
Happy reading 🌹🌹
Erick di larikan ke ruang rawat. Di segera di tangani untuk di obati luka-lukanya, Elena berjalan tertatih-tatih melihat dari kaca jendela memperhatikan dengan raut wajah cemas.
Marvin menghampiri, wajahnya juga membiru dan banyak lebam.
"Elena ... maafkan aku."
"Cukup kak, aku kecewa pada mu!" Elena menoleh menatap sengit.
"Beginikah sikap seorang dokter yang seharusnya menyembuhkan banyak orang? justru kamu malah membuat orang sekarat?!"
"Maaf kan kakak Elena, kakak khilaf. Saat mendengar mu lagi-lagi terluka dan itu karena Erick, kakak tak bisa meredam emosi dan kendali diri. Terlebih saat Erick tak melakukan perlawanan sama sekali, hingga kakak semakin kalap menghajar nya, kakak menyesal Elena."
"Seharusnya kakak mencari tahu dahulu yang sebenarnya, sebelum mencetuskan dia bersalah atau tidak. Jika seperti itu lalu apa bedanya kakak dengan Erick." Elena bersungut-sungut, ia menggigit bibir menahan sesak di dadanya.
"Kakak seharusnya mengerti. Kakak baru setahun menjabat sebagai seorang dokter, kakak seharusnya bisa berfikiran dewasa jangan terus menuruti emosi. Please kak, aku tak mau kakak kehilangan martabat sebagai seorang dokter, hanya karena diriku. Sudah cukup aku merepotkan banyak orang, jangan membuat ku semakin merasa bersalah."
Elena menangkup wajahnya, bahu gadis itu nampak bergetar hebat. Ia merasa menjadi manusia yang sangat lemah dan hanya menyusahkan orang lain saja.
Sorot mata Marvin berubah redup, ia merasa sangat bersalah dan menyesal atas kejadian ini.
"Elena .... "
"Kak." Dea memotong kalimat Marvin, dengan memanggilnya. Pria itu menengok ke arahnya.
Dea menggeleng, isyarat agar Marvin tak mengganggu Elena dulu.
"Luka-luka mu juga harus di rawat kak, ayo aku obati," ajak Dea. Ia mengerti, Elena perlu waktu menyendiri dulu untuk saat ini tanpa ada yang mengganggunya dulu.
"Tidak perlu, aku bisa merawat luka-luka ku sendiri." pungkas Marvin.
"Kau benar Elena, harus nya aku lebih fokus dalam tugas ku sebagai seorang dokter bukan malah melakukan sesuatu yang merugikan seperti ini, terimakasih sudah menyadarkan ku." lanjutnya kemudian pria itu pergi dari sana.
Di saat yang bersamaan, tangis Elena pecah sebisa mungkin ia menahan isakannya untuk tidak terdengar. Dea memeluknya dari samping, mengusap bahunya, lembut.
__ADS_1
"Tak apa Elena, ini bukan salah mu."
...----------------...
Marvin berjalan lesuh, melangkah kan kakinya dengan gontai di koridor rumah sakit. Ia terus merenungi setiap perkataan Elena padanya dan sikapnya akhir-akhir ini. Pria itu mulai menyadari jika ia terlalu ikut campur dalam urusan dan kondisi yang harusnya tidak memerlukan tindakan nya sama sekali. Berkali-kali Marvin mulai menyadari kekeliruannya tapi ia selalu tak bisa menahan diri untuk berdiri di garda terdepan saat terjadi sesuatu pada Elena. Maka, pria itu mulai bertekad dalam hatinya untuk lebih menahan diri agar tidak selalu tersurut dalam emosinya atau jika tidak, ia takut Elena akan membencinya.
Di saat yang sama, dari arah berlawanan seorang wanita berjalan cepat, suara high heelsnya yang mengetuk lantai terdengar di sepanjang lorong rumah sakit, yang mana itu membuat Marvin terganggu dan mendongak kan wajahnya demi melihat siapa yang berada di depannya dalam radius lima meter kini.
"Dokter Vin." Clarissa, wanita bergaun pink kalem itu menghampiri, ia terlihat ngos-ngosan namun tetap tersenyum pada pria di depannya kini.
"Oh, kau." Marvin sama sekali tak minat setelah menyadari jika wanita samar yang di lihatnya dari kejauhan itu adalah Clarissa.
"Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Clarissa, bingung.
"Kau sendiri, kenapa ada di sini?" bukannya menjawab Marvin membalikkan pertanyaan pada wanita itu.
Clarissa diam sesaat, terlihat ragu untuk menjawab.
"Mmm, aku ingin bertemu Erickson," ucapnya ragu-ragu.
