
Sampai larut malam, pintu ruang operasi masih belum juga terbuka. Kini Elena sudah berganti pakaian, Dea datang setelah mengetahui apa yang terjadi pada sahabatnya kini.
"Bagaimana bisa ini terjadi Elen? pernikahan kalian bahkan belum genap sebulan, kenapa peristiwa naas ini bisa terjadi." Dea terisak memeluk Elena. Bisa di bilang ia lah yang paling tahu penderitaan yang di lalui Elena selama ini. Mereka berdua saling berbagi tangisan.
Mona yang duduk tak jauh dari kedua wanita itu, memperhatikan lalu berjengit dengan memutar bola matanya malas, memasang raut sarkastik.
"Drama." Mona melongos jengah dengan pemandangan di hadapannya. Entah kemana perginya simpatik gadis itu kini, padahal kakaknya di dalam sedang bertarung dengan maut.
Tak lama, tuan Rey dan isterinya datang. Bersamaan dengan pintu ruang operasi yang tiba-tiba terbuka, mereka semua sontak terkesiap gegas menghampiri sang dokter yang keluar dengan melepas sarung tangan nya.
"Bagaimana dok?"
"Syukurlah operasi berjalan lancar, kami berhasil mengeluarkan timah panas dari tubuh pasien, dan juga pendarahan yang sempat terjadi sudah bisa teratasi."
Mereka semua mengucap syukur serempak. Wajah-wajah yang semula menegang kini mulai mengendur seraya menghela nafas paling lega.
"Tapi keadaan pasien tak bisa di bilang baik. Untuk sementara kami akan mengobservasi keadaan pasien dengan di pindahkan ke ruang ICU."
Air muka mereka kembali berubah cemas.
"Beri penangan yang terbaik dokter, yang paling terkemuka dan lengkap. Saya ingin putra saya sembuh dengan total."
"Anda tenang saja pak, saya dan team medis sudah berusaha semaksimal mungkin, selebihnya ada di dalam doa kalian, semoga pasien bisa segera melewati masa kritis."
"Aamiin." semua menggaungkan doa mereka yang paling terdalam.
...***...
"Nyoya muda, anda belum makan sesuatu sejak kemarin. Mau saya pesankan makanan?" tanya Zidan menawarkan, melihat iba isteri tuannya itu kini hanya duduk lesu di samping brankar dengan memeluk erat lengan suaminya.
"Tidak. Aku hanya ingin menemani Erick ku, di sini," ucap Elena terdengar lirih. Rambutnya yang panjang terlihat kusut masai, wajahnya sembab dengan air matanya, jangankan untuk menjaga penampilan ia bahkan tak tidur sejak Erick di bawah ke rumah sakit. Hanya beberapa tenggukan air yang masuk ke perutnya itupun jika tak di paksa oleh Dea, dia tak akan mau.
Zidan tidak memaksa lagi. Ia biarkan sepasang suami istri itu bersama, keluar ruangan yang kini sudah di jaga ketat dua algojo atas perintah tuan Rey, untuk menjaga 24 jam tuan muda mereka.
"Bagaimana apa kau berhasil membujuknya?" tanya Dea.
"Jangan tanyakan, kepada anda temannya saja beliau tidak mau, apalagi saya yang hanya sebagai ajudan."
Dea menghela nafas setengah gusar.
"Saya harus kembali ke kantor untuk memimpin rapat, tuan besar sudah mengamanahkan untuk mengganti sementara tugas pak Erick," ucap Zidan seraya melihat arjolinya. "Saya harus segera pergi. Tolong gantikan saya, menjaga nyonya muda." pungkasnya.
"I'ts okay. Kau pergilah." tukas Dea kemudian, Zidan mengangguk lalu pergi dengan langkah lebar.
**
"Elen, apa kau tidak mau pulang dulu? setidaknya beristirahat lah sebentar," Dea kembali mencoba membujuk Elena.
"Bagaimana bisa kamu menyuruhku istirahat sedangkan suamiku sedang dalam kondisi kritis saat ini." Elena terisak pelan.
__ADS_1
Dea membuang nafas kasar. "Bahkan keluarga suami mu saja tidak seperti mu yang rela menunggu seperti ini, aku salut padamu," ucap Dea lebih terdengar seperti gumaman.
Elena hanya bergeming. Berkali-kali ia mengecup tangan kokoh Erick, tangan yang selalu menjaganya dan memberikan rasa nyaman untuk nya, berkali juga Elena mengusap kening Erick menyampirkan rambut hitam pria itu.
"Hhh ... baiklah, aku akan pergi sebentar untuk mengambil pakaian mu dan membeli kan mu makanan."
