
Di sebuah kamar bernuansa modern dengan banyak poster artis terkenal tertempel di dinding penuh hiasan.
Nampak dua orang tak tahu malu sedang bergelut di atas ranjang bermandikan keringat kenik*matan yang mereka ciptakan.
Kedua manusia berbeda jenis kelamin itu saling berpacu dalam setiap hentakan keras berirama yang di warnai dessahan yang terus terlontar dari mulut keduanya bersahut-sahutan hingga menggema di setiap sudut ruangan.
"Akkh, faster please ... give more baby." Mona terus menerus merasa sangat terpenuhi dengan serviks yang di lakukan pria berada di atasnya kini.
Si pria tersenyum smrik. "Kalau aku menghentakkannya lebih cepat, kmu akan merasakan kesakitan dan kenik*matan secara bersamaan."
"Uggh, kau sungguh sangat perkasa. Tubuh ku sekarang adalah milik mu, mainkan kedua bukit indah ku ini, aku ingin lebih dan lebih ... "
"Sesuai permintaan mu baby." laki-laki menyeringai, meremas penuh hassrat buah dada bulat besar yang begitu menantang untuknya, bermain dengan pucuknya yang terlihat menggoda dengan berwarna kecoklatan. Hal itu sukses membuat Mona semakin mengejjang dengan tubuh bergetar.
"Uggh ... ya seperti itu, sayang." mata kuyu nya dan suara sayu adalah pemandangan yang sangat menakjubkan untuk si pria hingga dia kembali menambah kecepatan tempo hentakkan nya membuat Mona mengerrang dengan suara dessahan nya, si pria langsung kembali melahap bibir wanita itu meraupnya dengan rakus.
Satu jam berggerumul tanpa jeda, kedua manusia tak punya otak itu berbaring dengan peluh di sekujur tubuh dan nafas terengah-engah, apalagi Mona yang saat ini merasakan sangat penuh di bagian intinya karena pria yang menjadi partner nya tersebut tak memakai pengaman dan mengeluarkan nya dari dalam.
__ADS_1
Mengingat hal penting itu Mona langsung tersadar. Saking terlenanya dengan permainan pria itu ia hampir lupa untuk mengingatnya.
"Bubby, tadi kamu masukin ke dalem ya?"
"Iya, habisnya kamu nik*mat banget, aku jadi kelepasan." jawab enteng pria Itu.
Seketika mata Mona terbelalak. " Bodoh! bagaimana kalau aku sampai hamil Vic?"
Yap. Pria di sampingnya kini adalah Vicky. Tak ada yang tahu bahkan mommy nya sekalipun jika Mona secara diam-diam berhubungan dengan lelaki itu setelah persengkongkolan keji mereka untuk menjebak Elena.
Mona terpesona oleh ketampanan Vicky. Wanita itu lah yang menawarkan dirinya terlebih dahulu, sebelum Vicky pergi ke luar negeri dalam pelariannya setelah menjebak Elena dengan fitnah yang keji. Mereka langsung berhubungan inttim pertama kali dan keterusan hingga Vicky memutuskan kembali menemuinya di Paris saat Mona sedang hang out bersama teman- temannya.
Kini Vicky kembali ke negara asalnya setelah Mona memberitahukan jika Erick akan pergi ke London yang mana tempatnya tinggal saat ini. Dan dengan senang hati Mona memberikan tempat tinggal sebuah apartemen mewah yang sekarang menjadi tempat Vicky untuk tinggal di sini. Dari Mona juga Vicky tahu jika saat ini dia menjadi buronan Erick, tentu Vicky tak ingin sampai ketahuan oleh pria itu, beruntungnya ada Mona yang bisa ia manfaatkan, dengan cinta monyet gadis itu Vicky bisa sedikit merasa aman takut-takut jika Erick sampai menemukan nya, ia bisa menggunakan Mona sebagai tameng.
"Habislah aku ... bagaimana jika aku beneran hamil benih mu? dan jika sampai kak Erick dan daddy tahu, habis riwayat ku!" desis Mona mulai ketakutan dengan segala kemungkinan yang bisa terjadi, selama melakukan pendekatan dengan Vicky sudah tak terhitung berapa banyak mereka melakukan hubungan sekks, Mona yang hyper dan Vicky yang hidung belang memang sangatlah klop sebagai pasangan.
"Sudahlah sayang, jangan memikirkan sesuatu yang bahkan belum tentu terjadi," bujuk Vicky dengan rayuannya tak ingin wanita itu semakin kalut.
__ADS_1
"Kamu yang salah." Mona memukul dada pria itu. "Seharusnya sebelum bermain pakai ko*nddom dulu." wanita itu mula-mula merengut lalu mulai terisak.
"Sssst ... kok malah nangis sih? jangan nangis dong sayang. Kamu kan tahu kalau pakai kon*ddom rasanya gak akan seni*kmat itu, kamu juga tadi meresapi kan? beda bukan dengan sebelum-sebelumnya saat aku pakai pengaman?"
Dan dengan bodohnya Mona malah mengangguk, dia pun menyetujui perkataan lelaki itu.
"Tapi bagaimana jika aku beneran hamil?" Mona kembali di rundung ketakutan.
"Tidak ... tak akan mungkin kau hamil, kita hanya melakukannya sekali tanpa pengaman, aku janji permainan berikutnya aku akan lebih hati-hati dan memakai pengaman."
Di pelukannya Mona mengangguk, Vicky menyeringai senang.
"Wanita ini gampang sekali di bodohi."
Tak dapat Elena ... Mona pun jadi. pikirnya.
"Aku akan terus memanfaatkan mu Mona ... bodohnya si Erick itu, aku akan menggunakan dirimu untuk membalas kan dendam ku yang belum usai, padanya.
__ADS_1