
Happy reading 🌹🌹🌹🌹
Suasana pemakaman umum terlihat ramai, banyak orang memakai baju serba hitam dengan ranjang bunga di tangan mereka. Pemakaman untuk Sarah dan putrinya di lakukan serempak di hari yang sama.
Tak lama sebuah mobil SUV berwarna silver datang lalu mendarat di sisi jalan dekat pemakaman. Zidan turun lebih dulu mengambil kursi roda di belakang mobil, lalu menyiapkan nya di samping pintu mobil. Kemudian pintu mobil terbuka Erick membantu Elena untuk turun lalu mengangkatnya untuk di dudukkan di atas kursi roda, kondisinya yang belum sepenuhnya pulih membuat Elena harus menggunakan kursi roda untuk beraktivitas.
Elena membenarkan letak kerudungnya, yang lain pun ikut menyusul sambil membawa botol wewangian dan keranjang bunga yang sama.
Erick tampil di belakang untuk mendorong kursi roda Elena, ia memakai kemeja hitam dan kacamata hitam bertengger di hidung bengir nya, guna menutupi matanya yang kini memerah. Sementara ayahnya datang tak lama kemudian bersama para pengawal nya. Wajah tuan Rey nampak kusut dan matanya sembab. Erick kemudian menghampiri ayahnya untuk bersalaman.
Rey membawa Erick ke pelukannya, ia menitikkan air mata atas kehilangan dua orang tersayang nya sekaligus, tak menyangka akhir seperti inilah yang akan ia dapatkan.
"Sejak dulu papa memang sudah tahu jika Mona bukan anak kandung papah. Tapi papa menerima fakta itu dengan lapang dada, papa pun sadar diri awal mula hubungan papa dan Sarah ada setelah menyakiti hati ibumu, mungkin inilah karma untuk papa. Maafkan papa nak, papa terlanjur menyayangi Mona seperti putri papa sendiri dan kamu pun menyayanginya sejak kecil. Jadi papa sengaja menyembunyikan fakta itu dari mu."
Erick mengangguk. "Aku mengerti pah. Akupun merasakan kehilangan yang sama. Papa yang sabar."
Rey menganggukkan kepalanya juga, lalu mereka pun berjalan beriringan menuju proses penguburan dua jasad yang di kuburkan tak jauh jaraknya.
...---------Oo-------...
Setelah jasad Sarah dan Mona di kuburkan, semua memanjatkan doa atas kepercayaan masing-masing. Lalu mereka berjongkok untuk menaburkan bunga di atas pusara yang masih basah tanahnya. Isak tangis terdengar menyayat mengisyaratkan kehilangan yang teramat. Rey pun tak bisa menyembunyikan air matanya meski sudah di halangi oleh kacamata hitam. Kristal bening itu tetap mengucur deras mengenai pipinya hingga jatuh ke tanah makam.
"Aku sudah memaafkan kalian. Semoga kalian tenang di alam sana, mama Sarah dan Mona."
Batin Elena memegang papan nisan yang terpasang atas nama Sarah dan Mona. Begitupun dengan yang lainnya meski berat namun dengan lapang dada memaafkan segala kesalahan dosa Sarah dan Mona pada mereka baik di masa sekarang ataupun di masa lalu. Di antara semua orang yang hadir Winston menjadi orang yang ikut menguburkan jasad Mona, sang putri untuk telah berpulang tanpa dapat merasakan kasih sayangnya sebagai ayah.
Rey mendekat menepuk pundak Winston, pria itupun seketika menoleh.
"Kau?" Winston kaget dengan kehadiran Rey di sampingnya.
"Tak usah kaget. Aku sudah tahu semuanya. Sekarang ikhlas kan kepergian mereka."
Winston menunduk malu.
__ADS_1
"Maafkan semua kesalahanku Rey, juga Sarah dan Mona pada mu."
"Sudah ku bilang kan. Aku sudah memaafkan kalian," ucap Rey.
"Lagipula Mona juga adalah putriku, kita sama-sama menyayanginya tanpa menjatuhkan satu sama lain. Meskipun bukan darah daging ku tapi aku sudah menyayangi Mona seperti anak ku sendiri."
"Terimakasih untuk segala kelimpahan kasih sayang yang tidak bisa ku berikan pada Mona. Kau telah berhasil menjadi sosok ayah dan pahlawan yang baik untuk nya."
