
Di perusahaan, terlihat Erick sudah aktif kembali dalam memimpin rapat juga menjalankan tugasnya. Ia nampak lebih fit meski masih dalam pengawasan dokter juga kontrol agar tubuhnya benar-benar sehat dan kembali seperti sedia kala.
"Kumpulan para jajaran direksi, kita meeting di hotel teratai nanti." titahnya pada sang sekretaris yang mengekori di belakang.
"Baik,pak." Zidan mengangguk patuh.
"Oh ya pastikan mereka sudah menyiapkan proposal yang akan di ajukan." lanjut Erick kemudian.
"Baik, pak." Lagi, Zidan tak pernah lalai ia mencatat apa saja yang penting dalam tablet juga memori otaknya.
"Sudah ... ada jadwal yang lain?" tanya Erick ketika ia sudah sampai ke ruang nya, pria berkharisma itu membuka kancing jas nya membiarkan udara masuk menyapa kulit, lantas mendudukkan bokongnya di kursi kejayaan.
"Ada pak.Ini ada undangan dari tuan Eren, dalam rangka pernikahan putri tunggalnya." tutur Zidan.
Dahi Erick tampak mengkerut dalam mata elang pria itu menyipit mencoba mengingat-ingat. "Tuan Eren, salah satu investor besar kita?"
Zidan mengangguk. "Betul pak. Acaranya di selenggarakan di ballroom hotel C'city."
"Baiklah. Nanti ingatkan lagi saya untuk jadwal itu. Ada yang lain?" tambah Erick.
Untuk sesaat Zidan menghela nafas sejenak. Ia sudah merasakan ada yang tak beres tentang tuannya akhir-akhir ini, bukan ia tak tahu apa yang kini tengah terjadi dengan rumah tangga bos nya itu dengan isterinya, hanya saja Zidan memang menarik diri untuk hal-hal yang bukan dalam ranahnya sehingga ia hanya menyimak saja karena tahu itu adalah urusan pribadi sang atasan.
Erick nampak sangat bekerja keras di hari pertama ia masuk kembali ke kantor setelah berhari-hari panjang memulihkan kondisi nya pasca operasi, Erick seperti memforsir dirinya untuk terus bekerja dan bekerja untuk sejenak mengalihkan segenap perhatian juga pikirannya tentang perselingkuhan yang di lakukan Elena.
Sampai saat ini ia masih ragu,tapi foto- foto mesra itu sudah menjadi bukti yang paling jelas. Di dalam sudut hatinya yang terkecil ia masih merasa untuk mempercayai Elena, namun ketika ia kembali melihat foto- foto mesra itu kemarahan kembali menguasai dirinya dan tak membiarkan ia untuk mengikuti kata nuraninya.
"Zidan ... saya pinta jadwal yang lain, apakah ada?!" suara Erick yang menyentak membuat Zidan kembali dari lamunannya.
"Ada pak." jawab Zidan spontanitas.
__ADS_1
Erick menatapnya kali ini dengan serius. "Saya lihat kamu dari tadi melamun terus, ingat saya tak suka dengan bawahan yang tak kompeten, banyak melamun hanya akan membuang waktu, dan waktu adalah emas, paham?!"
"Baik, paham pak. Maafkan saya," ujar Zidan di akhiri penyesalan.
"Baiklah, jadwal saya selanjutnya?" tanya Erick.
"Anda memiliki jadwal makan siang bersama nyonya Gladis, direktur utama Stevian group, terkait kerja sama yang akan di kerjakan." dan selanjutnya Erick mendengar khidmat setiap laporan jadwal yang asistennya terangkan.
...***...
Pulang larut malam,sudah seperti kebiasaan Erick akhir-akhir ini. Setelah seharian yang melelahkan di kantor, berendam air panas di bathtub adalah ritual yang tak pernah ia lewatkan, sekedar melepas penat setelah berkutat dengan pekerjaan.
"Apa yang kau lakukan?!" berang Erick ketika melihat Elena yang tiba-tiba ada di balik kaca kamar mandinya.
"Aku ingin memberikan ini padamu," terang Elena memalingkan wajah, sambil mengulurkan gulungan handuk padanya.
