Gejolak Cinta Tuan Erick

Gejolak Cinta Tuan Erick
GCTE | Bab 72


__ADS_3

Happy reading 🌹🌹


"Kumohon, bisakah kamu memberitahu di mana Elena berada?" Clarissa memegang ponselnya erat-erat, hatinya berdebar menunggu jawaban dari seberang sana.


"Tidak akan ku beritahu."


Kalimat yang terlontar dari si pemilik nomor yang ia telepon, membuat Clarissa mendesah kecewa.


"Please Dea jangan mempersulit keadaan. Jelas-jelas dari keterangan pak Pandu, kau yang telah membawa Elena pergi, kemana sekarang dia berada Dea?!" Clarissa masih tetap berusaha mendesak, meski penolakan mentah-mentah ia terima.


Tak ada sahutan di seberang sana, lagi Clarissa menghela nafas sejenak dan mulai bicara kembali. "Erickson sangat membutuhkan Elena saat ini. Hanya dia yang mampu menghentikan Erickson dari kegilaannya."


"Lalu, jika pak Erick yang membutuhkan Elena, kenapa kau yang menelpon dan memohon- mohon seperti ini? bukankah seharusnya dia sendiri yang berusaha untuk meminta Elena kembali?" sarkas Dea dengan ketus.


Clarissa masih berusaha untuk sabar meski dalam benaknya geram. setengah mati menghadapi gadis yang katanya sahabat Elena tersebut.


"Kondisinya tak memungkinkan Erick untuk memohon pada mu ... semuanya sama-sama terluka, Dea. ku mohon, mengertilah ... "


"Tapi sahabat ku yang paling terluka di sini, asal kau tahu itu!" tekan Dea. "Sudahlah tak ada gunanya lagi kita membicarakan hal ini, sampai kapanpun aku tidak akan memberitahu Elena berada, sudah cukup dia menderita!"


Tut! sambungan di matikan sepihak, Clarissa terbelalak.


"Halo Dea! halo ... " percuma saja Clarissa sudah tak bisa mendengar apa-apa lagi, hendak menelpon kembali namun Dea dengan sigap memblokir nomornya. Clarissa berdecak putus asa.


"Bagaimana nona." Pak Pandu menunggu dengan sabar di samping segera bertanya.


"Percuma. Wanita itu keras kepala, dia tak akan memberitahu di mana Elena berada."

__ADS_1


"Ck, saya sudah bisa menebak itu. Dia dengan seenaknya membawa nyonya muda pergi, tidak kah dia tahu jika nyonya muda masih berstatus sebagai seorang istri yang harus selalu patuh pada suaminya."


Mendengar pernyataan yang terlontar dari mulut pria di sampingnya, sontak Clarissa menoleh, raut wajah wanita itu menunjukkan ketidaksetujuan.


"Tapi ada yang salah juga dengan pola pikir pak Pandu selama ini," ujarnya.


"Hah ... apa nona?" pak Pandu mengerutkan keningnya.


"Tidak kah pak Pandu tahu, apa yang anda lakukan ini salah? jelas-jelas pak Pandu melihat dengan kepala mata bapak sendiri, Erick yang sedang menyiksa Elena, menariknya paksa hingga dengan tega mengurungnya ke dalam gudang. Itu semua termasuk kekerasan dalam rumah tangga, lalu apa yang pak Pandu lakukan? diam saja dan menonton semua itu, tanpa mau repot-repot mencegahnya, padahal jelas-jelas itu terjadi di dalam mansion ini yang mana pak Pandu adalah pengurusnya."


Skak mat! pak Pandu merasa mati kutu di tempatnya setelah di beri ultimatum seperti itu.


"Saya hanya menjalankan perintah nona, tak ada wewenang saya untuk ikut campur dalam rumah tangga atasan saya." meski telah di pojokan sedemikian rupa, pak Pandu tetap bisa membela diri.


Clarissa terkekeh kecil seolah mentertawakan ucapan laki-laki itu.


