Gejolak Cinta Tuan Erick

Gejolak Cinta Tuan Erick
GCTE | Bab 158


__ADS_3

Happy reading 🌹🌹🌹🌹


Alunan music lembut mengalun indah di sekitar ballroom acara di adakan, Erick menunggu dengan setia di tempatnya berdiri, pria itu tampil gagah dengan balutan kemeja putih dengan jas hitam rapi yang mana tersemat kelopak bunga mawar di sakunya sebagai aksesoris. Rey, sang papah tak lama datang dengan pakaian formal, laki-laki berusia 58 tahun itu menepuk pundak sang putra, bangga. Sementara itu Zidan, sang asisten setia, kini tampil rapi dan tak kala tampan, berdiri mendampingi di jajaran tamu undangan yang lain.


Ramai tamu hadir mulai dari kalangan pejabat, rekan bisnis maupun kerabat mereka turut merayakan kebahagiaan pengantin yang sebentar lagi akan meresmikan hubungan mereka itu. Marvin, Dea, Rizal, Clarissa dan Aaron sudah berada di tempat masing-masing. Siska dan keluarga mbok Can juga turut hadir, tak lupa anak-anak panti yang secara khusus Elena undang sebagai tamu kehormatan sudah memenuhi kursi tamu. Mereka melambai pada Dea dan Marvin, lalu tersenyum sangat dengan di temani dua pengurus panti.


Tak lama pintu gerbang sehingga dua orang dewasa itu mulai terbuka perlahan, di saat itulah muncul Elena dengan sebelah tangannya menggenggam buket mawar, dan sebelahnya lagi nampak menggandeng tangan sang ayah yang menuntutnya. Semua tamu yang hadir terkesima dengan kecantikan yang di pancarkan Elena, wanita itu nampak menebar senyum pada semua orang lantas pada saat matanya tertuju pada Dea dan Clarissa, dua temannya itu bersorak kecil, padanya membuat Elena semakin melebarkan senyumnya.


Saat sudah menuju ke arah tempat Erick menunggu, Wahyu iskandar berhenti begitupun dengan Elena. Lalu pria itu menoleh pada sang putri mengulum senyum padanya.


Wahyu iskandar memberikan kode dengan menolehkan pandangannya kembali pada Erick, lalu ia menjulurkan tangan Elena untuk di bawah ke telapak tangan Erick.


"Pergilah, suami mu sudah menunggu."


Elena tersenyum matanya berkaca-kaca. "Terimakasih pah." lalu ia mulai mengikuti langkah Erick yang menuntun nya naik ke atas panggung.


Wahyu iskandar pun berbalik lalu berdiri di antara tamu yang lain, sambil sesekali matanya menyeka ujung mata yang berair, ikut merasa terharu dan euforia di dalam hati nya atas pernikahan sang putri.


"Kamu terlihat sangat cantik." puji Erick pada Elena yang berdiri di hadapan nya saat ini, entah kenapa tiba-tiba merasa keharuan yang begitu mendalam, wajah pria itu sangat bahagia dan masih terlihat mengembangkan senyum, namun matanya menunjukkan air mata bukti cinta dan pengorbanan yang mereka lalui selama ini.


Elena terkejut ketika melihat Erick yang mulai menitikkan air mata, membuat nya ikut merasakan perasaan yang sama hingga akhirnya tak bisa menahan untuk ikut menangis.


"Setelah apa yang kita lalui, begitu banyak rintangan hingga perpisahan. Kita akhirnya bisa sampai di titik ini, aku merasa sangat bahagia ... " lirih Erick dengan mata memerah dengan banyak kristal bening yang mengucur deras.


"Jangan menangis, kamu terlihat jelek kalau menangis," ujarnya pada Elena, tapi dia sendiri yang lebih dulu terisak, sontak saja membuat Elena terkekeh di sela suasana yang mengharu biru, Elena sigap mengulurkan tangannya membelai lembut pipi Erick, jemarinya dengan halus mengusap air mata pria itu juga mengusap hidungnya yang memerah.


Lalu upacara pernikahan pun di lanjutkan, acara demi acara terlewati dengan lancar dan baik banyak suka cita juga keharuan yang terjadi terlebih saat pengantin itu meminta restu pada satu-satunya orang tua mereka yang tersisa. Luapan kesedihan pun tak terelakkan, mereka bersimpuh di atas pangkuan orang tua masing-masing meminta restu dan doa untuk kelancaran rumah tangga yang akan mereka bangun kelak.


Setelah keharuan itu, sesi acara pun di lanjutkan hingga akhirnya tiba di mana salah satu scene yang selalu di tunggu-tunggu oleh para tamu undangan, yaitu acara pelemparan bunga oleh pengantin wanita.