"Tadi aku melihat kamu ke bathroom tanpa membawa handuk jadi aku insiatif untuk memberikannya," ujar kembali gadis itu.
Erick sudah melilitkan handuk di setengah tubuhnya, dada kekarnya yang bidang di biarkan begitu saja membuat tiap tetesan air yang masih menempel terlihat seksi di sana.
Erick kemudian keluar dari kamar mandi, membuat Elena terjingkat karena kulit pria itu bersentuhan langsung dengan kulitnya.
"Untuk apa kau masih di sini? pergi!" usir Erick secara terang-terangan.
"Tidak bisakah kamu tidak marah-marah? sampai kapan kau akan bersikap kasar seperti ini padaku?" ujar Elena mengeluarkan isi hatinya dengan dirinya yang memalingkan wajah, enggan melihat Erick yang bertelanjang dada saat ini.
"Bersikap kasar?" Erick mendengkus geram. "Kau pikirkan sendiri, siapa yang pertama memulai hingga aku bersikap seperti ini!" tukasnya.
"Aku tahu ini salah ku. Salah ku tidak bisa menjaga diri, tapi di dalam semua foto itu palsu, tolong percayalah padaku," ujar Elena saat mengatakan itu ia berbalik tak di sangka kakinya terpeleset ubin yang licin hingga membentur tubuh Erick membuat keseimbangan mereka hilang dan tercebur bersama ke dalam bathtub.
__ADS_1
"Astaga apa yang kulakukan!" batin Elena yang saat ini nampak membeku. Posisinya kini ia berada di atas tubuh pria itu dan kedua tangannya menempel tepat di dada Erick yang telanjang.
"M-maaf, a- aku tidak ... sengaja."
"Sudah cukup!" Erick membentak, kedua tangan besarnya lantas mengambil alih dua tangan Elena yang mungil membelitnya secara bersamaan.
Grep! sekarang posisi mereka terbalik, Erick yang kini berada di atas Elena mengungkung tubuh gadis keduanya sudah sama-sama basah saat ini.
"Sebenarnya apa yang coba kau buktikan hah?" bentak Erick kembali.
"Dengan mendapat simpatik ayahku kau mencoba untuk kembali mendapatkan kedudukan di mansion ini?!"
"Tidak, kau salah menduga." Elena menggeleng, badannya gemetar melihat Erick saat ini, sangat berbeda dengan Erick yang dulu selalu bersikap lembut dan penuh cinta kepadanya.
"Lalu apa? setelah aku mengusir mu kenapa kau kembali kesini lagi? tidak puas setelah menghancurkan hatiku kau juga ingin menghancurkan keluarga ini?!"
"Tidak." Elena mendorong tubuh laki-laki itu. "Apa yang ada di otak mu hanya kepicikan saja, aku tak seburuk itu hingga kau menuduh yang tidak-tidak!" dada Elena naik-turun menahan nafas nya yang memburu. Baru kali ini ia punya keberanian untuk melawan perkataan Erick.
Erick menatapnya sekilas lalu pria itu terkekeh sumbang.
"Lalu aku harus bagaimana?!" sergahnya seraya kedua tangannya dengan cepat menangkup rahang Elena.
"Katakan padaku, aku harus bagaimana?" suara Erick mendadak parau, Elena terkejut melebarkan matanya ketikan pria itu mulai menyatukan kening mereka berdua.
"Kau pikir aku juga tidak terluka di sini? sejujurnya aku yang paling terluka, membayangkan dirimu yang tidur bersama pria lain ... cih, brengsekk! aku bahkan tak bisa untuk sekedar membayangkan nya!" tekan pria itu seraya jemari kekarnya tertanam di kedua pipi Elena.
Elena tertegun. Tak pernah ia melihat Erick yang seperti ini, rapuh dan sorot mata penuh luka, pria itu ... bahkan bisa Elena rasakan air mata Erick yang menderas mengenai keningnya.
Pandangan keduanya saling beradu dalam jarak yang sangat dekat, Nafas keduanya menderu seakan menyatu, lalu sorot mata Erick kembali menajam penuh kemarahan lantas mendorong Elena begitu saja.
__ADS_1
"Pergi dari sini,aku tak ingin melihat wajah mu!"