
Pagi menyingsing, matahari sudah berada di puncaknya, dengan gagah menerangi dengan sinarnya yang tak pernah padam.
Di vila saat ini, Elena bersama mbok Can, Siska dan Tiara tengah berkumpul setelah sarapan bersama, mereka memilih lesehan di ruang tamu beralaskan karpet beludru, bercengkrama dan bercanda ria.
Sementara Tiara sedang mengerjakan pr sekolahnya dan Siska ikut membantu gadis kecil itu, mbok Can berlalu ke dapur hendak membuat jus dan kudapan untuk mereka, dan Elena yang kini mulai serius dan fokus tengah mencatat di buku, pengeluaran dan barang-barang apa saja yang belum ia beli untuk di tokohnya nanti.
Saat sama-sama sedang sibuk masing-masing terdengar suara bel pintu dari luar. Elena yang semula begitu khusuk pada perhitungannya mulai menoleh.
"Siapa ya?" ia bertanya-tanya, begitupun dengan Siska dan Tiara yang ikut kepo.
"Kalian di sini saja, biar kakak yang buka," ucap Elena kemudian.
Dua gadis itu mengangguk.
"Baik kak." sahut Dea lalu kembali melanjutkan untuk memperhatikan Tiara mengerjakan soal di bukunya.
Elena yang berjalan menuju pintu melihat mbok Can yang setengah berlari menuju ke arah yang sama, ia pun menghentikannya.
"Gak apa-apa mbok Can, biar saya saja yang buka," tukas Elena.
Mbok Can pun mengangguk. "Baik, kalau begitu non."
Wanita paruh baya itupun mempersilahkan Elena untuk membuka pintu, sementara ia berlalu melanjutkan aktivitasnya di dapur yang sempat tertunda.
Saat Elena menarik kenop pintu hingga kini terbuka setengah, terlihatlah seorang pria, sepertinya kurir karna kemeja pendek yang dia kenakan senada dengan topinya, berdiri dengan tersenyum ramah.
"Halo, selamat siang, atas nama nona Elena."
"Ya, saya sendiri." sahut Elena, mengerut dahi nampak terheran-heran.
"Oh, kebetulan. Ini bunga untuk anda." pria itu langsung menyodorkan buket bunga yang tampak segar dan wangi ke hadapan Elena.
Elena menerimanya dengan raut terheran. "Tapi saya gak pernah pesen bunga, dari siapa ya?"
"Tidak di ketahui nona, saya hanya menjalankan tugas. Kalau begitu saya permisi." sang kurir pun pergi begitu saja, meninggalkan Elena dengan rasa penasaran yang membumbung tinggi.
Meski demikian, Elena nampak senang ada yang memberikannya bunga, ia pun tak berfikir aneh-aneh malah sempat mengira jika yang mengirimkan adalah Marvin, karna hanya pria itu yang tahu apa yang menjadi kesukaannya dan tidak di sukainya.
Elena berlalu menutup pintu sambil terus menghirup aroma wangi bunga tersebut. Sampai di ruang tamu, mbok Can pun langsung bertanya padanya.
"Siapa yang datang non?"
"Itu, ada seorang kurir dia memberikan buket bunga entah dari siapa," jawab Elena.
"Wah, jangan- jangan kak Elena punya pengagum rahasia nih," celetuk Siska, yang otaknya sudah terkontaminasi oleh adegan- adegan mesra di film romantis yang selalu ia tonton.
Elena menggelengkan kepala dengan pemikiran ajaib gadis yang masih dalam masa puber itu.
__ADS_1
"Gak mungkin lah, mana ada kakak punya pengagum rahasia," katanya tertawa.
"Bisa aja loh kak." sahut Siska menimpali.
Tiara fokus menatap buket bunga yang di pegang Elena. "Bunganya cantik banget ya, kaya kak Elen," ucapnya.
"Bisa aja kamu." Elena mencubit gemas pipi gembil Tiara.
Saat mereka masih dalam perbincangan siapa pengirim buket bunga cantik tersebut, tiba- tiba suara pintu bel kembali terdengar lagi.
"Biar aku saja," ucap Elena.
"Tiara kamu pegang ini ya." pintanya lalu menyerahkan buket bunga di genggaman pada Tiara, gadis kecil itu menyambut antusias, ia tertawa di buatnya lalu beranjak untuk membuka pintu.
"Siapa?" saat Elena membuka pintu, terlihat lah pria berbeda dengan seragam yang di kenakan sama seperti kurir yang tadi datang.
"Selamat siang atas nama nona Elena."
Lagi, dengan pertanyaan yang sama membuat Elena kini kembali di rundung penasaran.
