Gejolak Cinta Tuan Erick

Gejolak Cinta Tuan Erick
GCTE | Bab 144


__ADS_3

Happy reading 🌹🌹🌹🌹


Grrrr! Sarah menggeram menahan kesal saat mendapat kan informasi jika huru-hara yang di buatnya di perusahaan kini sudah dapat di selesaikan dengan Erick, dan yang semakin membuat nya kesal adalah ternyata Edward, pria yang akan ia ajak kerjasama untuk menghancurkan keluarga davidson, yang justeru telah membantu Erick.


"Kurang ajar! mereka mendapatkan kemenangan yang pertama!" desis Sarah, tak terima.


"Tidak boleh. Rencana ku tidak boleh hancur sampai sini saja, ini belum apa-apa nya! Arggghh!" Sarah berteriak murka.


"Sarah, sudahlah. Lebih baik kita hentikan sampai sini saja," ujar Winston.


"Apa maksud perkataan mu?!" Sarah tak terima, matanya memerah dengan seluruh wajahnya yang menegang, seperti orang kerasukan.


"Maksud ku, aku baru menyadari sekarang, melawan Erick bukanlah sesuatu yang mudah, pria itu terlalu banyak akal dan cerdik. Lupakan saja ambisi balas dendam mu, Sar. Lebih baik kita fokus mencari Mona lalu memulai hidup baru."


Brak! Sarah menggebrak meja, Winston terkesiap.


"Jadi kau takut dengan bocah laki-laki seperti Erick, what the hell- kemana keberanian mu Winston, kau takut dengan bocah ingusan itu?!"


"Jangan meremehkan nya Sar, Erick lebih menakutkan dari pada yang kita duga," ujar Winston, hatinya mulai tergerak tidak setuju dengan ambisius Sarah yang ingin membalas dendam.


"Whatever! apapun yang kau katakan, aku sama sekali tak peduli. Hingga aku mati sekalipun, arwah ku tidak akan tenang, sebelum melihat kehancuran mereka. Jadi jangan sekali-kali menahan ku, Winston,"


"Kau bilang jika kau sangat mencintai ku dan mau melakukan apapun untuk ku. Apa hanya segini pembuktian cinta mu, Winston?" ujar Sarah memancing, ia tak ingin kehilangan Winston di sampingnya, hanya pria itu yang dapat membantu nya saat ini.


"Tentu sama sekali tidak. Cinta ku sangat besar pada Sar, aku serius padamu."


"Jika begitu maka buktikan lah. Kau akan tetap membantu ku kan?" kata Sarah kini dengan wajah di buat memelas, Winston tak berdaya dia mau tak mau akhirnya mengangguk.


Sarah menyeringai. "Maka ikutilah setiap perintah ku, Winston. Kita akan mulai merencanakan plan B."


Lalu wanita itu tertawa terbahak.


...---------Oo-------...


Siang hari, di cempaka bakery.


Tak seperti biasanya yang hanya memantau dan membantu saja di belakang, hari ini Elena nampak membantu melayani para pembeli, terlihat banyak anak-anak yang berlalu lalang, nampak senang dengan interior baru toko yang bernuansa dongeng, dengan figura tokoh kartun Disney membuat anak-anak semakin betah berada di dalam.


Hingga matahari semakin meninggi, para pembeli mulai sedikit berkurang, hingga mereka bisa sedikit istirahat.


Di meja kasir, Siska terlihat sedang asyik menonton drama Korea di sela istirahat nya, di ponselnya yang ia taruh di dekat meja agar lebih leluasa menonton, nampak gadis itu senyum-senyum sendiri saat aktor kesayangannya terpampang di layar.


"Duh, ganteng banget sih oppa Lee min, keren deh jadi kaisar gitu, makin jatuh cintrong. Sarange oppa!" ucap nya menggebu-gebu seolah tengah di mabuk asmara.


Mbok Can geleng-geleng kepala melihat tingkah gadis itu.


"Lihat deh, non. Neng Siska makin gak tertolong halunya," kelakar mbok Can.


Elena hanya menyimak sambil tertawa kecil. Melihat tingkah Siska seolah mengingatkannya tentang Dea dan dirinya sendiri dulu yang sama- sama mengidolakan aktor dan aktris dari negeri ginseng tersebut.

__ADS_1


Tiara datang dari belakang, dengan iseng nya bocah itu mengagetkan Siska yang sedang khusyuk nya menonton drama.


Duaaar!


"Eh, ayam! eh ayam!" Siska yang kaget sampai tergagap dan latah.


"Hahaha!"


Tiara tertawa kencang sambil memegang perutnya, terlebih ketika ia melihat ekspresi Siska yang konyol.


"Ish, Tiara! ngagetin wae!"


"Ssst! kalian." mbok Can memperingati mereka untuk diam. Siska dan Tiara menoleh bersamaan, rupanya ada tamu.


Seorang pria yang nampak gagah dengan setelan kemeja putih dan jas abu-abu nya, kerahnya yang sedikit berantakan malah semakin membuat penampilannya terlihat seksi.


