Gejolak Cinta Tuan Erick

Gejolak Cinta Tuan Erick
GCTE | Bab 89


__ADS_3

Erick berencana kembali ke Indonesia dengan menggunakan layanan first class yang sudah di siapkan oleh salah satu asistennya yang bertugas di kota ini. Sebelum jadwal penerbangannya ia menyempatkan diri untuk berpamitan pada dokter Rosanne rose di salah satu rumah sakit bergengsi tempat wanita itu bekerja.


Dokter Rosanne menghela nafas setelah mendengar penjelasannya.


Kemudian wanita dengan wajah tegas tersebut tersenyum simpul setelah Erick memberikan keputusannya.


"Aku mengerti ... terkadang, orang yang telah memberikan rasa sakit adalah orang yang sama yang akan mengobatinya, kesimpulannya wanita bernama Elena ini adalah rasa sakit mu sekaligus penawar mu."


Erick tersenyum. "Kau benar."


Beberapa saat mereka hanya saling memandang, lalu tangan dokter Rosanne mengusap punggung Erick dengan tulus.


"Pergilah ... untuk kali ini kau memang tidak memerlukan ku, tapi Elena mu. Berjanjilah kau tak akan menemui ku lagi dengan keluhan yang sama."


"Baiklah." Erick mengangguk. "Selama ini kau telah sangat berjasa dalam kesehatan mental ku, thank you very much."


Dokter Rosanne mengangguk dengan senyum semakin lebar terkembang. "You're welcome, aku sudah mengenal mu sejak kau berumur lima belas tahun, kita sudah mengenal lama, jangan merasa sungkan lagi. Dan Oh ya pengecualian ... kau bisa menemui ku lain kali dengan membawa serta istri mu ya. Kenalkan padaku dengan wanita yang telah membuat pria dingin ini sampai bertekuk lutut," ucapnya di selingi gurauan.


Erick mendengkus geli lalu mengangguk. "Aku pasti akan mengenal kan nya padamu. Percayalah, dia adalah wanita tercantik dalam hidup ku," ujar Erick dengan nada penuh kebanggaan dan dokter Rosanne bisa melihat cinta besar pria itu dengan sangat jelas.


...***...


"Bagaimana? enak tidak?" Elena bertanya dengan penuh antusias.


"Tidak perlu di ragukan lagi. Tangan mu adalah sebuah mahakarya, Lena. Ini sangat enak," kata Marvin memuji dengan membuat gaya ala juri masak, hingga Elena tertawa di buatnya.


"Hiasan di kue pie ini juga cantik- cantik tak kalah dari kue yang di etalase toko-toko kue yang ada di Jepang," imbuhnya lagi mengingat kembali kunjungannya di negeri sakura dua tahun lalu saat ia menjelajahi tokoh kue di sana.

__ADS_1


"Benarkah? ah, kurasa kau berlebihan kak." Elena tersipu malu dengan pujian yang di lontarkan pria di sampingnya itu.


"Hahaha, tak biasanya kau malu-malu kucing seperti itu," kelakar Marvin, tak sia-sia waktu senggangnya ia putuskan untuk mengunjungi Elena, melihat senyum gadis itu seolah baterai semangat nya kembali terisi penuh.


"Ish, jangan menggoda ku kak!" Elena mencebik, merasakan moment ini seperti membawa ia ke masa lalu saat masa kecil mereka di mana dulu ia dan Marvin begitu tak terpisahkan, orang-orang menganggap mereka adalah kakak- adik tanpa ikatan darah yang sangat saling menyayangi. Ah, betapa indahnya masa itu, berharap ia bisa mengulanginya dan menjadi anak kecil selamanya tanpa harus memikirkan dan hanya bermain riang, terkadang masa kecil lah yang kita rindukan saat semakin beranjak dewasa.


"Hayo melamun lagi?"


Jentikkan jemari Marvin di depan wajahnya membuat Elena tersadar.


"Eh, tidak kak!" Elena gelagapan menggeleng lugu, membuat Marvin terkekeh.


"Sejak dulu kau memang tidak pandai berbohong," ucap pria itu membuat Elena merenggut.


"Oh ya bagaimana dengan saran kakak? apa kau sudah memikirkan nya?" tanya Marvin kemudian, kembali mencomot pie di hadapan, entah yang sudah ke berapa, setengah loyang bahkan sudah habis ia lahap.


"Kemarin juga mbok Can menyarankan hal yang sama padaku. Mungkin memang inilah saatnya aku mulai mengembangkan diri keluar dari zona nyaman. Aku akan coba menjajakan kue-kue buatan ku ini." Elena mengangguk mantap.


"Great! keputusan mu sudah sangat tepat." Marvin mengacungi jempolnya.


"Lalu kamu akan mulai dari mana?"


"Mmm, aku mungkin akan menawarkan nya dulu pada orang-orang lalu melihat testimoni mereka setelah nya baru memutuskan," ucap Elena.


"Baiklah, kakak mendukung seratus persen keputusan mu ini."


Melihat Marvin yang hendak mengambil dompet di saku celananya, membuat Elena terkesiap.

__ADS_1


"Apa yang kakak lakukan?"


"Memberikan modal untuk mu, membeli bahan-bahan kue nya harus membutuhkan uang kan?"


"Tidak perlu kak." Elena menggeleng cepat, menghalau apa yang akan di lakukan Marvin, dengan tangannya.


"Kakak tidak harus sampai melakukan itu." pungkas Elena.


"Lalu dari mana kau akan mendapat modal untuk membangun usaha mu ini? jangan menolak Elena, kakak sudah mengatakan berulang kali kan? kita ini saudara."


"Aku tahu, tapi bukan berarti kau dengan begitu mudahnya memberikan apapun untuk ku. Aku ingin membuat sesuatu dengan jerih payah ku sendiri kak. Untuk modal aku sudah ada dari tabungan ku selama ini."


"Kenapa kau seperti ini Elena?" bukannya menyimak apa yang Elena katakan, Marvin malah mengajukan pertanyaan yang jelas keluar dari topik.


"Kakak perhatikan, selama ini kau susah sekali untuk menerima pemberian kakak, kau seperti membangun tembok besar di antara kita." tatapan Marvin sarat akan kekecewaan.


"Apa semua ini ada hubungannya dengan pria itu Elena?"


"Apa yang kakak maksud?" Elena mulai menetap tak suka.


"Jangan berpura-pura, kakak tahu kau mengerti dengan maksud kakak."


"Aku tak ingin membahasnya kak, kumohon." Elena berpaling wajah.


Ada perasaan sesak yang Marvin rasakan saat melihat Elena yang berubah sendu.


"Elena, jika suatu hari nanti Erick datang dan meminta mu kembali ... apa kau akan menerimanya?"

__ADS_1


Hening untuk sesaat, perlahan wajah Elena kembali menatap pria itu, namun tak ada jawaban dari mulutnya membuat Marvin sudah menebak jawabannya meski tak langsung di ucapkan oleh mulut gadis itu.


__ADS_2