Rey mengangguk-anggukan kepalanya. "Sekarang mari kita hidup di sisa umur kita dengan tetap menyimpan kenangan di dalam hati juga tak lupa untuk selalu memanjatkan doa untuk mereka semoga tenang di alam sana."
Winston mengangguk menyetujui perkataan Rey. "aamiin." rapalnya dalam hati.
Area pemakaman sudah mulai sepi, satu persatu mereka yang melayat sudah terlihat berkurang kembali pada kehidupan mereka masing-masing.
Kini tinggal Winston, Rey, Erick dan Elena.
"Kau tidak akan pergi Winston? kau bisa mampir dulu ke mansion ku," ajak Rey padanya.
"Tidak, terimakasih. Aku ingin menemani mereka dulu lebih lama lagi."
"Bagaimana pun bagi Winston, Sarah dan Mona adalah istri dan putri untuk nya. Bodoh nya Sarah mungkin dia akan lebih bahagia bersama Winston di banding dengan papa yang dulu hanya tergoda pada wajah dan tubuhnya. Tapi biarlah kini semua itu berlalu dan menjadi catatan takdir."
Rey pun mengajak Erick dan Elena untuk kembali. Angin berhembus lembut menyapa wajah mereka, Elena mendongakkan wajahnya ia tersenyum Ketika sebuah daun jatuh tepat di atas pangkuannya. Seperti Sarah dan Mona yang sudah mulai pergi dengan tenang mengirimkan isyarat pada mereka.
"Ada apa sayang? kenapa senyum sendiri?" tanya Erick heran melihat sang istri.
Elena menggeleng. "Tidak apa-apa, lalu kembali tersenyum lembut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Untuk mengistirahatkan diri sejenak, mereka mampir di toko kue milik Elena, hidangan dan jamuan berbagai jenis dessert sudah tersedia di sana bersama minuman kopi dan teh.
Mereka saling bercengkrama dan mengobrol hingga sore menjelang. Lalu kemudian satu persatu dari mereka pamit undur diri.
__ADS_1
"Aku pergi dulu, besok kita bertemu lagi. Jaga dirimu baik-baik," ujar Dea memeluk sang sahabat lalu tersenyum, Rizal yang perlahan sudah mulai akrab dengan Erick pun mengucapkan salam perpisahan ala jantan yang sering ia gunakan bersama Marvin.
"Mungkin suatu hari kita bisa bekerja sama tuan Erick. Soalnya kita memiliki beberapa kesamaan yang hampir mirip," ucap Rizal nyengir kuda, pembawaannya yang humble dan humoris membuat semua orang nyaman ketika mengobrol dengan nya.
Erick tertawa. "Baiklah. Aku menunggu saat itu tiba."
Sementara di tempat lain.
"Kau pulang dengan siapa?" tanya Marvin yang kebetulan duduk di samping Clarissa mencondongkan tubuhnya ke arah gadis itu.
Otomatis karena kaget Clarissa yang sedang meminum teh terdesak seketika.
"Uhuk, maaf. Kamu bicara apa?"
"Aku hanya bertanya kau pulang dengan siapa? apakah itu salah?"
Clarissa segera saja menggeleng. "Tidak. Tentu saja tidak salah. Hanya saja aku terlalu kaget, kamu berbicara begitu dekat ke wajah ku."
"Oh begitu kah? maaf."
Mereka asyik mengobrol untuk beberapa menit berjalan, Siska yang pertama kali menyadari kedekatan mereka, melirik ke arah yang lain lalu tiba-tiba ...
"Acieee! ciee!" semua bersorak berbarengan menggoda dua sejoli itu.
Clarissa sontak menundukkan wajah karna malu, Marvin sendiri berdiri dengan salah tingkah.
"Kenapa kalian tiba-tiba bersorak seperti itu? kau lihat dia jadi malu?" tunjuk Marvin pada Clarisa yang menyembunyikan wajahnya.
"Gak apa-apa mas bro! bilang aja kamu yang lagi salting saat ini?" ujar Rizal mengerling menggoda.
"Ck, dasar kutu kupret!" Marvin mengusap kepala nya yang tak gatal.
Lalu semua serempak tertawa terbahak-bahak melihat Marvin yang salah tingkah.
__ADS_1
***
To be continued. Semakin dekat menuju ending, terimakasih bagi reader yang setia pada novel ini sampai akhir, salam cinta semuanya ❤️💐