
"Erickson!"
Sarah Mona menoleh, terkejut bersamaan. Pun begitu pula dengan Clarissa dan Elena yang kaget tak menduga Erick bisa ada di sini.
"Kejahatan kalian sudah berakhir sampai sini!" tegas Erick menatap horor pada kedua wanita di depannya kini.
"K- kak Erick, kenapa bisa ada di sini kak? a-aku tak menyangka kakak bisa tahu kami ada di sini?"
"Stop, bersikap manis padaku. Menjijikkan, bahkan sekarang aku tak sudi menganggap mu sebagai adik," ujar Erick.
Sarah tak terima, sementara wajah Mona sudah pias menahan tangis mendengar ucapan sang kakak yang menohok hatinya.
"Erickson, jaga ucapan mu. Kenapa kau tega bicara seperti itu pada adik mu hah?!"
"Turunkan matamu, sebelum aku lupa jika kau adalah ibu tiri ku."
"Apa?!" Sarah terkejut mendengar perkataan Erick.
"Shitt! jika bukan kau adalah isteri dari ayah ku,aku sudah membunnuh mu di sini," sarkas Erick,semua orang melongo dengan sikap kasar pria itu. Seperti pria yang sedang bicara ini bukanlah seperti Erick yang mereka kenal.
"Kenapa kau jadi berubah seperti ini kak? apa salah ku?" Mona mendekat hendak menggapai Erick, namun pria itu segera menjauh dan memasang wajah seolah tak suka.
"Kau bilang apa salah mu?" Erick membentak dengan emosi yang sudah di ubun-ubun. Ia kemudian mengeluarkan sebuah ponsel, yang membuat Mona langsung terkesiap kaget karena sangat mengenal ponsel siapa itu.
"Di dalam sini ada percakapan mu dengan Vicky, si brengsekk itu dan kau nyonya Sarah." Erick menunjuk ibu tirinya.
"Kalian berdua benar-benar bukan manusia, apa kalian ibliss hah? bagaimana bisa kalian memiliki ide yang sangat licik untuk menjebak seorang gadis yang adalah keluarga kalian sendiri!"
"Apa? j- jadi kakak sudah tahu--"
"Ya, aku sudah tahu semuanya. Kau dan ibumu itu yang ternyata telah bersekongkol bersama Vicky untuk menjebak istri ku dengan foto- foto palsu itu!"
Mona seketika saja menjadi kalut, begitupun dengan Sarah yang sudah ciut di tempat, ibu dan anak itu terengah-engah dengan wajah pucat pasi.
Lalu tiba-tiba saja Mona menekuk lutut di hadapan Erick.
"Kakak, aku sungguh tidak tahu apa-apa kak! aku hanya di suruh oleh mommy, dia lah otak di balik semua ini," ucap Mona dengan kedua telapak tangan menangkup dada, dan wajah memelas.
__ADS_1
"Apa? Mona bagaimana bisa kamu bersikap seperti ini?" Sarah tak menyangka, putrinya sendiri menjadikannya tumbal dalam kejahatan yang jelas mereka lakukan bersama. Sarah seperti di tusuk dari belakang.
Mona menoleh pada Sarah. "Apa yang bagaimana mom, hiks. Jelas- jelas mommy lah yang merencanakan semua konspirasi ini, aku hanya ikut-ikutan saja karena di paksa oleh mu."
"Shut up! hentikan drama kalian berdua," pekik Erick kembali menggelegar, ia menjauh dua langkah dari Mona yang tengah berlutut di hadapannya.
"Kalian pikir aku bisa di bodohi hah? Mona, sangat jelas di ponsel ini ada percakapan mu dengan Vicky lewat via WhatsApp, bahkan juga ada pesan suara yang merekam obrolan kalian dan kau Mona, uggh ... kakak tidak menyangka kau akan sebejat ini," Erick tercekat, ia rasa tak sanggup untuk melanjutkan kata-katanya lagi.
"Memalukan jika mengatakan nya di sini." Erick menyapu pandangan ke sekeliling, ini urusan keluarga membicarakannya di tempat umum seperti ini tentu bukan pilihan tepat.
"Lebih baik segera kalian kembali dan kita bicarakan di mansion."
