Gejolak Cinta Tuan Erick

Gejolak Cinta Tuan Erick
GCTE | Bab 128


__ADS_3

Happy reading 🌹🌹🌹


"Siapa kamu?" tanya Elena dengan nada sedikit tak suka dan mimik waspada pada pria paruh baya tak di kenal yang baru saja memanggil namanya.


"Hei, jaga omongan anda, nona. Anda tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa?!" salah satu bodyguard Wahyu iskandar menyela, menatap tidak suka pada Elena ya yang tidak sopan pada sang tuan.


"Cukup!" Wahyu iskandar mengangkat tangan nya, isyarat agar bodyguardnya tak ikut campur.


"Ibu ini. Ibu muda ini yang ingin bertemu dengan kak Elena." Siska berseru menunjuk ke arah Inggit yang sedang berdiri di samping suaminya.


"Benarkah?" tanya Elena sedikit memiringkan tubuhnya demi menatap wanita yang tengah berdiri menundukkan wajah tepat di belakang pria paruh baya di hadapannya, pun membuat Wahyu iskandar juga menoleh kembali ke belakang.


"B- benar nona." terbata wanita itu berucap. "Perkenalkan, nama saya Inggit dan ini suami saya." Rifaldi menunduk sungkan pada Elena yang di balas anggukan kepala juga oleh gadis itu.


"Ada perlu apa kalian ingin menemui ku?" tanya Elena to the point. Tentu ia tak ingin berbasa-basi lagi, mengingat kehadiran mereka yang misterius di tambah sudah membuat keributan di pagi yang tenang ini.


"Ekhem, begini nona Elena, maafkan kami jika menganggu waktu pagi anda, tapi bisakah kita mengobrol di dalam saja." pinta Inggit.


"Betul nona, apa yang di katakan istri saya. Kebetulan beliau, namanya pak Wahyu iskandar baskoro, ingin berbincang juga dengan anda." pungkas Rifaldi menunjuk dengan hormat pada atasannya.


Wahyu iskandar menganggukkan kepala, wajahnya sudah berubah sendu. Di satu sisi akhirnya ia bahagia bisa bertemu dengan putri nya lagi yang selama ini ia cari-cari keberadaan nya, namun di sisi lain ia merasa malu untuk bertatap wajah dengan sang putri karena dosanya yang sudah begitu besar selama ini.


"Baiklah, asalkan niat anda semua baik, saya persilahkan."


Akhirnya mereka memasuki tempat duduk yang ada di dalam toko kue, Siska menjamu mereka dengan baik, menyediakan teh melati yang menguarkan aroma segar dan roti yang baru saja keluar dari open membuat asap mengepul beraroma kan vaniili menguar bersama udara.


***


"Saya ingin memperkenalkan dengan baik. Ini atasan saya tuan Wahyu iskandar baskoro," ucap Rifaldi memulai percakapan. "Atasan saya ini telah telah kehilangan putri nya sejak 24 tahun yang lalu."


"Tunggu!" laki-laki yang duduk di samping Rifaldi menjeda. "Biar aku yang menceritakan nya saja," ucap Wahyu iskandar, semua orang langsung menatap ke arahnya.


"Aku bukan kehilangan seorang putri, lebih tepatnya aku yang meninggalkan nya bahkan saat ia baru melihat dunia ini." wajah Wahyu iskandar memucat, ia kemudian menghela nafas dengan sangat berat. "putriku yang malang ... " sesak di dalam hatinya semakin menggunung.


"Lalu apa hubungannya dengan saya?" tanya Elena memotong pembicaraan.

__ADS_1


"Tentu saja ada," jawab Wahyu iskandar, lemah dengan suara serak nya. "Karena nama putri ku yang ku tinggalkan itu, adalah Elena cempaka."


Elena sontak membulatkan matanya lebar-lebar, sangat terkejut dengan pernyataan yang di lontarkan pria paruh baya di hadapannya itu.


"K- kau ... "


"Iyah, ini ayah nak." Wahyu iskandar berucap dengan nada rendah penuh penyesalan nya terhadap sang putri.


"Tidak. Ini tidak benar." Elena membantah informasi yang baru di dapatkan ini. Semua terlalu mendadak untuk nya, otaknya seolah membeku untuk beberapa saat.


"Kak Elena!" Siska langsung mendekat ketika tubuh Elena hampir terhuyung tak kuat dengan guncangan yang baru ia dapatkan.


"Kak Elena baik-baik saja."


Elena menggeleng. Tentu ia tak baik-baik, setelah mengetahui pria paruh baya di hadapannya ini adalah ayahnya.


Ayahnya yang ia benci karena meninggalkan nya dan menyalahkan atas kemattian ibunya tersebab berjuang melahirkannya.


Dengan sekuat tenaga Elena menahan bobotnya sendiri yang hampir roboh, mencengkeram kuat lengan kursi yang di pegang nya.


"Tapi nak, tolong biarkan ayah menjelaskan semuanya."