"Ya, itu saya sendiri." balas Elena.
"Buket bunga untuk anda." pria itu tersenyum ramah.
Elena mengambil buket bunga yang kini berbeda jenis namun sepertinya terlihat lebih cantik dari sebelumnya.
"Siapa non?" mbok Can bertanya untuk kedua kalinya setelah Elena kembali.
"Kurir, yang datang bunga lagi," ujar Elena.
"Wah kali ini lebih cantik," cetus Siska memandang buket bunga di dekapan Elena.
"Fiks sih ini, yang jadi pengagum rahasia kak Elena ini pasti pria yang sangat romantis, seperti cowok- cowok idaman di dalam drama, unch!" Siska mulai menghalu, membayangkan pengirim bunga itu adalah pria tampan nan romantis yang selalu ia bayangkan setiap saat.
Elena di buat geleng kepala melihat tingkah gadis itu. Belum sampai memikirkan lebih lanjut siapa pengirim bunga yang misterius ini, bel di luar kembali berbunyi.
"Astaga, ada lagi?" Elena menggerutu, yang awalnya senang kini berubah kesal.
"Coba di lihat dulu nona," ujar mbok Can seraya terkekeh melihat Elena yang begitu jengkel.
Menuruti kata mbok Can, Elena pun beranjak kembali untuk membuka pintu.
Seperti Dejavu yang berulang, saat Elena membuka pintu, terpampang lah pria berbeda dengan seragam dan topi yang di kenakannya hampir sama, tak lupa kali ini dengan buket bunga tulip yang berukuran cukup besar.
"Atas nama nona Elena?"
"Ya, itu saya." kali ini Elena menjawab ogah-ogahan.
__ADS_1
"Ada buket bunga untuk anda."
Lalu seperti yang sudah-sudah, Elena menerima buket bunga tersebut, mengucapkan terimakasih kemudian kurir tersebut pergi.
Setelahnya kurir seperti hilir mudik memberikan paket buket bunga yang beragam pada Elena, dengan salam yang hampir semua sama dan pesan yang di sampaikan berbeda-beda.
Tak terhitung berapa kali Elena bolak-balik membuka pintu setiap suara bel berbunyi.
Ting tong!
Ting tong!
Kali ini mungkin yang ke seratus, Elena malas menghitung. Elena tak tahan lagi, ia mulai muak di buatnya.
Dengan enggan wanita itu membuka pintu.
"Selamat siang, atas nama nona Elena."
"Bunga lagi?" Elena mulai jengah, nampak kurir yang datang kali ini seperti yang lain membawa buket bunga.
Sementara kurir yang datang entah yang ke berapa itu hanya bisa meringis.
"I- iya nona, bunga lagi." sang kurir nyengir kuda.
Tanpa sebab Elena mengacak rambutnya.
"Astaga bilang padaku, siapa yang menyuruh kalian melakukan semua ini?!" ia mulai geram.
Semua tak jauh dari mereka, ada seorang pria bersandar bahu di salah satu pohon sambil melipat kedua tangannya di depan dada nampak terkekeh geli melihat reaksi Elena yang menurutnya lucu dan menggemaskan.
Siapa lagi jika bukan, Erick. Dalang di balik semua yang terjadi saat ini.
"Bunga lagi non?" mbok Can bertanya pada Elena yang melangkah menghampiri mereka.
"Iya mbok." Elena menjawab dengan nada lirih, capek juga bolak-balik terus-terusan dari tadi.
"Wah, lihat ruangan ini jadi kaya taman bunga." seru Siska.
Elena pun memperhatikan, memang benar dengan berbagai macam jenis bunga di sekitar mereka yang entah siapa pengirim nya membuat ruang tamu ini di penuhi bunga-bunga tersebut, bahkan ada yang masih berada di pot, bunga anggrek bulan yang terlihat sangat sedap dipandang.
"Fiks sih, kayanya yang ngirim semua bunga ini pasti bucin banget sama kak Elena, sampai kasih effort segede ini. Duh jadi iri deh," ucap Siska tersenyum centil kembali membayangkan scene- scene romantis di dalam drama, berharap juga bisa terjadi dalam kehidupannya.
"Ada-ada saja kamu neng Siska." mbok Can menggeleng, terkekeh melihat tingkah kehaluan gadis itu yang sudah kuadrat.
Sementara Elena mulai merenungkan ucapan Siska tersebut. Ketika ia sedang serius berfikir, terdengar suara deru kendaraan di luar.
Itu dia! Elena segera saja bangkit berniat menemui seseorang di depan yang ia yakini adalah si pengirim bunga-bunga itu.
__ADS_1
"Kak Marvin!!"