Gejolak Cinta Tuan Erick

Gejolak Cinta Tuan Erick
GCTE | Bab 133


__ADS_3

Happy reading 🌹🌹🌹


Di saat Clarissa bingung harus menjawab apa pertanyaan Marvin yang menurutnya nyeleneh. Dari arah barat tak jauh di meja mereka duduk, datang seorang wanita dan pria di sampingnya.


"Eh, kalian ada di sini?" Dea berseru bersemangat, perempuan dengan rambut sebahu itu terlihat bergandengan mesra bersama suaminya, Rizal.


"Dea?" Marvin yang menyadari pun memanggilnya. "Kenapa bisa ada di sini?"


"Bukannya ngejawab malah tanya balik," ujar Dea terkekeh.


"Mmmm ... boleh ya kita duduk di sini?" tanya Dea kemudian.


Marvin mengangguk mempersilahkan. Rizal menuntun isterinya dengan lembut untuk duduk di kursi, tipikal suami siap siaga dan perhatian ada dalam laki-laki itu. Lalu ia pun menyalami Marvin, mereka saling bertoss ala pria lalu berbasa-basi menanyakan kabar masing-masing. Dea melihatnya merasa senang dengan kerukunan dan pertemanan suaminya bersama pria yang sudah ia anggap sebagai kakak laki-laki nya itu.


"Sebelum aku menjawab. Kak Marvin jawab dulu pertanyaan ku, kenapa bisa ada di sini? dan bersama ... Clarissa?" Dea agak berjengit tak suka saat mengucapkan nama wanita itu. Mengingat Clarissa adalah satu dari komplotan penyihir, Sarah dan putrinya Mona. Clarissa juga lah yang selalu menghambat hubungan antara Erick dan Elena. Membuat nya menaruh rasa benci pada wanita yang katanya model terkemuka itu.


"Apa jangan-jangan wanita ini berusaha menggoda kakak?!" tuding Dea tanpa bisa mengerem mulutnya.Ia cenderung manusia yang tak suka berbasa-basi, langsung to the point dan akan menunjukkan perasaan apapun suka ataupun tak suka nya terhadap orang yang ia hendaki, bar-bar namun dapat mengambil kesimpulan.


"Husst, sayang jangan ngomong kaya gitu!" tukas Rizal menegur halus istrinya.


"Yang emang kenyataan nya begitu kan?!" balas Dea sengit, mulutnya seolah sedang di siram kuah cabe, jadi ucapan yang di keluarkan nya pun pedas dan nyelekit.


Marvin melirik ke arah Clarissa yang merunduk, kentara wanita itu sedang menahan mati-matian perasaan sedihnya akibat sindiran Dea terhadapnya.


"Ck, kenapa sih hal kaya gini aja di ributkan?" ujar Marvin berusaha mengalihkan topik.


"Aku yang memintanya langsung untuk datang kesini," jawab Marvin atas pertanyaan Dea, membuat semua orang sontak menoleh ke arahnya.


"Yang bener lu bro?" tanya Rizal. "Gak nyangka gue. Akhirnya lu bisa move on juga dari Elena," kelakarnya tertawa.


Dea nampak tak suka mendengarnya. "Kak Marvin yang benar? padahal banyak wanita lain, kenapa harus dia?"


"Sudah cukup!" Clarissa menyela. Mulai merasa jengah dirinya begitu di remehkan oleh Dea.


"Aku tahu aku memang buruk. Tapi aku gak seburuk itu yang ada di dalam pikiran mu Dea, aku juga manusia bisa tersinggung dengan ucapan pedas mu."


Dea berdecak, "Apa sih gue gak ngomong sama lo!"


"De! udah, stop!" sentak Marvin.


"Zal, nasihatin bini lu gih!" ucapnya kepada Rizal.


"Sayang, udah ya. Kamu lupa tujuan utama kita kesini apa?" tutur lembut Rizal pada istrinya.


Benar juga, Dea hampir terlupa.

__ADS_1


"Memangnya kalian ada perlu apaan? apa dengan ku?" tebak Marvin.


"Iya kak, bener, kami kesini sengaja ingin bertemu kak Marvin." pungkas Dea kali ini menatap serius.


...--------Oo-------...


"Wah, kayanya serius banget? memangnya ada apa?" tanya Marvin sambil menyeruput coffe ice yang ia pesan, sementara Dea dan Rizal memesan menu minuman yang sama.


Dea ingin berucap kembali, tapi matanya kini malah melirik sengit ke arah Clarissa.


Sadar akan tatapan itu, Clarissa pun buru-buru membenahi tasnya.


"Sepertinya akan mengobrol hal penting. Kalau begitu aku permisi dulu."


"Tunggu!"


Clarissa tersentak saat Marvin mencegat lengannya saat ia baru hendak mengangkat bokong dari kursi.


"Siapa yang meminta mu untuk pergi?" Marvin melirik ke arahnya dengan tatapan-- yang entah, menurut Clarissa agak ambigu. Tengil dan genit.


"Uuuh! gaya mu dokter muda, keren kaya lagi liat drama romantis live action." goda Rizal menatap bergantian Marvin dan Clarissa saat ini.


Plak! lengan Rizal langsung terkena tamparan Marvin.


"Kalau ngomong. Kaya mak- mak rempong lo!"


"Udah cukup!" Dea menengahi. "Kapan seriusnya jika seperti ini!"