"Eh, itukan pak Erick." seru Siska.


"Itulah, makanya kata mbok juga diam. Sudah kita ke belakang saja yuk. Takutnya mereka mau bicara penting," pinta mbok Can sambil melihat ke arah Erick dan Elena.


Siska dan Tiara mengangguk patuh, mengikuti mbok Can ke belakang.


"Kenapa kamu kesini?" tanya Elena begitu Erick tiba di hadapannya.


"Kenapa? tidak boleh kah?" balik tanya Erick, menggoda.


"Bukan begitu." wajah Elena seketika memerah. "Hanya saja bukankah situasi saat ini sedang genting."


Elena mendengus, menggeleng kecil. Lalu mempersilahkan Erick untuk duduk di sofa panjang belakang meja kasir.


"Toko mu sangat nyaman, terlihat sangat indah," puji Erick. "Kamu sudah melakukan sampai sejauh ini, aku bangga padamu."


Elena tersipu mendengar nya, demi mengalihkan ia pun bertanya. "Mau minum apa?"


"Oh, mmm aku minta air putih saja."


"Baiklah. Aku siapkan dulu."


Erick mengangguk, setelah Elena pergi, pria itu menyapu pandangan ke sekitar. Matanya tajam menelisik lalu mulai menemukan bodyguard nya yang sudah ia tugaskan berdiri di depan dekat toko.


"Itu bagus. Mereka menjalankan perintah dengan baik."


"Ada apa?" suara seseorang mengagetkan nya.


"Oh, tidak ada." Erick tersenyum begitu menyadari kehadiran Elena.


"Kau membawa kue juga?" lanjutnya bertanya, melihat isi di atas berukuran sedang.


"Iya. Tidak etis kan kalau aku hanya menyajikan air saja." sahut Elena. Erick mengangguk-angguk setuju.

__ADS_1


"Tadi kamu kenapa?" tatapan mu seperti akan membunvh orang saat melirik ke sekitar."


"Hahaha, benarkah? aku hanya sedang melihat- lihat toko mu saja."


Setelah menaruh hidangan di atas meja, Elena kemudian duduk di samping Erick.


"Minumlah," kata Elena mempersilahkan.


Erick berdeham sejenak. "Sebenarnya sayang, aku tak punya banyak waktu."


"Kenapa? apa terjadi sesuatu yang buruk?" tanya Elena, khawatir.


"Tidak semuanya baik-baik saja. Tapi ada satu yang sangat khawatir kan."


"Apa?" tanya Elena lagi.


"Dirimu, sayang." jawab Erick menatap lekat.


"Setelah berusaha untuk menghancurkan ku tapi tak berhasil. Orang-orang jahat itu pasti sedang mengincar mu, dan aku tak ingin itu terjadi."


"Apa saat ini situasi nya semakin buruk?" raut wajah Elena menunjukkan ketakutan.


"Sssst! jangan khawatir. Aku akan selalu melindungi mu," ucap Erick. Ia tak ingin membicarakan pada Elena tentang ancaman yang di berikan Sarah, agar wanita nya itu tak semakin khawatir.


"Jadi untuk antisipasi, gunakan lah ini." Erick mengeluarkan sesuatu dari balik jasnya.


"Gelang?" tebak Elena.


"Iya, tapi ini bukan hanya sekedar gelang. Kau lihat, kotak kecil di bagian pernak-pernik gelang ini. Sebenarnya ini adalah kamera pelacak yang akan langsung terhubung oleh ponsel ku."


"Gunakan ini sebagai perlindungan saat aku tak ada. Sampai aku bisa menemukan Sarah dan menjebloskan nya ke penjara."


Mata Erick berkilat dan berapi- api.


"Aku akan selalu waspada," ujar Elena.


Erick tersenyum ia memasangkan gelang itu di lengan mungil sang istri, setelah memakaikan nya ia mengusap lembut lalu mengecup punggung tangan mulus itu.


"Kamu percaya pada ku kan sayang?" tanya Erick menatap dalam kedua mata Elena.


Gadis yang semula hanya diam saja itu mulai perlahan- lahan mengangguk.


Erick semakin melebarkan garis bibir nya.


"Terimakasih. terimakasih telah mempercayai ku, aku berjanji akan selalu melindungi mu meski nyawa ku sendiri sebagai taruhan."


Elena cepat menggeleng mendengar kalimat terakhir Erick, gadis itu menaruh telapak tangannya di bibir sang suami.


"Jangan katakan itu, ku mohon." raut wajah Elena semakin terlihat sedih, Erick segera menarik tangan nya lantas membawa sang isteri dalam pelukan.

__ADS_1


"Jujur, aku sangat merindukan saat-saat kita seperti ini." gumam Erick, kemudian menghirup dalam-dalam aroma manis sang istri, mengecup kulit leher wanita itu.


Apapun yang terjadi, mereka harus siap.


__ADS_2