Gejolak Cinta Tuan Erick

Gejolak Cinta Tuan Erick
GCTE | Bab 67


__ADS_3

"T-tolong, uhuk- uhuk, b- buka pintunya, uhukk!"


Susah payah Elena mengeraskan suaranya agar siapapun yang berada di luar gudang dapat mendengar, namun sia-sia saja. Tak peduli dengannya bahkan jika mereka menyadari ada seorang wanita yang terjebak tengah meminta pertolongan di dalam sini.


Sekali lagi, Elena benar-benar merasa sangat hancur. Satu-satunya orang yang ia percayai akan selalu mencintainya, yang menjadi sandarannya, yang menjadi tumpuan harapan dan hidupnya kini telah berubah. Tak ada lagi sisa cinta untuk nya di mata Erick, suaminya bukan lagi pria yang dulu. Yang rela mengorbankan hidupnya untuk cintanya.


Elena tercenung, meratapi nasibnya yang lagi-lagi harus mengalami kemalangan. Mengingat kembali kenangan manis yang sempat terjalin di saat awal rumah tangga nya baru akan di bangun. Asam garam kehidupan sudah sering Elena rasakan, ia berhasil melewati itu semua berkat dukungan dan kasih sayang orang-orang terdekatnya. Tapi kini yang ia punya hanya Erick, dan pria itu bahkan tak mau lagi mengganggap nya sebagai istri hanya karena fitnah kejam yang bahkan tak pernah terbukti kebenarannya.


Oh, Elena yang malang ... Ia tergugu dengan isakannya, ia menekuk lutut dengan wajah bertumpu di atasnya, menumpahkan tangis yang tertunda.


"Bunda ... Elena takut ... " lirihnya di tengah isakan,ia merindukan bundanya, merindukan panti yang selama ini selalu memberikan nya rasa aman, ia ingin merasakan kehangatan kekeluargaan itu lagi. Seolah ini adalah hari terakhirnya Elena mengingat semua wajah orang-orang yang menyayanginya begitupun yang ia sayangi. Dea, kak Marvin, anak-anak panti, Elena kembali tergugu tak kala mengingat semua itu.


Tanpa sadar, saat ia semakin memojokkan tubuh di dinding, Elena merasakan sakit yang luar biasa membuat nya meringis nyeri. Menegakkan bahu karena tak nyaman, Elena meraba ke sekitar belakangnya, alangkah terkejutnya ia ketika melihat darah yang menempel di telapak tangannya seketika Elena membeku dengan tercengang panjang.


"D- darah dari mana ini?" wajahnya mendadak pucat, tangannya bergetar hebat, peluh menghiasi pelipisnya, angin dingin menyapu tengkuk gadis itu membuatnya merinding, Elena kemudian semakin membelalakkan matanya ketika melihat cairan merah pekat tersebut yang semakin deras mengalir di atas lantai tanah membentuk sebuah genangan.


Tak mengingat apa-apa lagi, Elena mendadak mual kepalanya terasa berputar lalu semuanya gelap saat ia terjatuh pingsan.


...***...


"Ya, atur pertemuan dengan dewan komesaris besok, di hotel merdeka karena aku ingin semuanya sempura." Erick berbicara dengan sektretaris nya di sambungan telepon.

__ADS_1


"Ya, oke." setelah memberi wewenang panjang kali lebar, ia memutuskan panggilan. Rasa kesal di hatinya masih belum reda membuat Erick melempar ponsel nya dengan kasar, benda persegi berwarna abu-abu dengan logo apel yang di gigit setengah berharga jutaan itu terhempas mengenaskan di atas kasur.


"Sialan ... kenapa aku harus mengkhawatirkan nya, kenapa?!" ia berteriak pada diri sendiri, meremat kuat rambut yang masih basah setelah membersihkan diri tadi.


"Kenapa Elena ... kenapa?" ia berdecak keras, merasa semua yang ia lakukan itu berlebihan tapi di satu sisi lainnya saat pikirannya kembali mengingat foto-foto Elena yang mesra bersama Vicky, membuat mata hatinya kembali tertutup, seolah ada monster di dalam dirinya yang tak ingin ia menggunakan hati dan perasannya.


