
"Erickson! jangan berkata seperti itu, dia adalah istri mu!'
Semua orang yang ada di sana terkejut dengan pembelaan yang di lakukan Rey untuk menantunya. Sarah maju mendekati sang suami.
"Dad, kenapa kau membela si kumuh itu sih?!" sentak Sarah berbisik di telinga Rey, namun laki-laki berumur 60an itu hanya bergeming menatap iba gadis yang kini yang pucat pasih mukanya.
Entah di mulai darimana, Rey pun tak tahu namun yang pasti Rey merasa harus membela gadis malang itu. Rey yang dulu sangat menentang hubungan putranya dengan gadis yang menurutnya tak sepadan, wanita rendahan. Kini berputar arah, pikirannya seakan mulai terbuka lebar, ia menyadari jika Elena benar-benar tulus mencintai putranya. Dia gadis baik-baik tak seharusnya kau membencinya hanya karena perbedaan kasta, itulah yang seolah kata hatinya coba ungkapkan.
Rey tak mengindahkan peringatan dari sang istri, ia tetap maju mendekati Erick dan menepuk pundak putranya. "Tak seharusnya kau seperti ini nak, dia istri mu."
"Kenapa memangnya? bukankah papa yang dulu sangat menentang hubungan kami?!" sergah Erick menyingkirkan tangan sang ayah dari pundaknya. Ia berdecih merasa dunia begitu lucu mempermainkannya saat ia mengetahui kebusukan Elena, ayahnya malah membela gadis itu.
"Setidaknya beritahukan pada kami, apa yang membuat mu bersikap beda pada istri mu hingga seperti ini?" pelan, Rey bertanya dengan nada lembut.
Namun Erick lebih memilih memalingkan muka tak berniat sama sekali untuk bicara lagi.
"Aku tak ingin berdebat, aku sudah muak dengan semua ini!" pungkas Erick, rahangnya mengeras dengan sorot mata elangnya yang semakin tajam melirik ke bawah.
Sekali lagi, Dea meraba punggung Elena. "Ayo, Elen kita pergi," ajaknya.
"Tidak!" Elena menyentak, air matanya kembali membanjiri namun ia cepat-cepat menyekanya.
"Aku ingin mengetahui dulu, atas alasan apa dia memanggil ku dengan sebutan sehina itu?!" tekan Elena menggeser tangan Dea dari punggungnya, lalu melangkah pasti menuju pria yang kini membelakangi nya. Hingga jarak mulai mendekat, Elena berhenti.
"Katakan lah padaku tuan Erick Davidson yang terhormat, berikan alasan kenapa sikap mu tiba-tiba berubah seperti ini?!" tentang Elena kembali. Yang di tanyai hanya diam, sama sekali tak ingin berbalik melihat wajahnya.
"Ya jelas lah, karena kau berselingkuh di belakang kakak ku." tak ada angin tak ada hujan, justru Mona yang menyahut menjawab pertanyaan Elena.
Kini semua orang-orang yang hadir menatap ke arahnya, Mona menjadi pusat perhatian seketika.
"Apa maksud perkataan mu?!" tanya Elena dengan nada serius. Melihat Elena yang seperti beda dari biasanya, membuat nyali Mona ciut sendiri. Ada aura mencekam ketika gadis itu mulai mendekatinya.
"Jawab Mona, apa maksud perkataan mu?!" sergah Elena kali ini dengan suara yang naik satu oktaf.
__ADS_1
Tak terima dirinya di bentak membuat nyali Mona naik kembali ia mendadak geram hendak membuka mulut, namun suara membahana Erick kembali membungkam nya.
"Jangan katakan apapun!"
Mona tersentak, seperti mendapat killing part dari dua orang di depannya kini membuat Mona membisu seribu bahasa dengan wajah melongos tentunya.
"Jika wanita itu tidak mau pergi dari sini, maka aku yang akan pergi!" tampik Erick kemudian, mengayunkan kaki dengan langkah lebar, menuju pintu namun dengan secepat kilat Elena berdiri di depan nya menghalangi pintu untuk pria itu pergi.
"Aku tak akan membiarkan mu pergi sampai aku mendapatkan jawabannya!" Elena tak mau kalah, Erick menoleh ke sembarang arah.
"Kenapa sama sekali tak mau melihat ke arah ku? aku sedang bicara padamu!" rasa sakit yang teramat merajam membuat Elena tak bisa menangis lagi. Yang ada hanya kemarahan dan tanda tanya besar.
