Gejolak Cinta Tuan Erick

Gejolak Cinta Tuan Erick
GCTE | Bab 63


__ADS_3

"Heh, baru seperti ini kau menganggapnya sebagai istri?!"


Dada Erick kembas-kempis mendengar ucapan pria itu, tanpa di aba-aba bogeman mentah sudah melayang telak, melesat mengenai rahang Marvin.


Bugh!


Bugh!


"Apa maksud mu mengatakan itu hah? brengsekk!" Erick yang kalap terus menerjang Marvin bagai benteng yang bertemu kain merah. Tak sedikitpun ia memberi celah untuk pria itu bisa melawan.


Sekumpulan orang menghadang juga pihak sekuriti keamanan, butuh sampai beberapa menit untuk bisa memisahkan Erick agar tidak membuat Marvin semakin babak belur.


Elena langsung menghampiri Marvin, gadis itu tak kuasa dengan kepanikannya hingga akhirnya ia menangis.


"Kakak tidak apa-apa?" Elena tergugu, ia bisa jelas melihat sudut bibir Marvin yang mengeluarkan darah segar, juga ujung matanya yang membiru.


Namun laki-laki itu masih sempat-sempatnya untuk tertawa. "Kakak tidak apa-apa ... suami mu perkasa juga ya." dan masih bisanya Marvin berkelakar setelah mendapat begitu banyak bonyok di wajahnya. Nafasnya memburu dengan satu tangan menahan perutnya yang terasa nyeri.


"Kakak kenapa sampai melakukan ini? kakak kan yang jadi imbasnya?" Elena mengusap sisa bercak merah di dagu pria itu.


"Tidak apa-apa setidaknya itu sudah membuktikan kan. Suami mu masih tetap mencintaimu, dia sama sekali tak bisa untuk membenci mu," ujar Marvin, tersenyum mengedipkan mata. Elena tertawa sumbang, mengusap kasar air matanya yang mengalir, demi dirinya Marvin rela sampai melakukan ini.


Erick sudah tak tahan lagi, melihat bagaimana kedua orang di depannya saat ini begitu terlihat mesra, ia menarik paksa badan kekarnya yang di tahan oleh para sekuriti keamanan. Ia mendekat dengan melangkah pasti, menarik pergelangan tangan Elena kembali hingga gadis itu terkesiap,tanpa persetujuannya menyeret paksa Elena dari sana.


Marvin tak kuasa untuk menghadang, laki-laki itu terlalu lemah untuk kali ini. Clarissa memandang kecut, saat Erick melewatinya bersama Elena. Merasa di abaikan akhirnya ia lebih memilih untuk mendekati Marvin.


Orang-orang bubar seketika itu juga, kedua mempelai yang sempat syok hanya bisa duduk di tempat mereka, suasana kembali kondusif, tuan Eren pun menghampiri Marvin dan bertanya padanya.


"Kita kerumah sakit, obati lukamu," bujuk tuan Eren.


Marvin menggeleng dengan nafasnya sedikit tercekat. "Tidak masalah, aku bisa menjaga diri. Om kendalikan saja situasi dulu."


"Beneran tidak apa-apa?" tuan Eren memandang khawatir, Marvin manggut-manggut sambil melingkarkan jari membentuk Ok.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan meminta orang untuk mengambil kotak p3k, kau tunggu di sini," ujar tuan Eren berlalu.


Setelah kepergian tuan Eren, Clarissa mendekati pria yang terlihat nelangsa itu.


"Sepertinya kau butuh pengobatan," ucap Clarissa, terdengar seperti tawaran.


"Kau mau mengobati ku?" Marvin terkekeh. Nafasnya masih tersengal-sengal keras bisa di rasakan Clarissa dari jarak sedekat ini.


Clarissa mengangkat bahu acuh. "Tak ada pilihan lain."


"Kau tetap congkak seperti saat pertama kali kita bertemu," ucap Marvin, tertawa, tanpa sadar membuat sudut bibirnya yang robek semakin menganga, membuatnya mengadu kesakitan. Clarissa sontak berdecak. Entah bagaimana ia mengikuti kata hatinya kali ini, menarik lengan Marvin guna mengobati luka-luka pria itu.


...***...


Sampai di mansion Erick yang masih dalam mode amarah meluap-luap, tetap menderek tubuh Elena dengan mengunci kedua pergelangan tangan gadis itu, tak menyerah begitu saja, Elena terus melawan menarik paksa dirinya meski yang di lakukannya terlihat sia-sia.


"Lepaskan aku mas ... " tidak bisakah kau bersikap baik-baik? tangan ku sakit ... " lirih Elena, tubuhnya yang mungil tak sepadan dengan Erick yang bertubuh kekar besar.


