Gejolak Cinta Tuan Erick

Gejolak Cinta Tuan Erick
GCTE | Bab 124


__ADS_3

Happy reading 🌹🌹🌹


"Erick dan Elena memang sudah di takdirkan untuk saling bersama, tidak seharusnya kan kita seperti ini? menjadi penghambat hubungan di antara mereka berdua." imbuh Marvin lagi, berharap Clarissa bisa merenungi kata-katanya.


Wanita dengan rambut merah menawan itu mendengkus, untuk sekilas wajahnya nampak sedih terlihat.


"Kamu benar. Tapi kau tahu?" Clarissa menolehkan pandangannya, menatap Marvin. "Tak segampang itu melupakan seseorang yang kau cintai."


"Sebelumnya, aku tak pernah merasa seperti ini pada pria manapun selain Erick. Rasa ingin memiliki yang begitu tinggi, aku sendiri takut jika suatu hari rasa cinta ku itu aku berubah seperti sebuah obsesi. Tapi aku tak pernah bisa menahan diriku, di saat Erick jatuh aku selalu ingin menemaninya sebagai penyemangat di kala ia bersedih. Di saat dia bahagia aku ingin menjadi orang pertama yang mendengar kabar bahagia itu darinya. Aku ingin selalu melihat senyum nya.


Aku selalu berharap awal hariku ku bisa bisa melihat wajahnya, begitu pun saat aku menutup mata,aku ingin dia wajah terakhir kali yang ku lihat. Namun aku sadar sedalam apapun aku membayangkan itu tak akan pernah menjadi kenyataan. Tapi aku belum bisa jika harus berhenti untuk mencintainya."


Untuk sejenak Marvin bergeming, tatapannya menunjukkan sirat kekaguman yang nyata.


"Jika ku tebak, kau tipikal wanita yang setia, hanya saja kau salah dalam menempatkan perasaan cintamu," ujar Marvin memberi pendapat nya, setelah mendengar Clarissa yang panjang lebar menjelaskan perasaan nya.


"Begitu kah?" bibir Clarissa nampak berkedut menahan senyum. "Ku anggap itu adalah sebuah pujian dari mu, pak dokter."


Marvin terkekeh. "Yap. Aku memang sedang memuji kesetiaan mu. Beruntung lah pria yang akan mendapatkan mu sebagai isteri, kelak. Kemungkinan pria yang menjadi suami mu nanti, pasti di kehidupan sebelum nya adalah seorang pahlawan yang menyelamatkan ribuan nyawa, oleh sebab itu berhasil mendapatkan mu sebagai pasangannya."


"Hahaha, kau bisa saja." Clarissa tertawa ia anggap ucapan Marvin itu adalah sebuah gurauan tapi tak urung dalam hati ia mengaminkan. Sejujurnya ia selalu berharap mendapatkan seorang pria yang akan sangat beruntung ketika memiliki nya.


Marvin menengadah menatap langit biru yang nampak cantik, laki-laki itu kemudian mengesah panjang, setelah obrolan singkat nya bersama Clarissa, Marvin merasa mendapat sedikit kelegaan dalam hatinya.


Marvin menepuk-nepuk kedua paha, bersiap hendak beranjak.


"So, kembali ke topik awal lagi Clar. Sedikit nasihat dari ku, cobalah untuk move on. Sama seperti ku yang meskipun mencintai Elena namun tak sampai membuat kebahagiaan nya di pertaruhkan karena keegoisan,aku lebih memilih untuk mengalah, rasa cinta ku tak akan bisa melebihi rasa sayang ku sebagai seorang kakak pada adiknya. Jadi ku harap itupun bisa kau terapkan dalam kehidupan mu, cobalah berfikir tentang kebahagiaan Erick maka kau akan mengerti mengalah adalah pilihan terbaik. Lagipula terkadang, mencintai tak harus memiliki kan ... "


Marvin tersenyum di akhir kalimat nya, lalu berdiri menghirup oksigen dalam lalu menghembuskannya perlahan.


"Oh ya terimakasih karena telah mengobati ku. Senang bisa mengobrol akrab dengan mu."


Marvin berbalik hendak melangkah pergi, namun suara Clarissa menahannya.


"Tunggu!"


Marvin menoleh padanya, wajah pria itu seakan mengisyaratkan pertanyaan : kenapa?

__ADS_1


Meski Marvin tak merespon dengan perkataan, Clarissa tahu pria itu menunggu nya bicara, jadi ia mengucap kan kalimatnya lagi.


"Jika suatu hari nanti aku meminta mu untuk berbicara seperti ini lagi ... maksud ku hanya kita berdua dan di tempat yang lebih baik, apa kau mau?"


"Kau sedang mengajakku kencan?" tanya Marvin.


"T-tidak! tentu saja tidak." Clarissa langsung mengelak. Wajahnya cemberut.


"Hahaha, santai. aku hanya bercanda."


