
Erick membawa Elena jauh dari keramaian, menepi di balik tembok yang di sekat oleh halaman luas. Erick yang begitu emosional, tak sengaja menubruk tubuh Elena hingga terpojok di dinding.
Elena sedikit mengaduh, kepalanya sempat terhantuk di dinding yang keras, meski begitu Erick tak menggubris sama sekali. Ia langsung memojokkan Elena hingga jarak di antara mereka semakin menghilang. Yang mana membuat Elena menahan nafas untuk beberapa saat karena wajah mereka yang begitu dekat.
"Bisakah kau menjauh, aku sesak," cicit Elena, karna di rasakannya tubuh Erick yang semakin mendekat.
"Kenapa? apa kau merasa risih?" suara Erick yang parau terdengar menyedihkan di telinga Elena, saking dekatnya mereka bahkan bisa Elena rasakan kini nafas lembut nan hangat Erick menerpa wajah nya, membuat gelenyar aneh yang tiba-tiba muncul, juga debar di dadanya semakin menggila.
"Tidak kah kau tahu berapa lama aku harus bersabar untuk moment ini? tidak kah kamu tahu betapa aku sangat merindukanmu?" gurat wajah Erick nampak pias, mata elangnya yang selalu nampak garang kini menatap sendu pada wanita yang selalu memenuhi hati dan pikirannya, pada wanita yang berhasil merenggut kewarasannya.
"Siang dan malam tak terpikirkan aku melakukan sesuatu tanpa memikirkan mu, seberusaha apapun aku mencoba untuk melupakan mu, justru semakin membuat aku jatuh cinta pada mu. Aku menyesal Elena ... aku menyesal atas perbuatan ku selama ini, ku mohon beri aku satu kesempatan untuk memperbaiki nya."
"Hentikan semua omong kosong ini!" Elena mendorong tubuh Erick menjauh, pria itu hampir terjerembab karenanya, membuat Elena seketika menyesali tindakan nya barusan.
Elena memalingkan muka. Sebisa mungkin menata hati yang kembali berantakan, ia tercekat di tempat sementara Erick menatapnya begitu intens dan teduh.
"Kau sebegitu nya membenci ku hingga tak ingin mendengar penjelasan ku?"
"Tak ada yang bisa di perbaiki mas, di antara kita sudah sangat hancur, tak ada lagi alasan untuk bertahan." sebisa mungkin Elena meredam getar pada suara nya agar terdengar normal.
"Ada!" Erick mendadak menerjang, memegang erat kedua pundak sang belahan jiwa. "Kita masih banyak alasan untuk bertahan, yaitu cinta kita. Cinta di antara kita yang membuat kita bisa bertahan dalam pernikahan ini!"
"Tapi aku tak pernah mencintaimu!"
Duar! bagai disambar petir di siang bolong, Erick membeku seketika mendengar kalimat yang di ucapkan Elena barusan.
"Tak mungkin." pria itu menggeleng tak percaya. Seolah apa yang di dengannya hanya sebuah alibi semata.
Pun Elena yang menyesali apa yang ia ucapkan tadi. Namun Erick tak bisa terus seperti ini. Ia ingin Erick bahagia, meskipun tak bersama nya.
"Kembali lah mas, kau masih punya kehidupan berharga dari pada terus menguntit ku seperti ini," ujar Elena, dia pun tak percaya dengan apa yang ia ucapkan, namun ini semua demi kebaikan di antara mereka.
"Tidak, jangan katakan jika kau tak pernah mencintaiku, itu semua bohong kan?!"
Elena tak menjawab. Lidahnya terasa keluh untuk sekedar mengucap sepatah kata, hatinya merasa sangat hancur, koyak tercabik-cabik.
"Di antara kita tak bisa lagi untuk bersama. Kau sudah begitu banyak memberi luka, bagaimana bisa aku percaya?"
Batin Elena nelangsa.
__ADS_1
"Katakan padaku mrs. Elena davidson, kenapa kau hanya diam saja?!" kali ini Erick setengah membentak.
"Nama ku Elena cempaka, bukan Elena Davidson!" Elena mengelak.
"Tapi kamu masih sah sebagai istriku!" Erick kembali mendekat, kali ini tak memberi ruang sedikit pun di antara mereka.
"Tidak sampai aku mengirimkan gugatan cerai padamu nanti." balas Elena tak mau kalah.
Untuk beberapa saat mereka hanya saling memandang, mencoba mengutarakan perasaan terdalam. Jujur apa yang di katakan Elena beberapa detik lalu sungguh menyakiti hati Erick, bagaimana bisa gadis yang begitu ia cintai dengan begitu mudahnya mengucapkan perceraian?
"Huh? ... " Erick mendengus, lalu keluar kekehan yang terdengar sumbang, Elena menatap terkejut pria itu.
Saat ini dada Erick seperti terhimpit ribuan batu yang berton- ton beratnya, membuat sesak dan sakit datang secara bersamaan menyerangnya.