Tak menggubris sama sekali, dengan satu tarikan Erick mencengkeram Elena kuat hingga gadis itu meringis lalu menghentak nya kasar sampai tubuh Elena terjerembab tak lagi menghalangi jalannya.
Segera Marvin dan Dea menghampiri gadis itu membantunya berdiri. Hati Elena teriris pedih, ia usap air matanya dengan kasar.
Erick telah berlalu pergi meninggalkan Elena dengan pertanyaan yang ia biarkan mengambang, tanpa kepastian jawaban apapun.
Sarah dan Mona pun meninggalkan ruangan tak lupa saat melewati Elena yang kini di papah Dea dan Marvin mereka mendelik seraya melongos. Begitupun Clarissa meski menatap iba pada Elena saat ini, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa, ia menoleh menatap Elena sekilas lalu akhirnya lebih memilih untuk pergi mengikuti Mona dan ibunya.
"Maafkan papa. Papa tidak bisa berbuat banyak." lalu berlalu setelah itu.
"Ayo Elena, kita pergi dari sini," ucap Dea. Namun Elena tetap bergeming meski Dea sudah menarik tangannya.
"Tunggu apa lagi Elen, kau sama sekali tidak di hargai di sini! untuk apa lagi bertahan?!" pekik tertahan Marvin, sejak tadi laki-laki itu sudah menahan amarahnya sejak tadi.
"Tidak kak. Setidaknya aku ingin mendengar penjelasan nya tentang Mona yang menuduh ku selingkuh."
"Oh come on El, tidak bisakah kau jangan keras kepala untuk saat ini. Ku mohon ... "
Tak menggubris perkataan Marvin, Elena justru melangkah pergi meninggalkan dua orang itu. Dea dan Marvin yang panik pun segera menyusul.
"Elen ... kau mau pergi kemana?!" teriakan Dea sempat menggema di seluruh wilayah mansion yang luas.
__ADS_1
**
Elena dengan langkah lebar menuruni tangga, mengabaikan cidera lututnya yang ia dapatkan beberapa saat lalu karena Erick yang sempat mendorongnya.
Matanya menyapu ke sekeliling aula tengah yang luas, saat ia melihat Erick segera gadis itu menyusulnya menarik pundak pria itu hingga membuat Erick menoleh menatapnya.
"Jelaskan padaku, jangan menjadi laki-laki tidak bertanggung jawab yang pergi begitu saja!"
Dea dan Marvin segera mendekat, melihat Elena yang begitu berani, mereka justru menjadi cemas. Apalagi terlihat raut wajah Erick yang merah padam menahan gelora amarah.
"Haruskah aku membeberkan nya di sini?!" pancing Erick, dengan bergemuruh hebat. Tatapan nya kepada Elena tidak ada lagi cinta di dalamnya, melainkan permusuhan.
"Ya. Aku ingin tahu di mana kesalahan ku!" tentang balik Elena, tak gentar.
"Baiklah. Jika itu mau mu." tukas Erick.
"Mona, berikan padaku bukti untuk di tunjukkan pada wanita ini."
Mona yang mendengar itupun seketika sumringah. "Baik kak."
Ia kemudian berlalu entah kemana. Tak berselang lama, gadis itupun kembali lagi dengan memberikan sesuatu pada Erick.
Kemudian Erick mengambil lembaran foto yang di berikan Mona. Lalu menjabarkan nya tinggi- tinggi seolah ingin semua orang melihatnya.
"Lihatlah baik-baik, foto-foto ini."
Pyar! Erick kemudian melemparkan foto-foto tersebut ke wajah Elena. Membuat gadis itu terkesiap, kemudian mata membelalak saat tertuju pada salah satu foto.
"Apa bukti yang ku keluarkan sudah membuat mu puas?!" cemooh Erick.
"Tidak. Ini tidak benar!" Elena menggeleng tak percaya melihat beragam foto dirinya bersama Vicky dengan pose mesra.
"Bukti ada di depan matamu. Untuk apalagi mengelak?" cercah Erick.
__ADS_1
"Kau sudah berselingkuh di belakang ku. Dan dalam sebuah hubungan, semua bisa di maafkan kecuali perselingkuhan. Camkan itu baik-baik!" tekan Erick di depan wajah Elena.