Gejolak Cinta Tuan Erick

Gejolak Cinta Tuan Erick
GCTE | Bab 43


__ADS_3

Ruang makan keluarga kini nampak terlihat mencekam, seakan tak ada atmosfer di sekitar, seolah membuat sesak pernafasan.


Di tempat duduknya Elena menelan ludah susah payah. Ini seperti ketika ia pertama kali duduk di meja makan keluarga ini, yang biasanya ketika menjadi sekretaris dulu ia hanya perlu menunggu Erick sampai selesai makan kini menjadi anggota yang ikut duduk dan makan.


Meski saat pertama kali ia ikut bergabung makan bersama, keluarga Erick begitu hangat menerimanya tapi tidak saat ini, tuan Rey nampak tak minat sedangkan nyonya Sarah dan Mona terlihat menatap sinis, raut wajah baru yang jelas jauh berbeda saat mereka begitu baik pada Elena. Nyatanya ia mulai percaya dengan perkataan Erick, jika semua kebaikan keluarga Davidson mungkin hanyalah kedok belaka. Dan itu membuatnya sangat sedih.


"Kenapa semua orang hanya diam?" tanya Erick setelah sekian lama hening menyelimuti mereka. Heran karena semua yang ada di meja makan ini hanya saling menatap saja.


Nyonya Sarah menanggapi kemudian. "Oh tidak apa-apa nak. Mungkin karena ada sedikit kejutan dari istri mu."


"Kejutan?" kening Erick mengerut.


"Yap. Hari ini dengan spesial istri mu telah menyiapkan makan malam mewah untuk kita. Elena telah membuktikan jika dia adalah istri yang teladan."


Wajah Erick tampak sumringah, ia menatap ke arah Elena. "Benarkah hidangan ini kamu yang buat sayang?"


Elena mengangguk perlahan. "Iya mas." sambil tersenyum tipis.


"Karena kamu telah menyanggupi tantangan ku, selamat untuk mu, Elena." nyonya Sarah menyahuti, membuat pasangan suami-istri itu menoleh. Erick masih tak paham sedangkan Elena tersenyum kepada ibu mertua nya.


"Terimakasih, mah." Dalam hati Elena sangat bahagia dan bangga karena pencapaiannya. Setidaknya mereka tidak akan lagi merendahkannya.


"Jika semua hidangan ini istri ku yang memasak, tunggu apalagi ayo makan." seru Erick, raut wajahnya menunjukkan kebanggaan pada Elena.


"Iya, ayo kita cicipi masakan pertama kali kakak ipar ini," ujar Mona ikut menyahut dengan senyum miring yang tak terbaca.


Nyonya Sarah menyiapkan makanan lebih dulu untuk suaminya, begitupun dengan Elena yang melakukan hal yang sama, seperti biasa Erick akan selalu menatapnya dengan senyuman yang tak pernah luntur saat Elena melakukan itu.


Dan sampai ketika mereka memasukkan hidangan itu ke dalam mulut, dan saat itulah wajah-wajah yang terlihat terkesiap, dengan ekspresi mual.


Elena tertegun, sementara nyonya Sarah langsung memuntahkan kembali makanannya.


"Masakan apa ini? kenapa rasanya aneh sekali?" cibir nyonya Sarah.


Hal sama pun di lakukan putri nya. "Ini lebih mirip rasa sampah, hueek ... " Mona dengan reaksi hiperbola berlalu ke wastafel dengan tangan mendekap mulut..


Elena sudah terlihat sangat meringis di tempat. Berulang kali ia memasukan makanannya ke dalam mulut, dan rasa yang sama ia dapatkan. Melihat reaksi jijik dari semua orang yang memakan makanannya ia merasa ingin menangis saat itu juga.


Kenapa rasanya seperti ini? sangat jauh berbeda saat aku mencicipi nya.


Batin Elena nelangsa.


"Aku sudah selesai ... " seru tuan Rey yang terlihat sangat tidak berselera, bahkan raut wajahnya bergidik ngeri, Elena sedih melihat bagaimana makanan pun di keluarkan lagi oleh tuan Rey dengan tisu dan mencampakkan nya begitu saja. Kemudian tuan Rey sudah meninggalkan aula makan.


Sementara ketika ia menoleh kepada sang suami, Erick masih terlihat nampak anteng di tempatnya.

__ADS_1


"Mas, jangan di makan lagi, masakannya tidak enak."


"Ini enak," ucap Erick.


Sontak pengakuan Erick membuat semua menoleh ke arahnya.


"Enak, apa kakak sudah tak waras, yang terhidang ini bahkan tidak bisa di sebut makanan, ini sampah." sungut Mona, kesal.


"Masakan isteri ku ini lezat. Kalian saja yang berlebihan."pungkas Erick dengan nada datar. Ia tetap menyuap hidangan yang tersaji di piringnya hingga habis.


Mona mencebik, dongkol dengan sang kakak.


