Gejolak Cinta Tuan Erick

Gejolak Cinta Tuan Erick
GCTE | Bab 156


__ADS_3

Happy reading 🌹🌹🌹🌹


Pagi di rumah sakit. Marvin sedang mencacat laporan untuk pasien yang di tangani nya, pria maskulin itu terlihat sangat fokus di meja ruangannya. Sampai asistennya datang memberitahu kan sesuatu padanya.


"Dok, ada seorang wanita menunggu anda di lobby, beliau mengatakan ingin menemui anda secara pribadi." tutur sang asisten sambil memegang papan tulis berisi berisi lembar catatannya.


"Siapa namanya?" tanya Marvin tanpa mengalihkan perhatian pada pena yang sedang ia goreskan di atas kertas.


"Miss Clarissa."


Mendengar nama itu, sontak saja kepala Marvin langsung terangkat, perlahan ia mengembangkan senyum tipis, lalu menutup penanya dan meletakkan nya kembali di saku kemeja.


"Baiklah, bilang padanya aku akan segera datang. Dan tolong serahkan catatan ini pada dokter stave, juga untuk pasien di ruang anggrek nomor 142, pastikan kamu mengecek keadaan nya."


Asistennya pun mengambil catatan yang di berikan Marvin lalu ia mengangguk. "Baik dok."


Marvin ikut mengangguk sekilas lalu segera bangkit dari duduknya dan pergi nyelonong lebih dulu setelah melempar kan senyuman pada sang asisten yang bekerja untuknya itu.


"Aneh baru kali ini dokter Marvin ku lihat tersenyum seperti itu." monolog asisten dokter bernama Tia itu, ia sudah bekerja untuk Marvin sejak dua tahun lalu, jadi tak ayal ia kaget dengan perubahan yang lumayan signifikan dari atasannya tersebut.


Cukup lama masih berdiam diri di tempat nya berdiri sambil kepalanya sedang berfikir keras, melihat keanehan atasannya belakangan ini Tia pun akhirnya dapat menyimpulkan.


"Ohhh ... dokter Marvin pasti sedang jatuh cinta." Tia tersenyum sendiri setelah nya saat ia bisa menebak sikap sang dokter yang akhir-akhir terlihat lebih ekspresif dan ceria, terlebih ketika wanita bernama Clarissa, yang akhir- akhir ini pun cukup sering mengunjungi rumah sakit hanya untuk bertemu dengan nya.


"Fiks sih inimah dokter Marvin pasti lagi jatuh cinta sama wanita bernama Clarissa itu." Tia memanggut-manggut cukup puas deh tebakannya. "Mungkin saja kan mereka lagi proses pdkt?" gumam Tia lagi bermonolog pada diri sendiri. "Uuuhhhh so sweet nya, semoga deh proses pdkt mereka lancar, pak Marvin juga udah waktunya membina rumah tangga." Tia tersenyum- senyum sendiri, membayangkan jika benar dokter yang selalu bertindak perfeksionis dan selalu bersikap serius itu akhirnya jatuh cinta juga pada seorang wanita apalagi jika mereka sampai ke hubungan yang serius.


"Hihihi, pasti yang lain bakal heboh jika mendengar berita ini," gumam Tia dengan mesem- mesem lalu keluar dari ruangan Marvin, dengan tingkah konyolnya.


...---------Oo-------...


"Hai. sudah lama menunggu?" sapa Marvin begitu menyadari kehadiran Clarissa sedang menunggu anteng di sofa dekat lobby.


"Oh, halo." Clarissa langsung menoleh ke belakang di mana Marvin sedang berdiri di sana. Pria itu mengangkat sudut bibirnya ketika pandangan mereka bertemu yang di balas sama juga oleh Clarissa.


"Aku belum lama juga kok menunggu nya," ucap Clarissa. Marvin kemudian duduk di sofa tepat di hadapannya.


Pria itu kemudian terhenyak ketika menyadari penampilan baru dari wanita di depannya kini.


"Kamu potong rambut?" tanya Marvin kemudian tak bisa menyembunyikan rasa penasaran nya.


"Eh, hehehe benar. Aku memotong rambut ku," ujar Clarissa agak sedikit kikuk sambil meraba rambut berwarna brown nya yang baru habis ia bawa ke salon.


Clarissa merubah gaya rambut nya menjadi bondol. Marvin melihat penampilan baru wanita itu, entah kenapa merasa terkesima.

__ADS_1


"Mmm ... memang nya kenapa? apa tidak cocok untuk ku?"


"Enggak!" jawab Marvin cepat. Saking cepatnya ia merespon, Clarissa terkejut di buatnya.


"Oh, hehe. Maaf, maksud ku itu sangat bagus, penampilan rambut mu yang baru ini membuat mu terlihat semakin segar dan bersinar."


"Begitu kah?" Clarissa tersipu mendengar pujian untuk nya itu. Marvin mengangguk yakin, Clarissa tersenyum. "Terimakasih untuk pujiannya."


"Oh ya, ngomong- ngomong aku di sini tidak menganggu jadwal mu kan?"


Marvin menggeleng. "Enggak kok. Waktu ku lagi free saat ini."


Clarissa manggut-manggut mendengar jawabannya. Hening terjadi di antara mereka, lalu Clarissa mulai berbicara serius.