Netra Elena semakin membulat ketika melihat kedua mata Erick yang sudah basah dan hidung pria itu pun mulai memerah.
Wajah Erick mendung, tatapannya berubah redup dan hampa, seakan Elena ikut tenggelam dalam lautan kesedihan pria itu.
"Aku bisa gila Elena," Erick berucap parau, saat ini pria itu tak ubahnya seperti orang pesakitan yang minta pengampunan.
Erick kemudian merentangkan kedua tangannya hingga kedua telapak nya menyentuh tembok, mengurung tubuh mungil Elena, mengunci pergerakan gadis itu.
Kali ini tatapan Erick seperti berbeda, dan tak sedikit pun berpindah dari sosok yang di kungkungannya saat ini.
"Tatap mataku dan katakan jika kau sama sekali tak merasakan apapun saat aku menyentuh mu," ujar Erick seraya kedua tangan kekar nya kini berpindah menyentuh kedua lengan Elena hingga gadis itu terkesiap seolah tersengat saat kulit mereka saling bertemu.
Elena tak berdaya, bisa di rasakan tangan Erick yang perlahan semakin merambat menyusuri setiap jengkal kulit lengannya hingga menuju pundak lalu sedikit mencengkeram nya.
"Tatap mata ku dan katakan, apa kau tak bisa melakukan itu?"
Mendengar kalimat tersebut, Elena jadi tersulut kini ia beranikan mengangkat wajah dan kedua matanya langsung mengarah tepat pada mata Erick.
"Tak pernah. Aku sama sekali tak merasakan apapun!"
Erick justru mengangkat sudut bibirnya, tersenyum miring. "Bohong!" ucapnya.
"Apa?!" Elena memprotes ucapan pria itu.
"Sejak dulu, kau sama sekali tak pernah bisa berbohong, Elena," ujar Erick tepat di telinga gadis itu.
__ADS_1
Pupil mata Elena membesar, bulu kuduknya seakan meremang mana tak kala Erick menyusupkan kepalanya di tengkuk leher Elena, dengan tangannya yang masih aktif mengusap lembut lengan wanita itu, membuat sengatan itu bertambah dua kali lipat.
"Apa yang kamu lakukan mas, lepaskan kata ku, lepaskan!"
"Kau hanya milikku Elena, kau hanya boleh menjadi milik ku."
Erick nampak berbicara lirih di sela permainan ujung hidung nya yang menggesek di permukaan kulit Elena yang putih dan berbau harum mawar.
Elena ingin memberontak sekali lagi, tapi ia tak punya daya upaya. Jujur, sentuhan fisik seperti ini sempat melenakan nya, sangat nyaman dan lembut, seakan memerintahkan nya untuk diam di tempat.
Tak cukup sampai di situ, Elena di buat semakin membelalak terkejut, saat dengan ringannya bibir Erick yang menyesap batang lehernya.
Erick sempat menyeringai ketika menyadari respon dari Elena yang tertegun, lalu kembali menghisap kuat kulit leher sang istri seraya memburu aromanya layaknya vampir yang sedang menikmati mangsanya. Elena sedikit meringis saat kulitnya di sesap kuat, mata berkedip sebelah dengan menggigit bibir bawahnya, ia mengepalkan erat tangannya namun otaknya seakan beku untuk memberikan perlawanan.
Erick tersenyum puas atas mahakarya di atas permukaan kulit leher Elena yang kini memiliki banyak tanda mereka kebiruan karena ulahnya.
Kiss mark dari nya ini lah yang akan menjadi peringatan bagi setiap pria yang hendak mendekati Elena. Ia ingin memberi warning, jika Elena hanya miliknya seorang.
Saat sempat menarik diri untuk melihat reaksi Elena, Erick semakin mengembangkan senyumnya ketika ia menatap wajah Elena yang kini memerah padam tak ayal menatapnya dengan benci, Erick mengusap ekor mata gadis itu yang mengeluarkan air.
"Ini tak seberapa sayang, kenapa kamu cepat sekali menangis?"
"Kamu brengsekk!"
"Yap, aku bisa saja jadi brengsekk jika wanita yang ku cintai keras kepala dan tak mendengar apa yang ku ucapkan."
"Lagi pula, kamu masih berstatus sebagai istri ku, honey." imbuhnya lagi.
Elena semakin menatap tajam. Benci dan muak.
"Aku membenci mu!" lantang Elena berucap.
"But, i love you." balas Erick menatap teduh. "More," lanjutnya.
Erick hendak melakukan lagi apa yang ia lakukan tadi, karena ia menyadari itu mulai menjadi candu untuk nya, namun ketika ia kembali membenamkan wajahnya di ceruk leher Elena, Erick tiba-tiba mengerang.
"Aaaargh!"
Tepat ketika Elena memberikan gigitan tajamnya di bahu pria itu. Segera saja Elena lari saat Erick mengaduh.
__ADS_1
"Rasakan itu!" umpat Elena lalu segera melarikan diri dari sana.