
Marvin memukul setir mobil nya berulangkali dengan keras seperti orang kesetanan. Mengingat lagi perkataan Erick, saat ia menyatakan tak akan menyerah untuk kali ini, balasan dari Erick sungguh di luar ekspektasi nya.
"Kau pikir aku akan merasa terancam dengan ucapanmu. Lagipula aku sudah tidak peduli lagi, menyerah atau tidak bukan urusan ku, kau boleh mengambil wanita itu jika kau mau."
"Sialan! sialan!" Marvin mengumpat dengan keras, membayangkan dia ada di posisi Elena dan mendengarkan hal itu dari mulut Erick langsung, entah bagaimana perasaan gadis kecilnya? dia yang mendengar pun ikut sakit hati.
"Kau akan menyesal dengan ucapan mu Erick ... kau akan menyesal."
Di lain tempat, Erick merasa sangat marah, ia membanting semua barang yang berada di atas meja, menyapu nya dengan tangan hingga semuanya berantakan di lantai, terpecah belah.
"Arrrgh!" laki-laki itu menggeram kesal, mengumpat lalu menyugar rambutnya dengan kasar.
"Aku harus bagaimana Elena ... " Erick melangkah mundur, suaranya terdengar lemah dengan punggungnya yang perlahan menyusut menyentuh tembok.
Teringat kembali masa-masa indah nya bersama sang belahan jiwa. Saat ia dan sang istri masih merajut cinta dan menyatukan hati.
"Aku akan selalu bersama mu," kala itu Elena berucap setelah Erick meminta satu hal, yaitu janji untuk selalu bersama nya.
"Walaupun kita terhalang jarak jauh ataupun waktu, kita tak akan pernah berpisah."
"Maksud mu?" saat itu Erick masih tak mengerti apa yang di ucapkan sang istri.
Di luar hujan turun dengan derasnya, Elena membawa Erick ke tepi balkon, tempat favorit mereka jika sedang bersantai.
Elena bercerita jika dia sangat menyukai hujan.
"Ya mas, aku akan selalu bersama mu," ucap Elena lagi saat itu Erick merasa terpesona untuk ke sekian kalinya ketika perlahan rambut coklat panjang sang istri tertiup angin hingga beberapa tetes hujan yang ikut bersama angin turut membuat mahkota indahnya tersebut basah.
Elena terlihat begitu riang, gadis itu membiarkan kedua tangan nya terlentang di antara riuhnya tetes air hujan, membuat nya tersenyum begitu menawan.
"Cobalah julurkan tangan mu juga, biarkan tiap tetes hujan mengenai nya." pinta Elena kemudian menatap kembali ke arah Erick.
Menurut, Erick pun ikut merentangkan sebelah tangan nya, yang perlahan mulai dingin saat bulir demi bulir bening dari angkasa jatuh ke atas kulitnya.
Elena tersenyum, jadilah keduanya saling melempar air hujan yang sudah terkumpul di telapak tangan mereka.
__ADS_1
"Aku akan selalu bersama mu, seperti angin dan setiap tetesan air hujan ini," ujar Elena menatap kedua bola mata Erick, begitu tersirat. Mereka saling menatap sedangkan Erick mengerut dahi tak paham.
Elena kemudian tersenyum kembali.
"Kau hanya perlu menutup matamu." Entah bagaimana tiba-tiba wanita itu sudah berada di belakang Erick, telapak tangannya yang mungil menutup kedua mata Erick dari belakang.
"Jika kau rasakan angin yang membelai wajah mu dan tetesan hujan nya yang mengenai kulit mu, maka ... itu adalah aku."
Erick menggeleng, ia mengusap netranya yang memerah, lamunan tentang masa itu pun buyar seketika. Merasakan angin yang datang membuat ia berjalan ke tepi balkon kamarnya.
Tapi kini dengan perasaan yang berbeda, saat tangannya terjulur ke langit untuk merasakan setiap tetesan air hujan yang ada hanyalah kesakitan.
Wajah Erick berubah mengeras dengan gigi mengetat. Kedua bola matanya bergerak dengan menetap tajam bak pisau yang baru di asah, terlihat bara api seolah muncul dari sana.
