Gejolak Cinta Tuan Erick

Gejolak Cinta Tuan Erick
GCTE | Bab 71


__ADS_3

"Argghh ... dimana Elena ku?" Erick seakan putus asa, suaranya seolah habis ia keluarkan semua. Tubuhnya limbung lalu berjalan terhuyung-huyung, kemeja putihnya yang belum di ganti terbuka kancingnya semakin lebar, entah sejak kapan ia sudah tak memikirkan penampilannya padahal julukan Mr. perfeksionis selalu melekat padanya, kini seolah-olah semuanya sudah lenyap tak bersisa.


Clarissa lalu datang, ia rela menunda pemotretan nya yang akan di adakan di new York demi melihat keadaan Erick setelah di beri tahu oleh Mona.


"Kak ... " Mona histeris segera berhambur ke pelukan Clarissa.


Mona sendiri baru pulang dari hang out nya bersama teman-teman gengnya berkeliling Paris. sementara Sarah, sang mommy tak pulang karena ikut menemani Daddy nya ke acara politik. Mona jelas merasa sangat takut menghadapi semua kengerian ini sendiri, hingga ia menelpon Clarissa, berharap bisa membantu untuk menenangkan sang kakak.


"Dimana Erickson, Mona?" tanya Clarissa setelah gadis itu agak sedikit tenang.


"Kakak ada di kamarnya, dia terus saja berteriak sejak aku tiba di sini, aku sangat takut ka ... kak Erick tak bisa di hentikan sama sekali."


"Oke tenang, jangan panik. Aku akan coba untuk membujuknya."


Mona mengangguk cepat, ia mengusap air matanya kasar. Clarissa menatap sekilas untuk meyakinkan gadis belia itu, ia lalu melangkah pasti untuk menemui Erick di lantai atas.


...***...


Prang!


Prak!


Suara benda pecah terlempar, membuat kepingannya berjatuhan menerjang lantai. Clarissa terlonjak sontak menutup kedua telinganya akibat bising yang di timbulkan. Ia menatap nanar Erick yang saat ini tengah mengamuk, pria itu masih dalam keadaan mabuk, Zidan tak bisa menghentikannya begitupun pak Pandu, mereka berdua hanya bisa mengamati dengan wajah nelangsa, sudah hampir dua jam Erick dalam keadaan kacau seperti itu, yang bisa di lakukan dua pria di sampingnya hanya mampu mewanti-wanti agar Erick tidak sampai mencelakai dirinya sendiri.


"Nona Clarissa, anda di sini?" Zidan menyadari wanita cantik itu, segera menghampiri.


"Iya. Ada apa ini? kenapa dengan Erickson hingga dalam keadaan seperti ini?" hati Clarissa ikut terenyuh sakit melihat Erick yang mengamuk. Jelas pria itu juga seolah sedang mengeluarkan kesedihannya meski tak ada air mata, nampak luka dan kesakitan itu terwakilkan dari tatapannya.


"Ceritanya panjang nona." Zidan mendesah pelan, merasa putus asa juga kasihan. "Tak ada yang bisa menghentikan pak Erick ... kecuali nyonya muda."


"Lalu di mana Elena sekarang?" tanya Clarissa menyapu ke sekitarannya.


"Itulah yang sedang kami cari solusinya. Nyonya muda tak ada di sini dan itu menjadi penyebab kemarahan pak Erick."


Clarissa seolah tak percaya dengan semua yang di katakan oleh Zidan, wanita itu menggeleng pelan menahan keterkejutannya ia membungkam mulut.

__ADS_1


Melihat Erick yang semakin tersiksa dengan perasaannya sendiri, tak ada cara lain Clarissa nekat menghampiri pria yang sedang kesetanan itu.


"Nona ... jangan bahayakan diri anda, pak Erick sedang dalam keadaan tak kondusif!"


Tak di hiraukannya teriakan peringatan dari Zidan. Clarissa terus melangkah maju hingga bisa menggapai pria Itu.


"Cukup Erickson!" sentak Clarissa menarik tangan kekar laki-laki tersebut hingga memaksanya untuk saling berhadapan.


"Siapa kau hah? berani-beraninya mendekatiku," terhantuk Erick mengeluarkan kalimatnya di selingi oleh cegukan membuat ucapannya terdengar tak jelas.


Clarissa sontak menutup hidung saat pria itu mulai mendekatinya, aroma alkohol begitu menyengat terendus di indera penciumannya, gadis itu hampir mual di buatnya.


"Astaga, berapa banyak botol yang Erickson minum?" gumamnya membatin.


"Sudah hentikan Erickson, cukup!" berang Clarissa.


"Jangan seperti ini, kamu bukan Erickson yang ku kenal!"


