Gejolak Cinta Tuan Erick

Gejolak Cinta Tuan Erick
GCTE | Bab 110


__ADS_3

Happy reading 🌹🌹🌹


Masih segar di ingatan Elena tentang pria aneh dan kurang ajar yang ia temui di supermarket tempo lalu. Kini pria itu berdiri lagi di hadapannya dengan masih senyum aneh yang sama juga tingkahnya yang sama anehnya.


"Oh, biar ku tebak kau pasti lah pemilik toko roti yang baru di buka ini kan?" ujar Aaron dengan gaya tengilnya, menerka- nerka.


"Kalau iya memang kenapa?" tanya balik Elena.


"Oh tidak apa-apa justru itu berita baik. Tidak ku sangka wanita judes yang tak sengaja ku temui ini adalah seorang wirausahawan muda."


"Kau?!" mendengar kata 'wanita judes' mengarah untuknya membuat Elena meradang seketika.


"Wait, wait gurl. Jangan membuat image mu buruk di hari pembukaan toko mu ini dengan mengeluarkan sifat singa betina mu itu. Lagipula kau terlihat sangat cantik hari ini, jadi jangan sia-siakan kecantikan dengan bertingkah judes dan sinis." singgung Aaron dengan berdecak seraya mengedipkan sebelah matanya, menggoda.


"Ggrrr!" Elena menggertakkan gigi kesal, ia menahan kepala tangan lalu menarik nafas panjang.


"Hufft, sabar. Sabar lah menghadapi orang gila seperti dia." gumam gadis itu.


Melihat reaksi Elena yang tengah menahan kesal setengah mati, justru menjadi kesenangan tersendiri untuk Aaron. Pria itu terkekeh seraya mendengus geli.


Tak lama kemudian, Marvin menghampiri ikut bergabung di antara mereka. Melihat Aaron laki-laki itu langsung terkejut.


"Ada apa ini? ... oh kau?!" Marvin mengerutkan kening, dalam sekali pandangan nya menatap Aaron pria itu sudah menerka-nerka seperti pernah melihat wajah itu sebelumnya.


"Kenapa? kau mengenal ku?" kata Aaron dengan jemawa nya.


"Ya, tentu bukankah kau aktor dalam iklan di televisi itu? aku pernah melihatnya sekilas."


"Hoho tentu saja banyak orang yang mengenal ku. Selamat, kau berhasil telah bertemu aktor terbaik nomor satu di negara ini."


"Ck, aku tahu kau aktor. Tapi tak menyangka kau akan sesombong itu." Marvin berdecih, sedangkan Aaron malah menampilkan gaya songongnya.


"Kakak mengenal orang aneh ini?" tanya Elena memotong percakapan dua pria itu.

__ADS_1


"Tidak terlalu kenal, kakak hanya pernah melihatnya sekali di televisi," jawab Marvin.


Elena manggut-manggut, paham.


"Lagi pula kenapa bisa aktor terkenal nomor satu ini bisa ada grand opening kita?" tanya Marvin dengan nada mengejek.


"Oh ayolah jangan terlalu mensarkas seperti itu. Aku hanya sedang jalan-jalan saja, lalu melihat ramai orang tengah mengantri di sini jadi aku melihat," ucap Aaron mengemukakan pembelaannya.


"Sudah lah akhiri basa-basi ini," tukas Elena. "Aku tak punya waktu untuk meladeni mu wahai aktor terbaik di negara ini. Jadi aku permisi dulu." lalu Elena berbalik hendak berlalu.


"Eh hay, tunggu ... ck, kenapa orang-orang jadi sarkas padaku. Tidak ada salahnya kan aku berbangga diri jadi aktor nomor satu?"


"Sudah bro, tutup mulut mu itu, atau sebentar lagi penggemar mu akan kabur karna kau terlalu bisik seperti wanita," sarkas Marvin kembali, layaknya teman sefrekuensi ia dengan santainya menepuk-nepuk punggung Aaron seolah memberi simpatik pada pria itu.


"Jika kau ingin turut memeriahkan acara grand opening, silahkan masuk ke dalam. Karna acara ini gratis untuk khalayak umum," ujar Marvin terakhir kali lalu berlalu menyusul Elena.