"Mulai saat ini aku membenci mu dan segalanya yang berhubungan dengan mu!"
Erick langsung berbalik kembali, melangkah lebar menutup jendela dengan cepat dan kasar. Membuat tetesan air hujan kini tak bisa lagi mengenai nya ataupun angin yang membelai wajahnya.
...***...
Pagi menyapa. Di mansion saat ini geger ketika Erick melihat wanita yang sama sekali tak ingin ia lihat berada di sini kembali.
"Kenapa wanita itu datang kesini lagi?!" desis Erick.
"Aku juga tak tahu kak. Tak ada yang menyuruhnya untuk datang kesini." cibir Mona memutar bola matanya, malas.
"Daddy, yang memintanya." entah dari mana, Rey datang menyahuti ucapan putrinya.
"Why dad?" Mona sontak terkejut. "Bukankah Daddy yang menginginkan si kumuh ini pergi dari mansion kita?!"
"Cukup Mona!" sentak Rey tiba-tiba. "Jangan memanggilnya seperti itu lagi, dia adalah kakak ipar mu."
"What?" kontan semuanya melongo dengan perlakuan Rey yang berubah drastis seperti ini.
"Mulai hari ini kau harus menghormati nya," ujar Rey kembali mengingat kan sang putri.
__ADS_1
"Dan juga kau honey," Rey memandang Sarah, istrinya. "Perlakukan lah dia dengan baik sebagai menantu mu," ucapnya lembut. Sarah tercengang di buatnya.
"Apa yang coba papah buktikan hah? kenapa tiba-tiba berubah seperti ini?" protes Erick, jengah. Elena memandangnya sedih lalu hanya bisa menunduk.
"Memangnya apa yang papa lakukan? bukankah memang sepatutnya seorang isteri tinggal bersama suaminya? memangnya papa salah?"
Erick menatap nyalang pria yang sejak dulu menjadi panutannya itu, mendekat dengan pasti.
"Kuharap papa tidak lupa dengan apa yang terjadi kemarin." pungkas Erick.
"Ya, papa memang tahu itu, tapi papa percaya Elena tidak lah bersalah. Dia mungkin sudah di jebak."
Sarah dan Mona saling melempar pandang dengan raut wajah memelas. Sepertinya orang yang dulu sangat ingin Elena pergi kini justru malah berbalik mendukungnya.
"Daddy apaan sih udah jelas-jelas semua foto-foto yang di tunjukkan Erick kemarin itu sudah membuktikan semuanya, apanya yang di jebak, dad?" sergah Sarah.
"Mereka pasti melakukannya karena suka sama suka," ucapnya lagi memandang ke arah Elena kini.
"Iya dad. Daddy kenapa berubah sih, padahal dulu daddy yang sangat ingin wanita itu pergi dari sini," imbuh Mona juga menatap sarkastik pada Elena.
"Sudahlah! mau bagaimana pun pendapat kalian, daddy akan tetap pada keputusan, Elena harus tetap tinggal di sini bersama kita, karena dia adalah menantu keluarga ini!" ultimatum dari Rey membuat semua terdiam.
"Terserah." Erick tak mendebat lagi. Ia kemudian menoleh memandang Elena dengan tatapan tersirat makna.
"Setidaknya di mansion kita kedatangan maid yang bekerja sukarela tanpa di bayar," ucapnya begitu telak dan kejam.
***
Semua orang telah pergi, hanya menyisakan Elena dan Dea juga papa Rey.
"Hhh ... maafkan perkataan Erick, saat ini dia benar-benar dalam suasana hati yang tidak stabil," ucap papa Rey merasa menyesal, menepuk pundak Elena memberikan ketegaran pada gadis malang itu.
"Tidak apa-apa pah. Di sini aku sudah bertekad untuk membuktikan jika aku tidak bersalah, maka konsekuensi apapun harus ku hadapi," ucap Elena.
"Terimakasih sudah mempercayai ku," ujar Elena kembali tersenyum menatap papa Rey.
__ADS_1
Papa Rey mengangguk sekilas. Setidaknya ia sudah menuruti kata hatinya.
"Untuk menebus kesalahan papa dulu ... kini papa akan selalu di sampingmu."