Elena kali ini pun tak menyahut, Dea hanya bisa menghela nafas pasrah, kemudian meninggalkan ruangan membiarkan Elena tetap di samping Erick.
...***...
Dea sampai di mansion Davidson bersama Rizal sang kekasih yang mengantar nya.
"Aku tunggu di sini ya, kamu masuk sendiri aja," ucap Rizal masih di dalam mobil.
"Baiklah, kamu tunggu ya."
"Siap babe."
Sampai di gerbang, sekuriti yang menjaga pos menghadang nya karena sebelumnya tak pernah melihat Dea.
"Aku temannya Elena, nyonya Davidson, istri tuan Erick." jawab Dea setelah salah satu sekuriti bertanya dengan nada ketus.
Namun wajah kedua sekuriti itu tak menunjukkan kepercayaan.
"Jika kalian tidak percaya tanya saja pada pak Zidan devantara, aku mengenalnya sebagai sekretaris tuan Erick."
Dea mendelik kesal karena perkataan kasar yang di terima nya.
Sekuriti itupun pergi untuk bertanya pada Zidan melalui sambungan telepon.
"Biarkan nona Dea masuk. Saya mengenalnya dia adalah sahabat nyonya muda."sahut Zidan di telpon.
"B-baik pak."
Tak berselang lama sekuriti itupun kembali.
"Bagaimana? masih tak percaya?" cebik Dea sambil menyilang tangan.
"S- silahkan masuk nona, maaf kami telah mencurigai mu."
"Yayaya, aku tahu tugas kalian memang menjaga keamanan. Tapi cobalah belajar menghormati wanita. Bagaimana pun ibu kalian juga seorang wanita." pukas Dea.
"Baik nona, sekali lagi maafkan kami. Silahkan masuk."
Dea pun masuk dengan langkah yang sengaja di buat gaya menunjukkan pada para sekuriti yang menjaga pos tersebut untuk tak macam- macam padanya.
...***...
Dea masih sempat untuk berdecak takjub setelah melihat lebih dekat istana milik suami sahabatnya, "Ck, ck beginikah penampakan rumah megah orang kolongmerat? bisa buat tinggal warga sekampung ini," celetuk Dea, nyeleneh.
__ADS_1
Sampai di ruang tengah yang begitu luas ia berpapasan dengan seseorang yang berpakaian maid, Dea pun menghampiri nya.
"P-permisi, mau tanya?"
"Eh, siapa ya? kenapa bisa ada orang asing masuk kesini?" maid tersebut berjengit karena terkejut melihat Dea.
"Eeeh, saya bukan orang asing kok." Dea mendadak gugup.
"Berhenti." seru seorang pria paruh baya menghampiri mereka.
"Pak Pandu ada orang asing yang tiba-tiba masuk ke mansion." sahut maid wanita itu segera melaporkan.
"Waduh, bisa panjang ini urusannya." Dea bergumam.
"Kau pergilah, saya tahu perempuan ini, dia teman nyonya muda kita."
"Oh, begitu ya, baiklah." raut maid wanita itu menunjukkan kelegaan lalu mengangguk kemudian pergi.
"Hufft! syukurlah." Dea menghela nafas sejenak.
"Maaf ya, di sini memang penjagaan nya ketat luar biasa. Bukan sembarang orang bisa masuk wilayah the Davidson's mansion." Tutur pak pandu menunduk.
"Oh tidak apa-apa kok. Saya paham, soalnya saya juga banyak nonton drama Korea yang holkay nya punya rumah gede yang juga di jaga super ketat, hehehe ... he."
Krik! krik! Dea malu sendiri karena kebanyakan bicara.
"Maaf jadi ngelantur." Dea mengusap tengkuknya.
"Tidak apa-apa," pak Pandu tersenyum maklum.
"Nak Zidan bilang nona kesini mau mengambil baju ganti untuk nyonya muda?"
"Oh ya benar!"
"Kalau begitu mari ikuti saya."
"Baik." dengan langkah teratur Dea mengikuti langkah pak Pandu membawanya.
Di atas balkon tanpa ia ketahui, ada Mona dan Sarah yang sejak tadi mengamati.
"Lihat mom, akibat pengaruh si kumuh itu kini makin banyak orang asing yang masuk wilayah mansion kita yang terjaga."
"Ck. ck, mommy juga udah muak sayang." dengus Sarah.
"Hei kamu mau kemana?" tanyanya kemudian melihat putrinya yang sudah melangkah pergi.
"Aku mau memberi pelajaran teman si kumuh itulah, apalagi mom?"
"Mommy ikut ... "
__ADS_1