"Diam!" Elena menatap tajam pada Wahyu iskandar, pria yang mengaku ayahnya itu. Elena merasa tak sudi, pria yang selama berpuluh-puluh tahun meninggalnya, yang tak memberikan kewajibannya sama sekali sebagai seorang ayah, kini datang kembali seolah tak punya muka mengaku lagi sebagai ayahnya.


"Kau bukan ayah ku. Aku bahkan sudah melupakan jika aku memiliki seorang ayah. Pergi dari sini! biarkan aku sendiri!"


Wahyu iskandar, menyerah tak ingin terlalu memaksa kan kehendak nya. Siska menatapnya seolah meminta untuk mereka pergi. Wahyu iskandar mengangguk, mungkin sang putri terlalu terkejut dengan berita tiba-tiba ini.


Ia akan kesini lagi ketika keadaan Elena membaik. Inggit dan Rifaldi saling tatap mereka tak bisa melakukan apapun karena hanya sebagai perantara di sini. Mereka pun akhirnya pergi.


Elena terduduk kembali dengan perasaan hancur, bukan bahagia yang ia dapatkan karna bertemu lagi dengan ayahnya, tapi kesedihan masa lalu yang kembali datang.


Ketika ia kecil, Elena bertanya pada neneknya.


"Nek, ayah di mana? kenapa ayah gak pernah mau ketemu sama Elena? apa ayah marah sama Elena?"

__ADS_1


"Tentu saja tidak. Ayah tak pernah marah pada Elena. Hanya saja ini bukan waktu yang tepat untuk menemui nya." Jawab neneknya saat itu, tentu saja hanya untuk menenangkan karena sang nenek pun tak memiliki jawaban yang tepat untuk pertanyaan cucu kecilnya itu.


"Tapi orang-orang bilang, ayah marah dan mengutuk Elena, karena Elena lah penyebab ibu meninggal, apa benar begitu nenek?"


"Husst! jangan bilang begitu. Mana mungkin ayah mu mengatakan itu, jangan dengarkan kata-kata orang jahat. Ayahmu selalu menyayangi mu Elena."


Pada nyatanya, semua yang di katakan neneknya itu hanyalah kebohongan belaka, untuk menutupi kelakuan buruk ayahnya kala itu.


"Ya Tuhan ... " Elena tak sanggup untuk mengatakan apa-apa lagi, hatinya sangat terguncang, kenapa masalah begitu bertubi-tubi menimpa nya.


Siska datang tergopoh-gopoh membawakan air untuk Elena, terlihat wanita tersebut begitu syok hingga Siska berinisiatif membawanya segelas air.


"Minum dulu kak."


Elena meminum air yang di sodorkan Siska. Detak di jantungnya berangsur normal kembali, tapi rasa sembilu di hatinya semakin ngilu membuatnya menepuk-nepuk dada berulang kali.


Siska mengusap punggung Elena, karna hanya itu yang bisa ia lakukan. Tak terbayangkan jika ia yang berada di posisi wanita itu, tak mungkin akan sekuat sekarang ini. Elena wanita yang sangat tangguh.


...----------------...


Elena berdiam diri cukup lama di depan pintu ruang rawat rumah sakit. Ragu ia untuk membukanya namun hatinya seakan memintanya untuk melakukan itu.


Lalu perlahan Elena membuka pintu, nampak lah ruangan yang sedikit redup karena kurang pencahayaan, terlihat seorang pria duduk di atas brankar dengan sedang melihat suasana di sore hari di kaca jendela.


Pria itu sontak menoleh ketika Elena melangkah masuk.


"Sayang, kau datang lagi." Erick tersenyum. Sudah menunggu kehadiran Elena sedari tadi. Ia pikir Elena tak akan menjenguknya lagi.


Namun sepertinya ada yang berbeda, lengkungan manis di bibir Erick seketika hilang ketika Elena berdiri di depan nya, sorot sinar mentari sore membuat ruangan yang remang sedikit terkena cahaya, di saat itulah Erick bisa melihat jelas Elena yang tengah mengeluarkan air mata. Wajah cantik itu terlihat sangat rapuh, tak ada isakan sama sekali yang keluar seolah kesedihan yang ia tanggung saat ini sangat lah berat, hingga mengutarakannya dengan isakan saja sudah tak bisa.


"Elena ada apa? kenapa kamu menangis?" Erick langsung menggapai tangan mungil itu, menggenggamnya erat.


Bahu Elena terguncang, ia langsung merangkul leher Erick, memeluk pria itu dengan erat seolah sedang menumpahkan kesedihannya.


Erick lalu ia paham. Ia kemudian tak bertanya lagi, karena bukan itu yang di butuhkan saat ini. Ia biarkan Elena menangis tanpa suara di atas pundaknya.

__ADS_1


"Tak apa. Menangis lah saja, aku akan selalu ada untuk mu katakan semua keluh kesah mu padaku."


__ADS_2