Gejolak Cinta Tuan Erick

Gejolak Cinta Tuan Erick
GCTE | Bab 147


__ADS_3

Happy reading 🌹🌹🌹🌹


Di gudang bawah tanah. Mona sedang terisak dengan tangannya mengepal kuat, dua orang yang tengah berjaga di depan berbisik- bisik yang alhasil membuat Mona menajamkan indera pendengaran nya agar bisa menguping pembicaraan mereka.


"Bagaimana sekarang?" tanya salah satu penjaga di antara kedua nya yang terpendek.


"Ya ku dengar, nyonya Sarah melakukan hal gilla, dia meminta transaksi besar pada tuan Erick untuk sebuah pertukaran dengan nyawa nona muda." jawab salah satunya yang berpostur lebih tinggi.


Mona membelalak kaget mendengarnya, lalu berusaha mendengar lebih jelas lagi apa yang terjadi selanjutnya.


"Itu gilla, kurasa nyonya Sarah memang sudah tak waras, pantas tuan besar menceraikannya. Lalu bagaimana sekarang?"


"Seperti yang baru di sampaikan, saat ini tuan Erick sudah bisa melacak keberadaan nona muda. Mungkin segera dengan ini nyonya Sarah bisa cepat tamat, kau tahu kan tuan Erick sangatlah cerdik."


"Tapi kita tidak boleh lupa, nyonya Sarah juga cerdas."


"Kau benar sekali."


Keduanya mengangguk-anggukan kepala, merasa ikut prihatin dengan masalah yang terjadi, mereka masih tetap siap siaga untuk menjalankan amanat menjaga Mona agar tak sampai kabur, seperti yang di perintahkan oleh Erick, sang atasan.


Tapi Mona yang kini mendengar jelas semua berita itu, justru berkeinginan untuk kabur dari sini. Terbayang semua akan kejahatan nya selama ini, entah bagaimana tiba-tiba Mona seperti terbuka mata hatinya, ia ingin ikut juga dalam misi penyelamatan Elena.


"Hei, mau kemana kau?!" pekik salah satu penjaga ketika menyadari Mona hendak kabur dari wilayah penjagaan mereka.


"Aku harus bertemu dengan kakak. Aku harus bertemu dengan kak Erick!"


"Tidak bisa. Tuan sudah memberitahukan kami untuk mau akan tetap di sini, jangan coba macam-macam!" bentak salah satunya.


"Gak! gak! aku gak mau, aku harus bertemu dengan kak Erick!" Mona memberontak, dua orang penjaga itu berupaya untuk menghentikan aksinya.


"Grrr! ikat saja dia!" titah salah satunya.


Mereka hendak menggapai Mona, namun gadis itu dengan lincah melarikan diri, kecolongan membuat dua penjaga itu misuh-misuh hendak mencengkeram rambut Mona namun tak berhasil karena gadis itu keburu menggigit tangan salah satu dari mereka.


"Arrrgh!" lolongan panjang kesakitan berhasil lolos dari salah satu penjaga yang tangannya di gigit kuat oleh Mona, lalu gadis itu berhasil kabur.

__ADS_1


"Siaalan! tangkap dia, atau tuan Erick tak akan mengampuni kita!" mereka pun mengejar Mona.


Kini terjadi aksi kejar-kejaran antara Mona dan dua penjaga Erick tersebut. Namun Mona yang memiliki banyak akal berhasil mengelabui kedua orang itu dan keluar dari mansion dengan sembunyi- sembunyi.


Seperti Dewi Fortuna sedang memihak nya, Mona yang sudah berada di luar mansion, tak sengaja melihat Erick dengan para bodyguard yang hendak pergi bersama tiga mobil.


"Kak Erick! kak Erick!" gadis itu menjerit kencang, memanggil.


Lengkingan suara nya yang tajam membuat Erick menoleh meski jarak mereka masih sangat jauh.


Terseok-seok Mona menghampiri Erick, sementara pria itu mengurungkan niat untuk masuk ke mobil dan lebih dulu menghampiri Mona.


"Kenapa kau bisa ada di sini? siapa yang membebaskan mu!"


Lantas dua pria, bodyguard Erick yang bertugas untuk menjaga Mona datang, mereka terkejut dengan kehadiran Erick, lantas menunduk segan.


"Maaf tuan, kami lengah, entah bagaimana nona berhasil kabur, dia terus mengatakan ingin bertemu dengan anda."


Erick mengangkat tangan, wajahnya datar terlihat ia melirik dua bodyguardnya dengan tatapan horor.


"Tak ada waktu berdebat, lebih baik kalian berdua segera bawa dia kembali ke ruang bawah tanah!"


"Tidak kak, aku tidak mau." Mona menggeleng. "Please kak, aku sudah tahu apa yang terjadi pada Elena saat ini, bawa aku juga kak, aku akan membantu mu."


"Apa maksudmu?" tanya Erick mengerutkan keningnya.


"Mommy tidak bisa di hentikan dengan hanya memenuhi keinginan nya. Dia pasti mempunyai rencana lain sebagai cadangan, dia tidak mungkin membebaskan Elena semudah itu dengan hanya embel-embel beberapa syarat, karena tujuan utama mommy adalah ingin membalas dendam pada mu dan juga pada keluarga davidson."


