Gejolak Cinta Tuan Erick

Gejolak Cinta Tuan Erick
GCTE | Bab 57


__ADS_3

Erick pergi meninggalkan Elena dengan kebisuan panjang. Marvin dan Dea segera menghampiri, memungut foto-foto yang sempat di lempar oleh Erick yang kini berceceran di lantai.


Elena tercenung cukup lama, gadis itu berusaha mengingat- ngingat tentang pertemuan terakhirnya dengan Vicky. Ia mengingat cukup baik di saat itu tidak terjadi apa-apa, lalu bagaimana bisa foto-foto ini di ambil?


Sarah dan Mona saling melirik dengan sirat penuh makna, kedua wanita itu sama-sama menyunggingkan senyum miring sukar untuk di terka. Kemudian mengikuti langkah Erick, pergi dari sana.


Papa Rey ingin mendekati Elena namun ia urungkan dan memilih pergi dari sana, pria itu pun baru tahu dan sangat di kejutkan dengan foto- foto yang di berikan Erick. Nampaknya dia juga kecewa untuk satu ini.


Clarissa datang hanya ia satu-satunya yang mau mendekati Elena. Selama ini ia cukup cermat mengamati dan menganalisis sikap seseorang, dan ia yakin dalam masalah ini Elena sama sekali tak bersalah. Namun tak ada yang bisa ia lakukan jadi ia hanya mengusap lembut punggung Elena dengan sorot penuh prihatin.


"Yang sabar ya, Elena." lalu melenggang melangkah kan kakinya menjauh.


Elena terpekur. Seluruh tubuhnya luruh ke lantai, sigap Marvin menahannya.


Mata pria itu memicing marah.


"Kita pergi dari sini Elena!"


...***...


"Ada yang tidak beres, tidak mungkin Elena melakukan hal sekeji itu," ucap Dea. Kini mereka berada di dorm, entah tidur atau pingsan Elena sudah tak sadarkan diri dalam perjalanan, kini gadis itu tengah beristirahat di kamarnya.


"Sudah jelas ada yang menjebak nya, dan semua pasti ulah Vicky." geram gadis itu.


"Kita bicarakan ini lain kali," sahut Marvin. "Bagaimana keadaannya kini?" pertanyaannya di tujukan untuk Elena.


"Dia masih tidur, sudah sepatutnya begitu, dia sangat kelelahan. Hhh, Elenku yang malang." Dea menghela nafas panjang, ikut merasakan pedih dengan kondisi sahabatnya kini.


"Jika sesuatu terjadi langsung kabari aku," ucap Marvin, sedari tadi melirik ke ponselnya.


"Kakak mau pergi?" tanya Dea.


"Ya, aku harus ke rumah sakit. Jam terbang ku terkadang tak menentu, namun ada keadaan darurat saat ini."


"Segeralah pergi kak, profesi mu memanggil. Kau tenang saja, aku akan menjaga Elena dengan baik," tutur Dea.


"Baiklah aku pergi, jaga diri kalian baik-baik." sekilas Marvin menepuk pelan pipi Dea lalu pergi setelah mendapatkan anggukan dari gadis itu.

__ADS_1


Dea mengamati Marvin yang nampak terburu-buru masuk ke dalam mobil dan segera meluncur ke luar pagar. Setelah merasa sendiri, Dea pun berbalik dan masuk ke dalam tak lupa mengunci pintu.


**


"Ciss kembali untuk kemenangan terbesar kita."


"Ciss."


Dua wanita yang kini sama-sama sudah terlihat mabuk kembali menenggak wine yang entah botol ke berapa. Sarah dan Mona begitu kuat untuk urusan minum.


"Akhirnya kita bisa mengusir ngengat itu pergi jauh dari mansion ini!" jerit tertahan Mona di udara, ia sudah nampak kepayahan namun masih bisa mengisi gelas kecilnya dengan cairan keras tersebut.


"Kamu benar sekali, sekarang udara mansion kita ini bebas tercemar dari polusi si kumuh itu!" hal yang sama pun di lakukan Sarah, ia mengangkat kedua tangan nya ke atas bersama, lalu keduanya kembali tertawa penuh kemenangan.