__ADS_1


Di pimpin sang MC hari ini yang mengintruksi, para tamu bersorak berduyun-duyun mendekat ke arah pengantin wanita yang akan melempar buket bunga yang di genggamnya dari belakang. Mereka seolah sudah mengambil ancang-ancang siap, hingga hitungan ke tiga Elena melempar buket bunga itu, sontak semuanya bersorak lalu semua orang berjalan oleng menuju ke arah mana buket bunga itu akan mendarat.


Lalu tanpa terduga buket bunga itu malah mendarat di ujung meja yang di tempati oleh seorang pria dan wanita yang kebetulan duduk berdampingan.


"Marvin! Clarissa!" teman-teman mereka membeo memanggil nama dua orang itu, sementara Marvin dengan santuy mengambil buket bunga yang mendarat tepat di tangan Clarissa, padahal wanita itu tak berniat untuk mengambilnya.


"Ciee!" lalu sorak semua orang yang mulai menjodohkan kedua sejoli itupun terdengar.


"Fiks, tahun besok berarti kalian yah nyusul!" seru salah satu tamu yang hadir pada Marvin dan Clarissa.


"Ceilah si pak dokter akhirnya gak jomblo lagi." Rizal dan Aaron kompak menggoda, sudah seperti Upin dan Ipin mereka terlihat begitu mirip saat menggoda Marvin dengan Clarissa.


"Apa sih kalian, diam!" Marvin menggerutu kesal ia tak enak dengan Clarissa saat ini, teman-teman nya memang tak tahu tempat dan situasi, bagaimana jika Clarissa merasa tak nyaman saat ini karena godaan mereka.


Sementara Clarissa sendiri hanya menunduk diam. Ia salah dalam mengartikan niat baik Marvin yang tak ingin dirinya merasa tidak nyaman. Clarissa malah berfikir sebaliknya Marvin yang merasa tak nyaman dengan godaan dari teman-teman nya dan tentu itu semua menjurus darinya.


...--------Oo--------...


Saat ini Elena sedang berada di bagian pantry, sengaja ia ingin memasak untuk makan malam mereka berdua dengan romantis.


Erick yang sudah membersihkan diri keluar dari kamar mandi, dengan hanya menggunakan anduk yang melilit pinggang nya ke bawah.


Laki-laki pemilik dada berotot itu nampak sangat sekksi dengan bagian atasnya yang bertelanjjang dada dan di kulitnya yang halus masih tertinggal bulir-bulir air yang semakin membuat nya nampak sangat maskulin. Erick mengusap pelan kepalanya yang basah dengan handuk kecil, lantas saat ia menoleh ke samping melihat sang isteri, Erick tersenyum memiliki ide jahil di otaknya.


Pria itu mendekat dengan mengendap- ngendap lantas dengan sengaja mengagetkan sang istri.


"Duarrr!"


"Aaaah!" Elena seketika saja berteriak, Erick yang merasa puas telah mengagetkannya, tertawa tanpa dosa.

__ADS_1


"Mas! ih, ngagetin aja deh!" dengan gemas sekaligus jengkel, Elena menimpuk lengan pria itu.


"Awww, sakit sayang. Maafkan aku, maaf," ucap Erick dengan masih tertawa.


"Makanya jadi orang tuh jangan jahil! aku sampe kaget banget tahu!" sungut Elena mencubit pinggang pria itu, semakin gemas.


"Iya deh, maaf kan mas," ujar Erick mengulang permintaan maaf nya dengan serius, kali ini Elena luluh kemudian tak melanjutkan aksinya dan kembali fokus pada masakan nya.


Erick memperhatikan wanita itu, betapa kagum dan terpesona nya ia melihat Elena yang sangat serius dalam melakukan pekerjaan nya. Ah, ia baru menyadari jika yang di nikahi nya ini adalah seorang bidadari.


"Sayang ... " Erick memeluk Elena dari belakang.


Mendapati kelakukan manja pria itu Elena tersenyum. "Apa hmm?"


"Aku mau makan kamu!"


"Apa?!"


Erick tersenyum semrik lalu sengaja mematikan kompor saat Elena masih fokus memasak.


"Mas apa sih?"


"Kau tidak menyadari kalau bagian bawah ku sudah sangat mengeras." Erick sengaja mendekatkan bagian intinya pada sang istri.


"Terus kamu mau apa, hm?" meski tahu arahnya akan kemana, Elena sengaja berpura-pura untuk mengerjai pria Itu.


"Ya aku maunya kamu, sayang!" Erick segera mengangkat tubuh Elena dan membawanya dalam gendongan.


Elena memekik lantas berubah menjadi tawa.

__ADS_1


"Let's go bikin kesebelasan!" pungkas Erick lalu membawa Elena ke kamar mereka, sambil keduanya yang saling melempar tawa bahagia.


__ADS_2