"Satu lagi orang aneh yang ku temui, hhmm but i like it," Aaron menggumam lalu turut masuk ke dalam toko menyusul Elena dan Marvin, setelah ia menyembunyikan indentitas nya dengan masker dan kacamata hitam, takut jika bisa ketahuan ada di sini, para fans nya yang ada bisa agresif padanya.


...----------------...


Erick bersama Zidan datang segera berkamuflase bersama tamu-tamu yang lain, melihat ke sekeliling toko kue milik Elena ini.


Zidan berdecak kagum, bagaimana ia salut dengan Elena. Jika itu wanita lain mungkin akan terus terpuruk dan depresi setelah mendapat perlakuan buruk dari suaminya. Tapi Elena tidak, wanita itu membuktikan jika wanita juga memiliki kekuatan untuk dirinya sendiri bangkit dari keterpurukan dan juga bisa menghasilkan sesuatu yang menakjubkan dari pada terus menangis dan meratapi nasib yang tak ada gunanya. Itulah yang Zidan pikirkan tentang Elena dan kekuatan nya selama ini.


Pun sama dengan Erick, setiba di sini matanya langsung tertuju pada seorang wanita di depan sana. Elena dengan gaun yang di kenakannya kini terlihat sangat cantik dan anggun, Erick sampai tak berkedip saat melihat sang istri.


Tanpa di sengaja seseorang menubruknya dari belakang.


"Hei, kau lihat- lihat dong?!" Aaron menatap kesal sampai ia melihat jelas, pria itu terkejut karna yang kini ada di hadapannya adalah Erick.


"Eh Rick? kenapa bisa kamu ada di sini?"


"Aaron? kau sendiri kenapa di sini?"

__ADS_1


Baik Aaron ataupun Erick, sama-sama terkejut saling menunjuk masing-masing.


Sontak saja keduanya tiba- tiba menjadi pusat perhatian. Hingga kehadiran keduanya pun di sadari oleh Marvin, Elena. Juga Dea dan Rizal yang saling melirik.


"Erickson! kau?!" Marvin menghadang, segera menghampiri Erick.


"Ternyata kau belum jera juga ya? tak cukup kah perkelahian kita kemari?" Marvin tentu saja tak senang dengan kehadiran Erick.


Tak ingin semuanya tambah runyam, Elena hadir menengahi.


"Cukup kak, jangan buat keributan di sini."


"Tapi Elena ... "


"Ini tempat ramai kak!" Elena memberi isyarat dengan tatapan mata, melirik pada semua tamu yang hadir, berdecih Marvin pun segera menjauhkan diri dari Erick.


Kembali, tatapan lekat mengarah pada Erick, raut wajah Elena berubah sendu, ia perhatikan lagi Erick dengan seksama.


"Kenapa dia semakin kurus? apa yang terjadi selama aku tak ada di samping nya?"


Gumam Elena.


Erick yang menyadari tatapan Elena padanya, tak menyia-nyiakan kesempatan lagi, ia menggamit lengan Elena dengan lembut, membawanya pergi dari kerumunan.


Melihat kejadian itu, Marvin naik pitam ia hendak maju ingin menghadang namun dengan segera Zidan dari depan dan Dea dari belakang menghadangnya.


"Kumohon tuan Marvin, jangan ikut campur kali ini." tegas Zidan menahan pundak pria itu. Meliriknya dengan tajam, Marvin balas menatap nyalak.


Begitu pun Dea yang menyentuh bahu Marvin dari belakang.


"Kak, kali ini bukan urusan kita. Bagaimana pun mereka masih suami- istri, masalah ini hanya mereka berdua lah yang berhak, ku harap kamu mengerti itu," ucap Dea sedikit memberi nasihat.


Marvin mendengkus. Kali ini ia harus benar-benar menerima fakta jika Erick dan Elena memang tak bisa di pisahkan.

__ADS_1


Aku ingin memberi mu kesempatan lagi. Aku akan membantu mu, ku harap kau tidak melakukan hal yang bodoh, Erick. Batin Marvin melihat punggung Elena dan Erick yang semakin menjauh.


__ADS_2