Prank! Erick kembali memecahkan sebuah miniatur patung di atas meja. Suara pecahannya membuat Clarissa terkesiap hingga gelagapan.


Clarissa mencoba mendekati namun Erick dengan kasar menghempaskan tangannya.


"Jangan pernah mencoba untuk menyentuh ku!" sentak pria itu, Clarissa tertegun.


"Aku hanya ingin Elena ku kembali. Cepat datangkan dia padaku." pria itu mengoceh lagi, pengaruh alkohol membuatnya akal sehatnya hilang.


Erick hampir terjungkal ke belakang, dengan sigap Clarissa menahannya, Erick kembali berusaha berjalan meski terhuyung-huyung, ia kembali menepis tangan Clarissa, mata pria itu menatap sayu dan terlihat memerah. Clarissa terisak sendiri melihat kondisinya seperti ini.


"Istriku itu kabur dari mansion ini tanpa sepengetahuan ku, seharusnya dia ada saat aku ingin melihatnya." ocehnya lagi.


Isakan Clarissa semakin nyata tak kalah melihat Erick yang seperti orang tak waras hanya karena Elena. Ia mengusap pipi Erick juga kening pria itu sambil tergugu dalam tangis.


"Dia telah pergi dari sini, tapi aku tak ingin mencarinya, aku mencintai nya tapi aku juga membencinya ... " wajah Erick berubah meredup teringat kembali foto-foto mesra Elena bersama pria lain yang tak bisa ia hilangkan dari memorinya.


Erick terjatuh terduduk, pengaruh alkohol masih kentara jelas terlihat dalam perilakunya. Clarissa tahu toleransi alkohol Erick sangat rendah, pria itu bahkan sangat menghindari minuman harram tersebut tapi sekarang lihatlah ... Erick bahkan sudah tak peduli berapa tenggak gelas lagi yang ia harus minum, demi untuk menghilangkan perasaan yang perlahan membuatnya gila dalam kubangan kesedihan.

__ADS_1


Clarissa memeluk Erick, menyadarkan kepala pria itu dadanya, mendekap dalam kehangatan. Erick seperti bocah kecil yang menangis di pangkuan ibunya. Selama ini ia tak pernah mendapatkan kasih sayang seorang ibu.


"Aku akan membawa Elena mu kembali, aku janji ... kumohon jangan seperti ini lagi," lirih Clarissa, mengecup kepala Erick Berkali-kali, sambil mengusap rambut pria itu.


...***...


Di rumah sakit. Elena yang dalam pengaruh obat bius pasca operasi, kini menunjukkan perubahan yang signifikan setelah menunggu beberapa waktu yang tak menentu, Dea dan Marvin akhirnya bisa menghela nafas lega saat Elena menunjukkan tanda-tanda akan siuman.


Gadis berkulit putih itu perlahan membuka mata, iris coklatnya berpencar ke sekeliling, ia mengerjap-ngerjap untuk beberapa saat agar menyesuaikan cahaya yang masuk.


"Elena, akhirnya kamu sadar." Dea tak bisa untuk tak bersorak gembira, ia merasa begitu bersyukur, menangkup kan kepalan tangannya seraya menengadah.


"Awww ... " Elena meringis merasakan nyeri di bagian pundaknya.


"Hati-hati, lukanya masih belum kering." Marvin mencoba mendekat untuk memeriksa, namun hal aneh membuat mereka terkejut.


"Tidak! jangan, jangan apa-apakan aku, kumohon! jangan kurung aku di gudang menyeramkan itu lagi!"


Elena mendadak histeris, ia menendang-nendang kakinya di udara, kedua tangannya menunjukkan kewaspadaan.


"Elena ini kakak Elena ... ini kak Marvin, ada apa dengan mu!" Marvin segera bertindak, perlahan mencoba membawa gadis itu dalam dekapan, namun Elena tetap memberontak kali ini dengan lebih keras.


"Tidak, kumohon jangan menyeret ku!" ia seperti sangat ketakutan akan sesuatu.


Kebahagiaan yang sempat menghampiri berubah menjadi kepanikan kembali, Dea menggigit bibir dengan wajah mengkeruh.


Elena yang terus memberontak terpaksa membuat beberapa perawat dan suster yang datang menahannya agar tenang, dengan tak ada pilihan lain, ia di buat kembali tak sadarkan diri bersama obat bius yang segera di suntikkan di lengannya.


"Sepertinya pasien mengalami trauma." cetus asistennya.


Dengan nafas tersengal mereka bisa mengesah lega setelah pasien kembali tertidur.


Marvin melirik Elena yang sudah terbaring dengan tenang.


Ini sudah tak bisa di biarkan lagi!

__ADS_1


__ADS_2