
Happy reading 🌹🌹🌹
Matahari merangkak naik ke atas menyinari bumi dengan sinarnya yang menghangatkan.
Di rumah sakit, Erick terduduk di atas brankar, mengusap matanya yang sedikit lengket sehabis bangun tidur. Ia melihat Elena sudah tak ada, padahal jelas-jelas tadi malam gadis itu tertidur di sampingnya.
Ceklek! pintu ruangan rawat nya terbuka, menyembul dari balik pintunya, kepala yang sedikit melongok, melihatnya Erick tak kuasa menarik sudut bibir.
"Kenapa sembunyi-sembunyi begitu?"
Elena menggeleng, terlihat lucu. Lalu gadis itu melebarkan daun pintu hingga kini terlihat seluruh tubuhnya.
"Tadi aku cuma cuci muka. Bajuku kotor jadi aku meminjam kemeja mu yang seharusnya ku bawa untuk mu." tutur gadis itu.
Erick menatap penampilan nya dari atas ke bawah, celana bahan berwarna hitam, dan kemeja putih yang nampak kebesaran untuk ukuran badan mungilnya hingga membuatnya nampak tenggelam, terlebih rambut panjang gadis itu yang di cepol asal membuatnya nampak begitu lugu dan menggemaskan.
"Tidak apa-apa, itu bagus untuk mu," kata Erick, sebenarnya ia ingin memuji tapi entah kenapa lidahnya terasa kelu, sulit untuk mengungkapkan nya.
Elena hanya mengangguk-angguk saja, jujur ia agak gugup berhadapan dengan laki-laki itu di saat penampilan nya seperti ini.
"Bagaimana luka di punggung mu, apa sudah baikan?" tanya Erick di saat mereka sama-sama diam tak tahu harus berkata apa lagi. Karena saking groginya terpesona dengan penampilan Elena ia hampir lupa untuk menanyakan kondisi luka gadis itu.
"Baik, sudah agak enakan. Terimakasih sudah mengobati ku," ucap Elena, ia seperti mematung di tempat.
Dari jarak Erick memandangnya pria itu bisa melihat Elena yang sedang memilin ujung kemeja miliknya, kentara sekali groginya.
Erick melengos geli, bibirnya berkedut menahan senyum.
"Kemarilah," pinta pria itu.
"Eh?" Elena mengangkat wajah.
"Kenapa? aku hanya meminta mu untuk mendekat, jangan segugup itu."
Benar juga, Elena menelengkan kepalanya. Untuk apa juga ia gugup? demi membuktikan perkataan Erick tak benar, Elena pun melangkah mendekat.
Di saat itu pula Erick nampak bergerak membuka piyama rumah sakit yang di kenakannya, Elena melotot. "Apa yang kau lakukan?!"
"Why? aku merasa gerah, jadi tak apa kan aku membuka baju? toh celana ku masih utuh."
"Tapi--" Elena terlihat cemas.
"Apa perlu aku melepasnya sekalian?!"
Sontak Elena menggeleng keras. "Tidak!" pekiknya saat Erick hendak menggapai lingkar celananya. Jangan sampai pria itu benar-benar melepasnya.
__ADS_1
"Hahaha, aku hanya bercanda." Erick terbahak, Elena memberenggut.
"Tak lucu sama sekali!" sewotnya tajam.
Tak!
"Eh?!' tiba-tiba saja tangan Elena sudah di tarik Erick.
"Kamu mau apa, lepaskan?!"
"Aku mau dirimu," ujar Erick setengah berbisik, suara bariton nya yang berat dan setengah mendayu membuat buluk kudu Elena meremang seketika.
"Kamu jangan asal ngomong ya, cepat lepaskan aku!"
Tep! Elena semakin berjengit tak kala Erick menarik pinggang nya dengan kedua tangan pria itu yang kekar kini sudah membelit pinggangnya yang ramping.
"Kenapa kau selalu saja gugup sejak tadi, aku tak akan memangsa mu, kamu tak perlu khawatir."
"Siapa yang gugup? aku gak gugup tuh." elak Elena.
Erick tertawa semakin gemas di buatnya, "Kamu ngomong gak gugup tapi bahasa tubuh mu menunjukkan sebaliknya. Lihatlah wajahmu yang memerah itu, sudah seperti kepiting rebus."
Wajah Elena kontan semakin mengkeruh saat Erick mengejeknya demikian. "Dasar menyebalkan! lepaskan aku brengsekk!"
"Kamu gak cocok berakting kejam seperti itu, sayang. Wajah mu yang lemah lembut tak singkron sama sekali dengan ucapan terakhir mu."