Erick merasa sangat frustasi, ia berjalan ke tengah area kamarnya yang luas, ada meja permainan billiar di sana, ia mencoba memainkannya untuk membuang fikiran tentang Elena juga perasaannya yang terus berkecamuk akhir- akhir ini.


Tapi sia-sia saja, setengah jalan ia berhenti ketika tak sengaja matanya menangkap gitar yang berdiri di sudut ruangan, hadiahnya untuk ulang tahun Elena. Kenangannya kembali datang membuat Erick berdecih kesal, melempar tongkat billiar nya ke sembarang arah.


Tiba-tiba ponselnya berdering, Erick berusaha mengabaikan namun karena deringnya yang tak juga berhenti membuat ia mengangkatnya dengan malas.


"Halo, siapa ini?" ia berteriak jengkel pada si penelpon yang membuyarkan pusat perhatian nya.


"Siapa ini?" Erick bergumam sedikit menjauhkan ponsel untuk melihat nama yang tertera di layar,ia melongos setelah tahu siapa si penelpon.


"Kenapa malam-malam menggangguku?" tanya Erick tak minat setelah tahu Aaron lah yang berada di seberang sana.


"Kenapa? apa kau sibuk?"


Erick tak menjawab lalu Aaron berujar lagi. "Aku ingin mengajakmu ke pesta ku, untuk merayakan aku yang menang nominasi sebagai aktor terbaik tahun ini!" suara pria itu terdengar sangat gembira.

__ADS_1


Sedikit informasi, Aaron adalah salah satu temannya sejak kuliah mungkin satu-satunya karena Erick tak begitu suka bergaul meskipun banyak yang ingin menjadi temannya. Aaron juga adalah putra tuan Oliver Sykes, pemilik Sykes roatti entertainment perusahaan di bidang ke artis san yang mana pernah bekerja sama dengan perusahaannya dan juga ayah mereka memang berteman baik.


"Aku tak minat." hanya itu yang Erick ucapkan.


"Oh ayolah, apa sibuk sekali hingga tak bisa menghadiri acara teman mu? bahkan kita tak bertemu selama bertahun-tahun, kau tak merindukan kan ku?"


"Aku sibuk." Erick menjawab singkat.


"Oke, aku minta maaf karena tak mengundang mu dengan resmi, tapi tak bisakah kau datang?" Aaron mendesak, "Ayah ku juga sangat ingin bertemu dengan mu, tak mungkin kan kau sibuk setiap saat, kau pasti free malam ini, iya kan, iya kan? Aaron tetap memaksa.


Erick mendesah singkat. "Aku tak punya waktu untuk hal-hal yang membuang waktu seperti itu."


"Oh ayolah Erickson, kau sungguh sangat tidak menyenangkan, tidak punya selera. Kita ini masih muda, masih awal tiga puluhan kau jangan berlagak seperti orang tua dengan perut tambun dan kepala plontos. Pokoknya kau harus datang, di sini kau bisa melupakan sejenak permasalahan mu, kita bersenang-senang barang sejenak."


Erick merenung. Melupakan sejenak permasalahan? itulah yang ia butuhkan.


"Banyak wanita cantik di sini, kau bisa memilih yang kau mau." Aaron sedikit berbisik jenaka.


"Baiklah, di sini semakin ramai. Jika kau mau datang aku akan mengirimkan alamat nya, tapi kuharap kau datang karena kau juga bagian penting dari karier ku."


Tut! panggilan di matikan sepihak lalu tak lama kemudian muncul notifikasi pesan yang mana Aaron mengirimkan alamat gedung pestanya di sana.

__ADS_1


Erick mengenggam ponselnya erat, mungkin sudah saatnya ia keluar dari zona nyamannya. Masa mudanya terbuang sia-sia untuk mengemban tanggung jawab perusahaan di usia muda, selama ini sudah cukup ia selalu mendengarkan dan mematuhi kata-kata sang ayah. Ia juga punya kehidupan sendiri.


Erick sudah memutuskan, ia berjalan ke ruang walk in closet untuk berganti pakaian, ia akan pergi untuk sejenak menghilangkan segala permasalahannya. Tanpa sadar, jika ia memiliki seorang istri yang kini yang masih terkunci di dalam gudang dan tak ia perdulikan itu.


__ADS_2