
Happy reading 🌹🌹🌹
"Elena ... " lirih Erick memanggil, tangannya menggapai kaca jendela ruangan di mana sang istri di rawat.
"Selama ini aku telah membuat hidup mu menderita, hanya dengan foto tak benar dan pengaruh perkataan orang-orang yang ingin menghancurkan hubungan kita, dengan bodohnya aku langsung menyalakan mu. Maaf kan aku Elena ... i'm sorry and i love you ... i always loved you ... "
Erick mengusap ujung matanya yang memerah. Ia berbalik saat itulah tatapannya langsung bertemu dengan Dea dan Rizal yang ternyata sudah berdiri di belakangnya.
"Bagaimana dengan Elena?" tanya Rizal, suami Dea.
"Dokter masih memeriksa. Dia belum siuman tapi luka di lehernya sudah di obati."
"Semoga Elena segera cepat sadar," gumam Dea, merapal doa.
"Aamiin, semoga." balas Erick menyahut ucapan Dea.
Rizal di buat geleng-geleng kepala setelah mendengar Dea bercerita apa yang terjadi di mansion. "Aku tak mengira nyonya Sarah akan melakukan hal senekat itu, ku pikir orang seperti nya hanya ada di drama-drama rumah tangga di mana orang seperti nyoya Sarah itu menjadi peran antagonisnya. Ternyata dalam kehidupan nyata pun ada ya orang seperti itu."
"Itulah. Demi kepuasan sesaat dan rasa haus kekuasaan duniawi orang bisa melakukan sampai ke hal nekat. Ku harap nyonya Sarah dan antek-anteknya yang terlibat bisa mendapat ganjarannya," ucap Dea, masih ada rasa bara amarah dalam hati nya setelah kejadian yang menimpa mereka kemarin.
Tak berselang lama, Zidan datang. "Selamat pagi, tuan. Saya kesini untuk memberitahu kan jika Vicky dan nyonya Sarah sudah berada di kantor polisi dan sedang di interogasi, kemungkinan masih banyak lagi kejahatan yang di lakukan nyonya Sarah yang masih belum terungkap. Setelah semua penyelidikan selesai dan lengkap, nyonya Sarah dan Vicky akan segera di adili dan di vonis."
"Mmm ... kerja bagus Zidan. Aku menghargai semua kerja keras mu, aku bangga padamu." Erick menepuk pundak Zidan mengutarakan rasa kagum dan kebanggaan nya.
"Tapi Zidan, bagaimana dengan Mona? apa dia tidak di hukum juga?" protes Dea setelah mendengar nama Mona tak di sebut, padahal kejahatan gadis itu juga banyak dan fatal. Apalagi setelah mengetahui Elena bercerita jika Mona sering merundung nya saat ia masih tinggal di mansion dulu.
Zidan terdiam sejenak, tak langsung menjawab. Bola matanya bergulir memandang ke sembarang arah, terkesan ragu untuk menjawab pertanyaan Dea.
"Anu ... untuk nona Mona, dia ... "
__ADS_1
••
Brakk!
"Cepat sedikit, jangan lelet!" hardik wanita berseragam maid hitam putih dengan rambut panjang nya yang tersanggul dengan tusuk konde di atasnya. Di tangannya terdapat tongkat kemoceng, dengan berkacak pinggang dan tatapan galaknya yang menatap gadis yang memakai seragam maid senada yang saat ini nampak menyedihkan.
"Beraninya kau membentak ku?!" Mona tak terima dengan perlakuan Rosmala, wanita berwajah tegas yang terlihat menyeramkan seperti ibu tiri dalam dongeng Cinderella itu adalah seorang pimpinan maid baru, menggantikan pak Pandu yang saat ini sedang cuti karna masalah kesehatan.
"Apa? kau marah, tersinggung karena aku membentak mu! ingat ya, di sini kau bukan lagi tuan putri yang hanya leha-leha, rebahan di atas king size empuk. Derajat mu sudah di turunkan, kau bukan lagi bagian keluarga davidson dan saat ini kau sama halnya seperti kami maid di mansion yang harus bekerja dengan gesit, bukan lelet seperti ini!" tampik Rosmala, tatapan nya semakin tajam pada Mona.
