhir-akhir ini gadis yang sudah di anggapnya sebagai adik itu sangat sukar sekali untuk di hubungi.


"Iya ini kak Marvin Elena. Bagaimana kabar mu?" Marvin ingin memastikan keadaan yang di lihatnya saat ini.


"Aku baik-baik saja kak." jawab Elena di sebrang sana. Kentara sekali gadis itu menahan getar suara.


"Jangan bohong. kakak sudah melihat semuanya," pungkas Marvin.


Tak pelak membuat Elena terkejut hingga berdiri dari duduknya. "Kakak melihat apa?!"


"Saat ini kakak sedang ada di pesta pernikahan teman kuliah. Kakak melihat Erick juga di undang, tapi dia membawa wanita lain."


Mendengar hal itu Elena kembali luruh, bahunya terkulai menyusut.


"Halo Elena ... " Marvin mencoba memastikan ketika gadis itu tak menyahut ucapannya.


Pelan Elena menjawab. "Iya kak. Aku sudah tahu itu." sebisa mungkin ia meredam sesak di dadanya.


"Kemana kak?"


"Kau tidak ingin tahu apa yang di lakukan suami mu dengan wanita itu di sini?" ucap Marvin seolah memancing membuat Elena menggigit bibir, ragu.


...***...


Akhirnya di sinilah Elena berada. Bersama Marvin berdiri di sampingnya. Demi menuntaskan rasa penasarannya Elena mengesampingkan rasa cemburunya. Ia merombak kembali penampilan kali ini tampil lebih natural namun masih tetap memancarkan kecantikan nya. Marvin yang meminta.


"Jika kau ingin tahu bagaimana perasaan Erick yang sebenarnya. Buat dia cemburu, karena pada dasarnya laki-laki tidak bisa untuk menyembunyikan rasa cemburunya."


Ucapan Marvin beberapa saat lalu masih terngiang di telinga Elena. Ia tak tahu apa yang coba pria itu rencana kan, tapi Elena percaya padanya.


"Ayo kita ke tengah, untuk beri selamat pada kedua mempelai pengantin," ajak Marvin dengan mengulum senyum lembut, Elena mengangguk meski agak ragu ia mencoba mengikuti arus rencana lelaki itu.


...***...

__ADS_1


"Jejen, perkenalkan ini Elena. Dia juga ingin memberi ucapan selamat padamu."


"Eh,halo." Jennifer melambai pelan, Elena tersenyum.


"Selamat untuk pernikahan kalian." kedua wanita itu saling berjabat tangan saat Elena hendak menjabat tangan yang sama pada mempelai pria, Marvin segera menghadang nya.


"Untuk mempelai pria biar aku wakil kan saja," Marvin menyeringai lebar.


Suami Jeniffer terbahak kerenanya. "Posesif banget bos." kelakar sang pengantin pria pada Marvin, mereka berdua sebelumnya memang sudah sangat akrab.


"Iya nih, baru tadi diejek jomblo eh udah bawa pasangan aja, gercep ya." goda Jeniffer pada dua sejoli itu.


Elena hanya bisa menunduk. Sedangkan Marvin tertawa lebar sambil mengusap belakang kepalanya. "Doain aja."


Pria itu sengaja membuat suara tertawanya di keraskan hingga semua orang mulai menoleh padanya begitu pun Erick yang berdiri tak jauh dari mereka.


Melihat Elena ada di sana seketika Erick terbeliak. Pria itu mulai memicingkan mata nya tajam, apalagi saat kedua pandangan mereka bertemu.


"Ada apa?" Clarissa yang melihat perubahan raut wajah Erick pun bertanya, mengikuti arah pandang Erick, Clarissa sontak terkejut.


"Erickson, kau mau kemana?" pekik Clarissa ketika pria itu sudah menjauh dari nya melangkah lebar mendekati Marvin dan Elena.


"Apa yang kau lakukan disini?!" geram Erick menarik tangan Elena memaksa dada keduanya bertubrukan.


Elena terperanjat, terlebih ketika ia rasakan cengkraman jemari kekar Erick yang begitu kuat di pergelangan tangannya.


"Hei, apa yang kau lakukan pada wanita ku?!" Marvin segera menengahi menarik Elena dari cengkraman Erick.


"Wanita mu, katamu?!" mendengar kalimat tersebut sontak membuat api tersulut di kedua bola mata Erick semakin terlihat, rahangnya mengeras dengan netranya yang menatap begitu nyalang.


"Ya, memangnya kenapa? kau siapanya tiba-tiba datang memarahi?" tukas Marvin seolah semakin menyulut kan api yang sedang berkobar.


"Sejak kapan dia menjadi wanita mu hah?!" Erick segera menghadang tubuh Marvin, menarik kasar kerah baju pria itu.


Semuanya menjadi tak terkendali, orang-orang segera menengahi, Erick yang sedang emosi tinggi terlihat begitu buas dan bringas.


"Dia adalah istri ku!" tekan Erick dengan kemarahan yang meluap-luap.

__ADS_1


Bukannya takut Marvin malah tersenyum mengejek. "Heh, baru seperti ini kau mengakuinya sebagai istri?"


__ADS_2