Clarissa semakin menekuk wajah. Menyebalkan juga pria itu.


"Baiklah, karena kau telah mengobati ku, akan ku beri tiga permintaan sebagai hutang budi. Kau bisa menagihnya kapan saja." pungkas Marvin, menaruh dua telunjuk nya di pelipis dengan bergaya tengil berdecak singkat lalu berbalik lagi, kali ini benar-benar melangkah pergi menjauh.


Karena Clarissa tak dapat lagi bicara, tersebab kini jantungnya yang kini berdegup kencang.


Apa-apaan ini! gaya sok cool apa itu? gerutu Clarissa dalam hati nya, namun dengan wajah nya yang memerah padam.


...----------------...


Erick mengalami patah tulang dan sedikit retak di bagian tulang hidung nya, terlebih kepalanya mengalami benturan yang cukup keras membuat nya terkena cidera cukup serius.


"Maafkan aku Erick, kau terluka sangat parah karena diriku," ujar Marvin dengan wajah sendu penuh penyesalan.


"Tak apa. Anggap lah ini sebagai hukuman untuk ku."


"Tidak. Kau tidak pantas untuk hukuman seperti ini, Elena benar harusnya aku tak langsung menuding mu dan kalap memukuli mu."


"Perasaan penyesalan bodoh seperti itulah yang ku rasakan saat aku langsung menyalakan Elena tanpa mencari tahunya dulu. Dan sekarang aku sedang berada di posisi Elena, aku mengerti apa yang di rasakan Elena, sungguh membuat hati ku hancur. Dengan kau menghajar ku itu seperti aku mendapatkan pelajaran ku. Kini aku paham apa yang Elena ku rasakan dulu. Jadi kau tak perlu meminta maaf lagi."


Erick sedikit meringis, saat ia berucap rahangnya terasa kebas membuat kalimat yang ia lontarkan terdengar tak jelas.


"Maaf, aku tak bisa banyak bicara dulu."


Marvin menganggukkan kepalanya. "Aku paham."


••

__ADS_1


Malamnya Elena datang, gadis itu masuk ke ruangan rawat Erick di ikuti Zidan yang mengekori di belakang nya.


Elena tak banyak bicara, meski begitu Erick sangat senang Elena mau datang untuk nya.


"Ini baju ganti dan sup hangat untuk tuan Erick, nyonya muda."


"Terimakasih Zidan," ucap Elena mengambil tiga paper bag cukup besar dari tangan Zidan, lalu meletakkan nya di atas nakas.


"Kalau begitu saya permisi." Zidan lantas berlalu pergi kembali dengan gesit mengayunkan kakinya setengah berlari, ia masih mempunyai beberapa urusan di kantor, terlebih beberapa bulan ini juga menghandle beberapa tugas Erick, jadi Elena cukup mengerti kesibukannya.


Elena keluar lalu kembali lagi dengan baskom berisi kan air hangat di tangannya.


Wanita itu kemudian berdiri tepat di hadapan Erick, tanpa perhitungan atau pun gugup membuka kancing piyama rumah sakit yang di pakai pria itu.


Rasanya asing, meski mereka sedang berduaan tapi terlihat ada jarak tak kasat mata di antaranya keduanya.


"Elena ... " panggil Erick dengan suara serak.


"Hmmm ... " Elena hanya berdeham saja sebagai sahutan.


"Lucu ya, rasanya baru kemarin aku merawat mu kini malah gantian kamu merawat ku."


Elena hanya diam. Nampak fokus dengan apa yang tengah ia lakukan. Wajahnya datar tak ada senyum atau ekspresi yang di tampilkan meski begitu Elena nampak sungguh-sungguh dalam merawat Erick.


Dengan telaten, Elena membasuh tubuh Erick karena pria itu tidak boleh terkena air langsung untuk sementara waktu jadi tubuh nya hanya bisa di bersihkan dengan handuk yang sudah di basahi dengan air.


Saat handuk basah yang di pegang Elena beralih mengusap wajahnya, tanpa aba-aba Erick langsung menarik pinggang gadis itu dengan lengan ototnya yang kekar.


"Apa yang kau akukan?" Elena tersentak seketika. lengan Erick begitu posesif melingkar erat di pinggangnya.


"Lepaskan!" sentak Elena berontak, malahi justru Erick semakin mengeratkan pelukan di pinggang rampingnya.


"Ay ... " panggilan itu keluar dari mulut Erick. Tambah terkejut lah Elena. Merasa asing dengan panggilan sayang seperti itu keluar dari mulut pria tersebut.


"Ay, demi Tuhan. Bicaralah, jangan hanya diam saja. Aku tak sanggup jika kau terus saja mendiamkan ku!" oceh Erick dengan wajah tertekuk.


Sontak Elena terkesiap kaget dengan perubahan sikap Erick tersebut.

__ADS_1


Apakah pria di depannya ini benar-benar Erick davidson yang selalu bersikap dingin dan garang?


__ADS_2