"Ya sudah Mona. biarkan mereka, aku kita kembali. Mommy sudah tidak mood di sini."


"Ayo mom. perutku juga mendadak sakit. Apa makanan nya di taruh racun ya?" ucap Mona sengaja, hal tersebut membuat Elena semakin menunduk murung.


Kini hanya tersisa mereka berdua di meja makan. Erick baru saja menandaskan minumnya, kemudian pria itu menyeka ujung bibir dengan tisu dan merapikan nya kembali di atas meja.


"Mas ... " lirih Elena lemah, wajahnya sayu dengan pundak nampak kuyu. "Aku gagal."


"Kata siapa isteri ku gagal? kamu tetap pemenangnya," kata Erick dengan sorot begitu lembut.


"Kamu tidak akan pernah mengerti mas." Elena beranjak dari sana.


"Elena ... " Erick memanggil namun sang istri tetap melangkah pergi.


"Sayang ... " panggil Erick. Saat ia membuka pintu kamar mereka, terlihat Elena yang terisak di bibir kasur.


"Hei ... kenapa menangis?" suara bariton Erick begitu sendu, kemudian pria berbadan kekar itu segera menghampiri isterinya.Mengambil tempat di sampingnya.


"Aku gagal mas, padahal ini adalah kesempatan ku untuk membuktikan pada keluarga mu." Elena semakin tergugu.


Erick mengesah singkat, ia menarik lembut kepala Elena membiarkan sang istri menyelesaikan tangisnya di dadanya.


Hati wanita memang lebih sensitif di banding pria, Erick tahu akan hal itu jadi yang di lakukan nya sekarang adalah membiarkan Elena meluapkan kesedihan nya dulu, membuatnya lega dan merasa aman.


"Padahal aku sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi semua tidak berjalan sesuai harapan ku." susah payah Elena menelan isakannya agar suaranya normal.


Erick mendorong pelan punggung Elena, agar mereka berhadapan. Ia mengangkat dagu sang istri dengan jemarinya.


"Dengar, kau memang sudah melakukan yang terbaik. Tidak ada yang gagal di sini, Tuhan hanya ingin kamu tidak menyerah dengan semua yang terjadi. Percayalah, kamu sudah melakukan yang terbaik."


Perkataan Erick membuat isakan Elena mereda. "Benarkah?"


"Of course. Aku tahu usahamu juga kerja keras mu selama ini, tapi honey, semua yang terjadi memang terkadang tak melulu sesuai ekspektasi kita. Tapi kita bisa mengambil hikmah yang terjadi di baliknya."

__ADS_1


Elena sudah nampak tenang setelah mendengar nasihat dari Erick.


"Tapi mas tadi menghabiskan makanannya padahal tidak enak."


"Kata siapa tidak enak? itu tidak terlalu buruk." jawab Erick.


"Apa mas jujur?"


"Tentu. Kalau aku bohong, aku akan mengatakan nya sangat enak."


Mendengar guyonan Erick, Elena terkekeh.


Erick tersenyum. "Bisakah tidak ada tangisan lagi? hatiku ikut sakit jika kau menangis."


Elena mengangguk, ia mengusap pipinya, Erick membantu menyeka ujung matanya di saat itulah ia melihat kulit Elena yang memerah.


"Kenapa dengan pipi mu sayang, ini luka melepuh?"


Ia terhenyak, ia meraba luka yang di tunjuk sang suami. "Oh ini ... bekas ketumpahan teh. Aku sedikit ceroboh tadi."


"Apa perlu kita ke dokter kulit?" kata Erick khawatir.


Elena mengulum senyum. "Tidak perlu mas, aku sudah memberikan salep, ini akan membaik sebentar lagi."


"Aku tak ingin melihat luka seperti ini lagi," ucap Erick, lirih. "Aku tak akan melarang mu untuk melakukan kegiatan mu asal itu positif, tapi kumohon untuk selalu berhati- hati."


"Baiklah. Aku akan lebih berhati- hati lain kali," balas Elena, hatinya terasa menghangat.


Erick mendekat kan wajah, ia mengecup tepat di bekas luka memerah di pipi juga pelipis Elena.


Sontak hal itu membuat jantung Elena berdetak dua kali lebih cepat, berdesir hebat.


"Dengan ini lukanya akan cepat sembuh," ujar Erick kemudian.


Di antara keromantisan yang terjadi tiba-tiba terdengar suara dering ponsel yang berasal dari saku jas Erick, ia menghindar sejenak untuk menjawab panggilan.


"Semuanya sudah siap, tuan," kata seseorang di telepon.


"Baiklah." Erick mematikan kembali sambungan setelah mendapat kabar itu.


Ia kembali pada sang istri seorang senyum terlukis tanda tanya.


"Mau ikut dengan ku?"


"Kemana?" Elena mengkerut kening.

__ADS_1


"Ada kejutan untuk mu." jawab Erick.


__ADS_2