**


"Tuan, ada yang ingin menemui anda di bawah."


Laporan dari salah satu maidnya membuat Erick yang sedang begitu fokus memeriksa laporan di mejanya menoleh sekilas.


"Pria yang tadi siang datang kesini bersama nyonya muda, saya tak ingat."


Mata Erick menyipit mencoba mengingat lalu raut pria itu seketika berubah.


Di lantai bawah Erick menapaki setiap undakan tangga dengan malas, melihat Marvin yang sudah menunggu di sofa ruang tamu.


"Ada apa kau malam-malam menemui ku?"


Marvin terlonjak lalu ia berdiri menatap Erick yang berjalan ke arahnya. .


Marvin memang berbohong pada Dea, dia tidak memiliki jadwal apapun, alasannya karena ia ingin menemui Erick seorang diri, meminta penjelasan pada pria itu.


"Maaf, jika menganggu waktu mu. Bisa kita bicara empat mata?"


Erick menatap pria itu dengan tatapan tak terbaca. "Baiklah."


Lalu di sinilah mereka, di ruang pribadi Erick yang kedap suara.

__ADS_1


"Aku yakin, Elena di jebak, tak mungkin gadis kecil ku berbuat tindakan tidak bermoral seperti itu, cobalah untuk mempercayai nya."


Erick meradang mendengar penuturan Marvin. apalagi saat laki-laki itu memberikan julukan pada Elena 'gadis kecilku' yang entah mengapa membuat dadanya memanas seketika itu juga.


"Memangnya kau tahu apa hah? kenapa aku harus menuruti setiap ucapan mu," desis Erick yang naik pitam menarik kerah kemeja Marvin.


"Kau tidak punya hak apa-apa dalam masalah ini," tukas Erick seolah memperingati.


"Tentu itu juga menjadi masalah ku," sentak Marvin yang langsung menyingkirkan tangan Erick dari sana.


"Elena wanita yang telah kau sakiti itu adalah adikku, dan tentu saja masalah ini menjadi masalah ku juga."


Erick mendengkus. "Apa kau berusaha menjadi seorang pahlawan kesiangan untuk seorang wanita yang telah berselingkuh dari suaminya?"


"Cobalah menyikapi semua ini dengan kepala dingin Erick." pinta Marvin.


"Kau bukan anak 18 tahun yang sedang patah hati hingga merespon semuanya dengan emosi. Kau CEO, harusnya kau mencari tahu dulu sebelum gegabah menyalahkan Elena."


"Lalu bukti apa lagi yang harus ku cari, sedangkan foto-foto itu sudah menjadi bukti yang paling nyata!" berang Erick. Urat-urat leher pria itu terpampang jelas karena kerasnya ia berteriak.


"Kenyataan jika mereka berdua adalah mantan kekasih dulu semakin menguatkan semuanya," kini suara Erick berubah melemah saat mengatakan itu, tubuhnya mundur teratur hingga menyentuh tembok. Rasa sakitnya saat mengingat berbagai pose mesra Elena dan Vicky di foto itu kembali membuat hatinya tercabik-cabik.


"Tidak bisakah kau mempercayai Elena?" tanya Marvin, suaranya pun terdengar parau kini.


"Kau pikir mudah untuk membangun sebuah kepercayaan?" timpal Erick. Kini wajah pria itu kembali memerah.


"Tapi kau mencintai nya." seru Marvin. membuat Erick terdiam.


"Sebenarnya aku merasa kalah ketika tahu kau mencuri start ku untuk menikahi Elena. Jangan salah sangka, sama seperti mu, akupun mencintainya," papar Marvin terang-terangan.


Erick mengangkat wajah, terkejut.


"Tapi rasa cinta ku tidak bisa melebihi rasa sayang ku sebagai seorang kakak, padanya." tutur Marvin.


"Kenapa kau memberitahukan semua padaku?"


"Karena aku ingin kau tahu Erick, jangan pernah menyesal setelah gegabah mengambil keputusan. Karena nyatanya jika kau menyakiti Elena kali ini maka aku tidak akan mengalah lagi."

__ADS_1


__ADS_2