"Siallan! di dalam mansion ku sendiri, aku di rendahkan!" batin Mona dengan penuh kesal.
Bugh!
"Awww!" Mona mengaduh saat di rasakan lengannya yang di sabet oleh tongkat kemoceng, siapa lagi pelaku nya jika bukan Rosmala yang kini memandangnya dengan geram.
"Iya-iya!" Mona membalas dengan bersungut-sungut, ia kembali membersihkan meja ruang tamu dengan kain yang sudah basahi di genggamannya.
"Kenapa menjawab dengan nada seperti itu? tak senang kau jika aku marahi?"
"Ya ampun. Kenapa aku selalu serba salah di matamu?" Mona tak tahan lagi, ia mengeluarkan unek-unek nya.
"Ya, itu karena kau bekerja dengan lelet! dan seharusnya kau menjawab dengan sopan bukan dengan nada jengkel seperti itu, kau tidak tahu aku ini siapa? aku ini kepala pelayan baru, satu tingkat berada di atas mu, jadi kau harus hormat!"
Para maid lain yang sengaja berlalu lalang hanya demi melihat Mona yang sedang di marahi habis-habisan oleh Rosmala yang memang terkenal tegas dan juga galak, mereka terkikik penuh kepuasan. Mereka seolah senang di atas penderitaan Mona saat ini, teringat ketika Mona yang masih hidup dengan kemewahan ala tuan putri kerajaan, Mona selalu saja semena-mena dan arogan kepada mereka. Jelas para maid kini justru senang karena Mona saat ini berada di posisi mereka yang selalu saja di marahi dan selalu salah di mata gadis itu.
"Itu, bersihkan yang itu juga dan ini juga, awas jangan sampai lecet!" perintah Rosmala sambil menunjuk tempat-tempat yang harus dibersihkan Mona.
"Jika lecet sedikit saja, kau tak akan dapat jatah makan untuk hari ini!"
__ADS_1
Mona hampir saja ingin menangis, matanya sudah berkaca-kaca ia menggigit bibir, satu persatu air matanya luruh terhapus bersama debu-debu yang sedang ia bersih kan.
"Nasib ku kenapa harus seperti ini!" batinnya dengan nelangsa.
"Elena, ini semua karena dirimu. Awas saja kau!"
...----------------...
Dea tertawa setelah mendengar cerita Zidan tentang kondisi Mona saat ini.
"Jadi dia keluarkan darii keluarga davidson, dan menjadi pelayan di mansion nya sendiri saat ini? Daebak, hahaha!"
Mendengar cerita jika Mona terus saja melakukan kesalahan saat bekerja sebagai pelayan dan selalu di marahi oleh kepala pelayan baru, membuat Dea tak bisa menahan tawanya.
"Ssst, jangan keras-keras nanti tuan Erick dengar!" pinta Zidan dengan meletakkan telunjuk di depan bibir.
"Oops! pfft!" Dea sama sekali tak bisa menahan tawa di atas karma yang sedang di jalani Mona saat ini. Baguslah meskipun menurut nya hukuman nya terlalu simpel di banding kan kejahatan yang telah di lakukan nya, namun Dea senang Mona mendapat ganjarannya.
"Erickson saat ini sedang menemani Elena di ruang rawat, dia tak akan mendengar," ujar Dea.
"Oh iya, bagaimana kondisi nona Elena kini? apa beliau sudah siuman? terlalu banyak bercerita membuat ku lupa untuk menanyakan keadaannya."
"Elena saat ini masih belum bangun, kata dokter seluruh suhu tubuhnya panas, kemungkinan ia mengalami demam."
"Itu mungkin terjadi. Mengingat apa yang di lakukan nyoya Sarah yang mengancamnya dengan pisau pasti membuat nya kaget dan trauma."
"Kau benar." Dea mengangguk. "Semoga Elena segera siuman ya, dan bisa beraktivitas seperti sedia kala."
"Aaamin." sahut Zidan dengan bergumam.
__ADS_1