"Aku di sini sebenarnya ingin berterima kasih pada mu, berkat mu yang merekomendasikan seorang psikiater padaku. Kondisi mental ku yang sempat terguncang akibat insiden penculikan saat itu, kini bisa jauh lebih stabil. Akupun bisa menceritakan keluhan ku tanpa beban, dan kini aku merasa bisa mengikhlaskan semua yang terjadi padaku. Psikiater ku bilang, selalu ada hikmah di balik semua kejadian, dan semua kejadian yang terjadi bukanlah tanpa kebetulan melainkan sudah di rencanakan sebelumnya, daripada kita terus terpuruk karena kejadian tidak menyenangkan itu terjadi, lebih baik kita mengambil hikmah di balik nya dengan mengambil dari sudut pandang yang berbeda. Dan aku mempercayai kata-kata itu. Terimakasih berkat mu, beban yang sejak dulu ada padaku kini mulai berangsur berkurang."


Marvin menarik senyum simpul mendengar cerita Clarissa.


"Jangan berterima kasih padaku, tapi ... berterima kasih lah pada diri mu sendiri."


"Kita terkadang lupa, untuk memberi pujian pada diri sendiri, karena sejatinya yang dapat kau andal kan bukanlah orang lain, tapi dirimu sendiri. Jadi seharusnya kamu berterima kasih lah pada diri sendiri."


"Kamu benar." Clarissa tersenyum. "Mungkin apa yang terjadi pada ku, karna aku kurang untuk bersyukur. Aku selalu mencari kekurangan pada diri ku sendiri dan iri pada pencapaian orang lain, tanpa sadar jika akupun sudah sangat bekerja keras sampai titik ini."


"Itulah yang ku maksud. Kamu hebat bisa mencapai titik ini. Aku bangga padamu."


Blush! pipi Clarissa seketika memerah mendapat perlakuan manis seperti itu. Sadar akan sikapnya yang tiba-tiba impulsif, Marvin segera saja menarik tangannya.


"Eh, maaf. Aku tak bermaksud menyentuh mu seperti itu."


"Tidak! aku menyukainya."


"What?" Marvin mengerut alis.


Ke geep tanpa sadar, Clarissa sontak menggeleng. "M- maksud ku tidak apa-apa."


"Oh begitu."


Deg! deg! akibat kejadian mengusap kepala itu, debar jantung di antara mereka berdua malah jadi tak menentu.


Tak ingin terlalu berlarut-larut dalam hening dan kecanggungan. Marvin pun berbicara lagi.


"Kau sudah mendapat undangan dari Erick dan Elena?"

__ADS_1


Clarissa mengangguk. "Iya, aku sudah mendapatkan nya."


Erick dan Elena memang sudah memutuskan untuk merayakan pesta pernikahan mereka, setelah sebelumnya mereka hanya menikah sederhana, kini setelah semua yang di lalui pasangan suami-istri itu memutuskan untuk membuka lembaran baru salah satunya adalah membuat pesta upacara pernikahan mereka.


"Dengan siapa kau akan datang?" tanya Marvin ragu- ragu. Marvin bukanlah pria yang tidak peka pada perasaannya sendiri. Akhir-akhir ini dia memang mulai menyadari jika ia menyukai Clarissa, mungkin sudah tahap sampai mencintai. Dan ini adalah kesempatan nya untuk lebih dekat dengan wanita itu.


"Aku? mungkin aku akan datang bersama orang tua ku, mereka juga berencana untuk menghadiri pesta pernikahan Erick dan Elena."


Marvin terpaksa harus menelan kekecewaan, pria itu pun mengangguk lesu.


"Oh begitu ... "


"Ada apa memang nya?" tanya Clarissa.


"Tidak apa-apa." Marvin langsung menggeleng.


"Mmmm ... jika begitu aku permisi, mungkin setelah ini kamu akan bertugas kembali, aku kesini hanya ingin menyampaikan itu."


Marvin hanya mengangguk kecil. "Baiklah jika begitu."


Mereka berdua berdiri, Clarissa memegang erat tali tas branded yang di gunakan nya, merasa tak enak dengan perubahan sikap Marvin yang nampak murung.


Kedua insani itu kemudian berpaling ke arah yang berlawanan, Marvin mengesah sendu, ia masih terlalu pengecut untuk mengungkapkan perasaannya secara gamblang. Sementara Clarissa, wanita itu seperti merasakan sesuatu di dalam hatinya, desir aneh yang membuat dadanya seakan sulit bernafas.


"Marvin!"


Tiba-tiba Clarissa memanggil tanpa menoleh ke belakang, kini malah Marvin yang berbalik menatap nya.


Clarissa semakin memegang erat tali tas nya, wanita itu menundukkan wajah dengan pipi bersemu merah.


"Untuk ke pernikahan Erick dan Elena ... apa kau mau datang bersama ku?"


Marvin membelalak terkejut. Bibirnya perlahan mengembang membentuk senyum.


"Harusnya aku yang bilang seperti itu. Apa kau mau datang ke pernikahan Erick dan Elena, bersama ku?" ajak Marvin kemudian, ia merasakan kepercayaan di dalam dirinya.


Sedetik dua detik lalu akhirnya Clarissa pun mengangguk.


Marvin menggigit bibir, lalu bersolak seolah ia adalah seorang pemain bola yang berhasil mencetak gol.


Sementara Clarissa sendiri semakin tersipu malu dengan dada berdebar, lalu pergi dengan membawa senyuman yang sama.


***

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2