"Apa maksudmu?!" Clarissa nampak tak senang dengan ucapan Marvin.
"Tidak ada." Marvin mengelak dengan nada malas. "Jika kau ingin bertemu dengan Erick dia berada di ruang rawat anggrek nomor 108. Permisi." setelah memberikan wanita itu informasi, Marvin berjalan lagi, melewatinya.
"Tunggu, ada apa dengan wajah mu?" tanya Clarissa, ia memperhatikan wajah pria itu seksama, terlihat banyak luka membiru dan bonyok tercetak jelas di sana.
"Tidak apa-apa. Bukan masalah." tampik Marvin hendak berlalu.
"Jelas-jelas itu luka karna berkelahi," kata Clarissa menghentikan kembali langkah Marvin.
"Bukan urusan mu!" sungut lelaki itu.
"Setidaknya biar aku obati."
Lagi, untuk kali ini cukup membuat Marvin menoleh padanya lagi, menatap heran. Terlihat kesungguhan di wajah cantik itu, cukup aneh, Marvin seolah terbius dengan tatapan penuh kekhawatiran wanita itu.
__ADS_1
***
Dan di sinilah kedua insan kini berada, di salah satu kursi panjang yang berada di halaman luas rumah sakit, Marvin dan Clarissa duduk bersebelahan.
"Untungnya aku selalu sedia kotak p3k di dalam mobil," seru Clarissa di sela telaten nya mengobati luka-luka Marvin.
Ssssh! pria itu sesekali meringis ketika kapas sudah di serap betadine menyentuh permukaan kulitnya yang luka.
Hening menyelimuti sejenak, saat Marvin tak sengaja mengarahkan tatapannya pada wajah serius Clarissa yang tengah mengobati, Marvin seolah terpaku saat itu juga. Kemudian tatapan yang semula biasa berubah penuh penghayatan.
"Kau terlihat mahir dalam mengobati luka, sepertinya ini bukan pertama kalinya kau mengobati luka seseorang." cetus Marvin, dengan masih tatapan mata yang sama membuat Clarissa tertegun sesaat ketika pandangan mereka bertemu.
"Ekhem ... itu karna aku sering mengobati Erickson yang terluka sejak kami kecil dulu. Hahaha justru aku merasa lucu, kamu seorang dokter tapi sepertinya tak bisa mengobati luka sendiri."
"Jika kau tak memaksa untuk mengobati ku, aku bahkan bisa mengobati luka di wajah ku ini dengan mata tertutup," ujar Marvin di selingi gurauan.
Clarissa tertawa samar, menggelengkan kepalanya lalu kembali fokus memplester kapas di atas luka Marvin yang sudah di obati.
"Clar, boleh aku bertanya?" seru Marvin di saat keheningan kembali menyapa. Ia tak terlalu suka suasana awkward ini, jadi ia ingin tetap ada obrolan daripada terus diam saja.
"Bertanya apa?" sahut Clarissa, bola mata coklatnya bergulir langsung bersinggungan dengan bola mata pekat kelam pria itu.
"Kau sebegitu kuatnya memperjuangkan Erick, sedangkan kita sama-sama tahu jika cinta Erick hanya untuk Elena, apa yang membuat mu begitu gigih dan setia di sampingnya?"
Clarissa nampak tertegun untuk sejenak, tak menduga pertanyaan seperti itu akan keluar dari mulut pria di hadapannya.
"Emmm apa ya?" Clarissa terkekeh nampak berusaha tak serius menanggapi pertanyaan laki-laki itu. "Entah lah, mungkin karena aku sangat mencintai nya," ujarnya dengan menggidikkan bahu.
Marvin melengos, sudah menduga jawaban Clarissa tak serius.
"Bagaimana jika aku membalikkan pertanyaan itu padamu?" sahut balik Clarissa. "Kau selalu terlihat berada di samping Elena, padahal kita sudah sama-sama mengetahui jika Elena hanya mencintai Erickson. Apa yang membuat mu bertahan hingga detik ini?"
"Mmm, entah. Mungkin karena aku sangat mencintai nya." jawab Marvin, persis seperti apa yang di katakan Clarissa, lalu keduanya sama-sama terbahak. Seolah menertawakan kebodohan yang sama.
"Lucu sekali, kita adalah dua orang yang patah hati dengan dua orang yang masing-masing di ciptakan bersama. Erick dan Elena berhak untuk bahagia, tidak seharusnya kita seperti ini kan?"
__ADS_1
Clarissa sontak menoleh dengan perkataan yang di lontarkan Marvin. Menundukkan wajah, mulai terpekur, merenunginya.