"Ya, aku tahu itu. Karena yang kau maksud kejam itu adalah dirimu sendiri!"
Erick ke geep dengan perkataan balik Elena, pria itu kicep seketika.
...-------Oo--------...
"Kamu janji ya, kak. Apapun yang terjadi jangan sampai tersulut emosi, dan meminta maaf lah dengan tulus kepada Erick dan Elena. Bagaimana pun kamu salah dengan memukuli Erick tanpa alasan. Kita sudah sepakat kan?" ujar Dea pada Marvin.
Keempat orang yang sebelumnya sudah berbincang di cafe kini memutuskan untuk langsung menjenguk Erick di rumah sakit. Awalnya Dea tak setuju ketika Marvin meminta Clarissa juga ikut bersama mereka, namun Marvin memberikan alasan jika Clarissa juga ingin berdamai dengan Erick dan Elena, hingga akhirnya mau tak mau Dea pun setuju.
Marvin mengangguk atas perkataan Dea. "Ck, aku mengerti. Asal dia tak membuat ku kesal saja, aku akan diam."
"Kak!" Dea menekan suaranya. "Tadikan udah janji!"
"Oke, of course. Kakak cuma bercanda tadi." jengah Marvin.
"Udeh bro. Lu kaya gak tau aja gimana kalau bini gua marah." Rizal menepuk pundak Marvin.
"Kamu lagi, apa?!" Dea melotot garang.
__ADS_1
"Gak sayang. Cuma ngingetin dokter muda ini kok." sanggah Rizal langsung kicep. Dea melongos.
Dea yang sedang membawa buket bunga pun mengangguk. "Ya udah, kita masuk ya."
Ketiga orang itu mengangguk, Clarissa sendiri membawa keranjang penuh buah-buahan untuk Erick.
Ceklek! suara kenop pintu di tekan. Perlahan Dea mendorong daun pintu, di saat itulah terlihat penampakan yang kontan membuat keempat orang itu melongo.
Elena yang masih di kungung dengan pinggang nya yang di dekap Erick menoleh saat di lihatnya ada orang di ambang pintu.
Elena sontak membelalakkan matanya, begitu pun Erick yang memiringkan kepalanya dari balik pinggang Elena terkejut dengan kedatangan empat orang di depan mereka.
"Eh, kayanya kita salah masuk kamar nih," ujar Rizal berkelakar saat di lihatnya semua orang hanya diam melongo saja.
"Hah! ini gak seperti yang kalian lihat!" Elena menggeleng cepat, ia berbalik kepada Erick untuk minta di lepaskan.
"Lepaskan aku, mas. Semua orang melihat ke arah kita."
Erick justru malah semakin mengeratkan belitan tangannya, mumpung ia melihat Marvin, Erick ingin menunjukkan kepada pria itu atas kepemilikannya terhadap Elena. Bagaimana pun ia sadar Marvin menyimpan perasaan untuk Elena hingga secara tak langsung mereka adalah rival. Erick tak mau kalah untuk kali ini.
"Tatapan lu bro. Tenang gue gak akan rebut istri lu, kok."
"Haaaa .... " semua orang berseru berbarengan semakin melongo dengan sikap Marvin yang tiba-tiba berubah.
"Udah kaya sohib lengket aja lu apa pak Erick," Rizal berucap. "Bangga gue bro. Akhirnya dokter kaku ini udah manggilnya lu- gue, gak canggung lagi yang ges." ejek Rizal, karena memang Marvin dan Rizal sudah berteman sejak mereka kuliah jadi tak sungkan lagi untuk saling mengejek dan bercanda satu sama lain.
"Diem lu, upil onta. Gue lagi gak ngomong sama lu."
"Shut up!" Dea mengambil alih. "Kapan sih kalian serius sekali aja." Memang pilihan keliru menyatukan dua pria itu bersama, ada aja tingkah gesreknya.
Erick sudah melepaskan pelukan tangannya di pinggang Elena, di saat itulah Elena segera menghambur menghampiri mereka.
Tatapan Elena langsung tertuju pada Clarissa, wanita itu terlihat merunduk seolah tersisih, terkucilkan.
"Kalian sibuk sendiri hingga tidak memerhatikan Clarissa."
"Eh?" Clarissa sontak mengangkat wajah menatap aneh pada Elena.
Elena mengulum senyum. "Kamu gak apa-apa Clar? kamu kesini ingin menjenguk Erick?"
Di saat itulah Clarissa sadar, betapa kelirunya ia dulu menganggap Elena adalah hama, nyatanya gadis itu yang pertama menanyakan dan memperhatikan nya.
Mata Clarissa berembun.
"Elena, maafkan aku."
__ADS_1