
"Jaga diri baik-baik." pesan Dea ketika mengantarkan Elena ke perjalanannya menuju kota B. Bersama Marvin dan dua asistennya, pria itu terlihat membantu mengambil alih koper Elena untuk menaruhnya dalam bagasi mobil.
"Pasti." Elena mengangguk, "maaf jika aku tak bisa menghadiri resepsi pernikahan mu nanti," ucapnya, ada penyesalan yang terselip.
"Tak apa, yang penting adalah kesehatan mu, kita akan sering bertukar kabar nanti, kau tak perlu khawatir," ucap Dea, terdengar sedikit jenaka agar Elena benar-benar tak khawatir dan bisa fokus pada pengobatannya.
Elena mengangguk lagi, entah kenapa ia menjadi tak rela meninggalkan kota ini, namun apapun yang terbaik untuk saat ini harus ia lakukan. Marvin dan Dea adalah bagian terpenting dalam hidupnya, dia adalah gadis sebatang kara yang menjalani kehidupan keras di metropolitan, Dea selalu ada untuk nya sejak mereka kecil pun begitupula dengan Marvin laki-laki yang akan selalu ia anggap kakak, paling berjasa dalam hidup masa kecilnya. Memiliki nasib sama sebagai anak panti asuhan namun Marvin masih bisa beruntung karena bisa adopsi oleh keluarga utuh, sejak kecil keduanya saling mengandalkan satu sama lain.
Bagi Marvin Elena bukan sekedar kenangan masa kecilnya lebih dari itu, sebagai seorang teman sebagai keluarga, sebagai seorang adik dan seorang wanita yang ia sayangi. Mereka tumbuh bersama meski sempat terpisah beberapa tahun.
Bagi Dea, Elena sudah seperti saudara perempuannya, karena ia anak bungsu dari dua kakak laki-laki, kehadiran Elena di hidupnya adalah keberuntungan dari Tuhan. Dari Elena ia belajar banyak, mempunyai tempat curhat yang dapat di percaya, suka duka telah mereka lalui bersama.
Untuk Elena, Marvin dan Dea sama pentingnya, masing-masing mereka mengambil peran penting di dalam hidupnya.
"Aku akan sangat merindukan mu." sekali lagi Elena dan Dea berbagi pelukan dan tangis haru, Marvin melihatnya ikut merasakan hal yang sama, ia hanya bisa memandang sendu sambil tersenyum samar.
"Tidak akan lama. Kita akan bertemu kembali," ujar Dea, demi untuk menghilangkan kegundahan hati.
Elena mengangguk-angguk kecil, Rizal kemudian terlihat menghampiri, ia juga ikut memberikan salam perpisahannya untuk Elena.
"Jaga sahabat ku baik-baik." pesan Elena sesaat setelah dirinya dan pria itu bersalaman sekilas.
"Tentu saja. Malahan mungkin aku yang akan di jaga olehnya, dia kan super women, Hulk tapi versi ceweknya." Rizal sempat-sempatnya berkelakar, keempat orang itu tertawa.
__ADS_1
Setelah acara perpisahan dan tangis yang cukup menguras air mata, kini saatnya Elena memasuki mobil yang akan membawanya pergi jauh sejenak dari kota ini.
Dea dan Rizal melambai perlahan pada mobil sedan yang di kendarai Marvin bergerak menebus jalanan kota, di kaca mobil yang terbuka kepala Elena sempat menyembul untuk membalas lambaian tangan mereka lalu mobil pun semakin menjauh.
...***...
Di airport, Erick dan Clarissa sepakat untuk pergi bersama. Awalnya Erick tak ingin melibatkan Clarissa lebih jauh, namun wanita itu memohon agar bisa menemaninya dalam perjalanan ini. Atas desakan sang papa juga Erick tak bisa mengatakan tidak.
Rey telah memberikan instruksi agar menggunakan pesawat pribadi, bagaimanapun Erick hanya bisa patuh dengan perintah ayahnya.
"Kau tak usah khawatir, selama di sana ada Zidan di sini yang akan menggantikan mu untuk sementara, bukankah itu yang kau inginkan?"
"Ya, pah. Aku lebih percaya pada Zidan lebih dari siapapun untuk menjalankan perusahaan selama aku tak ada."
"Baik, pah, aku mengerti."
Rey nampak terlihat sendu untuk beberapa saat. "Maafkan papa jika terkesan memaksa mu dalam melakukan perjalanan ini, dan juga secara tidak langsung papa lah yang telah mengakibatkan trauma mu terjadi, papa minta maaf ... tapi percayalah apapun yang papa berusaha lakukan itu semata-mata hanya untuk kebahagiaan mu."
Erick tak menanggapi, lebih tepatnya enggan untuk berkomentar apa-apa meski dalam hatinya ia ingin membantah pernyataan ayahnya.
"Nanti, jika kondisi mental mu dan perasaan mu sudah stabil sepenuhnya, kembali lah. Papa percaya, di sana kau akan menemukan hal yang luar biasa yang bisa menjadi pelajaran bagi mu."
"Baik, pah."
__ADS_1
Rey menepuk-nepuk pundak sang putra sesaat, lalu tatapan nya beralih pada Clarissa yang baru saja tiba. Wanita itu membawa sekalian kru dan asistennya, karena kebetulan ada beberapa set pemotretan yang akan ia lakukan di kota london nanti.
"Untuk ketersediaan mu menemani Erickson, uncle mengucapkan banyak terimakasih. Thanks dear, kau akan selalu menjadi bagian keluarga davidson karena pengorbanan mu ini."
Clarissa tersenyum. "Tak usah berlebihan uncle, aku dan Erickson adalah teman masa kecil yang sangat erat hingga saat ini. Apapun keadaannya tentu aku akan selalu menemaninya."
Rey tersenyum bangga, ia mengelus lembut rambut panjang Clarissa.
"Sebentar lagi boarding, kalau begitu kami pergi." seru Erick, ia memakai kacamata hitamnya demi menutupi matanya yang memerah. Untuk sesaat kembali ia merasakan gejolak aneh yang tak bisa ia tahan. Ketergantungan nya terhadap alkohol sepertinya sudah dalam tahap hampir gila karena saat ini ia tak tahan untuk bisa menenggak minuman keras itu.
"Ugh ... " ia sedikit mengaduh kecil ketika merasakan kepalanya yang tiba-tiba berdenyut sakit.
"Kenapa Erick?" tanya Clarissa yang menyadari, menjadi khawatir, begitupun dengan tatapan Rey yang ikut cemas.
"Tidak apa-apa, sebaiknya kita segera pergi." kilah Erick, meyakinkan diri untuk bisa menahannya.
"Baiklah kalau begitu, uncle kami ijin pamit."
Rey mengangguk cepat. "Baiklah, jaga diri kalian baik-baik nanti setelah sampai di dalam pesawat segera hubungi aku."
Mereka akhirnya berpisah di runway. Rey melambai sekilas pada dua orang yang sudah semakin menjauh itu, Untung lah keamanan untuk putranya sudah terjamin baik, Rey memastikan segalanya agar semua berjalan lancar tanpa hambatan.
"Semoga dengan perjalanan kalian berdua ke london ini, kau dan Clarissa juga akan semakin dekat nak. Sudah saatnya kamu melupakan Elena dan mendapatkan wanita yang lebih pantas untuk mu," ujar Rey menerawang jauh ke depan dengan masih bisa melihat punggung Erick dan Clarissa yang semakin menjauh.
__ADS_1