"Salahin suami mu, dia yang mulai dulu!" sungut Marvin.


Dea menatap gemas suaminya. "Kamu lagi beb. Ini bukan waktu yang tepat buat bercanda."


"Iya maaf sayang."


"Kak Marvin juga. Kalau dia mau pergi, ya udah jangan di tahan-tahan," ujar Dea melirik ke arah Clarissa.


"Gak mau. Kalau Clarissa pergi aku juga akan pergi dari sini!"


"Dih, apa maksud nya?" Dea tak terima.


"Kalian kesini pasti mau ngomongin Erick dan Elena kan?"


Dea dan Rizal saling pandang, mengangguk.


"Ya udah sama. Aku juga tadi sama Clarissa lagi ngomongin Erick dan Elena. Jadi biarin dia di sini, kita obrolin masalah ini bareng-bareng sampai clear!" pungkas Marvin.

__ADS_1


"Ck! oke- oke dah, terserah kakak saja," tukas Dea mengalah.


Marvin pun tersenyum lalu mempersilahkan Clarissa untuk duduk lagi. Clarissa pun kembali duduk di kursinya dengan ragu-ragu.


"Tidak apa-apa, Dea memang galak tapi dia aslinya care kalo udah deket," ucap Marvin seolah menangkan Clarissa, wanita hanya mengangguk.


Sementara Dea masih dengan raut wajah yang sama, seakan tak ikhlas, namun dia berusaha untuk mengabaikan nya.


"Jadi, apa yang ingin kalian bicara kan padaku tentang Erick dan Elena?" tanya Marvin kembali ke mode serius.


Dea menoleh sekilas pada Rizal, suaminya pun mengangguk, lalu ia mulai membuka suara dengan sama seriusnya.


"Begini kak Marvin. Kau tahu kan bagaimana hubungan Erick dan Elena saat ini? juga tentang perkelahian mu bersama Erick. Kita tak bisa seperti ini terus, seolah sedang tidak terjadi apa-apa, padahal huru-hara dan perpecahan ini ada di depan kita sekarang."


"Jadi kau mau aku melakukan apa?" tanya Marvin sudah bisa menebak akan kemana arah pembicaraan ini.


"Cobalah untuk berlapang dada kak, meminta maaf lah atas kesalahan yang kamu lakukan hingga kondisi Erick sekarang ini karena dirimu kan?"


"Tapi aku sudah meminta maaf padanya, dan dia bilang 'anggaplah ini sebagai hukuman untuk ku karena sudah jahat pada Elena' dia bilang begitu. Lalu kenapa aku harus meminta maaf lagi?"


"Ya jelas konteksnya beda kak. Kamu meminta maaf namun seolah mau gak mau, kan sekarang juga hubungan mu dan Elena sedang tak baik juga. Sebagai teman dari kita kecil, aku hanya ingin semuanya kembali membaik kamu bersama Erick ataupun kamu bersama Elena. Tidak dengan perpecahan seperti ini. Aku tahu kamu marah karena tersinggung dengan ucapan Elena kan? Elena tak sengaja mengucap kasar pada mu kak, dia hanya tak ingin kau dan Erick berantem lagi karena dirinya."


Marvin menghela nafas. "Aku sama sekali gak pernah marah sama Elena, De. Aku hanya perlu waktu sendirian dulu, justru yang di katakan Elena padaku itu memang benar. Aku terlalu fokus untuk melindungi nya sampai terkadang melupakan kehidupan ku sendiri. Aku hanya ingin merenung dan mengetahui apa yang salah padaku selama ini, dan membenahinya."


"Tapi kau jarang untuk mengunjungi Elena lagi itu yang membuat ku khawatir. Apakah kau memang marah dan hubungan kalian menjadi renggang itu yang ku takutkan."


Marvin terkekeh. "Gak kaya gitu kok. Kan udah di bilang, aku sekarang belajar untuk fokus pada diriku sendiri. Melihat kemarin Elena begitu khawatir pada Erick, aku menyadari jika cinta mereka itu memang tak bisa di pisahkan. Aku juga sudah menyadari bagaimana pun Elena masih berstatus sebagai istri Erick, jadi sekarang aku tak ingin terlalu ikut campur dalam hubungan rumah tangga mereka."


"Begitu kah?" wajah Dea berubah sumringah. "Syukur lah aku lega mendengarnya."


Marvin terbahak. "Apa hanya karena hal itu kalian sampai menemui ku kesini?"


"Tidak. Aku juga ingin menjelaskan kesalahpaham kakak,


dan juga aku ingin kak Marvin dan Erick cobalah untuk berdamai. Dan kita bisa membantu Erick dan Elena dalam permasalahan kesalahpahaman di antara mereka berdua."


"Dan juga perlu kak Marvin ketahui." Dea menatap suaminya untuk meminta persetujuan mengatakan permasalahan inti yang mereka ketahui baru-baru ini.


"Ada apa?" tanya Marvin penasaran.


Rizal lagi-lagi mengangguk. Setelah mendapat persetujuan sang suami, Dea pun mulai bicara.


"Begini kak, kemarin ada seorang pria paruh baya, dari penampilannya seperti orang penting, dia datang bersama para bodyguard nya ke rumah kita." Dea kembali melirik suaminya.


Marvin merasakan ada yang tak beres. "Lalu?"

__ADS_1


"Pria paruh baya itu mengaku sebagai ayah Elena."


__ADS_2