"Kita memang tak boleh begitu saja ikut campur dalam urusan yang bukan hak kita, tapi melihat seorang wanita yang di siksa oleh suaminya dan anda hanya diam saja bahkan ketika sudah tahu wanita itu berdarah-darah, anda malah tetap dalam ego anda dengan dalih mematuhi perintah atasan ... cih, sebaiknya celana anda ini di ganti saja dengan rok!"


"Anda bahkan masih mempertanyakan apa maksudnya?" Clarissa tergelak. "Sebaik pikirkan baik-baik ucapan saya ini pak Pandu ... dan ingat satu hal lagi, ini sudah memasuki zaman modernisasi, tak ada lagi istilah patriarki yang mana derajat suami lebih tinggi dari istrinya, semuanya sama rata, jika suaminya saja tak bertanggung jawab dan berlaku kasar, hilangkan pemikiran anda tentang istri yang harus selalu patuh pada suaminya!"


Clarissa kemudian pergi setelah mengatakan itu tepat langsung di depan wajah yang sudah mulai mengeriput tersebut lantas meninggalkan pak Pandu dalam kebisuan panjangnya.


...****...


"Erick aku tak membenarkan perilaku mu kepada Elena ... tapi aku tak bisa melihat mu seperti ini," lirih Clarissa saat dia menemui pria tersebut di kamarnya, Erick sudah dalam keadaan tertelungkup di kasurnya. Pria terus saja membual tak jelas, Clarissa bahkan tak bisa untuk menahan Erick yang terus-terusan minum.


"Nona Clarissa ... "

__ADS_1


Namanya di panggil membuat wanita itu menoleh ke belakang. "Zidan ... "


Pria bersetelan jas abu-abu itu mengangguk. "Maaf saya baru sampai, saya harus menggantikan tugas pak Erick di kantor untuk beberapa waktu ini."


"Terimakasih sudah selalu setia di samping Erickson," ujar Clarissa.


"Sudah menjadi kewajiban saya," sahut Zidan.


Hening menyelimuti sejenak, lalu Zidan mulai berbicara lagi.


"Tuan besar sudah saya hubungi tentang kondisi pak Erick, namun beliau masih dalam kunjungan kerjanya, segera ia akan tiba kesini dalam waktu yang tidak di tentukan. Sementara itu atas perintah dari tuan besar, pak Erick harus di bawa terapi untuk kejiwaannya."


"Terapi kejiwaan?" Clarissa menutup mulut, tak mengira kondisi Erick sampai separah itu.


Zidan mengangguk. "Ya, sebenarnya dari info yang saya dapatkan, beberapa tahun ke belakang pak Erick juga pernah mengalami kondisi seperti ini, beliau memiliki mental yang tak stabil, itu sebabnya beliau memiliki seorang psikolog pribadi, kondisinya ini jika di biarkan terus akan bisa menyakiti dirinya sendiri."


"Lakukan yang terbaik yang harus di lakukan," ucap Clarissa memandang sendu pada Erick saat ini, tangannya terjulur mengusap pipi Erick namun lagi- lagi ketika pria itu sadar segera menepis tangannya dengan kasar. Clarissa seketika menjadi sedih.


Zidan hanya menghela nafas seakan ikut merasakan apa yang Clarissa rasakan.


"Anda jangan khawatir, penerbangan ke London akan di lakukan secepatnya, menurut instruksi tuan besar di sana pak Erick akan menjalani terapi bersama psikolog pribadi nya, dengan tenang tanpa khawatir ada gangguan di sini."


"Baiklah. Aku akan ikut jika begitu, tapi ... bisakah kamu melakukan sesuatu sebelum keberangkatan, Zidan?"


"Ya nona ... " Zidan seolah siap dengan perintah yang akan ia terima.


"Tolong lacak keberadaan Elena, aku ingin menemuinya sebelum terapi Erick ... "

__ADS_1


****


Sebelumnya terimakasih untuk yang selalu mendukung Novel ini🙏 beribu-ribu cinta untuk kalian ❤️ please agar cerita ini tetap jalan bagi reader yang telah menyempatkan membaca berikan like dan tinggalkan komen agar othor semakin semangat, terimakasih ✨


__ADS_2