Meski sempat berhenti, Erick hanya menoleh memandang Elena sekilas dengan tatapan sengit, ada begitu banyak hal yang Erick ingin ungkapkan di kedua matanya yang memerah saat menyorot pada sang istri. Namun lagi-lagi kemarahan lebih besar menguasai dirinya hingga kembali menyeret Elena menaiki tangga meski gadis itu meronta-ronta minta di lepaskan, Erick seperti menulikkan telinga nya.


Erick membawa Elena ke ranjang mendorong tubuh nya hingga terjatuh terlentang di sana, sebelum bisa memberontak lagi, Erick dengan secepat kilat membuka jas nya hingga kini yang tersisa hanya kemeja putihnya saja, ia segera menarik dasi yang melilit lehernya untuk di pindahkan mengikat kedua tangan Elena.


"Apa yang kau lakukan, lepaskan aku!" Elena tak berhenti nya untuk berteriak, Erick sudah mengikat pergelangan tangan Elena membuat gadis itu melotot.


"Kenapa kau terus saja memberontak hah? apa aku harus bersikap kasar seperti ini dulu, baru kau mau menurut," tukas Erick berbisik di telinga gadis itu.


"Kau benar-benar berubah!" Elena mengangkat wajah menatap pria itu nyalang. "Kau monster!" teriaknya di depan wajah Erick. Ia tak menyangka Erick nya yang dulu tak pernah ada lagi sedikit pun di dalam pria itu.


Laki-laki di hadapannya kini benar-benar asing untuk Elena.


Mendengar itu Erick malah tergelak, tertawa tapi lebih terdengar seperti tawa keputus asaan dan menyayat hati.


"Ya, aku memang berubah. Dan kau yang telah merubah ku hingga seperti ini." desis Erick saat jarak mereka kini mulai terkikis.

__ADS_1


"Dahulu Vicky, lalu aku dan sekarang Marvin, mau berapa banyak lagi kau mempermainkan perasaan pria di luar sana hah?!" tuding Erick dengan intonasi keras membuat Elena memejamkan mata.


"Mau di sebut apa dirimu sekarang? seorang ja- lang, gundik, wanita panggilan?" Erick seperti orang kerasukan yang terus mengoceh, perkataanya kali ini benar-benar menyakiti Elena hingga gadis itu berani untuk mendorong wajahnya.


"Jaga ucapan mu, aku tak seperti yang kau kira!" jerit tertahan Elena.


Erick justru kembali tergelak, membuat Elena menatap ngeri padanya.


"Hahaha, jika yang aku sebutkan itu menyinggung mu, lalu kenapa kau mau di ajak bersama pria lain, sedangkan statusmu adalah seorang isteri? apa kau tidak malu hah?!" Erick mengusap wajahnya kasar. Kentara sekali pria itu berusaha untuk menyembunyikan air di matanya.


"Lalu bagaimana dengan mu, yang jelas-jelas memiliki istri sah, tapi malah membawa wanita lain untuk di pamerkan? apa kau tidak malu?!" balas Elena telak. Mereka berdua saling beradu argumen dan kini sama-sama menatap sengit.


"Jangan mencoba mengalihkan pembicaraan!" sentak Erick kembali, tangan kokohnya kini menangkup dagu Elena dengan kasar.


"Bagaimana dengan seorang isteri yang berselingkuh di belakang suaminya, diam-diam bertemu dengan mantannya dan melakukan hal tak senonoh?!" bisik jengah Erick memandang sinis wajah Elena yang perlahan meredup.


"Kau sama sama sekali tak mempercayai ku? sedangkal itukah cinta mu?" lirih Elena, pipinya basah oleh kristal bening yang semakin luruh.


"Bagaimana aku bisa mempercayai mu? kau bilang pada ku untuk tidak ada penghianatan di antara kita, tapi kau sendiri yang melanggarnya," ujar Erick kini terdengar parau.


"Kau lihat ini!" Erick kemudian menunjukkan sesuatu pada Elena, tangan besarnya mengangkat kalung yang ia pakai.


"Kalung dengan liontin peluru ini." dengan mata memerah Erick menunjukkan di hadapan Elena. "Peluru yang sama menembus hatiku saat melihat foto-foto mu bersama pria itu. Kalung ini akan selalu mengingat ku tentang bagaimana kau yang berkhianat di belakang ku!"


Elena memandang lekat kalung yang di tunjukkan Erick padanya, seketika hatinya merasa remuk redam. Kali ini ia mencoba untuk menatap kedua mata Erick. Kedua bola matanya begitu menggambarkan kesedihan juga penderitaan dan luka yang sama.


Erick kemudian mendekatkan wajah, menyatukan kening mereka berdua, hingga ujung hidung mereka saling bertemu. Di saat ini mereka seperti saling menyalurkan perasaaan yang terdalam.


"Aku mencintaimu, Elena ... " lirih Erick berucap. hening sejenak, hanya deru nafas keduanya yang terdengar "Tapi aku juga membenci mu!" ucap Erick lagi membuat Elena membisu seribu bahasa.


"Apa yang harus kulakukan dengan perasaan ini?"


***

__ADS_1



__ADS_2