Mona tergugu, tak tahu tentang nasib ke depan nya bagaimana. Ia sudah banyak melihat tentang seperti apa seorang Erick davidson dalam menghukum siapa saja yang telah mengkhianatinya, dan itu benar-benar menyeramkan. Bahkan jika itu keluarga, jika mereka sudah ketahuan berkhianat padanya, Erick tak akan pandang bulu. Terlebih saat ini posisi Mona lah yang paling terpojok dan semenjak ada Elena di kehidupan nya, sang kakak tak pernah menomorsatukan nya lagi. Bagaimana nasibnya kini?
"Dan untuk mu Elena." suara Erick mendadak melembut saat berbicara pada wanita yang berjarak sepuluh langkah darinya.
Clarissa menoleh, melihat bagaimana Erick yang memandang Elena, hatinya berdenyut sakit.
"Bisakah kamu ikut dengan ku, ke mansion bersama?" pinta Erick.
"Sebentar saja, sayang. Aku hanya ingin kita meluruskan semua masalah yang terjadi ini? please?"
Elena kembali menoleh, di tatapnya kedua mata Erick yang jelas menyiratkan sebuah keterpurukan dan penyesalan yang terdalam.
"Hanya untuk kali ini, setelah itu kita sudahi apa yang terjadi di antara kita."
Hati Erick seperti tercabik-cabik saat mendengar kalimat terakhir yang di ucapkan Elena. Namun sebisa mungkin pria Itu menyembunyikan lalu mengangguk lemah.
...----------------...
Plak!
Tamparan keras Erick layangkan di pipi Mona. Semua orang terperangah, Dea yang ikut untuk menemani Elena di mansion kini, pun sempat menggigil ketakutan karena Erick yang tak ubahnya seperti seorang monster dengan emosi meletup-letup.
Sarah segera menghampiri putrinya.
"Erickson, tak bisa kah kau tak memakai kekerasan hah? dia adik mu. Adikmu!" lantang Sarah menekankan kata terakhirnya. Bagaimana pun Mona adalah putri nya, Sarah tak bisa membencinya meski Mona telah menusuknya dari belakang.
__ADS_1
"Mommy hiks ... hiks." Mona menangis sesenggukan memegangi pipinya yang di tampar Erick.
"Ini tak seberapa di banding apa yang dia lakukan!" pungkas Erick dengan tatapan nyalang.
Sarah berdiri, menegakkan tubuhnya.
"Ingat Erickson, bagaimana pun aku adalah ibu mu, istri sah dari ayah mu, dan dia adalah adik mu." menunjuk Mona.
"Kami tahu apa yang kami lakukan salah, tapi tak sepantasnya kamu memperlakukan kami seperti ini!"
"Enteng sekali anda bicara, wahai nyonya Sarah terhormat, isteri dari ayah ku. Begitu kan kau ingin aku menghormati mu?"
Sarah menggeleng pelan. "Aku akan mengadukan semua ini pada ayah mu. Kau tahu Erickson, sebenarnya dalang asli dari semua kejahatan ini bermula dari ayah mu!"
Duar! seperti tersambar petir di siang bolong, Elena terpaku mendengar penjelasan Sarah.
"T- tuan Rey yang melakukan ini semua? ayah mertua ku yang sudah mulai baik dan sering membantu ku?!"
"Apa maksudmu?!" Erick mendelik.
"Hahaha, kau terkejut kan?" Sarah tertawa. "Ya, Ayah mu yang paling kau sayangi yang selalu menjadi panutan mu lah yang memerintah kan kami untuk menjalankan jebakan untuk Elena."
"Kau pikir sikapnya yang berubah dan mau menerima mu dan Elena kembali ke keluarga ini adalah sebuah kebenaran? tidak, tidak, itu hanyalah sandiwara belaka."
"Ayah mu lah yang sebenarnya adalah musuh dalam selimut. Dia yang ingin kau berpisah dengan Elena,dan aku hanya menuruti apa yang ayah mu perintahkan!" lantang Sarah berucap.
Dea geleng-geleng kepala, tak menyangka dengan semua fakta yang di beberkan ini.
"Gilla! satu keluarga isinya settan semua." batinnya.
•
Tanpa di duga, terdengar suara hentakan sepatu dari arah belakang. Tiba-tiba saja tuan Rey muncul, seolah tahu akhirnya hari di mana semua kejahatan mereka akan terungkap.
Tuan Rey datang dengan wajah sendunya.
"Erickson, papa ingin menjelaskan semua ini pada mu," ucapnya membuat semua orang seketika memandangnya.
__ADS_1