
"Aku sudah lama mencari mu, kau malah datang sendiri padaku untuk menyerahkan nyawa."
Perkataan Erick bak belati tajam yang menghunus tepat ke arah musuhnya, membunuh tanpa menyentuh.
Pria itu menatap tubuh terkapar Vicky dengan tengah jalan yang mulai di genangi darrahnya sendiri.
"Bawa dia ke rumah sakit, jangan biarkan dia matti!" perintah Erick pada para ajudannya saat ini.
Mereka mengangguk patuh. "Baik tuan!" lalu dengan cepat menggotong Vicky dan menahan pendarahannya agar tidak semakin keluar banyak.
"Yang lain amankan situasi dan kerumunan!" titah Erick kemudian pada sisa ajudan yang ada. Seperti yang lainnya mereka mengangguk patuh lalu mulai membubarkan kerumunan yang sempat bergerombol demi melihat kecelakaan yang terjadi.
"Ayo cepat, bubar- bubar semuanya!" usir para ajudan Erick, warga yang melihat menyahut berbisik lalu berdecak sebal lalu satu persatu meninggalkan tempat kejadian.
Sesampainya kembali ke mansion dengan langkah lebar nan tegap penuh perasaan murka yang kembali datang, Erick berjalan semakin cepat ketika hendak menggapai kamar Mona yang terbuka saat ini. Di ikuti Zidan sang asisten yang mewanti-wanti di belakangnya.
Ketika pria itu semakin membuka lebar pintu yang setengah terbuka, terlihatlah Mona yang menangis menyandar pada pundak Sarah, ibunya. Nampak berkali-kali Sarah meminta penjelasan apa yang sedang terjadi pada putrinya namun tak sedikit pun Mona membuka mulut hanya terus terisak-isak dengan air mata membanjiri.
Sampai akhirnya ibu dan anak itu menyadari kehadiran Erick yang sudah kembali. Raut wajah Mona seketika berubah drastis, penuh ancaman dan ketakutan.
"Kakak ... " Mona berdiri memanggil Erick dengan nada lemah seolah tak berdaya.
Dengan langkah pasti Erick menghampiri, kedua mata Erick seakan sukar di baca saat menatap adiknya itu. Dan ...
__ADS_1
Plak!
Tamparan keras penuh tenaga Erick berikan di pipi sebelah kanan Mona, semua yang ada di sana terkesiap tak terkecuali Sarah sampai melotot lebar lalu segera menghampiri putrinya.
"Erickson! apa yang kau lakukan, kenapa kau menampar adik mu sendiri hah?!" murka Sarah tak terima putri nya yang tiba-tiba di tampar begitu saja.
"Adik?" Erick terkekeh sinis. "Bahkan aku malu untuk mengakuinya sebagai adik sekarang?!"
"Apa? kau sudah gilla? apakah kehilangan isteri mu sudah membuat kehilangan kewarasan mu juga?! hah?!"
"Shut up!" Erick mulai membentak membuat Sarah tersentak di buatnya.
"Jangan melibatkan istri ku dalam masalah yang tak ada sangkut-pautnya sama sekali!" peringat Erick penuh penekanan.
Erick dan Sarah memang tak pernah memiliki hubungan harmonis sejak dulu sebagai mana selayaknya ibu dan anak meski tak sedarah. Bahkan Erick pernah sangat membenci Sarah karena bagaimanapun akibat wanita ketiga dalam kehidupan orang tuanya itu, sang bunda sampai harus meregang nyawa ketika awal hubungan sang ayah dan Sarah terungkap saat ia bahkan baru terlahir ke dunia kala itu.
Hingga saat ini, meski tak lagi menyimpan dendam seperti dulu, nyatanya Erick dan ibu tirinya tersebut memang tak pernah akur.
Sementara mendengar ucapan Erick membuat Sarah mendelik sampai tak bisa berkata-kata, kini giliran Mona yang tersedu-sedu menghampiri Erick.
"Kak, maafkan aku kak.Ku mohon!" Isak Mona sambil kedua tangannya tertangkup di depan dada.
Erick memalingkan muka, berdecih. Kecewa ... sungguh ia sangat kecewa di perilaku adiknya selama ini. Baru ia sadari ternyata adik kecil yang selalu ia kira polos ternyata penuh menyimpan kebusukan. Seperti ibunya.
__ADS_1
"Keluar Mona, dan kau juga!" kalimat terakhir Erick tertuju untuk Sarah.
"Aku gak mau kak!" Mona menggeleng keras. "Tolong maafkan aku kak."
"Keluar!" kali ini suara meninggi menggelegar.
"Ayo Mona, kita keluar dulu." Sarah mengalah, seperti yang selalu di katakan suaminya, Erick Jika sudah marah tak bisa di kendalikan.
"Tapi mom ... " Mona menatap memelas pada ibunya.
"Ayo, kita keluar saja!" Sarah mencoba mendesak Mona dengan mengenggam erat pundak sang putri menuntunnya setengah paksa untuk keluar dari sana."
Setelah Mona dan ibunya meninggalkan tempat, Erick melirik pada sang asisten. "Zidan! kau periksa bagian itu, aku bagian sana. Kita geledah kamar ini!" titahnya.
Meski agak ragu dengan apa yang coba di rencanakan sang tuan di dalam otaknya, Zidan tetap menurut perintah.
"Baik tuan!"
Erick juga Zidan mulai menjelajahi setiap tempat juga sudut kamar Mona, mencoba mencari tahu apa yang tersembunyi di sini dan yang tersimpan di dalamnya, apalagi ketika temuan Erick tentang konsol game di kamar adiknya ini padahal jelas-jelas Mona tak pernah menyukai game. Di pikir dia akan semudah itu di bodohi?
Sejak awal juga Erick sudah mengira ada yang tak beres dengan gerakan-gerik Mona yang gelisah dan mencurigakan. Selain berhubungan dengan musuhnya dan diam-diam membawanya ke mansionnya apalagi yang di sembunyikan adiknya itu.
"Tuan, saya menemukan ini!" Tak sampai menunggu waktu lama, Zidan menghampiri membawakan sesuatu yang ia temukan.
__ADS_1
Mata Erick seketika melebar, banyaknya obat kontrasepsi di temukan di kamar adiknya itu, bahkan konddom sisa pakai juga di ada di sana.