"Mungkin ini terdengar sedikit tak masuk akal. Tapi jika kau menjadikan ku sandraan mommy bisa di hentikan. Bagaimana pun mommy masih sangat menyayangi ku, dia akan lemah jika aku ada di samping mu."


"Kenapa kau tiba-tiba berubah baik dan mau membantu, seperti ini?" ujar Erick menatap curiga.


"Aku hanya ingin membantu kak. Aku tahu dosa- dosa ku selama ini sangat lah banyak dan aku menyadarinya, mommy lebih licik daripada yang kamu kira kak. Dia bisa melakukan segalanya untuk menghancurkan mu, termasuk dengan Elena,"


"Lagipula kita masih saudara jika kau lupa? ya mungkin, setelah tahu kenyataan jika aku bukan putri kandung davidson Rey, tapi aku selalu menganggap mu sebagai kakak."

__ADS_1


Mata Mona tiba-tiba berair, ia merasa sedih atas apa yang terjadi pada keluarganya saat ini. Teringat dirinya akan masa-masa harmonis keluarga mereka dulu, sebelum semua huru-hara ini terjadi. Bagi Mona Erick adalah sosok kakak laki-laki penyayang juga perhatian dan akan selalu begitu, tidak peduli seberapa besar kerenggangan yang terjadi di antara mereka Mona akan selalu menganggap Erick adalah kakaknya, karena sebagian besar waktunya di dunia ini adalah bersama sang kakak.


"Aku menyadari kesalahan ku kak tapi bukan berarti aku menyesali nya, aku masih membenci isteri mu. Tapi kali ini untuk mu, biarkan aku membantu. Aku ingin menebus semua kebaikan mu selama ini, terimakasih telah menjadi sosok kakak yang hebat untuk ku."


Entah kenapa perasaan yang di rasakan Mona saat ini bisa ikut di rasakan juga oleh Erick. Mendadak pria itu menjadi sedikit melow, tak di pungkiri masih ada sedikit rasa kasih sayang nya untuk Mona, mengingat mereka selalu bersama sejak kecil, ia selalu ingat Mona yang selalu mengintili nya seperti anak ayam yang selalu butuh perhatian.


"Aku tak ingin melibatkan mu Mona, kamu memang tetap bersalah dan akan mendapatkan hukuman tapi bukan dengan cara ini."


Awalnya Erick juga berniat untuk berencana memanfaatkan Mona untuk memancing Sarah, tapi akhirnya ia urungkan rencana itu. Karena bagaimanapun mengingat Mona masih tetap adiknya meski mereka tidak memiliki hubungan darah sama sekali. Selama ini Erick lah yang selalu merawat Mona, persaudaraan mereka bukan hanya tentang hubungan darah.


Perlahan wajah Mona meredup lalu satu persatu air matanya luruh, setelah semua yang ia lakukan, Erick masih memikirkan keselamatan nya, betapa bodohnya ia menyia-nyiakan kasih sayang sang kakak.


"Please kak biarkan untuk kali ini aku ikut membantu. Mommy harus segera di hentikan!"


Erick merasa kan firasat tak enak dalam hatinya. Seperti akan terjadi sesuatu pada Mona jika gadis itu ikut. Tapi melihat bagaimana kesungguhan gadis itu untuk membantunya akhirnya Erick pun mengangguk.


***


Sarah tertawa terbahak-bahak saat ia melihat foto dokumen yang sudah di siapkan Erick di kirimkan fotonya oleh pria itu.


Elena yang sedang di ikat kedua tangan nya namun perban di mulutnya sudah di lepaskan menggeram kesal melihat tingkah laku Sarah.


"Ini bukan apa-apa, kau lihat saja Erick akan segera menemukan ku dan memenjarakan mu!"


"Apa katamu?" Sarah terlihat kesal dengan ucapan Elena.


"Masanya untuk mu akan ada nenek lampir! orang jahhat seperti mu tidak akan pernah bisa menang!"


Plak! pipi Elena di tampar telak oleh Sarah hingga terlihat sudut bibir gadis itu berdarah. Clarissa yang tak bisa melihat Elena karena posisi mereka saling memunggungi, melotot kaget dengan hanya mendengar suara tamparannya saja yang sangat nyaring.


"Berani sekali kau menghina ku, gadis kampungan! kau hanya beruntung karena Erickson begitu mencintai mu jika tidak kau akan cepat matti mengenaskan di sini!"


Elena memicing tajam meski begitu ia tetap diam karena tahu Erick pasti sudah menuju ke arah lokasi mereka.


"Hufft, baiklah tidak ada gunanya meladeni omong mu. Oke, sekarang kita pergi ke tempat yang sudah di tentukan!" titah Sarah pada para kacungnya, mereka mengangguk serempak lalu membawa Elena dan Clarissa pergi dari bangunan kosong itu ke lokasi yang sudah di tentukan Sarah untuk bertemu dengan Erick.

__ADS_1


"Kita lihat Erickson. Kau punya dua pilihan siapa yang akan kau selamatkan? Elena atau Clarissa?" Sarah menyeringai.


__ADS_2